Harapan Yang Pupus
Ananda Rhea Prahadi
Aku duduk di atas Skuter matic milik Allan yang terparkir di pinggir jalan Taman Kota Lapang Brimob Cipanas. Ku gunakan tangan untuk menopang dagu, sambil menonton adegan Allan dan pacarnya yang sedang bertengkar dari jarak sepuluh meter. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi dari gelagatnya kelihatan jelas pemeran utama wanita itu, sedang benar benar marah.
Hal ini membuat ku jadi kikuk, karena gadis itu sempat beberapa kali menunjuk ke arahku. Pemandangan ini juga menjadi tontonan tersendiri bagi pengunjung Taman yang lain. Ya, bagaimana tidak? Mereka bertengkar di ruang terbuka dan tempat ramai.
Banyak muda mudi yang sedang nongkrong juga pengendara yang berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanan. Tempatnya yang strategis dan berada di jalan utama membuatnya tak pernah sepi penghuni meski sudah larut sekalipun. Seperti saat ini, pukul sebelas malam.
Gila nggak sih? Aku yang bahkah sejujurnya anak pemalas, jam segini masih kelayaban. Sebenarnya mataku juga sudah hampir tak kuat menahan kantuk. Aku ingin pulang, meninggalkan dua sejoli yang tanpa sadar telah membuat sakit hati. Tapi rumahku jauh. Dan ini sudah bukan jamnya lagi untuk angkutan umum untuk mencari penumpang.
"De ... Nanda!"
Suara Allan membuatku membuka mata dan pandanganku yang mulai buram, mendapati Allan berdiri di hadapanku. Saking ngantuknya mungkin aku nggak sadar dia sudah selesai adu mulut sama pacarnya.
Pipi kanan pria itu nampak merah, sepertinya bekas tamparan. Tapi aku tidak akan bertanya apapun. Takut dia tersinggung.
"Kamu ngantuk? Maaf ya. Bikin kamu nunggu. Jadi kita pulang sekarang, atau kamu mau denger penjelasanku dulu?" tanya Allan dengan nada mengiba.
Aku memang sangat membutuhkan penjelasan mengenai seorang gadis yang dia sebut sebagai pacar. Seorang gadis yang tiba tiba saja menyiramku dengan teh tawar hangat saat kami sedang makan tadi. Untunglah teh itu hangat, bukan panas.
"Kenapa sih Kak, kamu nggak bilang kalau udah punya pacar?" tanyaku kesal.
"Lah emangnya kamu pernah nanya?"
Sesantai itu jawabannya? Aku diam sejenak lalu menggumam sendiri dalam hati. Benar juga, aku tidak pernah bertanya apapun padanya. Tapi masa dia nggak sadar, dia udah bikin baper anak orang, tanpa memberi tahu kalau dia punya hubungan.
"Ya, tapi kan kalau kamu bilang sama aku, aku bisa jaga jarak Kak."
"Buat apa? Lagi pula sekarang kita udah putus kok."
"Hah?"
Aku ternganga mendengar ucapan Allan, putus? Semudah itu?
"Kenapa tadi kamu nggak biarin aku ikut kesana kak. Aku bisa jelasin ke dia. Kalau kita ini cuma rekan kerja, nggak ada yang special. Pasti kalian nggak perlu putus. Meskipun di sisi lain aku pengen banget jambak pacar kamu, karena udah nyiram aku tiba tiba, dan bikin malu.” Aku jadi menggerutu sendiri, sambil menunggu reaksi dari Allan
Tapi sepertinya dia biasa saja, nggak ada rasa sedih, menyesal atau apapun yang terlihat menyebalkan, dia nggak marah saat ku bilang ingin menjambak rambut pacarnya. Ia justru menampakam senyum tulus, dan lagi lagi membuatku salah tingkah.
"Ini bukan salahmu De. Hubunganku dan Elisa memang sudah rapuh dan retak sejak awal. Bahkan sebelum aku mengenalmu. Hanya saja ... "
Allan diam lagi. Membuatku gemas ingin melempar sepatu agar dia bereaksi.
" Hanya apa!" ujarku dengan penekanan yang lebih terdengar layaknya sentakan.
"Hanya saja memang semakin parah setelah aku mengenalmu."
Ini terdengar jahat nggak sih? jadi sedikit banyak, aku ikut andil juga dengan hubungan Allan yang kandas. Tapi, apa aku juga bisa berbangga diri karena sepertinya ada setitik harapan dimana Allan akan membalas perasaanku.
"Maaf," ujarku. Wajahku menunduk, ada sedikit rasa sesal di hati ini. Tapi tak lama kemudian, aku malah merasakan sentuhan lembut di atas kepalaku. Seperti biasanya, dia mengacak rambutku dan itu selalu nyaris membuat hatiku meleleh.
"Kenapa. Jadi mellow gini sih, udah ya jangan bahas lagi. Makasih ya, udah mau nunggu sampai masalahku selesai."
Aku hanya menatap ke arahnya, ragu untuk mengatakan apa.
"Aduh, kepalaku bisa pecah nih De.” Tiba tiba Allan menyentuh kepalanya, dengan mata yang sebelah tertutup
"Pecah kenapa?" tanyaku heran.
"Ya pecah kalau kamu ngeliatinnya setajem itu. Udah deh jangan bikin aku baper. Ayu ku antar pulang."
Sialan! yang suka bikin baper itu kamu Lan, bukan aku. Rasanya pengen banget bilang kalau aku ini benci sama kamu. Tapi bibirku terkunci. Aku nggak bisa membencimu.
__________
"Da, tolong input yg ini ya!"
Aku mengambil secarik kertas Orderan yang disodorkan Gilang padaku, dia salah satu Waiter disini.
"Nanti gurame asem manis kasih keterangan sambel pisah ya, lalapan nya tanpa pete, ayam bakar nya minta paha dan yang kiri, mix saladnya tanpa wortel, jus alpuketnya jangan terlalu manis, es teh manis gula nya pisah."
Aku menggaruk garuk kepala mendengar penuturan dari Gilang. Memang setiap tamu memiliki aturan dan keunikan sendiri. Sekarang malah ada lagi, minta paha kiri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membedakan paha kanan apalagi kiri, lagipula rasanya samakan? Bahkan Stella, teman satu divisi ku tertawa kecil mendengarnya. Setelah Chek table keluar dari mesin input, Gilang pergi. Aku berbalik untuk menempelkan pesanan pada dinding orderan dapur.
Jadi belum lama ini aku bekerja di Restorant khas makanan Sunda Pangestu Ibu. Baru sekitar 1 bulan, aku ditempatkan sebagai Operator. Aku diterima bekerja disini berkat Allan. Awalnya aku dikenalkan pada Allan oleh temanku, saat aku sedang mencari cari lowongan kerja. Lalu Allan merekomendasikanku pada pihak Hrd. Dan keberuntungan mungkin sedang berpihak padaku.
Perkenalan ku dengan Allan memang tergolong singkat, mungkin kurang lebih dua bulan. Jadi selama dua bulan ini aku di bikin baper sama pacar orang kan? Sialan emang.
Operator disini, bertugas menginput, orderan dari waiter pada mesin input yang juga terhubung pada mesin kasir. Hasil input orderan akan mngeluarkan satu kertas orderan untuk dapur, satu kertas orderan untuk cheker dan satu chek table untuk Waiter yang bersangkutan.
"Baru! Gurame asam manis sambal pisah satu, lalapan tanpa pete satu dan bla bla bla ...”
"Siiaappp."
Jawab para Chef serentak.
Aku berteriak melantangkan pesanan makanan, agar penghuni dapur tahu ada pesanan baru. Lalu menempelkannya pada paku paku berjajar yang terpasang diantara sekat ruangan kami. Dan saat itu lah, pandangan ku bertemu dengan Allan lagi. Sejak tiga hari yang lalu, kami tidak pernah bertegur sapa, lebih tepatnya aku yang menghindarinya.
Area operator berada di satu wilayah dengan Dapur 1, hanya ada sekat tembok setinggi d**a, dan jendela besar tanpa kaca, yang membuatku bisa melihat aksi para Chef, dan dari sebelah kanan juga ada jendela besar tanpa kaca yang terhubung langsung dengan meja meja pelanggan. Jadi jika ada masalah, pelanggan bisa langsung protes pada pihak operator.
Allan sendiri bertugas sebagai Asisten dapur, tapi tak jarang juga menggantikan tugas Chef yang sedang istirahat atau malas masak. Mungkin dalam waktu dekat dia juga akan di angkat jadi tukang masak sebenarnya.
"Da ini udah jam makan siang, kamu mau makan duluan?"
Aku dengar apa kata Stella, tapi entah kenapa aku tak bisa menjawab, tatapanku malah fokus pada Allan yang kini sedang memotong bahan bahan apalah yang nggak ku tahu. Ada rasa rindu yang menjalar setelah tiga hari aku berusaha untuk nggak bertegur sapa dengannya.
"Nanda!"
Aku tersentak saat Stella menepak punggungku.
"Beneran deh kayanya kamu nggak fokus. Duluan gih."
Aku mengangguk lalu keluar tapi bukan untuk makan, langkah justru membawaku menuju mess karyawan, tempat istirahat untuk meluruskan kaki sejenak. Aku bersandar pada dinding. Hari ini tamu cukup banyak, aku terlalu sibuk. Kebiasaanku kalau sudah sibuk ya selera makanku akan hilang, walaupun perutku lapar.
"Nenk Nanda nggak makan, ke dapur 2?"
Aku membuka mata, ada Pak Hadi yang juga sedang istirahat. Pak hadi ini salah satu chef yang keren banget. Aku sering memasang muka serius, saat ia memasak. Kenapa? Karena hanya dia yang memasak menggunakan gaya. Padahal usianya sudah tua, tapi caranya mengaduk ngaduk makanan, menciptakan api yang berkobar di atas kompor membuatku takjub.
"Nggak Pak, ini saking sibuknya, jadi males makan."
"Ya udah, saya udah sejam disini. Saya balik ke atas dulu ya. Takut nanti si Botak nyariin."
Aku tertawa kecil dan mengangguk. Si Botak adalah sapaan kami pada salah manager yang sering kerap kali membuat kesal. Tapi sepertinya dunia tak akan lengkap jika orang itu tak hadir diantara kami. Setelah mengelilingkan pandangan, aku baru sadar, di mess ini hanya ada aku sendiri. Mungkin karyawan lain sudah lebih dulu istirahat. Aku kembali menutup mata. Mungkin aku bisa tidur beberapa menit, agar otot ototku bisa sedikit lemas.
Tapi Sial ..., sepertinya sesuatu menggangguku.
***