JEPANG!

1066 Kata
Rencana memang indah, tetapi ada baiknya jika rencana itu juga diimbangi dengan perasaan. *** Sebenarnya untuk saat ini jelas seorang yang berada di depan sana, merasa gelisah dan juga sedikit takut, pasalnya dia akan melakukan meeting, dan alhasil dia tidak mempersiapkan diri, memang meeting ini dadakan. Sekretaris yang memakai liptint merah dan rambut pirang sedikit itu, datang dengan sopan, sembari membuka mulut. Dia bergerak sedikit,"apakah Tuan akan menghadiri meeting yang akan kita lakukan?" dia tetap mencoba untuk tersenyum,"apakah lebih baik aku tidak ikut?" wajahnya muram bertanya akan hal yang tidak mungkin. "Apakah tuan benar mengatakan hal itu?" dia bertanya,"iya, ini mungkin lebih baik, karena sekarang persiapan kita yang kurang matang," dia sedikit menunduk,"tetapi tuan, ini adalah clien kita dari Jepang, bagaimana mungkin tuan tidak datang," sedikit melawan perkataan dari Tuannya,"apakah kamu mengerti bahasa?" tuannya tidak segan-segan untuk menatap matanya dengan tajam Sekretaris yah sekretaris, tetapi untuk kali ini, demi kepentingan bersama, dia harus sedikit m meronta-ronta tuan mereka agar dapat mengikuti meeting tersebut,"aku ingin perusahaan ini sedikit maju tuan, aku tahu uang tuan sudah banyak, tetapi apakah mungkin hanya aku yang pergi?" dia bertanya, sungguh tidak ada lagi sopan santunnya,"hah?" dia hanya bisa menatap ke depan, dengan tatapan yang kosong. "Apakah tuan sudah bersedia untuk ikut?" setelah beberapa menit, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali lagi bercakap,"saya hanya perlu memikirkannya lagi," ucapnya ketus,"apakah hal yang perlu anda pikirkan lagi," dia seakan membentak, terlihat frustasi sekali,"apakah kamu masih mau menjadi sekretaris saya?" dia terpaksa mengatakan hal itu, karena melihat sikap dari sekretarisnya yang mulai melonjak,"saya arggg... Baiklah Tuan saya hanya menginginkan yang terbaik saja, kalau memang saya tidak cocok lagi menjadi sekretaris Tuan, saya akan segera mengundurkan diri setelah meeting ini selesai," putusnya membuat dia sedikit menunduk dan melihat ke arah yang berlawanan dari sekretarisnya. Langkah dia sudah mulai mendekati pintu, dia sudah bingung pekerjaan di mana lagi yang harus dia cari, sedangkan dia juga tahu, bahwa mencari pekerjaan adalah hal yang sangat sulit di masa teknologi ini. Tetapi tidak mungkin dia kembali menarik perkataan yang sudah dia keluarkan, maka dari itu dia hanya mendengus napas kesal, dan dalam hati berdoa jikalau semua yang dia ucapkan tadi hanyalah sebuah pelengkap dari emosi dirinya kepada Tuan itu. Satu langkah lagi, dia akan keluar dari zona itu, namun ternyata ada perubahan dari tuannya, ini memungkinkan dirinya untuk kembali menenangkan diri, dan merilekskan wajah agar tidak terlihat takut,"apakah kamu benar-benar ingin memajukan perusahaan ini?" pertanyaaan yang sangat gampang jawabannya, namun untuk tidak perbuatannya,"ya," dia sedikit gugup mengatakan hal itu,"apakah kamu yakin?" lagi-lagi dia mencoba untuk menggoda sekretarisnya agar mendapatkan jawaban yang pasti. Mata mereka berdua saling menatap, entah kenapa tetapi mood dari lelaki itu sedang tidak bisa di atur, dia bahkan baru pertama kali ini memiliki rencana untuk tidak mengikuti meeting,"apakah tuan pikir saya bermain-main dengan semua ini?" dia kembali menantang sikap dari lelaki itu,"saya kira saya berubah pikiran," dia menoleh ke belakang dari posisinya semula,"apakah tuan mau untuk mengikuti meeting hari ini?" dia sangat senang, saking senangnya dia memeluk tuannya sendiri."apakah kamu mau saya pec__" ucapnya terpotong saat itu karena sekretarisnya yang menutup mulutnya,"trimakasih," satu kata yang dia ucapkan dan benar saja, jantung dari lelaki itu berdegup dua kali lebih cepat, kepunyaan dia sudah naik satu centi meter, wajahnya sudah terlihat memerah. "Baiklah, kita akan meeting dia jam lagi, apakah Tuan butuh bantuan?" dia melepaskan pelukan itu,"yang benar saja, dia jam lagi?" bola matanya sedikit melebar,"yah, dan klien kita anda tahu dari mana?" dia mendekati Tuannya dengan penuh senyum dan juga langkah kaki yang pelan sekali,"dari mana?" dia sudah gugup, apakah ini kenapa dia gugup? Beberapa detik, setelah tatapan mata mereka beradu,"Jepang," bibirnya saat ini tepat berada di depan wajah lelaki itu. 'Apakah aku bodoh? sejak kapan aku memberikan ruang kepada wanita ini?' dia bergumam,"baiklah, Jepang?" wajahnya kembali memerah dan juga jangan lupa bola matanya yang selalu beriringan datang seiring kata Jepang yang dia dengarkan. *** Zee yang tengah menghapus keringat di dahinya, hanya bisa mendengus napas pelan, karena sekarang ini dia menahan terik matahari yang sangat panas, dan menahan tanah yang sedikit panas juga,"apakah aku harus istirahat juga sebentar?" dia melihat bahwa pekerjaannya masih banyak, sedangkan saat ini Tuannya belum pulang. "Aku bahkan butuh asupan untuk semua semangat ini," dia sedikit lesu dan akhirnya duduk di atas tanah itu. Ibunya datang, melihat putrinya yang pasti sangat lelah,"apakah ini perlu mengambil satu gelas minuman dingin kepada kamu?" dia datang dang membuat terkejut Zee yang tadinya menatap ke depan,"argg... kenapa ibu selalu mempunyai hobi untuk membuat aku terpengaruh dan terkejut?" ini membuatnya sedikit frustasi saja,"benar? apakah ibu terlalu membuat kamu terkejut setiap hari?" ibunya juga melihat ke depan. "Arg, sudahlah ibu tolong ambilkan saja kepada putrimu yang cantik dan putih mulus ini, minuman," dia membuat matanya seperti lelah sangat, ibunya tidak bisa berbuat apa-apa,dan langkah kakinya benar-benar hal yang terbaik,"baiklah, kamu memang putri ini yang sangat cantik, karena hanya kamu putri ibu," ibunya pergi meninggalkan Zee yang sudah cengigiran di tepi sana. "Argg.. ibuku yang terbaik," dia bahkan bertingkah seperti anak kecil saja,"jangan buat geli ibu," ucap ibunya setelah berjalan beberapa meter dari tempatnya,"apakah ini mempunyai Indra pendengaran yang cukup bagus?" dia kembali bergumam sendiri,"ibu memang hal yang terbaik aku dapatkan dari Tuan, makasih untuk ibu yang Tuhan berikan kepadaku," dengan wajah imut dan juga suara yang sedikit dia pelankan, dia mengucap syukur. Satu jam telah berlalu, dan benar saja lelaki yang saat ini berada di bangku yang dia duduki, sedikit masih ada rasa gelisah yang memenuhi semua isi pikiran dan juga hatinya,"apakah nanti aku akan bisa bahasa Jepang?" dia bergumam tetapi hal itu sudah pernah dia pelajari beberapa bukan yang lalu, dia pasti bisa. "Aku pasti bisa, ini semua untuk membuat bangga ayah dan juga ibuku," dia membulatkan tekad, agar bisa bahasa Jepang. Tetapi sekali lagi dia memang bodoh, bagaimana dia bisa pandai, padahal dirinya hanyalah memikirkan wanita dan wanita saja. Tetapi dia mematahkan hal itu, dia sudah dewasa, sudah mempelajari semua hal ini,"aku adalah aku," wajahnya dingin, suasana yang mencengkram membuat diri nya semakin terlihat sebagai seorang yang sangat berwibawa. Jam dinding berdetak sesuai arahan yang telah di tentukan, tidak ada suara, hanya ada tatapan yang menuju pada laptop dan juga tangan yang selalu mengotak-atik di tas keyboard yang ada di depannya, matanya sangat fokus sekali, ini merupakan pertarungan dirinya, dia harus berusaha mendapatkan bahasa Jepang yang mudah di mengerti dan sesuai dengan bahasa dalam memainkan meeting. "Nah, ini dia," dia benar bangga pada dirinya sekarang, dia sedikit mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN