DIAM

1008 Kata
Untuk menjawab semua hal yang dia katakan, satu susunan perbuatan yang di lakukan oleh Zee. Sekarang tepatnya di dapur orang yang telah menurunkan harga dirinya, kali ini Zee dengan ketusnya wajah yang dai punya sedang mengaduk adonan kue untuk dia masak Yah seperti yang kalian lihat sekarang ini dia diminta oleh ibu Vanessa untuk menyajikan kue, di karenakan dia ingin merasakan masakan dari wanita yang dia sebut tadinya sebagai pembantu. Zee menerima semua itu, bahkan setelah melihat Miracle diam tanpa mengeluarkan sepatah dua kata, dia hanya berjalan melintasi seperti angin saja dan menatap ke depan dengan tatapan lurus. Zee benar-benar tidak suka untuk membuat kue di rumah ini, dia benar-benar ingin pulang, namun rasanya dia dikekang oleh dua tembok yang tidak ada batasnya. "Apakah kamu mempunyai masalah, Mbak?" tanya wanita yang berada di belakangnya. "Apakah di dunia ini ada manusia yang tidak mempunyai masalah?" tanyanya sembari mengucek bahan roti itu seperti kain saja. "Astaha, Mbak apakah mbak tidak bisa pelan-pelan mengaduknya, mbak sungguh kasar," ucap pembantu itu menutup mulutnya tidak percaya. Zee baru sadar ternyata sedari tadi ada orang yang mengajaknya dirinya berbicara, dia segera melemparkan senyum dan membuat pembantu itu kembali lagi merasa damai hatinya. Zee menoleh ke samping, tepatnya ke arah yang berlawanan dari wanita itu dan setibanya dia menatap tajam kepada dinding putih di depannya, dengan rasa malu dia kembali lagi menarik napas dan mencoba tetap damai. "Apakah, Mbak tidak apa-apa?" *Tidak, mari kita lakukan ini" "Baiklah, ini sungguh kue yang tidak di sukai oleh Nyonya tetapi kenapa Nyonya mengatakan anda harus membuat kue ini." Mendengarkan penjelasan dari wanita itu Zee tersenyum dalam hati, dia memikirkan bahwa dengan ini, ibu Vanessa pasti ingin menjebak dirinya, dan mengatakan bahwa Zee tidak bekerja dengan becus. Zee senyum-senyum sendiri dia tahu apa yang akan dia lakukan saat ini. "Ayo, kita buat kue ini menjadi salah satu kue kesukaan dari Nyonya," ucapnya dengan bada yang serius serta membuang tadinya lapisan kue yang sangat amburadul itu. "Kenapa, Mbak membuangnya?" tanya wanita itu sembari menatap Zee dengan tatapan tak habis pikir. "Mari, ikuti saja apa yang aku.lakukan, maka kamu akan bisa menciptakan adonan kue yang berkualitas," ucapnya membawa adonan kue yang baru lagi. Wanita yang sekarang ini sedang duduk di atas sofa hanya bisa tertawa, tidak mungkin wanita yang bernama Zee tadi bisa membuat adonan kue yang seperti resepnya, di lihat dari gaya pakaian dan juga jalan gontai nya, dia pasti mengalami sedikit gangguan mental. "Apakah ada hal yang sedang ibu pikirkan?" Miracle datang dan memeluk leher ibu Vanessa dari belakang. "Tidka, ibu hanya tenang saja karena putri ibu sudah berada pada tangan lelaki yang baik," dia tersenyum dan menerima pelukan itu dari belakang. "Ibu tidak perlu khawatir, anak ibu yang cantik itu pasti akan aku jaga dan juga rawat," dia berjanji dan mencium pipi calon mertuanya. Wanginya tiba-tiba mengubah suasana kali ini, ibu Vanessa berdiri dan begitu juga Miracle, mereka mengikuti aroma yang sangat berbau khas itu, sungguh menganggu Indra penciuman mereka, kakinya melangkah perlahan dan matanya membulat saat melihat dari mana asal wangi itu. "Ada apa ini?" tanya Miracle sembari jejak kakinya yang mulai perlahan melangkah. "Apakah kamu juga merasakan bau yang sangat harum ini?" tanyanya sembari melihat ke arah Miracle. Mereka melihat dari arah kejauhan saat ini Zee yang tertawa dan sedang membuat adonan kue bersama pembantu yang satu lagi, dan sembari menyelipkan rambutnya di belakang kuping itu Tetapi di seberang sana kali ini Maya sedang gelisah, jangan sampai nantinya asa kesalahan yang dilakukan oleh putrinya, sehingga membuat calon mertua dari Miracle juga ikut membenci putrinya, wajahnya sedikit cemas dan sama sekali tidak ada raut ketenangan yang dia keluarkan. Dia bergumam, guman nya sembari melihat ponselnya yang masih belum ada balasan pesan akan keberadaaan dari putrinya [Apakah semua berjalan dengan baik-baik?] Hanya itu pesan yang masih dikirimkan oleh Maya, selebihnya dia hanya bersabar menunggu balasan sebentar lagi, dan lagi pula hal itu biasa dia lakukan untuk mencari tahu keberadaan dari putrinya, siapa orang tua yang tidak khawatir jika melihat putrinya tidak berada di sisinya. Ketika dia bengong, ada suara yang datang memanggilnya,"apakah kamu saya berikan tempat tinggal gratis dan juga semuanya gratis, kamu jadi seperti itu? tidak becus bekerja?" tanyanya dengan nada yang menyindir. Maya segera menunduk dia bahkan kali ini terdiam, padanya baru kali ini majikannya berkata kasar kepada dirinya,"maaf, Nyonya saya akan bekerja dengan baik," dia melakukan kembali aktivitasnya. "Baiklah, cepat buatkan kepada saya kue dan juga teh," ucapnya dan kembali seperti angin tanpa jejak saja. Beberapa menit kemudian, Mutiara yang tadinya membaca majalah di atas sofa kali ini telah menghentikan aktivitasnya, dia sedikit terkejut saat menerima minuman dan juga kue yang tadi dia katakan. "Apakah kamu tidak mempunyai hobi yang lain, kecuali membuat saya terkejut seperti ini?" bentaknya dan segera berdiri. "Maaf, Nyonya saya kira," belum sempat dia mengatakan semua hal yang perlu dia katakan, namun Mutiara sudah membuang makanan itu tiba-tiba. "Buang saja ini, dasar pembantu yang tidak tahu di untung," dia berlalu sekali lagi setelah membuang makanan itu tepat di depan Maya. Maya, dia diam seribu bahasa, benar-benar perubahan dari wanita yang berada di depannya kali ini sungguh luar biasa,dia tidak bisa berkutik sekali pun, sekali lagi dia memungut sisa pecahan gelas itu dengan tangis yang dia tahan. "Ada apa, ibu?" tanyanya sembari melihat ke depan, punggung yang sudah bergoyang itu. Ini adalah waktu yang tepat untuk pulang, setelah beberapa jam berada di dalam neraka, dia akhirnya bebas, dia bisa merasakan udara di malam hari dan lebih pentingnya dia bisa duduk bersama lelaki yang membuat sakit hatinya. Siapa lagi kalau bukan Zee, dia merasa tenang karena sebentar lagi dirinya akan sampai di rumah dan beristirahat di kasur pribadinya yang sangat empuk rasanya. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua, hanya ada kesunyian yang mendalam, Zee yang selalu menatap ke luar tidak bisa berkata-kata, sehingga membuat Miracle salah tingkah, Miracle mulai berpikir di mana letak kesalahan dari dirinya. "Apakah kamu marah kepadaku, sehingga kamu selalu menoleh ke luar?" pertanyaan itu tiba-tiba membuat supir itu mengadakan rem dadakan. Zee yang tadinya menoleh ke luar, keningnya sudah tergores dan mengeluarkan sedikit cairan yang biasa berwarna merah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN