Ingin menerkamnya

1545 Kata
Apaan sih om main pegang aja." Ucap Cristy sambil menepis tangan Arga dari bibirnya. "Kenapa baby? Aku bahkan belum menciumnya hmm." Arga berucap dengan nada lembutnya." "Om m***m, aku tidak mau berbicara lagi sama om." Teriak Cristy sambil menutup bibrnya dengan kedua tangannya." Ayolah mobil cepatlah sampai, bisa gila aku lama-lama disini, argh om sialan ini, benar-benar menyebalkan." Ucap Cristy dalam hati. Arga melirik ke arah Cristy, ia menatap bibir Cristy yang terlihat menggoda imannya"Sialan, kalau saja jalanan ini sepi, sudah pasti aku melumat bibir itu, argh brengsek." Ucap Arga dalam hati, sungguh ia benar-benar ingin merasakan bibir itu, ia ingin melumatnya dengan lembut, ia ingin merasakan setiap inci dari mulut kucing nakalnya yang cerewet itu, namun sayang sekali, kondisinya tidak memungkinkan bagi dirinya untuk melakukan hal yang dia inginkan. "Lihat depan om, aku gak mau mati muda karena kecerobohan om itu." Bibir cerewet itu kembali memprovokasi Arga, rasanya Arga ingin sekali membungkamnya langsung supaya bibir itu diam. "Kalau om mau mati, yaudah mati sendiri saja, jangan bawa-bawa aku, jalan hidupku masih panjang om, jadi tolong om fokus ke kedepan ok." Lagi-lagi Cristy kembali memprovokasi dirinya, sungguh Arga semakin ingin menerkamnya langsung. "Diam, atau aku akan membungkam mulutmu dengan mulutku."Ucap Arga penuh penekanan, dan seketika itu pula Cristy langsung menutup mulutnya, ia tidak ingin jika Arga benar-benar melakukan apa yang di katakannya, terlebih lagi, bibir Cristy masih di segel, tentu saja Cristy harus menjaganya agar tidak di mangsa oleh si om sialan itu. "Dasar om m***m, om gila, om sialan, om nyebeliiiiiin, om brengsek." Maki Cristy dalam hati, ia menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak kembali bersuara. "Gadis pintar." Arga mengacak rambut Cristy dengan gemas. "Betapa cantiknya kamu kucing nakal, kenapa aku bisa tertarik dengan gadis kecil sepertimu?" Arga membatin sambil sesekali melirik ke arah Cristy, sungguh ia tidak menyangka jika dirinya tertarik pada gadis yang usianya terpaut 15 tahun. Setengah jam kemudian, mobilpun tiba di halaman rumah kedua orangtua Cristy, dengan perlahan Arga memarkirkan mobilnya, kemudian ia melepaskan seatbeltnya, lalu ia mendekatkan tubuhnya dengan Cristy. "Om ... Om mau ngapain?"Tanya Cristy dengan panik, sedangkan Arga hanya memperlihatkan senyuman tampannya." Om jangan macem-macem ya, ini di depan rumah aku loh om, kalau om macem-macem aku bakal teriak." Cristy kembali berucap dengan sedikit gugup, namun Arga tetap tidak menggubrisnya, ia malah menikmati kegugupan Cristy dari jarak yang sangat-sangat dekat. "Om jangan macem-macem." Cicit Cristy dengan suara pelannya, ia berusaha untuk menjauhkan wajah Arga dari wajahnya. "Kenapa wajahmu sangat merah baby?" Aega sengaja berbisik di telinga Cristy, aroma tembakau menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Cristy" Apa kamu ingin aku melakukan sesuatu hmm." Arga kembali berbisik di telinga Cristy, kali ini ia sengaja menghembuskan nafasnya dengan sensual, sehingga membuat Cristy merasakan hawa panas dalam tubuhnya. "Om jangan gila, menjauhlah dariku, jangan menciumku, apalagi menyentuhku, aku ini masih perawan dan masih di segel om, jadi please jangan berbuat macam-macam." Geram Cristy sambil mencoba untuk mendorong tubuh Arga. Arga terkekeh mendengar ocehan kucing nakalnya itu, meskipun ia sangat ingin merasakan bibir cerewet itu, namun ia tidak mungkin melakukannya di tempat terbuka seperti itu, ia ingin merasakannya di tempat romantis agar Cristy tidak bisa melupakannya. Sungguh naif sekali dia, padahal dari tadi dia selalu membayangkan bibirnya itu menyatu dengan bibir kucing nakalnya itu, dimanapun tempatnya jika ia bisa melakukannya maka dia akan melakukannya, tetapi pemikiran itu hilang entah kemana ketika melihat reaksi menggemaskan dari wajah cantik kucing nakalnya itu. Arga meraih seatbeltnya kemudian ia melepaskanya." Aku hanya melepaskan sabuk pengamanmu baby, kenapa pikiranmu sangat kotor sekali." Ucap Arga di iringi dengan kekehannya, ia merasa sangat gemas ketika melihat wajah cantik itu memerah seperti tomat. "Om ... Om permainkan aku ya, argh om nyebelin banget sih." Cristy menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia merasa malu dan juga kesal dengan sikaf Arga barusan. Setelah dirasa Arga sudah menjauh dari tubuhnya, perlahan Cristy membuka kedua tangannya, ia bersyukur karena Arga benar-benar sudah kembali ke tempat duduknya. "Eh emm makasih om, sudah mengantarku pulang, hati-hati di jalan." Ucpa Cristy dengan cepat, ia meraih pintu mobil dan berniat untuk membukanya, namun tangannya tiba-tiba di cekal oleh Arga. "Duduk yang manis biarkan aku yang membukakan pintu untukmu."Ucap Arga dengan tatapan yang sulit di artikan. "Tidak perlu om, aku bisa kok buka pintu sendiri, jadi om tidak perlu repot-repot ok." "Jangan membantah, jadilah anak yang penurut. Mengerti." Arga berucap dengan nada penuh penekanan, setelah itu ia turun dari mobilnya, kemudian ia berjalan dan membukakan pintu mobil untuk Cristy. "Dasar om aneh" Batin Cristy kesal, ia merasa heran dan juga bingung, kenapa sikap Arga seperti itu terhadap dirinya, padahal jelas-jelas calon istrinya Arga adalah kakaknya bukan dirinya. "Sampai kapan kamu akan duduk disitu baby? Apa kamu sangat betah berduaan denganku hmm." Suara menyebalkan itu terdengar di telinga Cristy, Cristy menatap Arga dengan malas, sedangkan Arga malah memperlihatkan senyuman tampannya. "Om kepedean banget sih jadi orang, aku tuh lagi bingung, harusnya perlakuan yang om lakukan sekarang terhadap aku ini, om lakukan untuk kak Tere calon istri om. Om itu aneh banget." Ucap Cristy sambil menuruni mobilnya. "Mau aku cium biar mulutmu itu diam." Ancam Arga diiringi dengan seringaiannya. Cristy memelototkan kedua bola matanya, ia sangat kesal, benar-benar kesal terhadap Arga," Dasar om rese, bukannya menjawab ucapanku, malah mengancamku." Gerutu Cristy sambil memonyongkan bibirnya lucu. "Astaga nih anak, benar-benar minta di cium tuh bibir." Arga membatin frustasi, sungguh baru kali ini ia benar-benar terobsesi akan bibir seorang perempuan, dan lebih parahnya lagi, perempuan itu adalah calon adik iparnya sendiri."Argh sialan"Arga mengusap wajahnya frustasi, ia ingin melumat bibir itu, tapi ia tidak bisa melakukannya. Sungguh ironis. "Om aku masuk dulu, terima kasih sudah mengantarku pulang. Om hati-hati di jalan, fokus lihat jalanan ya om, jangan lihat samping mulu."Cristy berucap di iringi dengan senyuman mengejeknya. Arga tidak menyahut, ia hanya fokus dengan gerakan bibir Cristy yang terlihat benar-benar menggoda, sehingga membuat Cristy kembali mendengus dengan kesal karena ucapannya tak di hiraukan. "Aku gak jualan kacang ya om, dari tadi di kacangin mulu, dasar om nyebelin." Dengus Cristy sambil menghentakan kedua kakinya, merasa tidak ada jawaban, dengan kesal Cristy melangkahkan kakinya, ia pergi dari hadapan Arga, ia masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh sedikitpun. Arga tersadar dari lamunannya, ia menatap kepergian Cristy dengan tatapan yang sulit di artikan." Dasar kucing nakal, bukannya bilang terima kasih, malah pergi begitu aja, tunggu hukumanmu kucing nakalku." Ucap Arga dengan pelan, setelah Cristy masuk ke dalam rumahnya, Argapun masuk ke dalam mobilnya, ia melajukan mobilnys secara perlahan, senyumannya yang tampan masih terukir di bibirnya. *** Arga kembali memimpin perusahaan Sanjaya, ia kini tengah duduk di kursi kebesarannya, di dampingi Sony yang tengah berdiri di sampingnya. Sony tengah membacakan berkas yang harus Arga tanda tangani, Arga menekuk kedua tangannya di dagu, matanya yang tajam menatap kosong sebuah kalung yang ada di atas mejanya. Sony yang sudah selesai membacakan isi berkas tersebut, langsung menyerahkannya kepada Arga." Silahkan anda tanda tangani disini bos, tidak ada masalah dengan berkas ini, semuanya aman." Ucap Sony sopan. Arga tak menggubris berkas yang di berikan oleh asistennya tersebut, ia hanya menatap kosong kalung yang berinisial AL itu. "Ala aku sudah menemukan cintaku kembali, kali ini aku tidak akan melepaskannya, aku akan mendapatkannya meskipun dengan caraku yang kotor." Batin Arga tanpa mengalihkan penglihatannya. "Bos, apakah anda masih belum bisa melupakannya?"Tanya Sony yang menyadari tatapan Arga. "Aku sudah melupakannya Son, bahkan aku sudah bisa membuka hatiku untuk perempuan lain, lebih tepatnya aku sudah jatuh cinta dengan perempua lain." Ucap Arga jujur, dan tentu saja ucapa itu membuat Sony terkejut. "Jadi bos sudah jatuh cinta dengan perempuan lain? Siapa perempuan beruntung itu? Apakah calon istri anda? Ah tidak mungkin, kalau anda beneran jatuh cinta dengan model itu, saya tidak setuju bos, bos tau dia memiliki kekasih gelap, bahkan sampai sekarang mereka masih berhubungan, saya jadi khawatir dengan pernikahan anda nantinya, saya tidak yakin jika model itu bisa menjadi istri yang baik untuk anda." "Bagaimana kalau anda membatalkan perjodohan ini bos? Bagaimana kalau bos beritahu tentang kekasih gelap calon istri anda itu? Saya rasa pak Sanjaya akan mengerti dan mau membatalkan pernikahan ini." "Sebelum anda jauh ..." "Kenapa kau cerewet sekali Son? Bukankah kau yang mengusulkan aku untuk menerima perjodohan ini? Lalu kenapa sekarang kau juga yang menyuruhku untuk membatalkan perjodohan ini? Sampai kapanpun aku tidak akan membatalkan pernikahanku ini. Mengerti." "Tapi bos, anda tau sifat calon istri anda yang sebenarnya, anda tidak mungkin menikahi wanita seperti dia." "Siapa bilang aku akan menikahinya? Aku hanya bilang, aku tidak akan membatalkan pernikahanku ini." "Saya tidak mengerti maksud anda bos, anda bilang tidak akan menikahinya, tapi anda juga tidak akan membatalkan pernikahannya? Jadi maksud anda gimana bos?" Sony menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sungguh merasa bingung dengan apa yang di ucapkan bosnya tersebut. "Nanti juga kau akan tau Son, sudahlah, lebih baik kau keluar saja dari ruanganku, aku pusing liat wajah bodohmu itu." Perintah Arga dengan nada datarnya. "Anda sendiri yang buat saya bodoh seperti ini." Gumam Sony dengan pelan. "Aku masih bisa mendengarnya Son.." Dengus Arga sambil menatap asistennya dengan tajam. "Maaf bos, kalau begitu saya permisi dulu, dan ini berkasnya saya taro di atas meja anda." Sony meletakan berkas tersebut dengan hati-hati, ia merasa merinding mendapati tatapan tajam dari sang bos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN