Jastin tersenyum ia melirk ke arah Cristy." Sebentar lagi sampai sayang, bilang aja kalau kamu akan tiba tepat waktu, jadi jangan cemberut lagi ok." Ucapnya dengan lembut.
"Huh biarin aja deh, gak usah di balas sekalian, aku kesel soalnya, udah gagalin kencan kita, dan sekarang malah menyuruhku untuk menemaninya fitting baju pengantin, lagian tuh si om bukannya temenin calon istrinya, malah sibuk sama pekerjaannya. Benar-benar bikin aku kesel tau gak."
"Kalau aku kesel kayak gini, aku jadi pengen makan mie ayam tiga mangkok aja, eh tambah bakso 3 mangkok deh biar keselku hilang." Cerocos Cristy sambil membayangkan mie ayam dan bakso favoritnya.
Jastin hanya bisa menahan tawanya supaya tidak meledak ketika mendengar keinginan sang kekasihnya itu, ia sesekali melirik ke arah Cristy yang kini tengah membayangkan mie ayam dan bakso favoritnya.
"Sudah sampai sayang, sampai kapan kamu akan membayangkan makan mie ayam sama bakso itu? Ayo turun." Ucap Jastin yang entah sejak kapan ia sudah berdiri dan membukakan pintu mobil untuk Cristy.
"Hah sudah sampai? Sejak kapan kita sampai? Kok aku gak tau sih?" Tanya Cristy dengan tampang polosnya.
"Sejak kamu membayangkan makan mie ayam 3 mangkok dan juga bakso 3 mangkok, sampai-sampai tuh iler menetes di bibirmu."
Cristy mengelap bibirnya dengan sedikit malu, namun ia tak merasakan basah di telapak tangannya"Hah mana gak ada, kamu ngerjain aku ya." Geram Cristy sambil memelototkan kedua bola matanya, sedangkan Jastin malah tersenyum sambil meraih tangan kekasihnya dengan lembut.
"Aku hanya becanda sayang, jangan ngambek ya." Ucap Jastin setelah menutup pintu mobilnya, ia mencium punggung tangan kekasihnya dengan lembut, dan semua perlakuannya tidak luput dari pandangan seseorang yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, siapa lagi kalau bukan Arga yang kini tengah berdiri samping mobilnya.
"Ekhem.." Arga berdehem membuat sepasang kekasih itu menoleh secara bersamaan." Cepat masuk." Perintah Arga dengan dingin.
"Loh kok om ada disini sih? Bukannya om sibuk ya?" Tanya Cristy sambil menatap Arga dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"Memangnya kenapa kalau aku ada disini? Ada masalah?"
"Ya kalau om ada disini, itu artinya aku bisa pergi sama .."
"Masuk, jangan protes dan jangan banyak tanya." Arga memotong ucapan Cristy dengan intonasi yang tinggi, sungguh ia merasakan hawa panas dalam tubuhjya ketika ia melihat Jastin tidak kunjung melepaskan genggaman tangan Cristy yang sudah ia claim sebagai miliknya.
"Tolong jangan membentak kekasih saya," Jastin tidak suka jika kekasihnya di bentak oleh orang lain, ia kini tengah menatap tajam Arga yang juga tengah menatapnya dengan tatapan membunuhnya.
Sebelum Arga membuka mulutnya, tiba-tiba suara perempuan terdengar dari arah sampingnya." Sayang kok kamu ada disini? Bukannya kamu sibuk?"
"b******k, kalau bukan karena kucing nakal ini, aku tidak mungkin berada disini, dan si cecunguk satu ini benar-benar minta di hajar, beraninya dia menggenggam tangan gadis milikku, argh sialan." Ucap Arga dalam hati, rasa cemburunya sudah hampir ke ubun-ubun, namun ia tetap bisa mengontrolnya, mungkin jika bukan di tempat umum, Arga sudah menghajar Jastin hingga babak belur.
"Sayang, kamu kok malah bengong sih?" Teresa kembali membuka suaranya, ia bergelayut manja di lengan calon suaminya.
"Lepaskan." Ucap Arga dengan nada dinginnya, ia menepis tangan lembut Teresa dengan kasar, namun tatapan matanya masih tertuju kepada Cristy.
"Sayang, ayo kita masuk," Ajak Teresa tanpa memperdulikan rasa malunya, ia kembali bergelayut manja di lengan Arga." Crey kamu bisa pergi sama kekasihmu, biarkan Arga yang temenin kakak." Perintah Teresa kepada sang adik.
"Dia tetap disini, dia tidak akan pergi kemana-mana." Arga berucap sambil melepaskan kembali tangan lembut calon istrinya." Kau boleh pergi," Tunjuk Arga kepada Jastin yang sedari tadi menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Apaan sih om, main usir aja, lagian aku juga ngapain disini kalau om sudah ada? Toh aku juga gak ngapa-ngapain kan? Udah ah aku mau pergi aja,"Ucap Cristy dengan kesal, sungguh ia tidak mengerti dengan kelakuan calon kakak iparnya itu.
Wajah Arga mulai kembali mengeras, tatapan matanya mampu membuat membuat orang ketakutan setengah mati, namun itu tidak berpengaruh terhadap Cristy si gadis bar bar itu, ia malah berbalij menatap tajam Arga tanpa rasa takut sedikitpun.
"Sayang, kamu temenin kakak kamu aja ya, nanti aku jemput ok." Kini Jastin mulai angkat suara, ia merasakan hawa dingin di sekitarnya.
"Tapi sayang .."
"Sayang lihat ini"Jastin menunjukkan ponsel miliknya kepada Cristy, ia memperlihatkan pesan singkat dari sang ayah yang menyuruhnya untuk bergegas pergi ke perusahaannya." Sepertinya ada masalah di perusahaan, aku harus segera pergi, nanti aku jemput kamu ok." Ucapnya dengan lembut.
Crisrty menghela nafasnya dengan pelan, ia juga tidak mungkin menahan kekasihnya." Hmm baiklah kamu hati-hati ya."
Jastin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ia mencium kening Cristy dengan lembut, lalu ia pergi melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil miliknya, Cristy yang mendapat kecupan lembut itupun hanya terdiam. Sungguh ini adalah kali pertamanya ia mendapatkan kecupan lembut dari kekasihnya.
Sedangkan Arga, jangan di tanya lagi, wajahnya kini semakin memerah menahan amarah di dalam dadanya, tangannya semakin terkepal dengan kuat, bahkan gertakan giginya terdengar jelas di telinga Teresa yang berdiri tidak jauh dari Arga.
"Sialan, aku akan pastikan ini adalah terakhir kalinya kalian berdua bertemu." Batin Arga, matanya menatap tajam Cristy yang kini tengah tersenyum bahagia." Tunggu sampai hari itu tiba, kau akan menjadi milikku baby, dan senyumanmu itu hanya untukku seorang." Arga kembali membatin diiringi dengan seringai devilnya, amarahnya sedikit mereda ketika ia mengingat rencananya.
Teresa yang menyadari tatapan Arga terhadap adiknya pun mulai bertanya-tanya."Kenapa Arga selalu menatap Crey? Apakah dia tertarik dengan Crey? Tidak, itu tidak mungkin, ini pasti hanya perasaanku saja." Ucap Teresa dalam hati." Sayang ayo masuk." Ajak Teresa mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa mencekam itu." Crey ayooo." Ajak Teresa kepada sang adik yang masih tersenyum bahagia.
Arga hanya melirik sekilas ke arah Teresa, kemudian ia berjalan memasuki butik tersebut, dengan satu tangan ia masukan ke dalam saku celananya. Teresa mengekori dari belakang begitupun juga dengan Cristy.
***
Di dalam butik, Teresa mulai mencoba baju pengantinnya, sedangkan Cristy dan juga Arga duduk di sofa yang ada di butik tersebut, mereka duduk saling berhadapan, Arga selalu menatap Cristy dengan intens, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah cantik itu, sedangkan Cristy yang mulai meras resah dengan tatapan calon kakak iparnya itupun mulai angkat suara.
"Berhenti menatapku om, aku risih tau gak sih." Dengus Cristy sambil memperlihatkan tatapan matanya yang tajam.
"Kamu sangat cantik kalau lagi marah."
"Aku memang terlahir cantik om, bahkan saat aku pup pun aku cantik, jadi berhenti menatapku."Geram Cristy.
"Apa kamu selalu berbicara tanpa saringan?"
"Maaf ya om, aku gak punya saringan, mulutku tidak bisa di filter. Paham."
Arga berdiri, ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Cristy, tatapan matanya tertuju pada bibir gadis itu," Om ,, om mau ngapain? Ini tempat umum loh om, jangan macam-macam." Cristy panik karena tiba-tiba saja Arga mencondongkan tubuhnya, wajahnya sangat dekat dengan dirinya, aroma maskulin menyeruak masuk ke indera penciumannya." Om menjauhlah." Pinta Cristy sambil berusaha mendorong tubuh Arga, namun sayang sekali tenaganya tidaklah seberapa, sehingga membuat Arga tidak bergerak sama sekali.
"Kenapa? Takut hmm?"Bisik Arga dengan hembusan nafas yang beraroma mint." Kamu wangi sekali baby, wangimu seperti bayi, sangat-sangat wangi." Arga menghirup aroma yang menempel dari gadis itu," Aku sangat menyukainya." Arga kembali berbisik, ia menatap Cristy dari jarak yang sangat dekat, tangannya mulai membelai lembut wajah cantik itu.
Arga mengusap lembut bibir Cristy, sungguh ia ingin sekali melumat bibir itu saat ini juga, ia ingin merasakan setiap inci tubuh gadis yang ada di hadapannya itu," Menjauhlah dariku." Desis Cristy sambil memalingkan wajahnya," Kak Tere .." Ucap Cristy pura-pura terkejut, dan ucapan itu berhasil membuat Arga memalingkan wajahnya, dan saat itu pula Cristy langsung mengeluarkan tenaganya untuk mendorong tubuh Arga.
"Tapi bohong." Ucap Cristy sambil menjulurkan lidahnya, sungguh membuat Arga semakin gemas di buatnya.
"Dasar kucing nakal ini," Arga mengusap wajahnya frustasi, ia benar-benar di buat gila oleh gadis yang usianya terpaut 15 tahun itu.
***
Cristy menekuk wajahnya kesal, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobilnya," Dasar om sialan, sudah aku bilang kalau Jastin akan menjemputku, tapi dia tetap memaksaku untuk pergi bersamanya, benar-benar menyebalkan. Sebenarnya apasih yang ada di otak om sialan itu? Kenapa dia selalu saja memaksaku untuk ikut dengannya? Padahal jelas-jelas kak Teresa itu ingin berduaan dengannya? Tapi dia malah memaksaku ikut, pake ngancem segala lagi, argh memang benar-benar om sialan," Gerutu Cristy dalam hatinya.
"Kenapa Arga selalu ingin Crey ikut? Padahal aku hanya ingin berduaan saja. Argh benar-benar menyebalkan." Teresa membatin dengan kesal, harapan untuk berromantis ria dengan calon suaminya musnah seketika ketika Arga memaksa Cristy untuk ikut dengannya. Sedangkan Arga terlihat fokus dengan setir kemudinya, ia tidak memperdulikan kekesalan dua perempuan itu.
"Sayang kita makan dimana?" Teresa mencairkan keheningan yang terjadi di sepanjang jalan.
"Crey mau makan dimana?" Bukannya menjawab pertanyaan Teresa, Arga malah bertanya kepada Cristy dengan lembut, dan itu mampu membuat Teresa mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Kenapa tanya sama aku? Bukankah kak Tere yang nanya sama om?" Jawab Cristy dengan kesal.
"Jawab saja apa susahnya." Arga melirik sekilas ke arah Cristy.
"Iya Crey kamu jawab saja, jangan memancing emosi calon kakak iparmu." Geram Teresa yang berusaha menahan kekesalannya.
"Terserah" Jawab Cristy sambil menatap sang kakak dengan kesal, " Siapa yang memancing emosinya? justru calon suami kakak yang memancing emosi aku." Cristy membatin dengan kesal, ia melipat kedua tangannya di d**a, tatapan matanya beralih ke arah depan.