Setelah tiba di kediamannya, Arga langsung menuju kamarnya dan berniat untuk mnyegarkan pikirannya yang selalu terbayang akan sosok perempuan yang baru 2 kali ia temui, siapa lagi kalau bukan Cristy. Hati Arga yang sudah terkunci selama 5 tahun lamanya, tanpa ia sadari kini mulai terbuka.
Arga melepaskan kemeja hitam yang melekat di tubuhnya, ia mulai membasuhi tubuhnya dengan air dingin, bayangan akan sosok perempuan cantik itu muncul lagi dan lagi, sehingga membuat diri Arga menegang.
"Oh s**t ... Kenapa aku selalu memikirkannya? sialan." Geram Arga sambil memukul dinding kaca kamar mandinya." Cinta ... Apa mungkin aku sudah jatuh cinta.?" Arga kembali bergumam diiringi dengan kekehannya." Tidak .. Itu tidak mungkin, rasa cintaku sudah mati semenjak 5 tahun yang lalu, ini mungkin rasa bersalahku saja .. Ya ini hanya perasaan bersalahku saja." Lagi-lagi Arga bergumam sambil meyakinkan dirinya bahwa dirinya tidak sedang jatuh cinta dengan gadis kecil itu.
Setelah bergelut dengan pikiran dan juga batinnya, akhirnya Arga menyelesaikan ritual mandi malamnya, ia keluar dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya, rambutnya yang basah menambah ketampanannya, sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.
Arga berjalan menuju lemari pakaiannya, ia mengambil kaos polos berwarna putih di padukan dengan celana pendek berwarna hitam, sangat cocok untuk dirinya.
***
Hari ini Cristy terlihat sangat tidak bersemangat, bagaimana tidak, seharusnya hari ini ia pergi kencan dengan Jastin sahabat sekaligus kekasihnya, mereka memang sudah jadian beberapa hari yang lalu, namun karena sang kakak yang memaksanya untuk ikut, alhasil Cristy harus membatalkan kencan pertamanya dengan Jastin.
"Kak Tere aneh banget sih, padahal kak Tere mau pergi berkencan sama kakak ipar, tapi malah ngajak aku." Gerutu Cristy dengan kesal karena sang kakak sudah menggagalkan kencan pertamanya.
"Ini permintaan Arga Crey, dia bilang ingin lebih dekat dengan calon adik iparnya, makannya kakak ajak kamu biar kalian cepet akrab." Sahut Tere sambil fokus make upnya.
"Dih ngapain sih tuh si om-om pengen dekat denganku segala, dasar om-om aneh."
"Ya wajarlah Crey, kan sebentar lagi Arga akan menjadi suami kakak, jadi kamu juga harus dekat dengan dia."
"Terserahlah."
"Permisi nona, tuan Arga sudah datang." Sang pelayan menghampiri Tere dengan sopan.
"Oh ok baiklah, aku akan segera menyelesaikan make upku." Tere berkata tanpa mengalihkan pandangannya." Crey temenin dulu gih, kakak sebentar lagi selesai."Perintah Tere kepada sang adik.
"Dih gak mau ah."
"Crey please ..."
Cristy memutar kedua bola matanya malas." Iya ... Iya." Jawab Cristy sambil mencebikkan bibirnya, setelah itu Cristy keluar dengan hentakan kakinya, Tere hanya menggelengkan kepalanya.
Arga yang melihat kedatangan Cristy langsung menyunggingkan senyumannya, ia menatap lekat wajah cantik Cristy yang terlihat sangat mempesona.
"Kak Tere sebentar lagi selesai, aku di suruh nemenin om disini." Tanpa basa basi Cristy langsung mendaratkan bokongnya, ia bersungut dengan kesal.
"Hmm aku bukan ommu, jadi jangan panggil aku om-om," Arga menyahut tidak suka dengan panggilan Cristy.
"Ok baiklah kakak ipar."
"Ck ... Siapa yang akan menjadi kakak iparmu kucing nakal." Batin Arga sambil memperlihatkan seringai di bibirnya. Arga berjalan dan duduk tepat di samping Cristy, ia meraih dagu Cristy dengan tiba-tiba, sungguh membuat Cristy terkejut setengah mati." Kamu sangat cantik baby." Bisik Arga dengan nada sensualnya, entah mengapa ucapan itu keluar tanpa ia duga.
Cristy yang mendengar bisikan sensual itupun sedikit terkejut, namun Cristy langsung menepis tangan Arga. "Apasih om main pegang aja, lagian aku itu memang cantik om, bahkan kecantikan aku tuh mengalahkan ratu kecantikan dunia." Cerocos Cristy dengan bangganya.
Arga terkekeh dengan pelan, baru kali ini ia menemukan perempuan seperti Cristy, entah mengapa Arga semakin tertarik untuk memilikinya." Dasar kucing liar." Arga berucap sambil mengacak-acak rambut Cristy, setelah itu ia kembali duduk di tempatnya.
"Apa maksudnya dengan kucing liar? aku ini manusia om, bukan kucing, dasar om rabun." Cristy mencebikan bibirnya dengan kesal, namun di mata Arga justru sangat menggemaskan, ingin sekali Arga melumat bibir kecil itu ... Oh s**t dengan membayangkannya saja membuat Arga menegang dan pikiran kotornya mulai berkelana entah kemana.
Arga hanya diam menatap lekat wajah cantik Cristy, ia sungguh tidak ingin mengalihkan pemandangannya barang sedetikpun dari wajah cantik itu, gila emang.
"Om berhenti menatapku seperti itu, aku tidak suka." Cristy berucap sambil memperlihatkan raut wajahnya yang kesal.
"Kucing liar ini, masih saja memanggilku om, benar-benar meski di beri hukuman." Batin Arga kesal." Sudah ku bilang panggil aku om, apa kamu tidak mengerti bahasa manusia?" Decak Arga sambil menatap tajam Cristy, namun Cristy hanya mengedikan bahunya tidak peduli.
Arga yang kesalpun kembali bersuara." Panggil aku Arga, atau kakak, atau sayang juga boleh." Ucapnya dengan santai.
"Ok baiklah kak Arga." Geram Cristy.
"Sayang lebih cocok kayaknya."
"Maaf ya kak ARGA," Cristy menekankan kata ARGA dengan nada tingginya," Panggilan sayang aku cuma buat kekasihku, lagian kak Arga kalau mau di panggil sayang seharusnya kakak suruh kak Tere saja, bukan aku. Paham." Ucapnya penuh penekanan.
Mendengar kata kekasih, sontak saja membuat Arga mengepalkan kedua tangannya, ia tidak bisa nerima jika Cristy memiliki kekasih, hatinya terasa panas, dadanya naik turun meredam amarah yang ada dalam dirinya." Kekasih?, apa kamu sudah memiliki kekasih?" Tanya Arga dengan nada suara yang terkesan dingin.
Cristy mengangguk tanpa melihat Arga, Cristy sibuk membalas pesan dari Jastin kekasihnya, ia tidak tau jika Arga sudah berada di hadapannya." Ja .." Baru saja Arga akan mengeluarkan suaranya, tiba-tiba suara Teresa memgalihkan pandangannya, ia menatap Teresa dengan tidak suka, sedangkan Teresa tersenyum sambil berjalan ke arahnya.
"Ayo kita berangkat sayang." Ajak Teresa dengan suara lembutnya, ia menggandeng lengan Arga tanpa memperdulikan raut wajah Arga yang terlihat tidak suka.
"Kak Tere lama banget sih," Gerutu Cristy kesal. Ia berdiri dsn mengikuti langkah kaki kedua insan itu.
"Bawel ih, sudah ayo kita jalan." Balas Tere tanpa menghentikan langkah kakinya, Cristy hanya bisa menatapnya dengan kesal, lalu iapun mengekori kakaknya dari belakang.
Arga diam tak bersuara, ia ingin sekali meraih tangan Cristy dan menuntunnya untuk berdampingan dengan dirinya, namun ia tidak bisa melakukannya," Tunggu sampai hari itu tiba, kau akan menjadi milikku kucing nakal." Batin Arga sambil menyeringai menakutkan.
***
Di dalam mobil tidak ada yang bersuara satupun, Arga yang fokus dengan setir kemudinya dan sesekali melirik Cristy melalui kaca spionnya, sedangkan Teresa sibuk dengan ponselnya, karena sang meneger tengah memberitahukan tentang jadwal pemotretannya.
Cristy yang merasa di perhatikan sontak saja ia menatap Arga melalui kaca spion mobil dalamnya, dan pandangan merekapun bertemu, Arga menyunggingkan senyumannya yang tampan, namun bagi Cristy justru senyuman itu menakutkan, Cristy langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tidak ingin bertatapan dengan calon kakak iparnya itu.
"Sayang kita akan pergi kemana? "Tanya Teresa ketika ia sudah selesai membalas pesan sang menegernya.
"Terserah kau saja." Jawab Arga datar.
"Baiklah bagaimana kalau kita pergi ke restauran xxx yang baru buka itu loh sayang, aku dengar makanan disana sangat enak loh."
"Hmm .. Bagaimana dengan Cristy?,apa dia setuju?"
Teresa berbalik dan menatap sang adik." Crey kamu setujukan?" Ucap Teresa dengan lembut.
"Terserah kakak saja, aku ikut."
"Dengerkan yang, Cristy setuju." Teresa menatap Arga dengan lekat, sedangkan Arga hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
"Ck ... " Cristy berdecak kesal, ia sungguh sangat tidak suka jika sang kakak di acuhkan oleh orang lain, apalagi Arga yang notebanenya calon suami sang kakak." Dasar om dingin, bisa-bisanya dia mengacuhkan kakakku, awas saja aku akan memberinya pelajaran nanti."Cristy membatin dengan kesal, ia menatap tajam calon kakak iparnya itu.
"Sayang." Panggil Teresa.
"Hmm." Arga hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangannya.
"Minggu depan kita fetting baju penganti ya."
"Aku sibuk."
"Yasudah kalau begitu, aku pergi sendiri saja." Ucap Teresa dengan nada suara yang terdengar kecewa.
"Ada Cristy, ajak saja dia."
"Aku gak bisa om, minggu depan aku ada kuliah, lagian harusnya om yang nemenin kakak fetting baju pengantin bukan aku." Cristy menyahut tidak suka, bagaimanapun juga, Arga yang seharusnya meluangkan waktu untuk fetting baju pengantin bersama calon istrinya.
"Kucing nakal ini, selalu saja memanggilku om, benar-benar membuatku ingin menghabisinya saat ini juga." Batin Arga sambil menatap Cristy melalui kaca spion mobilnya." Akukan sudah bilang kalau aku sibuk, kamu sebagai adik harusnya bisa menemani kakakmu fetting baju pengantin, dan satu lagi, aku paling tidak suka jika ucapanku di bantah, apa kamu lupa, kamu harus memanggilku apa."
"Denger ya om, aku ini harus kuliah, seharusnya om meluangkan waktu om untuk kakakku, bukankah kalian akan menikah? dan terserah akulah aku mau panggil om dengan sebutan apa juga, lagian tidak ada laranganyakan?" Ucap Cristy sambil menatap calon kakak iparnya dengan tidak suka.
"Kalau aku bilang kamu harus nemenin kakakmu, berarti harus. Kamu bisa ambil cuti kuliahmu dan temenin kakakmu, apa kamu tidak mengerti bahasa manusia hah?"
"Kenapa aku yang harus ambil cuti? kenapa gak om saja yang ambil libur kerja dan temenin kakak? om ini calon suaminya loh, gak lucukan kalau calon suami tidak bisa menemani calon istrinya untuk fetting baju pengantin." Cristy berucap diiringi dengan senyuman mengejeknya.
Arga menggenggam erat setir kemudinya, jika tidak ada Teresa ia sudah pasti membungkam mulut sialan itu dengan bibirnya." Gadis bar-bar ini, selalu saja melawanku, tunggu hukumanmu kucing liar yang nakal." Arga membatin sambil menahan diri untuk tidak menerkam bibir sialan itu, sedangkan Teresa yang menyadari amarah yang di pancarkan oleh calon suaminya itupun mulai angkat suara.
"Sudahlah Crey, kamu saja yang temenin kakak ya, kakak tidak ingin mengganggu pekerjaan kakak iparmu itu." Teresa berucap dengan nada lembutnya, meskipun dalam hatinya ia sangat kecewa karena Arga lebih mementingkan pekerjaannya di bandingkan dengan dirinya.