Menggemaskan

1527 Kata
DIAM jangan membuatku marah." Arga berucap dengan nada sedikit tinggi, ia sungguh ingin sekali membungkam mulut cerewet itu dengan bibirnya, namun sayang sekali keinginannya tidak terlaksana karena masih ada Teresa yang setatusnya sebagai calon istrinya. Teresa yang melihat kemarahan calon suaminya itupun hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar, sungguh ia baru pertama kalinya melihat Arga marah seperti itu, berbeda dengan Cristy, ia paling tidak suka jika dirinya di bentak, tidak ada rasa takut sama sekali. "Seharusnya aku yang marah om, bukannya om, om itu aneh, sudah buat salah bukannya minta maaf tapi malah marah-marah. Gak lucu om, gak lucu." Ucap Cristy sambil memonyongkan bibirnya lucu membuat Arga gemas dan ingin melumatnya. "Astaga ingin sekali aku melumat bibir itu, argh sialan, kalau saja Teresa tidak ada disini, sudah pasti aku akan melumatnya sampai tak tersisa." Arga hanya bisa membatin frustasi, entah mengapa ia sangat terobsesi dengan bibir cerewet itu. Cristy berjongkok dan meraih kembali ponselnya yang jatuh, ia memutuskan untuk menghubungi kekasihnya Jastin guna menghilangkan rasa kesalnya terhadap Arga. Sesekali Arga melirik ke arah kaca spion mobilnya, ia menatap Cristy yang terlihat mulai melakukan panggilannya, dan hal itu mampu membuat Arga kembali merasakan hawa panasnya, apalagi ketika ia mendengar suara Cristy yang terdengar sangat lembut, sungguh membuat Arga naik darah seketika. "Sory by, tadi ponselku jatuh"Ucap Cristy dengan lembut." kamu belum pulang ya?" "Iya sayang tidak apa-apa," Terdengar suara Jastin yang begitu lembut. " Sebentar lagi yang aku pulang, kapan kita akan pergi kencan sayang? Hari ini tidak jadi, bagaimana kalau besok hmm?" Tanya Jastin dengan penuh harap. "Hmm ok, apa kamu tidak sibuk?" "Buatmu aku tidak akan sibuk sayang, lagian ada kakakku dan juga asistenku, dan hari ini aku tidak jadi ambil cuti karena kencan kita batal." Jastin berucap diiringi dengan kekehannya. Cristy tersenyum dengan wajah yang memerah, ia benar-benar masih tidak menyangka jika dirinya sudah resmi menjadi kekasih sahabatnya itu." Maafkan aku by ..." "Hey jangan meminta maaf sayang, kamu tidak salah, lagian masih banyak wakti untuk kita, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah ok." Jastin menyela ucapan kekasihnya, ia tidak ingin sang kekasih merasa bersalah terhadapnya. "Sa ..." Belum sempat Cristy meneruskan ucapannya, tiba-tiba saja Arga menghentikan mobilnya secara mendadak, alhasil ponsel Cristy kembali terjatuh dan itu sukse membuat Cristy menggeram kesal. " Om apa-apaan sih, kenapa selalu mengerem mendadak? Ponselku aku jatuh 2 kali om, untung saja jantungku tidak lepas." Gerutu Cristy dengan kesal. "Sayang kamu tidak apa-apa? Apa kamu sakit? Kalau kamu sakit lebih baik kamu istirahat saja, biar aku yang nyetir mobilnya." Teresa berucap dengan sedikit panik, ia menatap Arga dengan pandangan khawatirnya, sementara Arga hanya mendengus tanpa mau menjawab ucapan Cristy maupun Teresa. Arga kembali menancapkan gas, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata." b******k, sialan, awas saja kucing nakal, aku akan memberikanmu pelajaran karena kamu sudah berani memprovokasiku." Batin Arga sambil menahan amarah di dalam dadanya. "Dasar om sialan." Cristy mendengus dengan kesal, ia kembali memungut ponselnya yang terjatuh. "Crey jaga bicaramu, cepat minta maaf." Perintah Teresa dengan sedikit kesal karena sang adik memaki calon suaminya. "Gak, aku gak mau, lagian om itu emang nyebelin kak, ponselku jatuh sampai 2 kali gara-gara calon suami kakak ngerem mendadak, untung cuma ponselku doang yang jatuh, coba kalau jantungku ikut jatuh? Aku bisa mati kak, dan aku tidak ingin mati muda, aku masih ingin hidup." "Crey kamu ini terlalu berlebihan, bagaimanapun juga, Arga itu calon suami kakak, dan umurnya terpaut jauh denganmu Crey, jadi kamu tidak seharusnya berbicara kurang ajar seperti tadi" Teresa menatap sang adik dnegan tajam," Cepat minta maaf Crey, atau kakak laporin sama papa." Ancam Teresa dengan tegas. "Gak mau, aku gak salah, kakaka jangan memaksaku untuk meminta maaf, seharusnya si om yang meminta maaf sama aku, karena dia ..." "Crey, minta maaf atau kakak akan bilang kelakuan kamu yang tidak sopan sama mama dan papa, biar kamu di hukum." Teresa menyela ucapan sang adik, ia sungguh merasa sangat geram karena adiknya tidak kunjung meminta maaf kepada Arga calon suaminya itu. "Sudahlah jangan di bahas lagi, biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya." Arga menimpali sambil melirik sekilas ke arah Teresa, kemudian ia menatap Cristy melalui kaca spion mobilnya, seringai menyeramkan terbit dari bibir laki-laki itu, dan tentunya hanya terlihat oleh Cristy yang kini tengah menatapnya kesal. "Tunggu hukumanmu baby" Batin Arga dengan seringai menyeramkan. "Apa maksudnya dengan seringaian itu? Pasti si om tengah merencanakan sesuatu untukku. Argh benar-benar menyebalkan." Cristy membatin dengan kesal. Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Argapun tiba di tempat pemotretan Teresa, perlahan Arga menghentikan mobilnya." Sudah sampai." Ucap Arga sambil melirik ke arah Teresa yang terlihat enggan untuk turun. "Seharusnya om itu turun lalu membukakan pintu untuk kak Teresa, bukannya duduk aja, gak romantis banget sih om." Cristy berucap dengan sebal, ia geregetan dengan sifat Arga yang terkesan dingin dan juga datar. Teresa diam seribu bahasa, bagaimanapun juga, yang di ucapkan Cristy memang ada benarnya, ia paling suka di perlakukan secara romantis, dari mulai hal kecil maupun hal besar, sedangkan Arga, jauh dari kata romantis. "Mau sampai kapan kamu duduk disini?" Bukannya turun untuk membukakan pintu mobilnya, Arga malah bertanya dengan nada datarnya, sungguh membuat hati Teresa kecewa, baru kali ini ia di perlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki, biasanya dirinya akan di perlakukan seperti tuan putri, dengan romantis setiap laki-laki yang ia kencani akan membukakan pintu mobilnya, lalu mengulurkan tangannya sambil memperlihatkan senyumannya. Teresa menghela nafasnya dengan pelan." Aku turun dulu sayang, tolong antarkan adikku pulang." Teresa berusaha untuk tetap berbicara lembut, ia memperlihatkan senyuman palsunya hanya untuk menutupi kekecewaannya. "Dengan senang hati aku akan mengantarkan kucing nakal ini." Arga membatin senang." Hmm seperti yang kamu inginkan." Ucap Arga tanpa expresi di wajahnya. Teresa membuka pintu mobilnya dengan enggan, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan senyumannyapun terbit dari bibir sexynya itu, Arga yang melihat perubahan expresi calon istrinyapun hanya menyeringai kecil. "Hati-hati sayang, see you." Teresa berucap sambil memperlihatkan senyuman manisnya, setelah itu ia pergi melangkahkan kakinya menuju lokasi pemotretan. "Kamu pikir aku tidak tau siapa yang menelponmu Teresa?" Batin Arga sebelum ia melajukan kendaraannya. Setelah itu Argapun melajukan kendaraannya, senyuman terbit dari bibir laki-laki itu." Siap-siap dengan hukumanmu kucing nakal." Ucap Arga dalam hati, ia menatap Cristy melalui kaca spion mobilnya, Cristy yang sibuk dengan ponselnyapun tidak menyadari jika dirinya tengah di perhatikan oleh calon kakak iparnya. Cristy menghentikan aktifitas dari ponsel miliknya, kemudian ia menatap Arga melalui kaca spion mobil"Om turunkan aku di ujung jalan saja, aku bisa pulang naik taxi." Cristy berucap dengan nada sedikit pelan, bagaimanapun juga, ia merasa malas juka harus berduaan dengan laki-laki menyebalkan seperti Arga. Arga menghentikan mobilnya di pinggir jalan"Pindah ke depan." Perintah Arga dengan nada datarnya. "Gak mau, aku duduk disini saja." "Aku bukan supirmu Cristy, jadi duduk di sampingku. Sekarang." "Om maksa banget sih, daripada aku duduk di samping om, mending aku turun disini saja." Ucap Cristy dengan kesal, ia membuka pintu mobil lalu keluar ia berniat untuk memanggil taxi. "Mau kemana kamu?" Tanya Arga yang entah kapan ia turun dari mobilnya." Cepat masuk" perintah Arga dengan tatapan matanya yang tajam. Cristy tak menggubris, ia terus berjalan untuk mencari taxi, Arga yang sudah hilang kesabarannyapun langsung menarik tangan Cristy dengan kasar, sehingga membuat Cristy terjatuh ke dalam pelukannya. "Om apa-apaan sih, aku mau pulang, lepaskan." Cristy memberontak berusaha untuk melepaskan tangan Arga yang kini sudah mencengkram pinggang rampingnya. "Dasar kucing nakal, kamu senang sekali memprovokasiku hmmm." Arga beebisik dengan sensualnya." Jalan sendiri atau aku gendong baby." Arga kembali berbisik di telinga Cristy, dan itu mampu membuat Cristy merinding. "Gak mau ...." Sebelum Cristy menyelesaikan ucapannya, Arga sudah menggendong Cristy terlebih dahulu, ia berjalan dengan cepat menuju mobilnya. "Om turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Pinta Cristy sambil berusaha untuk turun dari gendongan Arga. "Diamlah atau aku akan melemparmu ke jalanan." Ucap Arga tanpa menghentikan langkah kakinya. "Dasar om sialan." Dengus Cristy pelan, dan tentunya masih bisa di dengar oleh Arga, namun Arga tidak menyahutinya, Arga membuka pintu mobilnya, kemudian ia mendorong tubuh Cristy dengan sedikit kasar, karena Cristy selalu mencoba untuk pergi. "Duduk yang manis, jangan buatku marah Crey." Ucap Arga setelah ia duduk di kursi kemudinya, ia menatap lekat wajah cantik Cristy." Pakai sabuk pengamanmu baby." Ucapnya kembali. "Aku tidak suka ya di panggil baby sama om, lagian aku ini udah besar bukan anak bayi lagi, jadi stop panggil aku baby." "Ok sayang." "Om ...."Cristy memelototkan kedua bola matanya, ia sungguh sangat kesal sehingga dirinya ingin sekali membejek-bejek wajah tampan itu. "Apa sayang?" Arga menyahut dengan nada lembutnya, dan lagi-lagi Cristy harus memelototkan kedua bola matanya. "Ih om nyebelin, aku gak suka sama om." Arga terkekeh dengan pelan, sungguh ia merasa gemas melihat wajah cemberut Cristy yang menurutnya sangat lucu. "Sepertinya kamu harus di beri hukuman baby." Ucap Arga dengan tiba-tiba. "Memangnya apa kesalahan yang sudah aku perbuat sehingga membuat om harus memberikan aku hukuman?"Tanya Cristy sambil menatap Arga dari samping. "Oh apa kamu lupa, aku paling tidak suka di panggil om, tapi kamu selalu memanggilku dengan sebutan om? Dan tadi kamu sudah memakiku dengan bibir manismu ini hmm." Arga memegang bibir Cristy dengan tiba-tiba, sontak saja membuat Cristy terkejut setengah mati. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN