Ananda Rhea Prahadi
"De ..."
Sial Aku kenal suara itu. Mata terbuka dan seketika jantungku hampir saja lari dari tempatnya, saat mendapati wajah Allan yang begitu dekat. Sangat dekat sampai nafasnya, yang beraroma daun mint bisa tercium. Reflek aku segera bergeser ke samping untuk menjauh dari pria ini.
"De, kamu kenapa sih?" tanya Allan yang terlihat bingung.
"Stop ... Diem di situ," seruku saat ia akan bangkit dan pastinya menyusul ke tempatku berada.
"Hah? serius deh kamu makin aneh!"
Ia mengerutkan kening, mungkin merasa aneh pada sikapku.
"Kamu diem disitu! Pokoknya Kita harus jaga jarak," pintaku lagi. Tapi agaknya, Allan tak mau mengindahkan permintaanku.
"Kalau kamu lagi bercanda, menurutku ini nggak lucu De !" Allan agak terdengar kesal, tapi aku juga sedang kesal. Kenapa dia tak juga mengerti.
"Iya kita harus jaga jarak. Kamu tetap disitu. Kita harus jaga jarak minimal dua meter."
Please Allan, mengertilah! jangan membuat aku sulit.
"Pfftt hahahaha."
Damn! Dia malah ketawa segala. Emang menurutnya jaga jarak itu lucu apa? Tetapi sesaat kemudian dia berhenti tertawa lalu memasang wajah serius.
"De udah tiga hari kamu menghindar, sebenarnya kenapa? Kita baik baik aja sebelumnya."
Sebenernya alasan ku menghindar itu cukup sepele. Yang pertama, aku hanya takut harapanku nggak seindah kenyataan. Kenapa? Pacarnya Allan itu cantik, cantik banget kaya artis. Wajahnya putih, mulus, tanpa cacat sedikitpun, jangankan jerawat, laler aja kayanya langsung minder untuk sekedar mampir. Beda denganku yang baru mengenal bedak, lipstik dan tek tek bengek lainnya karena tuntutan kerja. Rambutnya tergerai elok nan cantik dengan cat berwarna merah, sama sekali nggak keliatan nora, justru tampak berkilau dan indah saat tertiup angin. Sudah pasti semua itu adalah hasil perawatan salon yang mahal. Berbeda denganku. Ya rambutku juga merah sih! Merah karena sering kena sinar matahari.
Dan lekuk tubuhnya itu loh? Benar benar ada di jalur bahaya. Malam itu kulihat ia hanya menggenakan kaos biasa dan celana jeans. Tapi kok bisa gitu, membungkus setiap lekuk tubuhnya dengan pas, menampilkan aset depan dan belakang nya yang berharga. Sedang aku? Ya ampun, jalan bebas hambatan yang lurus, tanpa ada tanjakan atau turunan. Bikin minder nggak sih?
"Ananda Rhea Prahadi," ujar Allan memanggilku.
Aku masih menimbang alasan kenapa aku harus menghindar. Yang kedua. Tentu saja aku tidak mau dianggap menjadi PHO. Yang ketiga, ya kesel aja sih! Dia baru ketahuan punya pacar, setelah aku menaruh harapan.
"Iya Kak Allan Rahardian?"
Jawabku juga dengan nama lengkapnya. Ia nampak mengambil jeda, lalu menarik nafas panjang.
"Please. Jangan kaya gini jangan jauhin aku kaya gini. Iam sorry, kalau apa yang terjadi mungkin ngaruh banget sama hubungan kita. Nothing last's forever De, orang nikah aja bisa cerai. Apalagi aku yang cuma pacaran. Jadi jangan nyalahin diri kamu sendiri lagi. Nggak akan ada yang bilang kamu ini PHO. Ini bukan karena kamu. Justru ini salahku. Aku nggak kasih tahu hubunganku sama kamu dari awal."
Apa Allan punya Indra ke enam? Kok dia bisa tahu semua yang ada di pikiranku.
"Lagipula, apa kamu yakin bisa menjauh dariku?"
Aku tertegun mendengar kalimatnya yang seolah meremehkan. Pandanganku tak bisa lepas dan diam menatap matanya, karena setelah berkata seperti itu dia mendekat, lebih dekat, dan semakin dekat. Wajahnya kian mendekat, sampai hidungnya nyaris menempel dengan ku. Jantungku mulai nggak karuan, aku sempat berpikir kalau dia akan menciumku, tapi ternyata nggak. Dia malah meraih tubuhku lalu memelukku.
Tuh kan! Bagaimana aku bisa nyangka kalau dia punya pacar, sedangkan sikapnya padaku dari awal memang berbeda. Dari awal dia membuat aku merasa istimewa, terlebih setelah akhirnya kami berada di satu tempat kerja yang sama. Dia tak pernah absen untuk menjemput atau mengantar ku pulang meski jadwalnya sedang off. Dia tidak pernah makan lebih dulu, sebelum pekerjaanku selesai.
Dia juga sering memasak khusus untukku kalau kalau makanan yang ada kantin Dapur 2 tak sesuai selera. Bahkan saat jari telunjukku terluka kecil, dia yang paling panik mencari perban dan obat merah, lalu membungkus seluruh bagian tanganku, sampai tanganku tak bisa bergerak. Pokoknya, dia, dia dan dia. Semua tentang dia. Lalu bagaimana mungkin, aku yang memiliki hati lemah ini bisa bertahan.
"Kamu bisa aja yakin untuk menjauh dariku. Tapi kayanya aku nggak yakin bisa menjauh dari kamu. Please kita baikan ya. Jangan kaya gini."
Ahhh, dia bikin aku baper lagi. Sorot mata nya yang sayu ini. Bagaimana aku bisa menolaknya. Apalagi selama ini dia baik banget. Aku terlalu lemah, pada perasaanku sendiri.
***
"Nenk, kamu masih makan?"
Tanya Ibu, saat aku masih menyuapkan beberapa sendok nasi goreng ke mulut. Di rumah, Ayah dan Ibu selalu memanggilku Nenk, panggilan kesayangan orang Sunda katanya.
"Iya ini bentar lagi ini mau abis kenapa, Bu?" tanyaku dengan mulut yang agak penuh.
"Di depan ada temen kamu yang nungguin. Ibu ajak ikut sarapan bareng, dia nggak mau."
"Siapa yang kurang kerjaan pagi pagi gini udah ke rumah , Bu? Aku kan mau kerja."
Ibu itu kalau ngajak ngobrol, selalu sambil bolak balik, kaya sekarang ini mungkin sudah empat kali ia balik ke depan lalu ke dapur lagi, ke depan lagi, lalu ke dapur lagi. Jadi kalau ada informasi tuh nyampenya agak lama.
"Katanya temen kerja kamu, namanya Allan."
"Ppphhhtttt ...."
Aku langsung menyemburkan air putih yang baru setengah tertelan. Allan? dia kesini? Seriusan? Niat banget sih dia sampe bener bener ke rumah.
"Kak Nanda. Iiiihhh jijik tahu."
Aku lupa, semburanku berhasil kena baju Adel. Aku cuma nyengir pada adikku yang baru masuk sekolah SMA itu. Segera ku tenteng tas, lalu pergi ke depan. Dan benar saja ia sedang duduk pada kursi santai di teras rumah. Menggenakan seragam Chef lengan pendek berwarna putih dan celana hitam. Ahhh keren banget sih hari ini, ralat setiap hari dia itu selalu keren.
"Kak Allan," panggilku membuyarkan lamunannya.
"Eh De. Udah siap, ayok berangkat." Allan berkata tanpa basa basi.
"Kok tumben ke rumah. Biasanya nunggu di gang?"
"Takut kamu marah, takut kamu masih punya niat buat jaga jarak. Jadi ku persempit setiap kesempatan yang akan buat kamu menjauh dari aku."
"Heh?" Aku jadi senyum senyum sendiri.
"Mamahmu, ngajak aku sarapan juga. Tapi aku belum seberani itu buat ada satu meja sama keluarga kamu."
Aku mengambil helm yang disodorkannya. Lantas memakainya.
"Emang keluargaku gigit apa? Lain kali kalau Ibu suruh masuk, ya masuk lah."
"Ya udah kalau gitu, sekarang aku masuk pamitan dulu ama yg di dalem."
"Nggak usah. Aku udah bilang mau berangkat. Ayo kak."
***
Aku berjalan lebih dulu menuju pos security, sementara Allan memarkirkan motornya.
"Pagi Pak Heru," sapaku, pada Bapak Security yang sedang jaga.
"Pagi juga Nenk Nanda.”
Disini aku menjadi karyawan paling muda, umurku baru 20 Tahun. Allan sendiri berumur 5 tingkat di atas ku. Aku meletakkan jempolku di atas fingger print, berbarengan dengan jempol lain yang tidak ku kenal. Ya iyalah siapa yang bisa saling kenal sama jempol.
Aku menarik kembali tanganku saat sebelumnya berada di atas tangan pria ini, lalu mendongak dan mendapati seorang pria yang tadi absen berbarengan. Sama seperti Allan pria ini tinggi. Tapi sebulan disini aku belum pernah melihatnya. Ia hanya menatapku sekilas lalu pergi. Membuatku jadi bengong.
"Nenk Nanda masih pagi. Jangan bengong!"
"Hehehe."
Suara tawa yang garing lolos dari mulutku. Aku lanjut berjalan menuju divisi. Sudah ada Stella, dan Dion yang sedang membereskan area operator.
"Loh kok masuk pagi semua? Terus ini yg shift malem siapa donk?" tanyaku begitu datang.
"Aku sama Stella lembur. Kan kamu pulang sore," jawab Dion tanpa menoleh.
"Ohhh."
Aku hanya ber ooh ria. Lalu mengambil sapu dan kain pell di belakang. Setelah kembali aku mulai membersihkan area lantai operator, dan saat aku melihat ke arah dapur aku menemukan dia lagi, pria yang tadi absen berbarengan denganku. Pandangan kami bertemu sekilas, lalu ia kembali tertawa cekikikan bersama Staff dapur yang lain termasuk Allan. Lalu setelahnya pandanganku bertemu dengan Allan yang melempar senyum. Ahh Bang Allan, hati adek meleleh bang di kasih senyum kaya gitu tiap hari.
"Erhmmm."
Stella menyenggol sikuku, sambil berdehem. Membuatku salah tingkah sendiri.
"Hargailah kami para jomblo ini."
Semua salah paham, semua tak ada yang tahu. Please aku ini juga jomblo. Jomblo yang sedang menunggu di tembak Allan.
***