Confess

1899 Kata
2 Mei, 2008. (Flashback on) Gadis kecil dengan dress berwarna merah muda yang senada dengan hiasan kepalanya itu berjalan melewati lorong tempat kerja sang ayah dengan senyum sumringah. Tangan kecil tersebut membawa sebuah tas jinjing berisi makan siang serta buah-buahan dari sang bunda untuk dirinya dan ayah tercinta. “Satu ... Dua ... Tiga ... eh yang mana ya luang kelja ayah?” gadis berusia 6 tahun itu berjalan di sekitar ruangan yang ia yakini di dalam salah satu ruangan tersebut terdapat sosok ayahnya, tapi sayang sekali dia lupa. “Loh Asha? Kesini sama siapa nak?” tanya seorang lelaki yang entah sejak kapan berada di belakang kemudian mengangkat tubuh kecil gadis bernama Asha tersebut untuk dibawa ke dalam gendongannya. Asha tau bahwa laki-laki ini adalah asisten ayahnya, ia tertawa kecil saat pipi berisinya dihujani banyak kecupan ringan. “Asha tadi sama pak supil disuluh bunda kesini, bunda lagi sibuk ke butik,” tutur Asha. Meskipun gaya bicaranya masih cadel, namun Asha sudah bisa menjelaskan dengan baik dan berani masuk ke dalam kantor ayahnya sendirian, sungguh gadis yang pintar. “Oh.. ayahnya Asha lagi meeting di sana, sama om Rio dulu ya disini?” ucap asisten yang diketahui bernama Rio tersebut sembari menunjuk suatu ruangan tempat Ayahnya melaksanakan kegiatan meeting. Asha yang diberitahu kemudian mengangguk paham dan ikut Rio untuk duduk di kursi tunggu yang terletak tak jauh dari ruangan meeting. *** 15 menit kemudian, Asha kecil merasa sangat bosan karena tiba-tiba ditinggal oleh Rio yang katanya sedang sibuk mengurus pekerjaan lain. Gadis kecil itu kemudian turun dari kursi dan berjalan ke ruangan meeting yang masih tertutup rapat, tak lupa sambil membawa tas bekal makan siangnya. “Ah tinggi sekali,” keluh Asha putus asa karena tingginya tak dapat menyamai kenop pintu itu sehingga ia tidak bisa membukanya walaupun sudah melompat beberapa kali, bukannya terbuka, kini malah kakinya yang terasa pegal. Tak habis akal, Asha menggedor-gedor pintu tersebut dengan keras sambil sesekali berteriak memanggil nama ayahnya namun tetap tidak ada jawaban, ia tidak tau bahwa ruangan itu kedap suara sehingga orang yang sedang meeting di dalam tidak dapat mendengarkan suara bising dari luar. Asha menyerah, ia hampir menangis kalau saja tidak ada seorang anak laki-laki yang menepuk pundaknya pelan dan menatapnya heran. “Kamu siapa?” tanya anak laki-laki yang lebih tinggi dan lebih tua dari Asha tersebut. “Ayah Asha ada di dalam, tolong bukakan pintu buat Asha,” bukannya menjawab, Asha malah meminta tolong dengan mengeluarkan jurus andalannya, puppy eyes. Anak lelaki tersebut tak tega saat melihat Asha hampir menangis serta mengeluarkan tatapan memohon, dengan sedikit mengangkat tubuhnya ia langsung memutar kenop pintu tersebut lalu mendorongnya ke dalam agar terbuka sempurna hingga membuat seluruh orang-orang dewasa yang berada di ruangan meeting menatap mereka berdua. “Halo ayah, Asha bawa makan siang!” sapa Asha di depan pintu dengan girang. Disini Asha sekarang, setelah bertemu sang ayah dan mendapat tatapan gemas dari seluruh kolega ayahnya saat meeting, sekarang Asha terpaksa menuruti perintah sang ayah untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangan meeting bersama anak laki-laki tadi. Ah, Asha bahkan lupa untuk menanyakan siapa namanya. Gadis berambut pendek tersebut kemudian menolehkan kepalanya ke anak lelaki itu, ia terlihat sedang fokus dengan apa yang dibicarakan oleh ayah Asha saat meeting. Wajahnya sangat asing di mata Asha, apalagi rambutnya yang agak pirang dan juga matanya yang berwarna coklat. Tuk! Ia memukul kepala anak itu pelan menggunakan botol air minum, berharap perhatiannya beralih kepada Asha. “Hehe, nama kamu siapa?” tanya Asha disertai senyuman polos. “Brian,” jawab anak yang mengaku bernama Brian itu membuat Asha ber-oh ria sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu suasana kembali hening, baik Brian maupun Asha sama sekali tidak membuka suara. Asha tidak suka suasana seperti ini, ia harus mencari cara agar Brian mau bicara banyak dengannya. Krukk .... Suara yang berada dari dalam perut itu sukses membuat Asha langsung menatap Brian dan perutnya bergantian, Brian yang ditatap merasa malu dan langsung membuang mukanya ke arah lain karena perutnya berbunyi, tapi ia memang sangat lapar sekarang. “Bian lapal? Mau makan baleng nda? Asha bawa sandwich buatan bunda loh,” tutur Asha kemudian mengeluarkan sekotak sandwich dengan berbagai sayuran segar hingga terlihat sangat menggiurkan, perut Brian lagi-lagi berbunyi membuat Asha tertawa renyah. Tangan lelaki itu akhirnya menerima sandwich pemberian Asha dengan senang hati lalu langsung memakannya, rasanya sungguh enak dan entah kenapa membuat mood Brian yang tadi bosan menjadi naik kembali seakan telah mendapat amunisi baru dari sandwich yang ia makan. “Makasih, Asha!” seru Brian sembari menampilkan senyumannya. *** Selesai menunggu acara meeting sang ayah dan papa, mereka berdua kini berada di taman kantor dan bermain bersama kucing betina berwarna putih dengan totol hitam yang tak sengaja Brian temukan saat tadi berjalan mencari papanya. Asha sendiri terlihat sangat senang karena bisa menggendong kucing kecil itu, si kucing yang digendong pun hanya bisa pasrah dan menunjukkan wajah tertekannya. Brian dan Pak Rio hanya duduk saling diam sembari melihat tingkah Asha yang menurut mereka sangat menggemaskan, bahkan Brian tidak mendengar apa yang tadi sempat dikatakan Pak Rio karena terlalu fokus dengan sosok manis dihadapannya. “Bian, sini ikutan main!” ajak Asha membuat Brian langsung turun dari kursi taman dan berlari menghampiri Asha. Mereka berdua bermain hingga sore, apapun yang mereka lakukan terasa sangat menyenangkan dan tidak merasa bosan sama sekali. Padahal ini pertemuan pertamanya dengan gadis asing, tapi Brian merasa sangat nyaman berada di dekat Asha yang ceria seakan telah berteman lama, hingga tiba akhirnya bunda tercinta datang bersama sang Ayah dan Papa Brian. “Asha, ayo pulang sayang. Brian juga mau pulang,” panggil sang Bunda dari kursi tempat Brian duduk tadi hingga membuat senyum di bibir Asha seketika memudar. Brian memang sempat bercerita bahwa dia harus pergi ikut papanya ke Amerika, dan itu membuat Asha sedih karena harus berpisah dengan teman barunya. Ingin rasanya Asha ikut Brian saja ke Amerika tapi ia juga tidak bisa melihat bundanya bersedih. “Asha mau gak jadi pengantin Brian?” seakan mengerti kesedihan yang melanda hati Asha, Brian memegang tangan gadis itu dan menatapnya dalam. Kata mamanya, kalau sudah menikah mereka tidak bisa berpisah, jadi apa salahnya menjadikan Asha pengantin Brian agar mereka berdua tidak akan berpisah? Brian sendiri juga yakin jika suatu hari mereka berdua pasti akan menikah. “Hngg, pengantin itu apa, Bian?” gadis itu mengernyit tak paham namun penasaran. “Pengantin itu kayak ayah sama bunda kamu, nanti kalau jadi pengantin kita nggak akan pisah,” jelas Brian, ayah dan bunda yang mendengar itu hanya tertawa kecil, sedangkan papa Brian justru tersenyum bangga, Brian sudah menjadi lelaki pemberani sejak kecil. “Oke, Asha mau jadi pengantin Bian,” setelah mengerti apa yang Brian jelaskan, Asha ikut memegang tangan Brian dan tersenyum manis. Sebelum mereka pergi, Asha sempat menangis karena tidak mau ditinggal dan harus memaksa Brian untuk memberikan gelang kesayangannya agar Asha yakin Brian akan kembali. Asha menatap kepergian Brian di bandara dengan sisa air mata dan hidung yang memerah hingga membuat bunda tidak tahan melihat kelucuan anak gadisnya tersebut. “Udah kayak anak remaja aja Sha,” gerutu Bunda sambil mencium pipi Asha gemas. “Ish, bunda diem! Asha lagi patah hati.” (Flashback off) *** 12 Juni 2024. “Asha, gue suka sama lo,” ucapan Brian yang terlalu jelas itu membuat suasana menjadi hening, hanya alunan musik yang lambat-laun mulai terdengar di telinga mereka. Asha sendiri langsung mematung saat mendengar hal itu. 16 tahun mengenal Brian, gadis tersebut tidak pernah melihat Brian menyatakan perasaannya seperti saat ini. Asha juga tidak menyangka bahwa Brian selama ini menyukainya karena lelaki itu selalu mendukung jika ia dekat dengan laki-laki lain termasuk Mahesa. “Tapi gue sadar kok kalau lo nggak bisa bales perasaan ini, gue tau lo cuma anggap kita saudara,” lanjut lelaki itu hingga membuat semua orang kembali tercengang. “Gue cuma pengen lo tau aja perasaan yang gue simpan selama 16 tahun ini, gue nggak minta balasan apapun, dan setelah ini gue harap kita masih sama, nggak ada yang berubah.” “Dan lagu yang bakal gue nyanyiin hari ini, adalah lagu yang sering gue puter 4 tahun yang lalu tiap jalan sama lo,” ya, tidak mungkin Asha tidak mengetahui lagu ini. “Asha, aku akan berada di sisimu apapun yang terjadi. Dan lagu ini untukmu,” kalimat itu menyudahi aksi confess Brian, tak lupa senyuman manis ia layangkan agar terkesan tetap baik-baik saja di mata gadis yang sudah berkaca-kaca tersebut. Brian kemudian menoleh ke para musisi kampus di belakangnya, mengangkat jempolnya untuk memberi isyarat bahwa ia siap bernyanyi dan sejurus kemudian melodi lagu mulai berbunyi. Selama ini ribuan hari, Ku dekat denganmu, Lewati berbagai hal ku ada di sisi mu, Tanpa kau tahu perasaan ku padamu, Sendiri ku berharap, Memberi kasih walau tak kembali .... Brian terus menyanyikan lirik lagu yang sangat mewakilkan perasaannya kepada Asha dengan senyuman yang masih setia menempel di bibir, tetapi entah kenapa ia merasakan nyeri yang teramat sangat pada bagian dadanya. Semua bayangan kejadian selama 16 tahun terakhir dari sedih, marah, sampai bahagia terus terputar di pikiran Brian, bayangan akan hidup bahagia sebagai sepasang kekasih sejak kecil ternyata tidak bisa menjadi kenyataan. Nyanyian terus mengalun indah, semua orang pun ikut bernyanyi karena lagu dengan judul 'only me' sempat bahkan masih digandrungi oleh banyak orang hingga saat ini, liriknya begitu dalam serta menyentuh apalagi bagi Brian yang merasakan secara langsung bagaimana sakitnya berada di zona pertemanan dan melihat seseorang yang ia cintai justru mencintai orang lain. Brian mengerti bahwa hati Asha masih sepenuhnya untuk Mahesa. Walaupun gadis itu sama sekali tidak pernah menyinggung nama Mahesa, tetapi Brian tau bahwa Asha sering menangis di malam hari karena merindukan lelaki tersebut. Tidak apa-apa, Brian sudah menerima semua kenyataan ini dengan lapang d**a karena kebahagiaannya adalah melihat Asha bahagia. Pada akhirnya, memang hanya Brian yang selalu berada di sisi Asha, walau disakiti tanpa sengaja berulang kali pun Brian tetap menemani Asha, tetap menguatkan gadis tersebut walaupun hatinya sedang hancur berantakan, hanya Brian. Lagu selesai, lelaki tersebut berhenti bernyanyi dan semua orang memberikan tepuk tangan tak kalah meriah seperti saat Mahesa bernyanyi dulu. Ini kali pertama Brian bernyanyi di depan umum dan semua orang terlihat sangat takjub mendengar suara merdu lelaki itu. Belum sempat ia turun dari panggung, Asha sudah berlari duluan dan memeluk tubuh Brian hingga sedikit terhuyung ke belakang sembari memukuli punggungnya pelan hingga membuat lelaki itu tertawa. “Lo kenapa suka sama gue sih, Bri?” tanya Asha setengah terisak dengan wajah yang masih ia benamkan di d**a bidang milik Brian. “Cinta nggak butuh alasan Sha,” jawab Brian berusaha tenang. “Tapikan gue nggak bisa bales perasaan lo, gue jahat banget ya, Bri?” persetan dengan beberapa orang yang mengabadikan momen patah hati berbalut romantis itu, Asha menatap Brian setengah mendongak, menampilkan bulir air mata yang masih setia membasahi pipinya. “Kan gue udah bilang nggak apa-apa. Ini emang salah gue karena udah berani suka sama lo, maafin gue ya,” tutur Brian yang justru membuat Asha semakin menangis dan kembali membenamkan wajahnya. Hati Brian terlalu lembut, bahkan saat ia patah hati pun yang disalahkan bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Menurut lelaki itu, jika berani mencintai maka juga harus berani menanggung rasa sakit hati, karena semesta tak selamanya memihak dirinya dan mengizinkannya hidup bahagia bersama dengan orang yang ia cintai. Brian sendiri yakin suatu saat ia pasti akan menemukan orang yang tepat, entah itu orang lain atau ternyata memang Asha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN