Menjadi bintang bukanlah sebagai hal yang indah menurutku, tetapi ada yang mengatakan bahwa jika mereka menjadi bintang mungkin itu adalah hal yang paling indah selama hidup mereka.
Perlahan jari-jemariku mendekat, mendekat ke arah sendok goreng yang kini berada disampingku, bersama dengan ibuku.
Memasak sudah menjadi kewajiban seorang pembantu, mencuci pakaian, dan lebih tepatnya menerima semua caci makian, itu sudah peraturan jika salah satu dari kalian ingin melamar sebagai pembantu.
"Kenapa kamu lama sekali datang?" tanya ibuku saat aku datang.
"Ini masih sangat pagi, Bu," ucapku dengan nada melawan.
Satu titik air kulihat kali ini sudah jatuh bersama dengan minyak itu, aku tertegun saat melihat kali ini mereka ternyata bisa bersatu.
Ibuku memanggilku, aku yang sedari tadi melamun melihat air dan juga minyak yang dapat menyatu itu. Tersentak. Itu adalah hal yang menghinggapi ku.
Yah, ibuku seorang ratu tega, yang tidak mau melihat putrinya ini sengsara tidak mau melihat diriku satu menit saja menangis. Aku mencintai ibuku.
***
Sekali lagi waktuku memang adalah hal yang paling berharga, nafasku adalah udara yang paling diminati oleh semua orang, dan detak jantungku adalah hal yang paling diinginkan oleh ibuku.
Karena ini siang yang sangat indah, matahari yang sungguh menyayat hati ini, aku terpaksa harus merendam kaki pada kolam yang berada disamping rumah dari tempat aku menjadi babu.
Aku bergumam, seperti anyk kecil yang kurang belaian, rambutku yang panjang kugerai saat itu.
"Lebih baik, sekarang aku pergi kesana,"
"Tidak ada majikan juga, tidak ada dia juga,"
"Ibu juga tidak akan memarahiku bukan?"
Aku bergumam seorang diri, dengan kuku jempol yang
ku gigit, sungguh diluar dugaan, belum sempat aku memutuskan untuk memasukkan kedua kakiku ke tempat itu, tetapi apa nyaliku sudah menciut dan mentalku rasanya sudah rusak.
Yah, aku mendengar pidato yang sekarang ini dikeluarkan oleh majikanku. Ternyata Ayah dari lelaki yang bersama dengan diriku sedari malam, itu berada dirumah.
Hanya menundukkan kepala, mendengarkan semua cemohan dan caci-maki yang paling berharga di dunia ini.
"Kenapa kamu berada disini?" tegurnya dengan nada bertanya.
"Maaf__" ucapku terpotong karena majikanku menyanggah.
"Kamu pembantu, ingat apa visi misi pembantu," tegasnya membuatku termenung.
Selang beberapa detik kemudian, lelaki itu pergi meninggalkan diriku dengan wajah yang sangat menyeramkan.
Tadi aku melihat tatapan mata yang dia berikan, sepertinya adalah tatapan mata yang paling mengerikan, ini sudah keberapa kalinya.
Malam ini aku memutuskan agar tidak menghabiskan waktu didalam kamarnya, soalnya masih ada rasa sakit yang terselip dalam hatiku, saat mengingat perlakuan Ayahnya.
Kuambil ponsel murahanku, yang jauh dari kata sempurna, jelas untuk saat ini ponsel murahan pun ada, w************n, dan sayur murahan, diantara ketiga itu semuanya pernah aku temui, dan berniat menjadi seperti itu juga.
Jari-jemari itu mulai mendekat, mataku melebar kali ini melihat semua itu. Deru nafas itu seakan mau membunuh nafasku juga, mulutku seketika terasa sumpet saja, karena aku mungkin tidak kuat menahan ini.
Lelaki itu dengan telanjang, datang ke kamar, mendekat dan kemudian menindihkan badannya di atas.
Rasa sakit itu merajalela ketika lelaki yang sekarang ini memasukkan barang sensitifnya ke dalam barang sensitif milikku.
Arg ... Arg ... Arg ...
Hanya bisa mengeluh sambil menikmati beberapa kocokan yang telah di berikan oleh lelaki itu, sungguh menikmati semua itu.
Tangannya saat ini telah meraih sembari membelai surai perlahan rambut panjang hitam nan pekat itu, nafasnya tengah terdengar sangat panas dan mengebu-gebu, seolah waktu permainan akan habis, sehingga lelaki itu mendesah lebih cepat lagi.
Arghhhh ... Arghhhh...
Barang sensitif itu lebih mengocok diarea kemaluan hanya bisa mengeram, dan memeramkan mata, pertanda bahwa itu adalah hal yang paling kotor tetapi sangat nikmat. Nikmatnya sungguh tidak dapat diduakan.
Air liurnya jatuh saat itu, hingga jelas lelaki itupun menjilat sampai detak terahkir air liur.
Dan ...
Tiba-tiba aku mendengar suara dari dekat pintu sana menuju dan mendekat pintu kamarku dan juga ibuku, jelas aku sangat kaget.
"Siapa itu?" tanyaku menoleh.
"Sialan, siapa itu!" ulangku sembari bergegas berdiri.
Menurut kalian akulah yang memainkan itu? Oh tidak__, aku hanya ingin menjadi penonton sebelum pemain di era tersebut.
Mataku membelalak ketika melihat dia lelaki yang mungkin tidak bisa kudekap satu jam pun, kini telah berada di depanku, dengan kemeja yang terbuka satu di atas, dan juga wajahnya yang tampak lesuh.
Aku bangun dari atas ranjang tempat aku menonton film durasi pendek namun sangat menjanjikan itu.
Aku bertanya sembari menerima ranselnya, yang bahkan masih dibawa sampai ke dalam kamarku.
"Ada apa? Apakah tuan mendapat perlakuan yang berbeda?"
"Atau apakah diputuskan pacar lagi?"
"Segeralah mandi, Tuan aku akan turun,"
Ucapku saat itu, sembari mencoba agar memberikan ketenangan kepada dirinya.
Perlahan dia menuruti semua ucapku, dia turun seperti seekor anjing penurut. Tetapi aku suka, melihat dia mudah aku andalkan.
"Baiklah aku akan mandi dahulu," ucapnya pergi berlalu.
Mengingat malam itu aku baru saja menyelesaikan film pertama, jadi tidak mungkin aku pergi ke dalam kamar miliknya.
Aku tersenyum manggut, pikiranku sudah melayang terbang jauh, dan lebih tepatnya kakiku sudah kram rasanya.
Mata kami berdua saling memancarkan aura masing-masing, terutama lagi-lagi aku dighosting di umur yang bisa dikatakan tua ini.
Lelaki itu tanpa berat hati memeluk diriku. payudaraku kembali lagi menempel pada dadanya.
Ditambah juga saat itu, aku merasakan ada sedikit penonjolan di area sekarang ini, jelas area sensitifku juga naik rasanya, masa pubertasku kembali lagi mengebu-gebu.
Aku menyesal, yah menyesal karena tadi menonton film itu, hanya bisa membuat jarak diantara kami berdua, tetapi tidak bisa, karena area sensitif itu terlalu menjanjikan.
"Ada apa?" tanyaku menatap matanya.
"Ini sangat berat, aku kecewa,"gumanya mampu kudengarkan.
Miracle. Itulah nama tuanku, yang sadar atau tidak sadar, kini area sensitifnya sangat dekat dengan area sensitifku.
Miracle, adalah lelaki yang selama dua hari terahkir ini telah mengelliat di atas kepalaku, bukan lagi di dalam otakku. Hanya saja dia terlalu menjanjikan sehingga aku tidak mau mengeksposnya.
"Apa? Ini semua terlalu mengecewakan?" tanyaku sembari melihat matanya.
"Yah, aku menyesal memilih dirinya," ucapnya aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.
Kami sangat berbeda, mulai dari jenis kelamin, dan juga derajat yang bagaikan bumi dan langit.
Sekali lagi dia Miracle seorang lelaki yang tampan dengan usia yang masih 24 sama dengan diriku, dan sekarang sedang melanjutkan sekolahnya ke tingkat sarjana dua.
Aku ... Aku hanyalah Zee Maria Anthony yang sama sekali tidak pernah mengerti apa itu masa kuliah, yang matanya selalu menonton film yang menyajikan kenikmatan, dan kebahagiaan yang semata. Namun sesat terlalu nyata.
"Ini lebih indah, daripada harus sekolah," gumamku sembari tersenyum.
Kami berbeda, Aku tidak bisa menerima diri nya, meski dia melamar diriku, jelas aku nantinya bimbang, yang aku lihat sekarang ini teman wanitanya adalah wanita yang pada berkelas yang langsung melakukan kegiatan intim, sedangkan aku?
"Aku hanyalah seorang wanita yang jika ingin melakukan hal tersebut, harus memastikan kuota banyak, agar tepat di waktu memasukkan barang yang kecil namun mengemaskan itu, tidak terjadi kedipan mata dan juga jaringan yang rusak," gumamku dengan nada suara kecil sekali.
Kita beda sekali lagi, mulai dari dia yang mungkin sudah mempunyai wanita sendiri.
Dan kalau untuk wanita sebagai teman ranjangnya, ada babu ditempat ini.
Sementara saat itu, Miracle membuatku semakin b*******h tinggi, rambutku yang tadi aku gerai, kali ini aku ibaskan kepada matanya, sungguh malam itu adalah malam yang sangat memiliki kualitas yang super tinggi.
Aku hanya bisa terjatuh dalam dekapannya, hanya bisa tersentuh karena sekarang ini alat penerang dikamar Miracle, telah mati mendadak, jelas membuat nyaliku tambah menciut.
"Mampus, kenapa lampu mati Miracle?" tanganku dengan panggilan berbeda.
"Tidak apa-apa, ini jauh lebih baik," jawabnya didalam kegelapan itu.
Perlahan aku merasakan aroma tubuh dari Miracle semakin dekat kepada Indra penciumanku, aku yang sedari tadi berada di atasnya, hanyalah bisa menutup mata. Pertanda aku mengingat semua film jahat yang pernah aku tonton.
Tidak peduli kalian mengatakan aku sebagai wanita ranjang, atau wanita pembantu yang merebut kesucian dari atasannya. Jelas aku terima tetapi hanya untuk malam ini saja, karena saat ini jika suasana ini dilewatkan, mungkin kenikmatannya sudah berbeda.
Wanita ranjang, bukan sebutan untukku, dan juga bukan namaku, hanya saja mungkin sebagian dari kalian, yang telah membaca jalur hidupku, kalian akan menepuk tangan meriah kepadaku.
"Ini terlalu berbeda, rasanya sangat enak," gumamku ke telinga Miracle.
"Apa? Apakah aku terlalu keras?" tanyanya masih dengan menjilat leherku.
Benar, aku ingin berdiri, tetapi sungguh naas dan malang nasibku, kini aku merasakan ada benda kenyal telah mendekat ke arah bibirku, jelas jantungku berdetak seribu kali lebih cepat, Pertanda aku belum siap.
Jelas saja, lagi-lagi aku dighosting, Miracle ternyata bukan dirinya yang mendekat, bukan bibirnya tetapi hanyalah alat pembersih debu yang ada di dalam kamarnya, dia dekatkan kepada bibirku.
Saat itu aku tersadar, bangun dari dekapannya lampu penerang itu juga menyala, aku menetralkan ekspresi mata dan juga wajahku.
"Sialan, ternyata itu bukan bibir Miracle," umpatku merasa kesal.
Berdiri. Adalah hal yang aku lakukan ketika dia memberikan harapan palsu kepada diriku.
Mata kami berdua saling menatap satu sama lain, aku sadar bahwa diriku tidak pantas untuk diri nya.
Baiklah karena ini adalah hal yang paling pertama kalinya benda kental itu menempel pada bibirku, aku terima.
"Sudahlah, lebih baik aku pergi, ini sudah larut malam," ucapku ingin pergi.
Segera pergi tanpa pamit, dengan wajah yang ketus, aku mulai meneriaki dirinya dengan kalimat seperti ini.
"Aku bukan boneka, yang selalu bisa memuaskan dahagamu, bukan tempat ghosting, hanyalah babu yang membersihkan kotoranmu,"