Air Mengalir

1397 Kata

Ananda Rhea Prahadi Aku menyempatkan diri untuk pergi ke toilet setelah selesai melakukan prepare di area operator. Aku berdiri di depan wastafel. Tak ada siapapun disini. Hanya ada aku, cermin besar dan luka yang bukannya menutup, tapi justru kian membesar. Aku tidak bisa lagi membendung tetesan ini. Ia mengalir bersamaan dengan air yang ku basuhkan di wajah. Sebagai penanda bahwa aku pernah merasakan jiwa yang sesedih ini. Aku akan mengingat ini adalah hari-hari terburuk yang pernah ku lewati. Bagaimana aku bisa bertahan, sedangkan dia ada disana. Tanpa melihatku, juga tanpa perduli keberadaanku. Hatiku ingin sekali mengenyahkan setiap adegan yang awalnya tak ku sesali. Tapi otakku menolaknya dengan sangat tidak pantas. Memaksaku untuk terbayang pada rekaman hasil peluh yang kami laku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN