RUNTUH

1503 Kata
Bukan rasa ini yang dia mau, bukan ini yang diinginkan oleh Vanessa, namun jika kedua orang tuanya merestui hubungan yang normal ini, apa boleh dia buat? Sedikit wajah yang saat itu tidak bisa Vanessa tunjukkan, dia sangatlah bahagia, namun kebahagiaan itu tidak boleh dia tunjukkan di depan orang yang dia cintai, hanya demi gengsi dia rela berbuatseperti ini. “Kenapa dengan wajah kamu, apakah kamu tidak ingin tinggal lebih lama di rumah semewah ini,” tunjuk mutiara kedua tangannya melambung ke atas.”Siapa yang tidak suka pemandangan dan juga rumah yang mewah ini, aku hanya,” bibirnya terhenti seiring melihat wajah dari wanita yang berada di depannya,”ada apa? Apakah kamu mau menolak permintaaan dari ibu?” tanya wanita itu dengan bola yang sedikit lesuh,”aku tidak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya memeluk Mutiara, mereka seakan tampak seperti seorang anak dan ibu yang telah lama tidak berjumpa. Pergerakan tangan dan juga kaki dari Zee semakinndekat saja, dia binging ini sudah larut malam, tetapi kenapa lampu depan masih menyala? Dia berniat akan mengunjungi tempat itu, namun langkahnya terhenti saat mendengarkan gelak tawa yang sungguh membuat hatinya kembali merasa miris. “Lagi-lagi mereka, apakah mereka belum puas melihat aku yang seperti ini,” keluhnya dengan air mata yang dia tahan.’sepertinya saat ini aku belum bisa untuk bahagia,’batinnya dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding putih di belakangnya,”arg ini lebih dalam, sakitnya sangtlah dalam, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa,” dia menangis dan memukul dadanya dengan sesak. Beberapa waktu yang dia jalani, selalu saja membuat perasaan dan juga mentalnya terbentuk dengan buruk, kalau seperti ini rasanya, dia kan mati di tempat, apkah dia akan bertahan sampai detik waktu yang diberikan oleh tuan? dia menangis dan masih memukul dadanya dengan keras, menahan air mata sungguh sangat sakit, sehingga dia harus mengigit bibir bawahnya de3ngan kedua gigi taringnya,”inikah yang di maksud dengan sesak?” dia kembali lagi memukul d**a dan berusaha untuk pulang ke kamarnya, namun langkah kakinya terhenti saat kupingnya mendengarkan ada hal yang lebih sakit dari hal ini,”apakah kamu boleh lebih lama di sini?” tanya lelaki yang memberikan dia sebutir pengharapan tanpa kejelasan,”apakah ini, sungguh apakah aku boleh mati untuk sebentar saja,” gumamnya dan mengintip apakah itu benar Miracle, ataupun ayah dari Miracle, dia tidak bisa berbicara, mulutnya seakan mengatakan untuk diam saja, dan raganya mengatakan untuk diam saja di tempat, ini membuatnya lebih takut, percakapan yang dia dengarkan lebih menusuk ke dalam hati. “Apakah kamu tidak rindu melihat kedua orang tua ini?” ini adalah suara dari Miracle “Apakah aku terlihat tidak merindukan kalian berdua?” ucapnya dengan nada yang bertanya sembari melihat kearah Mutiara dan juga Alexander. Mereka semua tertawa, dan ini adalah hal yang paling sensitive untuk indra pendegaran dari Zee, yang sudah menangis tersedu-sedu dan jangan lupa untuk d**a yang masih dia pukul. “Apakah kalian tidak mempunyai rencana untuk menikah?”duar, pertanyaan yang membuat bulu kuduk dari wanita itu seketika merangkak naik,”apa?” mereka berdua kembali lagi membuka bola matanya yang tadinya sempat menunduk.”Apakah kalian mempunyai masalah lagi? Ini sudah berjalan hampir dua bulan, tetapi kenapa kalian masih tidak bersedia sampai sekarang?” tanya Mutiara dia benar-benar ingin sekali cepat mendapatkan cucu dari anak pertama ini,”tidak, tetapi,” Vanessa kembali terdiam saat bola mata mereka berdua bertaut-tautan dan melihat satu sama lain,” saya yang belum siap, jadi tolong jangan paksa,”ucap Miracle dan membuat ibunya kembali mendengus napas dengan kesal. Di sisi lain kali ini Maya ternyata sudah sampai di dalam kamar, dan dia sangatlah terkejut karena saat ini tidak adasiapapun di dalam kamar, dia juga heran kenapa tidak ada Zee berada di tempat ini, dia segera melihat ke dalam kamar mandi, Dan lebih tepatnya saat ini dia terkejut merasakan pintu terbuka,”ada apa dengan kamu, kenapa dengan mata kamu yang bengkak ini?” tanya Maya dan memeluk putrinya dengan sangat erat,” kenapa?” tanyanya dengan nada yang dia buat tenang,”apakah kamu masih sanggup berada di dalam rumah ini?” tanya Maya, dia mengetahui apa yang ada pada benak wanita yang dia peluk,”aku tidak tahan lagi ibu, aku tidak tahan, semua ini sangatlah kejam bagaimana mungkin aku bertahan,” kali ini dia menangis dan mengakui segala kelemahannnya di depan wanita yang melahirlkan dirinya,” apakah lebih baik kita pergi dari rumah ini, ibu juga tidak tahan lagi saat melihat kamu seperti ini,” ibunya juga ikut menangis, mendengarkan apa yang dikatakan oleh putrinya. Miracle dan juga Vanessa yang saat ini berada di balkon kamar daeri Miracele sedang memegang tangan satu sama lain, dengan bola mata mereka yang saling menatap ke langit melihat bintang, mereka tinggal satu kamar dan memutuskan untuk tidur satu ranjang, tiodak mungkin sosok lelaki yang sepeprti ini bisa berbuat yang tidak-tidak kepada dirinya,”apakah ada hal yang lain yang membuatmu tidak suka menikah dan tidak suka hidup bersama dengan diriku?” tanya Vanessa dan saat ini masih menatap kea rah depan,”tidak ada, hanya saja sedikit yang mengejolak di dalam hatiku, dan selebihnya aku hanya memikirkan perusahaan,” dia menjawab dengan nada yang tenang,” apakah hanya hal itu, tidak ada yang lain?” tanyanya dengan nada yang mengintrogasi,”yah, adakah hal yang membuat kamu tidak percaya?” tanya Miracle dia mengelengkan kepalanya kearah Vanessa. “Apakah tidak ada wanita lain di hatimu?” dia melemparkam pertanyaan itu, dan jelasnya itu membuat Miracle berdegup jantungnya tidak karuan, dia juga saat ini langsung memikirkan wanita yang entah dimana sekarang,”kenapa? Apakah memang betul ada, apakah memang ada wanita lain di dalam hati kamu?” tanyanya dan segera membuat Miracle sadar dari lamunan panjangnya,”apakah saat ini kamu mencurigai aku?” beberapa deretan pertanyaan mulai runtuih dan membuat situasi semakin kian pekik,” tidak, namun dari apa yang aku lihat, kamu sangatlah susah untuk membuat aku menjadi ibu dari anakmu.” Bibirnya seketika berubah menjadi beku tidak lagi ada warna, Mereka kembali lagi terdiam, dalam di mensi waktu yang dekat, sepertinya ini membuat perasaan dari Miracle dan juga Vanessa sedikit linglung, tidak ada sedikit suara semenjak saat itu. Beberapa bulan telah kembali lagi datang membuat hati wanita itu sudah terbuat dengan kuat, terbentuk dengan keraasnya rasa cinta yang dia pendam, Zee sekarang ini sedang bernyanyi-nyanyi dengan suara yang kecil dan juga pemandangan yang sangat indah,”lalalalal,” dia menyiram bunga itu dengan senyum yang dia taburkan, sebenarnya dia ingin selalu seperti ini, tertawa dan bernyanyi dengan benda mati, bernanyi dengan benda mati adalah hal yang sangat indah. Ada suara yang memanggil dia dari belakang, otomatis bola matanya dan juga badannya menoleh ke belakang dia menlihat bahwa majikannya yang super duper tajam itu menatap ke arahnya. “Apakah ada hal yang bisa saya bantu?” tanyanya kepada Mutiara,”tolong pergi ke pasar, dan belikan semua bahan belanjaan,” ucapnya dengan melemparkan kertas dan juga bolpoin ke arahnya,”baik, Nyonya,” dia sama sekali tidak melawan, Mutiara tidak mengerti apa yang dilakukan oleh wanita itu, mengapa dia belum menyerah dengan perilaku yang di buat oleh Mutiara. Mutiara terdiam, bahkan saat ini dirinya sedikit gugup, pasalnya beberapa hari terahkir ini dia selalu membuat susah wanita yang tadi menerima perbuatan kasarnya, dan juga dia tidak tahu lagi cara apa yang akan dia lakukan agar bisa membuat menyerah wanita itu,” ah, kenapa dia sangatlah pemberani, aku akan berusaha untuk mengusir dirinya dari tempat ini, aku bahkamn ntuidak mau untuk membuat dirinya tinggal di tempat ini,” ucapnya di dalam hati dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, tepatnya di ruang tengah saat ini dirinya dan juga kedua lelaki yang bersama dia sedang bercakap-cakap, mulai dari tertawa dan juga menyinggung hal-hal dari yang terkecil sampai yang terbesar,”apakah kamu tahu, perusahaan kita semakin besar saham yang masuk, itu semua berkat dari Vanessa, dia bekerja dengan sangat baik kepada perusahaan kita,” Mutiara memberitahukan hal itu kepada lelaki yang berada di depanya,”jangan ibu terlalu memuji wanitaku, dia adalah mutiara kedua yang aku miliki setelah ibu,” dia bertindak seperti orang-orang yang malu, dan dia juga memakan nasi yang telah di masal oleh Maya. Maya yang berada di dalam kamarnya, sedikit bangga kepada wanitanya karena sat ini dia bisa melihat putrinya telah tumbuh dengan baik, telah berkembang dengan naluri yang dia ajarkan kepada wanita itu, semenjak saat kejadian itu, Maya selalu saja memberikan dukungan kepada Zee, dia menatap ke depan tepatnya figura yang berisi foto Zee saat kecil, betapa sakitnya hatinya ketika dia tahu mental dari putrinya terbentuk dengan cara yang sangat keras, dia juga sangat kesal kepada suaminya, pasalnya mengapa dia tidak melihat bagaimana pertumbuhan anaknya yang sangatlah malang ini,” aku akan membantu agar wanita ini dapat menjadi kuat seperti aku,” ucapnya dan memeluk foto itu,”aku berjanji akan membuat kamu bangga, kalau cara kamu seperti ini yang meninggalkan kami berdua, dengan cara yang hina, aku terima,” dia kembali menangis, meneteskan air mata yang penuh dengan duka itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN