Mobil yang lewat saja bisa rada sunyi senyap, pasalnya keadaan hati Vanessa sekarang benar-benar ambruk, ingin mengatakan sesuatu kepada Mutiara dan meluruskan apa persolan yang bengkok rasanya ini sudah mustahil.
Yah, saat ini dia menangis di depan halte itu dengan air mata yang bercucuran tak kalah deras dia bahkan tidak lagi melihat beberapa kendaraan yang berhenti hanya karena tangisnya dan derita yang dia dapatkan, pandangannya akan Zee benar-benar salah dia benar-benar merasa bersalah kepada Zee ingin meminta maaf tetapi naasnya tidak bisa, dia enggan karena beberapa persoalan.
"Apakah aku masih terlihat bodoh untuk saat ini?" tanyanya dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Ahk, sial kenapa aku harus membentak Zee waktu itu kenapa aku harus berperilaku kurang waras, gila," dia menghentakkan kakinya ke tanah sembari mengeluarkan rengekannya.
Selebihnya kali ini di sisi lain Mutiara menatap anaknya dengan kesal pasalnya mengapa dia memperlakukan calon menantunya seperti orang lain saja, ini benar-benar menjengkelkan bagi dirinya, dia duduk dan melihat wajah putranya yang masih terdiam dengan tatapan lugu dan tak berdosa.
"Bagaimana?" tanya Mutiara sembari menatap dengan horor wajah lelaki itu.
Dia mengalihkan pandangannya dan segera menjawab pertanyaan dari ibunya, "apakah ada yang salah dengan saya?" tanyanya dengan nada ya g tidak bersalah.
Wah, ini membuat isi kepala dari Mutiara rasanya ingin meledak,dia.hanya bisa menelan savilanya kala mendengar itu dan mendengus napas kesal, satu menit kemudian dia kembali berdiri dan menunjuk anaknya sendiri.
"Apakah kamu tidak tahu bagaimana perasaan Vanessa ketika kamu mengatakan seperti itu?" tanyanya dengan nada yang sudah habis pikir."apakah aku salah ibu? memang benar rasaku masih terlalu besar kepada Zee dia adalah teman lama aku," ucapnya sembari menatap ibunya dengan tatapan yang tidak terima.
"Wah, kamu mulai menitipkan rasa yang salah, bukankah begitu?" tanyanya sekali lagi dia menoleh ke belakang.
"Tidak, aku hanya membiarkan semua masalah pergi dengan cara seperti itu, aku sama sekali tidak mau kalau melihat kalian selalu saja mengalami konflik hanya karena aku," gumamnya dan duduk lagi sembari menatap ibunya dengan tatapan yang iba.
"Benarkah? apakah kamu sepeduli itu kepada ibu dan wanita sialan itu? ingat ibu sama sekali tidak pernah mengalami konflik bersama dia," tekannya dan menunjuk saat itu wajah dari Miracle.
Miracle terdiam, baru satu kali ini dia melihat bahwa ibunya seperti orang gila saja ketika bertempur dan marah, seperti aura-aura yang sangat negatif akan datang merenggut semua keadaan yang terjadi saat ini.
"Diam," tiba-tiba suara dari belakang benar-benar membuat mereka tidak bisa berkutik lagi.
Mulut mereka yang tadinya saling beradu, kali ini terdiam seribu bahasa pasalnya suara itu sepertinya adalah suara dari Alexander. Yah memang benar itu adalah Alexander dia datang dengan langkah yang Pelang sembari meminta mereka berdua untuk duduk.
Benar saja, apa yang dikatakan oleh Alexander dituruti oleh mereka berdua dan keheningan kembali lagi merenggut nyawa mereka.
Tatapan itu seperti petir saja, tidak ada yang mengatakan bahwa keadaan akan berubah dengan cepat. Dia datang dan otomatis ingin bertanya akan apa sekarang ini hal yang terjadi.
"Apakah kalian masih anak-anak kenapa bunyi suara kalian menganggu konsentrasi saya?" tanyanya dan melihatwajah Miracle pertama sekali.
Miracle menunduk dia terlalu polos untuk melawan ayahnya dia masih anak muda yang perlu bimbingan akan seorang ayah, maka dari itu dia memutuskan untuk diam saja dan menerima semua caci makian yang nantinya akan melayang pada pikirannya sendiri.
"Apa? kenapa kamu terdiam? apakah kamu berani melawan apa perkataan ibumu?" Alexander sungguh naik pitam, dia tidak habis pikir melihat sikap dari anaknya ini.
Setelah di rasa bahwa jawaban dari anaknya tidak akan memberikan keputusan yang tepat, saatnya kali ini dia bertanya pada wanita yang telah menemani dia beberapa tahun terahkir ini dan menjadi teman hidupnya sekaligus.
"Dan kamu, apakah makanan kamu belum cukup untuk hari ini sehingga suara kamu seperti itu?" bentak Alexander membuat badan dari Mutiara seketika bergetar.
Mutiara menunduk dia yakin bahwa semua ini harus selesai pada malam ini juga, maka dari itu dia segera menjawab semua pertanyaan yang nantinya akan diberikan Alexander.
"Saya," ucapnya masih terpotong kala mengingat betapa malunya mati dirinya ketika menceritakan hal seperti itu.
"Kenapa? apakah kamu melakukan kesalahan-kesalahan yang di luar batas?" tanyanya dan menatap bola mata dari istrinya.
Mutiara harus jujur, pasalnya kalau dia tidak jujur bisa-bisa tidurnya untuk satu malam ini tidak akan nyenyak dia mengangkat dagunya dan menatap ke arah Alexander dengan tatapan penuh kesalahan.
"Maaf, tadinya saya hanya kesal karena sikap dari Miracle yang semena-mena kepada Vanessa," jujurnya dan saat ini juga Alexander bisa menghembuskan napas dengan legah.
"Apakah itu benar?" tanyanya dengan sorot mata yang beralih pada sosok Miracle.
Miracle menggelengkan kepala dia malu juga saat mendengarkan hal itu Alexander yang tahu harus melakukan apa dia kembali melipat tangan di atas kedua tumpuan lututnya dan menatap mereka berdua dengan tatapan yang seperti biasa, bola mata yang mengeluarkan tatapan neraka dan tangan yang mengepal itu menjadi salah salah ciri khas dari lelaki yang hangat itu.
Malam ini menjadi malam yang sangat meyakinkan bagi lelaki itu, pasalnya ketika dia melihat teman lamanya ini makan begitu lahap hatinya begitu puas sekali, dia bahkan ingin mengecup kening yang penuh keringat itu dan mengecup bibirnya yang penuh dengan sambal merah itu.
Mereka masih tetap berada di restoran yang mewah itu, dengan makanan yang sudah habis beberapa porsi dan itu hanya untuk Zee, lihat saja cara dia makan saat ini sudah seperti seorang yang rakus saja seperti orang yang tidak pernah di kasih makan.
"Apakah kamu suka?" dia bertanya seolah tidak tahu membaca keadaan.
"Ahk, sial apakah kamu tidak melihat betapa lahap dan rakusnya aku ketika memakan paha ayam yang super pedas ini?" geramnya dan menatap wajah Reyhan.
Reyhan terdiam pasalnya dia benar-benar habis pikir dengan wanita ini mengapa sikapnya bisa berubah se drastis ini, mengapa dia selalu seperti ini? wah sepertinya kalau zaman bertambah zaman dan waktu beralih ke waktu sepertinya wanita ini akan lebih garang lagi.
"Hay, kenapa matamu melototi wajahku," tanyanya membuat Reyhan tersadar dari lamunannya.
"Maaf, maaf silahkan makan lagi, sepertinya anda sedang dapat," tawanya membuat Zee menatap wajahnya dengan tatapan yang kesal sangat.
"Sialan, siapa yang lagi dapat?" dia mencubit pipi Reyhan seolah mencubit pipi anak kecil saja.
Tatapan orang beralih kepada mereka, dengan pandangan mata yang juga mengeluarkan berbagai ekspresi.