IZIN

1013 Kata
Apakah nanti wanita itu akan mendapatkan persetujuan dari lelaki dengan jas putih itu atau tidak? Yah tentunya saat ini dia masih berpikir, karena dia selalu mengingat perkataan dari anak Tuan yang mempunyai Rumah sakit ini, dia tidak bisa melanggar peraturan yang telah di berikan, pasalnya dia hanya bekerja dan di berikan makan di rumah sakit ini. Dokter yang sekarang meminta perawat itu pergi memutuskan untuk duduk, dua bingung sepertinya karena harus memikirkan hal yang konyol ini. Flashback off. "Apakah anda mengerti apa yang telah saya katakan?" lantas dia membuka pintu ingin keluar dari ruangan itu. Tetapi sebelum benar-benar lelaki yang berada di depan pintu itu pergi, dia membuka mulut dan juga bertanya. "Apakah kalian mempunyai hubungan sehingga dia anda tahan di tempat ini?" tanyanya menghentikan pergerakan dari lelaki itu,"apakah itu adalah hak kamu untuk mengurusi apa yang saya perintah kan?" lebih kejam lagi dia bertanya membuat Dokter itu tidak bisa berkutik. Yah, saat ini di ruangan yang tampak lebih besar dan juga mewah, ruangan VIP untuk dokter keluarga mereka, dan kaki ini di tugaskan oleh lelaki dengan mata elang itu untuk melakukan apa yang dia minta. Segera sebelum benar-benar pergi, langkahnya juga berhenti karena saat ini dia melupakan sesuatu hal yang sangat penting. "Saya lupa, jangan sampai anda memperbolehkan dia untuk pulang sebelum mendapatkan izin dari saya," wajahnya belum juga tampak sepenuhnya hanya rahang yang keras kelihatan menjadi ciri khasnya. "Apa?" dia tambah terkejut peraturan ini sepertinya tidak lagi masuk akal untuk dirinya,"apakah kali ini kamu juga berusaha untuk menentang apa yang saya mau?" sudut bibirnya tertarik membentuk smirk khas yang sangat mempesona. "Tidak, saya akan lakukan apa yang anda perintahkan," dia membuka pintu untuk atasannya, dan segera tidak ada lagi sesuatu yang terjadi kecuali keheningan yang menjadi hal yang utama di tempat itu. Dia terdiam sejenak memikirkan apakah dia harus melakukan perintah dari anak atasannya yang kadang tidak masuk akal, dia hanya memukul dinding bernuansa hitam putih itu, dan menatap ke arah balkon. Dengan suara yang sedikit dia kecilkan, dia mengeram,"aku bahkan tidak mau selalu di salah gunakan seperti ini," tuturnya dan kembali pada tempat duduknya. Flashback on. Setelah beberapa lama telah berada di atas ranjang yang sangat dia benci ini, dia kira dia bisa keluar dari labirin yang sangat membosankan ini namun dia masih di tahan entah karena alasan apa. Zee menatap dengan kemas ke samping tepatnya ke arah foto yang terpajang pada kamar VIP itu, yah meskipun dia berada di dalam kamar VIP rasanya dia sangat bosan dengan saat ini, dia ingin pergi dan melupakan bau yang menyeruak antara kain dan juga kain kafan. "Apakah saya belum bisa pulang, Dok?" tanyanya sembari mencoba untuk duduk,"tidak bisa, anda masih perlu perawatan yang lebih besar lagi, ini belum cukup," ucapnya dengan nada yang sedikit rileks,"hahah," Zee benar-benar tertawa, habisnya dia tidak bisa menyelesaikan semua ini hanya dengan paksaan. Dokter tahu itu pasti tawa yang melecehkan dirinyalah, maka dari itu dia yang tadinya sempat memutarkan badan untuk pergi kali ini mencoba mengajak berbicara Zee. "Apakah saya terlihat sangat menyedihkan sampai-sampai anda tertawa bengis seperti itu?" tanyanya sembari menatap bola mata Zee. Zee masih tertawa, dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa lagi pertanyaan yang konyol ini, namun yang pasti dia akan menjawab semua deretan pertanyaan itu setelah tawanya mulai mereda. Dan kini Dokter yang tadi melihat bola mata Zee kembali lagi terdiam, karena melihat bahwa Zee sudah membuka mulutnya,"anda sangat lucu, atau rumah sakit ini yang tidak memperbolehkan untuk pasiennya agar pulang?" dia bertanya dengan nada yang dramatis sungguh. "Apakah anda tahu apa yang anda katakan barusan?" dengan cepat dia menjawab pertanyaan Zee,"ya, saya tahu bahwa anda ingin melakukan pasal ataupun tindak pidana apapun itu yang bisa merugikan saya," dia sangat berani mengatakan hal itu. Dokter itu mendesah dengan keras dia melepaskan dasinya,hampir saja dia kehilangan emosi di depan pasien yang sangat berharga ini, namun untung saja emosinya dapat dia kontrol. "Maafkan kami, tetapi yang pasti saat ini anda belum sembuh total, kami hanya ingin menjaga kesehatan setiap pasien yang datang ke rumah sakit ini," dia dengan tegas dan juga percaya diri berkata seperti itu. Zee terdiam sebentar, entahlah! namun dia melihat tadinya sikap yang diberikan oleh Dokter ini sangatlah aneh, kenapa dirinya tadi bersikap seolah acuh tak acuh dan satu menit kemudian beralih lagi menjadi garang, dan satu menit lagi berubah seperti putri kerajaan yang sangat sopan dan elegan. Di seberang sana Vanessa sangatlah senang dengan liptint yang melekat pada bibir merahnya dan juga bedak yang sangat cocok untuk kulitnya serta jangan lupa untuk dres yang dia kenakan,"apakah kamu akan pergi, kenapa terlihat sangatlah rapi?" tanyanya dan menatap ke arah tangga yang berjalan Vanessa. Vanessa terus melanjutkan langkahnya, dia juga melemparkan senyum itu,"tidak, hanya saja Puteri mu ini akan pergi makan malam bersama pangerannya," wah dia terlihat sangatlah terobsesi dengan lelaki yang akan mengajak dia makan malam,"apakah kamu sangatlah senang?" tanya ibunya dan memakan makanan yang berada di depannya. Tiba-tiba suara klakson mobil itu membuyarkan semua percakapan mereka, dan yang pasti Miracle adalah sosok lelaki yang membunyikan klakson mobil itu. Setelah tiba di depan rumah itu, Miracle menghubungi Vanessa dia juga tidak mau lama-lama berada di tempat itu karena rencananya masih sangat panjang, dia menghubunginya dan segera meminta Vanessa untuk turun. Tidak lama, mereka akhirnya sampai di depan restoran yang sangat mewah itu, ada beberapa pasangan yang terlihat senang dengan pakaian yang tak kalah saing dengan pakaian yang di kenakan oleh Vanessa. Mereka makan, dan terlihat beberapa pasang mata juga melihat ke arah mereka karena Miracle cukup terkenal di kalangan para dunia berbisnisan. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi, tidak banyak percakapan di antara keduanya kecuali saat ini, saat-saat mendebarkan bagi Vanessa. "Sayang, apakah kamu ingin kita pergi untuk berbelanja?" dengan kata sayang, dan ini berhasil membuat meledak jantung serta pikiran wanita itu,"apa?" mengatakan kata saja dia bahkan sudah ingin mati rasanya,"kenapa? apakah kamu ingin cepat pulang?" tanyanya sembari mencoba untuk memastikan saja. Mendengarkan kata pulang, jelas-jelas membuat kesadaran dari Vanessa meningkat drastis dia tidak mau pulang secepat ini, sia-sia make up yang dia kenakan,"tidak, siapa yang ingin pulang," ucapnya dengan nada yang tidak suka membuat lelaki itu tertawa kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN