Om Sialan

1520 Kata
Cristy menatap sang kakak dengan kesal "Tapi kak ..." "Crey please ... Kamu temenin kakak ya, nanti kakak akan meminta izin sama dosenmu ok." Cristy tidak menanggapinya, ia hanya bisa menahan amarahnya dalam hati." Dasar om sialan, kenapa dia bisa seetega itu sama kak Teresa? kenapa dia sangat dingin sekali dengan kak Teresa? benar-benar menyebalkan." Batin Cristy kesal. "Crey .." Panggil Teresa karena sang adik tidak menanggapi ucapannya. "Iya kak, aku akan menemani kakak ok puas." "Gitu dong, " Teresa tersenyum manis ke arah sang adik. Arga yang mendengar ucapan Cristypun ikut tersenyum, namun senyuman itu, senyuman devil yang tengah merencakan sesuatu, entahlah apa yang ia rencanakan, hanya dirinyalah yang tau arti dari senyuman devil itu. *** Mereka sudah tiba di restsuran xxx, dengan santai mereka berjalan memasuki restauran tersebut, mereka memesan meja yang berada di ujung dekat jendela. Setelah mereka duduk sang waiters mendatanginya dengan membawakan buku menu restauran itu." Silahkan mba, mas, mau pesan apa?" Tanya sang waiters dengan sopan. Mereka menoleh ke arah sang waiters, kemudian merekapun menyebutkan makanannya satu persatu," Baiklah silahkan di tunggu" Ucap sang waiters dengan senyuman ramahnya, mereka hanya menganggukkan keplanya, lalu waiters itupun pergi melangkahkan kakinya. Cristy sangat sibuk dengan ponselnya, ia tidak memperdulikan dua mahluk yang terlihat dalam keadaan canggung karena tidak ada yang mengeluarkan suaranya, yang merasa canggung mungkin hanya Teresa saja, tetapi tidak dengan Arga, laki-laki itu selalu memperhatikan calon adik iparnya dengan intens, ia tidak memperdulikan calon istrinya yang terlihat mulai bosan. "Sayang" Panggil Teresa dengan pelan, Arga menoleh tanpa menjawab panggilan calon istrinya itu. "Kamu ngapain sih liatin Cristy terus dari tadi?" Tanya Teresa tidak suka. "Memangnya ada masalah?" Arga berbalik nanya tanpa memperdulikan perasaan calon istrinya. "Jelaslah sayang, aku ini calon istrimu, seharusnya kamu memperhatikan aku bukan adikku." "Oh jadi kamu ingin aku perhatikan begitu?" Arga berpindah posisi dari duduknya, ia menggeser bangku agar lebih dekat dengan Teresa." Jadi bagaimana aku harus memperhatikanmu?"Bisik Arga tepat di telinga kiri Teresa, namun matanya menatap calon adik iparnya yang mulai terganggu oleh mereka berdua. "Eh emm maksudku ... Maksudku bukan .. Bukan begini sayang." Teresa berkata dengan perasaan gugupnya, sungguh baru kali ini ia berdekatan dengan Arga sangat intens. "Lalu maksudmu seperti apa? Seperti ini." Arga membelai lembut wajah calon istrinya, ia sengaja melakukan itu supaya Cristy terganggu dsn mengalihkan pandangannya dari ponsel sialan itu. Dan benar saja, Cristy langsung menghentikan aktifitas dari ponselnya, ia menatap Arga dengan tidak suka."Kalau kalian mau bermesraan jangan disinilah, malu di liatin banyak orang, lagian masih ada aku di sini." Ucap Cristy dengan kesal, sungguh baru kali ini ia menyaksikan langsung hal intens antara sang kakak dengan calon kakak iparnya itu, mungkin jika dirinya tidak ada, mereka pasti sudah berciuman mesra. Arga menyeringai dengan senang, ia semakin memprovokasi Cristy dengan cara melumat bibir Teresa dengan ganas, sedangkan matanya menatap Cristy, yang seketika wajahnya memerah, entah itu menahan amarah, atau menahan rasa malunya. Meskipun ganas, Teresa terlihat sangat menikmatinya, ia memejamkan kedua bola matanya, ia tidak tau jika calon suaminya itu tengah menatap sang adik dengan tatapan yang sulit di artikan. "Dasar sialan, bisa-bisanya mereka berciuman di hadapanku, mereka pikir aku ini patung pancoran apa? Brengsek." Gerutu Cristy dalam hati, ia benar-benar merasa geram dengan tingkah calon kakak iparnya itu. "Kakak..." Cristy memanggil sang kakak dengan nada sedikit tinggi. Arga melepaskan tautannya, kemudian ia mengambil tisu guna untuk menghilangkan bekas ciumannya dengan calon istrinya, sedangkan Teresa tengah mengatur deru nafasnya, ia menatap sang adik dengan tidak suka karena aktifitas ciumannya terganggu. "Apasih Crey? Kamu tuh ganggu aja."Dengus Teresa. "Kak kalau mau bermesraan tuh jangan disini, gak lihat ada aku hah?" "Ck ... Memangnya kenapa Crey? Lagian kita cuma ciuman doang Crey, kamu tuh berlebihan banget sih." "Ini tempat umum kak, setidaknya kakak punya rasa malulah sedikit. Kakak ini model loh, bagaimana kalau ada paparazi? Kakak mau jadi bahan gosip mereka hah?" Teresa terdiam sejenak, yang di katakan Cristy memang ada benarnya juga, bagaimana kalau ada paparazi? Dan bagaimana kalau ia jadi bahan gosip mereka? Yang di khawatirkan Teresa bukanlah imagenya, namun kekasihnya yang ia sembunyikan tanpa ada satu orangpun yang tau, termasuk keluarganya. "Silahkan di nikmati hidangannya." Tiba-tiba suara waiters terdengar di telinga Teresa, ia melirik sang waiters sambil memberikan senyuman cantiknya. "Terima kasih." Ucap Cristy lembut, waiters itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian iapun undur diri. Arga yang sedari tadi menatap Cristy dan menjadi pendengar setia perdebatan antar kedua kakak beradik itupun mulai membuka suaranya." Makanlah yang banyak, biar tumbuh cepat." Ucapnya kepada Cristy. "Apasih om, asal aja kalau mangap." Dengus Cristy tidak suka. "Ada yang salah dengan ucapanku hmm?" "Ya jelaslah salah." Dengus Cristy kesal. "Salahnya dimana?" "Salahnya om nyuruh aku makan yang banyak supaya aku tumbuh cepat, memang om pikir aku ini tanaman yang di kasih pupuk terus tumbuh dengan cepat? Lagian aku tuh udah tumbuh, bahkan usiaku saja sudah menginjak 20 tahun, tubuhku juga sudah bagus." "Apanya yang bagus? Di lihat dari sisi manapun tubuhmu itu sangat kecil, tidak seperti perempuan yang berusia 20 tahun." "Memang pada dasarnya mata om tuh RABUN, sudahlah aku malas debat sama om, mending aku makan." Ucap Cristy dengan kesal, ia langsung menyantap makanannya lalu memasukannya ke dalam mulut, Arga yang melihat tingkahnya pun hanya terkekeh pelan, ia sungguh merasa sangat gemas hingga ia ingin sekali menciumnya. "Argh sialan, kenapa dia terlihat sangat imut seperti itu? Argh aku ingin sekali menciumnya. Fuck." Arga membatin dengan kesal, ia menatap Cristy dengan intens. "Ekhmm .."Teresa mulai kesal karena calon suaminya itu hanya menatap sang adik." Di makan sayang, nanti keburu dingin." Ucap Teresa mencoba untuk mengalihkan pandangan calon suaminya. Arga melirik sekilas ke arah Teresa, kemudian ia memakan makanannya tanpa membalas ucapan calon istrinya itu, Teresa yang merasa di abaikan pun hanya bisa menggeram kesal dan menahan amarahnya supaya tidak meledak. *** Setelah selesai makan, mereka bertiga keluar dari restauran tersebut, mereka berjalan menuju parkiran mobil." Kak kita mau kemana lagi?" tanya Cristy ketika mereka tiba di depan mobil Arga. "Kita pulang saja, soalnya kakak ada pemotretan jam 5 sore." Teresa menjawab sambil memainkan ponselnya." Sayang anterin aku ke tempat pemotretan ya." Teresa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya, ia menatap Arga dengan tatapan memohonnya. "Kapan?" Tanya Arga sambil membuka pintu mobilnya. "Habis mengantar Cristy pulang ke rumah, baru kita berangkat ke tempat pemotretanku." Balas Teresa sambil setelah masuk ke dalam mobilnya. "Yasudah kalau gitu, aku antarkan kamu dulu, baru aku antar Cristy pulang ke rumah." "Sayang ini baru jam 3 .." "Memangnya kenapa?" "Aku tidak mungkin menunggu sampai jam 5 kan?" "Mau aku anterin atau tidak sama sekali?" Arga bertanya sambil melajukan kendaraannya. "Ok baiklah terserah kamu." Ucap Teresa dengan kesal, sedangkan Arga terlihat tengah menyunggingkan senyuman devilnya. Cristy sibuk kembali dengan ponselnya, ia tidak memperdulikan dua orang yang tengah duduk di kursi depan" Ya Tuhan soswet banget sih." Ucap Cristy ketika ia membaca wa dari kekasihnya Jastin. "Siapa Crey?" Tanya Teresa penasaran. "Eh apanya yang siapa kak?" Cristy berbalik nanya. "Itu kamu bilang soswet banget sih." Teresa meniru suara Cristy dengan ciri khasnya yang imut. "Kak Tere kok bisa denger sih, padahal aku ngomongnya dalam hati loh." Cristy berucap dengan nada sedikit terkejut, ia sendiri tidak nyadar bahwa dirinya berucap dengan suara yang sedikit lantang, bukan hanya Teresa yang mendengarnya, Arga yang tengah fokus dengan kemudinyapun seketika memegang erat setir mobilnya. "Astaga nih anak bener-bener ya, suara kamu tuh terdengar sangat jelas Crey, gak cuma aku aja yang denger, Argapun juga denger, iyakan sayang?" Teresa menatap Arga dari samping. "Iya benar kata kakakmu, jadi siapa yang kamu maksud?" Arga berucap sambil melirik Cristy dari kaca spionnya. "Ya pacar akulah om, gak mungkinkan kalau pacarnya Sizuka." "Ck .. Kamu itu masih kecil, sudah main pacar-pacaran, kuliah dulu yang bener." "Eh dengar ya om, aku tuh udah besar, udah 20 tahun, papa aja nggak ngelarang aku buat pacaran, kenapa om yang repot sih." Ucap Cristy dengan kesal. "Karena aku tidak suka, kamu itu milikku, hanya aku yang boleh menyentuhmu kucing nakal, semenjak penembakan itu, kamu sudah ada di otakku, itu artinya kamu sudah menjadi milikku, aku tidak akan pernah lagi melepaskan cintaku untuk yang kedua kalinya, aku tidak ingin tersiksa lagi seperti dulu." Arga membatin sambil fokus dengan setir kemudinya, ia tidak lagi menjawab ucapan Cristy yang sudah ia claim sebagai miliknya. "Ya bey, ada apa?" Terdengar suara Cristy yang lembut ketika ia mengangkat panggilan dari sang kekasih, Arga yang mendengar itupun sontak saja menginjak rem mobilnya, sehingga membuat 2 perempuan itu terkejut. "Ada apa sayang?" Tanya Teresa terlihat khawatir, Arga tidak menanggapinya, ia hanya memperlihatkan wajah suramnya yang sangat menakutkan. "Ya Tuhan om, aku ini masih muda loh om, aku gak mau mati sia-sia, kalau om gak bisa nyetir, mending gak usah nyetir sekalian, daripada harus membahayakan nyawa orang lain." Cristy berucap sambil menormalkan detak jantungnya yang terasa mau copot, ponselnya jatuh ke bawah akibat rem dadakan yang di lakukan Arga tadi. Arga tak menggubrisnya sama sekali, ia kembali melajukan mobilnya dengan pelan, sedangkan Cristy tengah menatapnya dengan tidak suka," Om tuh gak tulikan? Setidaknya om tuh bilang maaf sudah mengagetkan kalian, bukannya diam seperti tidak terjadi apa-apa." Cristy kembali berucap dengan kesal, ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap calon kakak iparnya itu. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN