Pagi ini merupakan pagi yang cukup sibuk bagi seorang gadis manis bersurai cokelat yang sekarang tengah berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dari atas hingga bawah lalu kembali menghela nafasnya. Gadis tersebut sudah tak terhitung berapa kali mencondongkan tubuhnya hanya untuk melihat apakah riasan wajahnya sempurna atau justru pecah.
“Sayang, kamu udah hampir 30 menit berdiri di depan kaca loh! Nggak bosen?” gadis itupun menoleh ke sumber suara, melihat sosok wanita dengan baju yang motifnya hampir sama dengan dirinya namun berwarna agak tua.
“Aku cantik nggak, bun?” tanyanya, wanita yang ia panggil bunda tersebut hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, anak gadisnya sudah menanyakan hal ini sebanyak 5 kali sejak pagi tadi.
Hari ini merupakan hari kelulusan Asha dan para teman-teman seangkatannya termasuk Brian serta Maya. 4 tahun sudah masa-masa kuliah ia jalani dengan setengah hati, karena setengahnya lagi dibawa oleh sang pujaan yang sekarang telah pergi entah kemana. Namun, ia yakin lelaki itu akan kembali padanya dua tahun mendatang, Asha akan menunggu hal itu terjadi.
Asha kini memakai sebuah kebaya full payet lengan panjang berwarna merah muda dengan bawahan kain batik bermotif parang, dan tidak lupa ia sengaja menggelung rambutnya lalu menempelkan sebuah hiasan bunga tepat di atas telinga, riasannya yang flawless sukses membuat gadis tersebut terlihat cantik natural.
Ia sekarang berada di butik cabang sekaligus salon milik sang bunda yang kebetulan berada di daerah sekitaran kampusnya. Selama kurun waktu 4 tahun terakhir ini, bunda Asha benar-benar melakukan banyak kemajuan hingga total memiliki 5 butik cabang yang berada di pulau jawa, dan rencananya wanita hebat itu juga akan membuka cabang baru di Bali.
“Udah belum? Nanti telat!” suara Brian dari luar pintu mengejutkan kedua wanita cantik itu. Layaknya pengantin yang sedang dipingit, Asha tidak mengizinkan Brian untuk masuk karena sampai sekarang ia masih merasa tidak percaya diri akan penampilannya. Dan perlu kalian tau, ini adalah kali pertama Asha memakai kebaya.
“Brian kenapa sih, dari tadi kok gedor-gedor pintu terus!” omel Asha membuat sang bunda tertawa kecil.
“Nggak sabar lihat kamu kali, Sha,” jawab bunda yang justru semakin membuat Asha merasa tak percaya diri, ia takut terlihat tak pantas memakai kebaya walaupun bunda sudah berkata Asha cantik berulang kali.
Bunda bukan tak tau masalah Asha dengan Mahesa, bahkan bunda yang menemani Asha saat sakit selama tiga hari setelah mendapat pesan dari Mahesa bahwa dirinya akan pergi 4 tahun yang lalu. Namun, sebisa mungkin untuk saat ini bunda tidak akan membahas nama Mahesa lagi, ia tidak ingin luka di hati putri semata wayangnya kembali menganga.
Brian berdiri dengan menggerakkan kakinya tak sabar, tangannya sesekali terangkat untuk melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima menit lagi jika Asha tak juga keluar, bisa dipastikan pintu itu akan Brian dobrak, ia tidak ingin telat di hari paling bersejarahnya.
Ceklek!
Pintu dibuka dengan cukup kasar oleh seseorang yang berada di dalam, Asha kesal karena Brian dari tadi selalu berteriak di depan pintu. Wajar saja Brian merasa tak sabar, lelaki itu sudah menunggu Asha bahkan sejak matahari belum terbit.
Brian menatap seorang gadis yang memakai kebaya merah muda keluar dari balik pintu. Kepalanya yang ia tundukkan ke bawah membuat Brian yakin Asha sedang dalam mode tidak percaya diri, padahal ia terlihat sangat cantik memakai pakaian apapun. Pakaian compang camping ala pengemis saat ada pentas seni sewaktu SMA saja Brian juga memuji Asha cantik.
“Lo cantik kok,” ucap Brian seolah mengerti apa yang Asha pikirkan saat ini seraya membelai pelan rambut gadis tersebut.
Setelah mendengar perkataan Brian, Asha langsung mengangkat kepalanya dan membulatkan mata seakan meminta Brian untuk mengatakan hal itu sekali lagi, dan Brian hanya mengangguk lalu tersenyum sebagai jawaban.
“Gue emang selalu cantik,” ini baru Asha yang memiliki tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata, namun Brian tetap suka.
Lelaki itu sendiri saat ini memakai satu set jas berwarna hitam dari brand favoritnya, Louis Vuitton. Jika dilihat dari penampilan memang terlihat sederhana dan malah terkesan biasa saja, namun biarkan harga yang berbicara, itu adalah prinsip Brian.
Brian, Asha, dan tak lupa juga bunda akhirnya memasuki mobil milik Brian untuk menuju kampus mereka. Hari yang dinanti telah tiba, baru saja rasanya mereka berdua masuk sebagai mahasiswa baru, memiliki hubungan yang rumit dengan kakak tingkat, dan menangis setiap malam akibat skripsi, namun sekarang mereka sudah berhasil mencapai titik ini, menjadi sarjana komputer.
“Ih tuh kan gue bilang ngebut nggak mau dengerin, udah rame nih,” omel Asha saat baru turun dari mobil sembari membawa dua buah toga untuknya dan Brian, kebaya dan jas yang tadi mereka pakai kini sudah dibalut dengan jubah wisuda berwarna hitam.
Sedangkan lelaki yang dari dalam mobil hingga sampai kampus terus mendapat omelan dari Asha tersebut hanya menghela nafas lelah. Jika Asha tidak berlama-lama mengamati dirinya sendiri di depan cermin, sudah dipastikan mereka akan mendapatkan tempat parkir mobil yang nyaman.
“Udah berantemnya lanjut nanti lagi, sekarang ayo masuk dulu,” ujar bunda berusaha menengahi lalu mendorong Brian dan Asha masuk ke dalam aula, tempat berkumpulnya para wisudawan dan wisudawati.
***
Asha duduk dengan gusar diantara Maya dan Brian, entah kenapa ia merasa gugup padahal ini bukan seperti hari pertama ia melaksanakan kegiatan ospek. Gadis itu takut akan melakukan hal yang memalukan saat nanti namanya dipanggil untuk menuju ke depan panggung.
“Hei rileks, semuanya akan berjalan lancar, Sha,” ucap Brian berusaha menenangkan Asha sedangkan Maya yang tau kegugupan gadis itu juga mengelus pelan punggung tangannya.
Satu persatu nama para wisudawan dan wisudawati terpanggil, tangan Asha sudah semakin dingin seperti saat sidang skripsi bulan lalu, hingga namanya kemudian terpanggil dengan lantang,
“Ashafa Kanala, Sarjana Komputer. Dengan IPK 3,9,” mendengar itu Asha langsung berdiri, menarik nafasnya lalu berjalan ke depan panggung dengan senyum manisnya, senyum yang sekarang bahkan sangat jarang untuk bisa dilihat semua orang.
Terdengar tepuk tangan riuh yang tentu saja berasal teman-teman satu angkatan Asha. Gadis itu memang pintar walaupun di tahun pertama terlihat kesusahan mengejar mata kuliah karena sering tidak masuk dan ketiduran di kelas, tetapi kebiasannya yang selalu memberikan teman-temannya contekan, membuat Asha dijuluki pahlawan angkatan.
“Brian Voyage Alexander, Sarjana Komputer. Dengan IPK 3,7,” tak lama setelah Asha duduk disampingnya, nama Brian pun akhirnya juga terpanggil.
Lelaki itu tersenyum puas sembari berjalan ke depan diiringi dengan tepuk tangan serta jeritan dari para fansnya. 4 tahun terakhir ini Brian memang sangat tenar, dirinya bahkan sekarang sudah memiliki fans club sendiri.
Setelah acara selesai, Asha dan Brian keluar aula untuk menyambut teman-teman, bunda, dan tentu saja Banyu serta Yeremias yang sudah menunggu mereka sembari membawa buket uang berwarna merah.
“Selamat ya, gila sih IPK kalian berdua, Yere yang dulu 3,6 aja geleng-geleng kepala,” ujar Banyu membuat mereka berdua tertawa kecil, Brian sendiri tidak akan mendapat IPK tinggi tanpa bantuan Asha.
Ah, Brian hampir lupa akan rencananya. Lelaki tersebut kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan berhenti tepat pada panggung kecil yang berada di sisi lapangan.
Tak mau menunggu lama, Brian langsung menghampiri para anggota klub musik itu, membisikkan beberapa kata dan tentu saja uang tip dengan alibi memberi sumbangan lalu berdiri di atas panggung sembari membawa gitar, membuat semua orang menatapnya heran sekaligus penasaran.
“Ehm,” Brian mengetes mic tersebut tak lupa sembari memberikan senyuman khasnya yang membuat semua orang ikut tersenyum bahkan sedikit tertawa.
“Lagu ini untuk seseorang yang selalu nemenin gue dari umur 7 tahun. Masih ingat banget dulu lo nangis waktu gue mau pulang ke Amerika, terus nyuruh gue buat janji bakal balik ke Indonesia dan nikah sama lo,” ujar Brian yang kemudian membuat seorang gadis didepannya tertawa kecil.
Ingatan itu kembali berputar di pikiran keduanya, sejenak melupakan riuh suara yang masuk ke gendang telinga hanya untuk kembali mengingat awal mula pertemuan keduanya hingga berhasil membuat salah satu diantara mereka merasa jatuh hati.