Aku tau." Arga berucap sambil meraih berkas yang di berikan oleh asistennya, ia mulai menanda tanganinya." Bagaimana dengan pertemuan kita hari ini? Apakah kau sudah atur semuanya?" Tanya Arga dengan datar sebelum Sony keluar dari ruangannya.
"Sudah bos, apa anda tidak apa-apa?" Tanya Sony sedikit ragu.
Arga mengernyitkan keningnya, ia kembali menatap Sony dengan tajam"Maksudmu?" Tanyanya datar.
"Setelah 5 tahun, ini adalah hari pertama anda akan bertemu dengan saingan cinta anda .."
"Son aku sudah bilang, kalau aku sudah melupakan masa lalu, jadi jangan ungkit masalah ini lagi, dan sekarang aku sudah kembali menemukan cintaku, kali ini aku tidak akan pernah melepaskannya." Arga berucap dengan tegas, tangannya menggenggam erat berkas yang ada di hadapannya.
"Maafkan saya bos, kalau begitu saya per ..."
"Sudah kau cari tau tentang kekasih Cristy?"
"Eh emm maaf bos..."
"Aku tidak butuh kata maaf Son, sekarang kau cari tahu tentang kekasihnya Cristy, dari hal terkecil sampai hal terbesar. Mengerti." Perintah Arga dengan penuh penekanan.
"Mengerti bos." Balas Sony cepat.
"Kau keluarlah."
Sony mengangguk pelan, kemudian ia pergi melangkahkan kakinya keluar." Tugas bertambah lagi, hah sebenarnya apa yang di inginkan sama si bos? Apakah dia tertarik dengan nona Cristy? Tapi itu tidak mungkin, secara nona Cristy itu sangat-sangat bar bar, ngomongnya aja asal mangap, tapi untuk apa si bos mencari tau tentang dirinya dan juga kekasihnya? Atau jangan-jangan si bos otaknya mulai menyimpang? Dia tertarik sama kekasihnya nona Cristy? Menyeramkan." Sony berucap dalam hatinya, pikiran-pikiran negatif tentang bosnya mulai berseliweran di kepala si asisten tidak peka itu.
***
Arga tengah duduk di sebuah ruangan VIP bersama sang asisten dan juga saingan cintanya dulu yang tak lain adalah Adrian Aditama suami dari cinta pertamanya Amelia Lacarla.
Ini adalah kali pertamanya mereka bertemu setelah 5 tahun lamanya, dan selama itu pula mereka menjalin kerja sama tanpa berhadapan langsung, melainkan melalui orang kepercayaan Arga, karena 5 tahun yang lalu, Arga harus pergi meninggalkan Indonesia untuk menyelesaikan urusannya.
"Ekhmm lama tidak bertemu." Adrian menyambut Arga dengan sopan, namun masih terlihat raut wajah sedikit segan terhadap Arga, ia sangat takut jika kepulangannya Arga, akan mengganggu rumah tangganya dengan Amelia.
"Sangat lama sekali, bahkan aku hampir melupakan wajahmu jika tidak melihatmu berseliweran di majalah dan televisi." Arga berucap dengan santai, bagaimanapun juga, ia sudah melupakan masalalunya, namun tidak dengan Adrian yang terlihat sangat hati-hati.
"Jadi mari kita bahas masalah proyek pembangunan mall di kota x, aku rasa orang kepercayaanmu sudah memberitahukannya dengan detail." Adrian berucap dengan nada datarnya, ia menyilangkan kakinya dan menaruh tangannya di d**a.
Arga tau jika Adrian masih berhati-hati terhadap dirinya, di lihat dari expresinya pun Arga sudah mengetahuinya." Santai saja dulu, kau tidak berpikir bahwa aku pulang untuk mengganggu rumah tanggamu kan? Atau kau berpikir bahwa aku akan merebut istrimu hmm?" Arga berucap sambil meraih jus yang ada di atas meja, ia menatap Adrian dengan penuh selidik.
"Bagaimanapun juga, aku harus berhati-hati terhadapmu, aku tau kau ini orang yang paling berbahaya di dunia ini, jadi wajar bukan jika aku harus berhati-hati." Ucap Adrian dengan datar namun tatapan matanya benar-benar waspada.
Arga terkekeh dengan pelan, memang pada dasarnya laki-laki bucin itu lebih menakutkan di banding penjahat yang ia temui." Apa kau pikir aku ini seorang kriminal? Kalau aku orang berbahaya sudah dari dulu aku menggagalkan pernikahan kalian, oh ayolah lupakan masalalu, kita disini untuk memperpanjang kerja sama kita bukan?" Arga meneguk jusnya dengan santai.
"Tuan Adrian tenang saja, bos tidak akan mengganggu rumah tangga kalian, karena si bos sudah menemukan cinta sejatinya, jadi tidak mungkin beliau mengganggu rumah tangga tuan Adrian." Sony ikut menimpali dengan sopan, ia menatap Adrian sambil memperlihatkan senyumannya.
"Benarkah?" Adrian bertanya dengan penasaran.
"Benar tuan, apakah tuan tidak melihat berita tentang pernikahan si bos?"
Adrian menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah melihat berita ataupun menonton televisi." Tidak, aku tidak pernah lagi melihat berita, makannya aku tidak tahu." Ucapnya dengan santai.
"Astaga tuan ..."
"Sudahlah Son, jangan di bahas lagi, lebih baik kita ke intinya sekarang, waktuku tidak banyak lagi." Arga memotong ucapan Sony, ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sony hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu setelah itu merekapun kembali membahas kerja samanya, Adrian mulai santai dan tidak lagi mencurigai Arga.
***
Jam menunjukkan pukul 07.15 pagi, Cristy sudah berada di kursi meja makannya, begitupun dengan kedua orangtuanya, mereka tengah menikmati sarapan paginya dengan tenang.
"Crey kamu tidak lupakan kalau hari ini kamu harus temenin kakak buat fetting baju pengantin?"Tanya Teresa yang baru saja tiba di ruang makan.
Cristy menghentikan kunyahannya, ia menatap sekilas ke arah sang kakak." Aku tidak lupa kak, nanti setelah pulang kuliah aku langsung meluncur." Ucap Cristy.
"Bukannya kakak sudah bilang kalau kamu izin saja? Kenapa kamu malah tetap masuk sih Crey?" Teresa berkata dengan nada kesalnya.
"Aduh kak, hari ini aku harus ngumpulin skripsi aku, lagian fitting bajunya jugakan nanti jam 10an, masih ada waktulah."
"Terserah kamu, pokoknya kamu harus datang tepat jam 10, kamu tidak boleh telat sedetikpun. Mengerti."
Cristy memutar kedua bola matanya dengan malas"Yayaya."
"Loh kenapa kamu tidak sama Arga saja sayang?" Kini mama Gisel ikut nimrung sambil mengernyitkan keningnya bingung, sedangkan pak Satrio sibuk dengan majalahnya.
"Dia sibuk mah" Balas Teresa sambil mengoles rotinya dengan selai kacang kesukaannya.
"Sesibuk apapun dia, seharusnya dia meluangkan waktunya untukmu."
"Sudahlah mah, aku tidak apa-apa kok, lagiankan dia sekarang pemimpin perusahaan, jadi wajar saja kalau dia sangat sibuk dan lebih mementingkan perusahaannya daripada aku."
"Kamu ini ... Yasudahlah mama tidak akan ikut campur, yang penting pernikahan kalian lancar."
Teresa hanya tersenyum tanpa mau membalas ucapan sang mama, ia memakan rotinya dengan tenang.
"Mah, pah, kak aku berangkat dulu ya." Pamit Cristy sambil beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan kemudian ia mencium pipi mama sama papanya." Jastin sudah di depan." Ucapnya kembali.
"Loh kok tumben gak masuk dulu sayang." Ucap mama Gisel.
"Udah telat mah, yaudah aku berangkat dulu, bye mamy and dady." Cristy berlalu sambil melambaikan tangannya.
"Crey jangan lupa jam 10." Teriak Teresa dengan lantang."papa tidak ke kantor?" Tanya Teresa sambil menatap sang papa.
"Papa ada dinas keluar kota, nanti berangkat jam 9 pagi," Balas pak Satrio tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah. Teresa hanya ber oh ria, ia kini fokus dengan rotinya.
Tiba-tiba suara ponsel terdengar di telinganya, dengan cepat Teresa meraih ponselnya, ia meneguk slaivanya dengan kasar, kemudian ia melirik ke arah kedua orangtuanya yang kini tengah menatapnya dengan tanda tanya.
"Eh emm menegerku telpon, aku aku angkat dulu telponnya." Ucap Teresa dengan sedikit gugup, ia bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju taman belakang rumahnya, sedangkan kedua orangtuanya saling melempar pandangan, mereka sedikit curiga karena biasanya jika meneger Teresa menelpon, Teresa akan mengangkatnya tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Dan tentunya Teresa tidak akan menjauh seperti barusan.
Sedangkan di taman belakang, Teresa tengah berbicara dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah kekasihnya.
"Sudah ku bilang jangan menelponku di jam segini, nanti mama sama papa tau." Ucap Teresa sedikit kesal.
"Sayang, memangnya kenapa kalau orangtuamu tau? Aku ini kekasihmu? atau jangan-jangan yang di gosipin itu benar bahwa kamu akan menikah dengan pemilik perusahaan Sanjaya itu?"
"Iya itu memang benar, tapi ini bukan kemauanku sayang, kamu tau aku ini hanya mencintaimu, dan kamu juga tau kalau aku tidak bisa menolak permintaan kedua orangtuaku. Mengertilah." Ucap Teresa dengan nada lembutnya.
"Kenapa kamu tidak bisa menolaknya Sa? Kamu punya adik perempuan, kenapa kamu tidak memintanya untuk menggantikanmu sayang,"
"Karena dia tampan dan juga kaya, jika aku menikah dengannya, maka aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, tapi tentunya aku tidak bisa memberitahukanmu Andra."Ucap Teresa dalam hati." Kalau aku menolaknya, kedua orangtuaku akan mengeluarkanku dari kartu keluarga, tolong mengerti sayang."
"Lalu bagaimana denganku Sa?"
"Kamu tenang saja, setelah aku menikah, kita masih tetap menjadi pasangan kekasih, dan aku akan tetap mencintaimu sayang." Rayu Teresa dengan nada lembutnya.
Andra menghela nafasnya dengan kasar, ia memutuskan sambungannya secara sepihak, sedangkan Teresa mulai panik karena ia sendiri takut kehilangan Andra." Hallo .. hallo sayang, argh b******k, aku tidak mau kehilangan Andra, tapi aku juga harus bisa menikah dengan Arga, bagaimanapun juga, Arga laki-laki kaya, aku tidak mungkin membatalkan pernikahan ini hanya demi cinta Andra, pokoknya aku harus membuat Andra mengerti dan tidak meninggalkanku." Ucap Teresa dengan pelan, setelah itu iapun kembali masuk ke dalam rumahnya.
***
Setelah memberikan skripsinya kepada dosen, Cristy langsung meluncur ke butik tempat dimana sang kakak berada, ia di antar oleh kekasihnya Jastin menggunakan mobil sportnya yang mewah.
"Sayang." Panggil Jastin dengan lembut.
"Apa yang?"Sahut Cristy sambil menatap sang kekasih dari samping.
"Kamu sangat cantik hari ini." Ucap Jastin dengan senyuman di wajah tampannya.
"Hah? Aku ini memang sudah cantik dari orok yang, kamu aja baru menyadarinya hmm."
Jastin terkekeh dengan pelan, ia mengacak rambut sang kekasih dengan gemas." Aku tau baby, tapi hari ini kamu sangat-sangat cantik."
"Sejak kapan kamu jadi pintar menggombal seperti itu?"
"Fakta sayang, bukan gombalan semata."
"Terserah deh, yang penting kamu seneng aja."
"Kamu tuh ya bukannya seneng, malah cemberut begitu. Jelek banget sih." Jastin mencubit gemas pipi mulus kekasihnya.
"Ih biarinlah, aku lagi kesel sama kak Teresa, nih lihat wanya, masa aku gak boleh telat sedetikpun, ngeselin banget gak sih." Cristy menyodorkan ponselnya, ia memperlihatkan isi percakapannya dengan sang kakak.