DAN AKHIRNYA

1015 Kata
Saat mata tertutup, sepertinya yang bekerja untuk melihat dan mendengarkan adalah otak bukan? Saat ini Mutiara benar-benar sangat senang Pasalnya wanita yang dia inginkan telah datang ke rumah, dan sekarang dia mau menghukum lelaki yang berada di depannya. "Apakah kamu lupa akan janjimu?" tanya wanita yang sudah berumur itu kepada Miracle. Miracle malah tersenyum, bahkan saat ini dia menatap ke bawah takut kalau ibunya marah, di tengah saat tatapan panas itu membara lelaki yang bernama Alexander itu datang serta melihat wanita yang putih bening bagaikan mutiara itu. "Apakah itu kamu Vanessa?" tanyanya sembari duduk di samping Mutiara. "Iya," dia terlalu kaku dengan kata iya. Mata mereka berempat saling menatap satu sama lain, terutama untuk Mutiara yang ingin mendapatkan kejelasan akan hubungan dan juga Jani yang telah dia katakan. Karena melihat bahwa badan dari Vanessa sudah sangat capek satu malam ini, Mutiara meminta dia untuk istirahat di dalam.kamar Miracle, bola mata Miracle segera membulat bagaimana mungkin dia tidur bersama pacar yang belum penuh satu minggu mereka jadian? Sebentar, Miracle menghentikan langkah kaki dari Vanessa, dia membuat Alexander dan juga Mutiara juga ikut bingung,"apakah kamu mengalami gangguan jiwa, apakah kamu bisa membiarkan dia tidur di dalam kamar pembantu itu?" tanyanya sembari mendekat dengan pelan pergelangan tangan dari anaknya. "Bukan begitu ibu, tetapi apakah tidak masalah kami berdua tidur satu ranjang?" Deg... ini membuat bola mata dari Vanessa yang tadinya tidak bisa dia tahan lagi karena ngantuk berat, tetapi saat ini dia benar-benar berbinar matanya. "Apakah itu masalah?" tanya dari wanita yang kini berada duduk di sofa itu dengan sopan. Beberapa menit kemudian, setelah mereka berunding tiba saatnya untuk Vanessa tidur di dalam kamar lelaki yang mencintainya, dan juga dia cintai. Dia bergerak cepat dan menutup pintu, matanya sudah kembali segar seiring waktu dia berjalan, sepertinya ini akan menjadi salah satu sejarah yang membuat dirinya hidup, ini adalah satu hal yang membuat dia merasa bahagia. "Arg.. selamat datang di dalam dunia barumu Vanessa," dia bergumam dan satu menit kemudian menutup matanya karena mendengarkan ada suara kaki datang mendekat ke arahnya. Ternyata setelah di tunggu-tunggu tidak siapapun yang datang, suara itu hanyalah pengisi dari ruangan itu, kalau di lihat-lihat sepertinya ini adalah suasana kamar yang sangat indah, ruangan yang sangat besar dan juga fotonya yang sangat besar, benar-benar membuat Vanessa tersenyum tak kalah henti. Dia memegangi foto itu, dan kembali lagi tersenyum, melihat bahwa pacar nya benar-benar ganteng dan juga berwibawa. Dia kembali lagi mengintip kamar yang ada pada bagian yang satu lagi, dan ternyata itu adalah ruangan ganti, dia melihat mulai dari dasi yang memilki ukuran dan juga warna yang berbeda-beda, benar-benar menarik bahkan dia juga merasa bahwa harumnya ruangan ini melebih-lebihkan ruangan yang lain. "Ini adalah aroma parfum dari lelaki yang selalu membuat diriku tidak bisa fokus," gumamnya sembari menjamah rak kemeja yang berisi kemeja putih spesial. Harumnya memang iya, dan lebih pentingnya saat ini semua kemeja itu membuat hati dari Vanessa ingin sekali mengambil foto dan mengabadikan hal itu kalian juga tahu bukan bahwa dengan mengambil foto itu akan menjadi salah satu sejarah yang sangat penting. Cekrek, dan benar sekali tangannya sudah bergerak mengambil satu photo dan satu kali ini, ini di tempat yang sangat benar-benar bagus, cermin yang sepertinya sangatlah besar membuat dirinya terlihat berada di pentahouse, rambutnya yang dia biarkan terurai dengan sendirinya kali ini cukup mewakili perasaan yang dia miliki. Beberapa menit telah berlalu Miracle juga mengihklaskan kamarnya di miliki oleh wanita yang belum dia kenal lama, dia menaruh tubuhnya di atas sofa yang berada di ruang tamu, dan selebihnya dia hanya berpasrah apakah dia bisa bertahan di atas sofa ini. "Bangun, apakah kamu tidak berangkat ke kantor, dan memberikan kejelasan kepada ibumu ini?" tanya Mutiara sembari membuka gorden yang tebal bernuansa abu-abu itu. "Apakah ibu mempunyai perasaan, saya baru saja tidur, dan ibu telah membangunkan saya?" gumamnya sembari kembali menarik kain tipis yang tidak dia tahu siapa yang menutup tubuhnya. "Ini sudah jam delapan pagi, dan kamu masih bisa mengatakan hal seperti itu, lihat saja Venasse dia sudah memasak dan menyediakan hidangan untuk kita," dengan mengatakan hal seperti itu jelas-jelas membuat bola mata dari Miracle segera membulat dan tubuhnya berdiri dengan cepat. "Apakah ibu bercanda, ini sekarang masih jam__" ucap ya terpotong dan dengan langkah yang cepat dia menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia telah kembali dan menjadi sosok yang sangat rapi, untuk wanita yang baru saja keluar dari dapur dengan nampan yang ada di tangannya, dia melihat bahwa lelakinya sudah datang dengan kemeja putih yang semalam dia cium. "Apakah kamu sudah lama bangun, duduklah sayang ini bukan pekerjaan kamu," Miracle jelas membuat bola mata dari Mutiara dan juga ayahnya sedikit membulat, berarti hubungan mereka sudah berada di atas. Zee menghentikan langkah kakinya, dia merasa kali ini hatinya kembali lagi di tusuk oleh ribuan belati, bahkan dia juga tertawa hampa, hanya dengan mendengarkan kata sayang, dan bukan pekerjaanmu rasanya mentalnya telah di siksa perlahan namun pasti. "Apakah kamu akan memberikan makan tiang penyangga itu?" tanyanya sembari tersenyum, siapa lagi kalau bukan Maya ibu Zee yang telah merasakan pedihnya hati anaknya. "Tidak apa, aku hanya ingin berdiri di tempat ini lebih lama lagi," ucapnya dan kali ini membuat ibunya hanyalah pergi meletakkan makanan yang berikutnya. Setelah mereka selesai makan, Vanessa di panggil oleh Miracle, di ruang te gah yang suasana hangat dan juga ada ibu serta ayahnya, jangan lupa Zee yang sengaja di minta oleh Mutiara membuat teh, dengan tujuan agar dirinya mendengarkan sendiri nantinya akan hubungan anaknya dan juga wanita ini. "Apakah ada hal yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya sembari menundukkan kepalanya tidak menatap mereka. "Kamu hanya perlu di tempat itu, saya akan membutuhkan jasa kamu," ucapnya dengan nada menyindir. Miracle menatap ke mereka semua, kecuali untuk Zee, dan dengan napas yang dia tarik dia berjanji akan menyelesaikan semua ini. "Apakah Vanessa mau menjadi istri saya?" dengan formalnya dia membunuh mental dari Zee. Bola mata dari Zee dan juga Vanessa seketika membelalak, sepertinya ini adalah tujuan dia mengundang makan dirinya tadi malam, ini adalah hal yang sangat penting bagi Venassa. "Apakah kamu mau menjadi menantu ibu?" kali ini Mutiara yang bertanya dan menarik pergelangan tangan dari wanita yang sudah pucat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN