Pergerakannya mulai dari yang terkecil sampai sesederhana mungkin, kali ini telah di perhatikan oleh wanita yang beranjak tua itu.
***
"Apakah maksud dari perkataan ibu?" mulut Miracle membeku tidak tahu apa maksud dari ibunya,"yah seperti yang kamu dengarkan dari ibu," mutiara tidak ada beban sewaktu berkata hal itu,"tidak bolehkah aku tahu siapa pembantu yang ibu maksud?" tanyanya membalikkan semua keadaaan.
Dia masih tetap tertawa kecil, dia mengantikan semua ekspresi dan elemen yang datang menganggu dirinya, karena dia mau terlihat tetap bermain dengan tenang dan senyaman mungkin.
Mulutnya tidak bisa berkata apa-apa, yang dia lakukan saat ini yaitu kembali ke dapur, serta melakukan apa yang menjadi tugasnya.
Sebelum benar-benar, Zee pergi, kembali lagi Mutiara meminta dia untuk berbelanja ke pasar, dia tidak mau kalau nantinya Zee mendengarkan apa percakapan mereka.
"Hey kamu, pergilah ke pasar dan belilah semua kebutuhan rumah," dia berucap dan membatin seklaigus,'kali ini dia pasti akan membantah, dan ini bisa menjadi salah satu pendorong bagi mereka agar membenci pembantu yang tidak tahu sopan itu,' batinnya dengan tangan yang di bawah meja makan mengepal kuat.
"Owh, kebetulan juga bahan makanan telah habis, dan ini adalah saat yang sangat tepat untuk berbelanja, trimakasih," dia sudah tahu apa yang berada dalam pikiran Mutiara,"baiklah," mulutnya tidak bisa lagi mengatakan apa-apa karena semua dugaan dia telah salah besar.
Zee tertawa saat di dalam kamar, tetapi satu menit kemudian dia sudah menangis, rasanya sangat sakit jika di perlakukan seperti itu, dia bahkan tidak sama seperti pembantu yang lainnya.
Dia menarik selimut yang tipis bermotif burung angsa itu, lalu menangis sejadinya, hanya dengan ini dia bisa tetap tegar dan kuat di hadapan semua orang, terutama Miracle dengan tunangannya ini.
Sesampainya di pasar, kali ini terik matahari sudah mengayomi semua orang yang berdagang mulai dari penjual sepatu, sayur dan kain serta hal yang lainnya, mereka tidak kenal lelah, bahkan untuk Zee seorang diri saja, hanya dengan berjalan menelusuri tempat ini dia bahkan ingin kehabisan napas.
"Huff," dia menarik napas panjang dan duduk di seanjang trotoar yang banyak penghuninya,"apakah mbak mau minum?" lelaki itu menawarkan," boleh juga, yang segar-segar yah mas," Zee tersenyum murah.
Tangannya yang ihai membuat es segar itu, dapat seketika membuat Zee senang, karena pada tenggorokannya sudah sampai hal yang sangat dia inginkan. Zee kembali lagi menatap ke depan, banyak sekali yang membeli entah dengan anak mereka yang berada di tangan dan diikuti khas suara, dengan begini dia menjadikan semua beban itu seketika sirna, dia bahagia berada di pasar ini,menghilangkan stres dan pemikiran akan perkataan mutiara.
Dia bengong, namun ada satu hal yang membuat dirinya kembali lagi terkejut, siapa gerangan yang duduk di sampingnya, dengan baju yang sepertinya Ambu radul, siapakah ini, tidak mau tahu dia sangat penasaran, rasanya jika tidak melibat wajahnya ini akan tetap menjadi misteri.
"Argg.. siapakah anda?" dia mengejutkan lelaki itu,"astaga kenapa dengan, Mbaknya apakah saya tidak boleh duduk di sini?" sontak mata lelaki itu juga terbuka lebar,"bisa-bisa tapi saya hanya terkejut saja, kenapa tiba-tiba anda duduk di sini," dia membuka mulutnya dan kembali lagi menghirup udara segar.
Sebentar saat itu Zee kembali memutuskan untuk pergi, karena dia rasa ini semua telah tiba saatnya untuk pulang,"baiklah, saya akan pulang, apakah anda juga tidak pulang?" setelah panjang lebar percakapan mereka, tiba saatnya kali ini mereka berpisah,"yah, saya rasa saya akan menetap untuk beberapa waktu lagi di sini, mungkin tiga sampai empat jam," dia menarik napas sembari membuangnya.
"Kenapa?" mata Zee terbuka lebar,"adakah hal yang perlu kamu kerjakan di tempat yang sangat pengap ini?" dia menyambungkan pertanyaaanya,"tidak, hanya saja di rumah selalu saja ada masalah, bahkan aku tidak mau untuk pulang," dia segera membuka mulutnya setelah sekian lama tadinya terdiam ambigu.
Zee ingin menangapi hal tersebut, namun ada hal yang membuat dia harus kembali lagi, ponsel berdering pada saku celananya, benar sekali ia membuka dan melihat nama yang tertera pada hal itu,"apakah kamu akan selalu berada di dalam pasar?" Seperti itu bahasanya, dia segera melihat ke segala arah dan mencoba memastikan di mana lelaki itu,"kenapa dia tidak berada di sini?" Setelah membaca pesan itu Zee merasa telah kehilangan orang itu.
Zee berdiri dia sudah mulai di kontrol oleh ibu Mutiara siapa yang suka kalau di kontrol, ini adalah hal yang sangat membangongkan.
"Arg.. aku seharusnya bisa melawan ibu itu," dia bersih kuku untuk melawan ibu Mutiaranya,"tetapi bagaimana nasib ini dan aku kalau aku melawannya," dia bergumam kembali,"lebih baik aku pulang saja, dan jangan sampai membuat masalah, kamu hebat Zee kau harus melewati semua hal ini," dia menguatkan dirinya dengan mencoba tabah dengan semua siksaan yang datang perlahan ini.
Di sisi lain kini wanita yang ada di depan pintu itu, kembali memeluk Mutiara, dia sangat senang bisa mendapatkan hati kedua orang tua dari Tuannya, bahkan dia sangat bersyukur tadi malam dia tidur di mobil dan akhirnya Miracle membawanya tempat ini.
"Saya pulang dulu yah, Tan," ucapnya sembari melangkah satu langkah, tetapi gerakannya segera di hentikan oleh Mutiara,"apakah kamu akan jalan sendiri?" Dia menggeleng,"ohw tidak, Miracle apakah kamu mau membiarkan anak gadis secantik dirinya pergi jalan sendirian?" dia bertanya sekali lagi sembari melihat bola mata Miracle.
Miracle hanya menuruti apa perkataan dari ibunya, setelah di lihat dari bagaimana ibunya mencintai wanita itu, Miracle rasa dia juga wanita yang tepat, perilaku yang baik, wajah yang sangat cantik serta body yang sedikit mendukung cocok untuk pasangan seorang CEO.
"Mari, kita pulang bersama, kebetulan saya ada urusan sebentar," ucapnya saat itu dan membuat jantung wanita yang berdegup dua kali lebih cepat kali ini lebih cepat lagi.
"Apakah tidak apa? kalau kami berdua jalan?" mulutnya benar-benar kaku membuat Mutiara sedikit heran, apakah ada orang yang telah di cintai oleh anaknya? tidak dia bahkan belum bertanya apakah wanita yang berada di depan itu sudah menikah atau belum dan sudah punya pacar atau tidak.
"Ohw maafkan Tante, apakah kamu sudah mempunyai pacar, itu adalah hal yang belum saya tanyakan," Mutiara menundukkan wajahnya harapannya seketika sirna saat mendengarkan kata pacaran.
Semua ini salah, lihatlah ekspresi wajah dari Miracle, sekarang dia juga ikut menundukkan wajah dan pada detik berikutnya membalingkan wajah guna untuk menghindari pertanyaan yang lebih dalam.
Untuk Vanessa seorang dua tertawa kecil sembari menutup mulutnya membuat Mutiara menggunakan tanda tanya dalam waktu itu.