WANITA MASA LALU

1010 Kata
Semua pasti sudah tahu bahwa wanita yang kali ini mengangkat tangan tinggi-tinggu marah besar akibat debu dan flek hitam yang berada di mana-mana. Semua tatapan cleaning servis yang bertugas hanya bisa menarik napas tidak tahu lagi harus berbuat apa, mereka sungguh takut kalau nanti akan ada perubahan. Di tengah pekiknya situasi, mata Miracle segera tertuju kepada Vanessa, mengapa dengan pacarnya yang sudah marah di pagi-pagi seperti ini. "Kenapa?" dengan suaranya Vanessa seketika menundukkan kepala. Begitu juga dengan cleaning servis yang berada di tempat itu, mereka menunduk tanda penghormatan,"sepertinya ada situasi yang tidak baik, bolehkah saya mengetahui hal itu Vanessa?" Dia bertanya karena saat ini tidak ada hubungan pribadi, melainkan hubungan kerja. Vanessa menunduk,"para petugas kebersihan tidak benar-benar bisa bekerja dengan baik," dia mengangkat kepala melihat beberapa petugas itu dengan tatapan yang tajam,"apakah benar yang dia katakan?" dia seolah tidak mempercayai Vanessa, tetapi sebaliknya dia hanya bertanya untuk menyatakan kebenaran. Karena mereka semua terdiam, pertanda ini adalah benar, Miracle telah berusaha menjadi sosok pemimpin yang tegas, sikapnya kali ini membuat semua karyawan dengan wajah yang sudah ketar-ketir tamvah parah lagi sekarang. "Vanessa datang ke kantor saya dan buat pengumuman nantinya," sepenggal kalimat dapat membunuh otak syaraf mereka yang berada di te Pat itu. Siang ini masih dalam keadaan yang sama bola mata Zee sudah kembali normal, dia tahu apa penyebab lelaki ini membawanya. Dia berniat tidak pulang, mungkin akan lebih baik jika beristirahat di tempat yang nyaman, besar dan juga gratis ini, hidupnya seperti tidak ada beban saja. Kolam dengan kaki keduanya menyatu bak insan yang telah di pertemukankan kembali, kakinya dia goyang&goyangkan ke atas dan bawah dengan maksud untuk menikmati kesegaran di rumah mewah ini,dia memakai kemeja tipis berwarna putih dengan jus yang berada di sampingnya. "Apakah Nyonya membutuhkan sesuatu?" nada suara yang lembut menyentuh hatinya. Dia tidak menoleh, melainkan hanya merasakan seperti ini senangnya di layani dia teringat akan situasi yang terjadi beberapa tahun lalu ketika dia selalu bekerja dan berkerja dengan kalimat seperti itu. Sekali lagi wanita yang sudah berada di belakang Zee bertanya dengan memegang pundaknya yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. "Nyonya, bagaimana apakah ada hal yang perlu saya bawakan? apakah nyonya lapar?" deretan pertanyaan itu membuat sadar wanita itu dari lamunannya. "Jangan panggil saya Nyonya," tawanya sedikit mendaratkan beberapa polesan tangan pada lengan wanita itu. "Bagaimana?" dia bingung sehingga mengeluarkan kata seperti itu. "Saya hanyalah teman dari dia," dia menunjuk seperti menunjuk seseorang yang tidak mempunyai harga diri saja. "Awas, jangan tunjuk Tuan muda seperti itu nanti kamu rasakan sendiri akibatnya," mereka langsung berhenti, iya beberapa pembantu yang melihatnya menunjuk tanpa beban, itu terlihat menganggu aktivitas mereka saja. Zee bingung apakah masalah menunjuk orang seperti dia ahk, dan ternyata saat ini lelaki dengan sebutan misterius bagi seorang Zee memperhatikan dirinya, dia datang dan meminta pembantu itu untuk pergi saja. "Lebih baik, anda pergi saja," dengan kalimat itu pembantu tadi segera pergi meninggalkan mereka berdua. Di sisi lain Mutiara mencari-cari keberadaan dari Zee, pasalnya sejak saat kejadian itu berlalu satu hari dia sama sekali tida pernah lagi melihat di mana wanita yang tidak tahu malu itu. Mutiara melangkahkan kakinya bagai orang gila yang penuh dengan beban pikiran, dia pergi ke kamar Zee tetapi tidak mendapati siapapun di sana, dia pergi ke dapur tetapi tidak ada juga orang yang dia cari hingga ini tempat terahkir yaitu taman, dia rasa wanita yang tidak tahu malu itu pasti berada di taman, pasti dia sedang senang-senangnya dan memainkan ponselnya dengan mengangkat salah satu kaki ke atas. "Bagaimana ini?" tanyanya reflek karena kali ini sudah berada di taman tetapi tidak ada jejak yang dapat dia temukan. "Ada apa?" suara Maya sontak membuat terkejut Mutiara. Mereka berdua saling menatap dan kemudian Mutiara lah yang memutuskan pandangan itu, dia tidak menjawab pertanyaan dari Maya melihat wajahnya saja sudah membuat jijik hatinya lebih baik dia pergi. Sedangkan Maya dia sama sekali tidak kepikiran di mana putrinya, yang pasti dia hanya mengihklaskan agar Zee selalu dalam keadaan yang baik, untuk melarang dia pergi ke suatu tempat mungkin adalah kesalahan yang terbesar dalam hidupnya, melihat bagaiman perlakuan dia semasa Zee kecil sungguh menyayat hatinya. Malam ini kembali menjadi malam.yang spesial untuk seorang Zee pasalnya di tidak pulang ke rumah dan lebih bahagianya dia tidak di cari, tidak ada notifikasi dalam ponselnya dan juga tidak ada bunyi apapun itu dari rumah, ahk ini adalah malam yang penuh dengan kebahagiaan. Dia meminta tolong kepada lelaki tadi, dan bodohnya dia belum bertanya siapakah nama dari lelaki itu, sudah tinggal satu hari di dalam rumah namun dia bahkan tidak tahu siapa namanya. "Apakah saya boleh tinggal satu malam ini di sini?" bola matanya memelas sepertinya dia akan kembali lagi meminta tolong kepada lelaki itu. Dengan wajah yang bimbang dia tentunya tidak tahu lagi harus mengatakan apa-apa dia kembali memutar badannya dan hendak pergi, namun pergerakan dari Zee dua lali lebih cepat dari perkiraannya. "Aku mohon," dia sudah berada di depan lelaki itu, langkah berikutnya Zee kembali lagi melangkah dengan cepat membuat lelaki tadi merasa kelelahan. Mulutnya berlawanan dengan kata hatinya. "Apakah kamu suka kepada saya? kamu seharusnya pergi dari sini," gumamnya dengan tangan yang dia masukkan ke dalam kantong celana hitam yang dia kenakan. "Tidak, aku tidak mau," rengekannya seperti sudah lama saja mengenal lelaki itu. Hatinya seketika menjadi berdebar, jantungnya marathon pasalnya ini sama sifatnya sewaktu mereka masih SMA, di tengah kelalaian yang dia perbuat sendiri lelaki itu tidak dapat menahan badan Zee sehingga bada mereka berdua saling menindih. Bola mata itu sudah tidak asing lagi, Zee merasakan gejolak hati yang berbeda, apa ini? kenapa dia seperti ini dan dia bingung dengan jantungnya ini. Mereka berdua sepertinya sudah lama mengenal, ada pembantu yang melihatnya sehingga otomatis Zee berdiri tetapi langkah kakinya sungguh tidak seimbang kini dia kembali lagi terjatuh tepat pada d**a yang bidang milik lelaki itu. Pembantu semakin tertawa, tetapi dia tidak sanggup menonton ini dia kembali bekerja seolah tidak melihat apa-apa. "Apakah kamu sengaja ingin dekat-dekat dengan saya?" tanyanya dan tertawa sinis meratapi sekarang dirinya masih saja ditindih oleh wanita masa lalu ini. "Hey, apakah aku terlihat seperti wanita yang tidak mempunyai pacar?" bibirnya refleks mengatakan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN