MENGIYAKAN

1012 Kata
Ibunya terlalu kaget ketika mendengarkan apa yang baru saja keluar dari mulut putrinya, sehingga dia reflek memukul lengan wanita yang berada di depannya. "Apakah ada hal yang berakhir?" gertaknya sembari menutup mata sekilas. Zee terlalu senang, saking senangnya dia kebablasan mengatakan rahasia cintanya kepada ibunya sendiri, dia menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatel, dan satu menit kemudian berlari menuju kamarnya sendiri. "Kenapa kami lari!" teriak ibunya tidak lagi menghiraukan beberapa orang yang sedang berada di luar dengan suasana yang sangat mencengkram satu sama lain. Di ruang tengah, Vanessa mulai berpikir-pikir bahwa itu adalah benar, apa yang di katakan oleh Miracle adalah hal yang sangat benar, bagaimana mungkin mereka langsung menikah dan mengikat janji padahal mereka belum saling mengenal satu sama lain, mereka hanya mengedepankan rasa ingin cepat mempunyai cucu tanpa memikirkan efek samping yang nantinya akan berakibat fatal. "Aku juga menyetujui apa yang telah di katakan oleh Miracle, Ibu," ucapnya menambahi semakin suasana itu tampak geram sekali. Mutiara menghela napas dan kembali duduk,"apakah ada hal yang membuatmu menyetujui pernyataan yang dia berikan?" tanyanya dengan pandangan mata yang lesu. "Tidak ada hal yang membuatku seperti itu, namun rasanya apa yang telah di katakan oleh dirinya adalah benar," dia melemparkan senyum kepada Miracle. Begitu juga dengan Miracle kali.ini mereka tersenyum, pertanda semua pernyataan itu telah di lakukan. Apa yang dilakukan oleh kedua orang tua Miracle hanyalah bisa untuk mengikuti apa yang di katakan oleh anak dan juga calon menantunya. "Baiklah, semua keputusan ada pada kalian," ucap mereka berdua kali ini berserah dan menarik napas dalam diam. Satu hari telah berlalu, dan tepatnya ini adalah siang, seperti biasa gosip telah beredar di mana-mana akan hubungan dari Miracle dan juga Vanessa, ada beberapa orang yang sangat kaget ada juga beberapa orang yang biasa-buasa saja, karena ini bukan lagi hal yang penting bagi mereka. Pasalnya di perusahaan manapun, akan selalu ada kabar seperti ini, akan selalu ada kabar akan Tuan yang menikah dengan sekretaris dan juga segala macam, jadi Ini seperti cerita yang ada pada novel-novel tertentu. Mereka berdua keluar dari lift itu, dan membuat perhatian semua orang tambah heboh saja, pasalnya sekarang mereka pasti akan menuju ke kantin tempat makan kantor, ya walaupun demikian mereka tetaplah di kantor mempunyai profesi masing-masing bukan? Ada segerombolan cewek-cewek yang sepertinya adalah ratu gosip di kantor itu, mereka segera mempunyai pikiran yang sangat antusias sekali terhadap Vanessa. "Lihat saja, pasti dia memberikan sesuatu kepada Tuan Miracle sehingga mereka bisa bersama sekarang ini," bubur dari wanita dengan higheels sedang terangkat hanya karena wanita yang baik dan juga sopan itu. "Apakah kalian tahu, saya dengar mereka telah menjadi pasangan yang terakurat di semua perusahaan ini, istilahnya mereka sudah menjadi bahan gosip di semua perusahaan tempat Tuan Miracle bekerja sama," sambung wanita yang berada di sampingnya dengan tangan yang dia lipat di atas d**a. "Wow, benarkah seperti itu?" ada empat orang tukang gosip di tempat itu, mereka langsung saja keheranan mendengar berita yabg telah di berikan oleh wanita tadi. "Apakah kalian tidak percaya sama sekali dengan diriku?" dia membuat bola matanya terlihat sendu." Mereka semua menundukkan kepalanya dan segera tertawa bengis, tampaknya mereka sangat membenci setiap wanita yang dekat dengan Tuan Miracle, begitu juga dengan kedatangan Zee beberapa hari yang lalu, mereka masih sama selalu saja menggosip ria. Setelah tiba di kantin Miracle dan juga Vanessa kembali lagi menjadi pusat perhatian, beberapa orang yang berada di sana melihat mereka berdua dengan tatapan takjub, pasalnya saat ini Miracle menghapus satu nasi yang berada di pipi wanita yang sudah terbiasa dengan hal itu. Mereka tampak biasa-biasa saja dan hanya menatap beberapa orang di sana dengan tatapan yang juga biasa-biasa saja. "Mari makan," ucap Miracle kepada wanitanya sembari melemparkan senyum. Untuk saat ini jam telah berlalu dengan cepat, begitu juga dengan Zee dia sudah bangun dari tidur siangnya, saatnya untuk memasak dan kembali melihat wajah yang sebenarnya tidak perlu dia lihat. Dia berjanji untuk tidak lagi menganggu hubungan dari dua insan yang telah ber manja ria di tempatnya masing-masing. Dia juga berjanji akan mencari lelaki lain, lelaki yang bisa memberikan dia semangat hidup dan juga harapan yang baru, dia bosan kalau seperti ini selalu, dia juga bosan kalau mengharapkan lelaki yang tidak bisa memberikan dia sedikit saja harapan. "Aku akan pergi dari zona nyaman ini, dan yang pasti aku akan mencari lelaki yang lebih pantas untuk diriku," gumamnya sembari menatap ke depan dengan percaya diri. Sebentar saat itu juga dia telah keluar dari kamar mandi setelah membersihkan badannya, dia melihat arah jam ternyata sudah pukul tujuh, dan ini saat nya bagi dirinya untuk kembali membantu ibunya. "Apakah ibu telah selesai memasak," ucapnya sembari memeluk ibunya dari belakang dan mencium pipinya sebentar. Maya kaget, kenapa dengan putrinya kali ini, dia rasa Zee telah menginap salah satu penyakit yang langkah, dia segera membalikkan badannya,"apakah kamu kira aku adalah seorang boneka, yang selalu kamu cium tiba-tiba?" gertak ibunya dengan nada yang sedikit tertawa. "Apakah ibu seorang boneka?" mereka berdua berlari mengelilingi dapur itu, seperti seorang kakak beradik yang tengah mengalami masa-masa indah. Mereka menjadi salah satu objek paling indah di pagi hari itu, beberapa pembantu yang juga melihat mereka saling kejar-kejaran hanya bisa menghela napas dan tersenyum sembari melakukan tugas mereka. Dan tentunya seorang wanita yang umurnya sudah mulai menua, dia merasa lelah, maka dari itu dia mencoba untuk beristirahat. "Baiklah, ibu rasa ibu mengalah dahulu," ucapnya sembari duduk di atas kursi besi yang bernuansa abu tokok itu. Sementara itu di seberang sana Miracle dan juga Vanessa telah kembali ke kantor, tidak peduli dengan beberapa omongan yang sengaja dan tidak sengaja di dengarkan kupingnya, dia hanya berjalan seperti angin saja. Wajah mereka berdua tampak lebih diam mematikan, Vanessa tidak mau berkata banyak karena dia merasa masih sedikit malu dengan atasannya, dia hanya tidak habis pikir dalam satu minggu dan menjalani dua minggu ini dia bisa mendapatkan hati dari seorang anak kaya raya. Yah, dia lantas bersyukur dan melakukan yang terbaik, menjaga jodoh ini agar tidak terjadi lagi kejadian beberapa tahun yang lalu, dia tidak ingin menghilangkan kisah yang baik, satu keinginan dari dirinya yaitu hanya untuk mencintai lelaki yang berada di depannya, dan menjadikan Miracle sebagai masa depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN