17 April, 2012.
Anak lelaki berusia 12 tahun tersebut tidak pernah bosan menatap wajah manis sang mama yang sedang menata piring di atas meja makan. Melihat wajah mamanya merupakan kesenangan tersendiri bagi Mahesa. Jika ia lelah dengan kegiatan sekolah, wajah sang mama otomatis bisa kembali menumbuhkan semangat untuk dirinya.
Namun tidak dengan hari ini, bahkan di hari-hari sebelumnya pun Mahesa kecil merasa ada yang aneh dengan mamanya, ada sendu dibalik senyuman itu, ada lelah dibalik mata yang selalu berbinar, Mahesa yakin pasti ada yang disembunyikan oleh beliau.
“Mama kenapa?” tanya Mahesa membuat sang mama langsung menatapnya, mata itu benar-benar tidak menampakan kebahagiaan seperti biasanya, apakah Mahesa berbuat salah?
“Mama nggak apa-apa sayang, kamu mau nambah lauk apa? Mama ambilin ya,” jawab mamanya, Mahesa hanya mengangguk lalu mulai fokus memakan sarapannya dengan lahap.
Mata kecil itu sesekali menatap seorang wanita yang juga ikut makan di hadapannya, terlihat pucat dan tak bersemangat, bahkan makanan tersebut belum habis setengahnya. Apa yang salah dengan mamanya? Apa mama sakit? Mahesa diajarkan untuk tidak berbicara saat makan, dan ia akan segera menanyakan hal itu nanti.
Setelah selesai sarapan, atau mungkin hanya Mahesa yang makan karena piring milik wanita itu masih tersisa banyak makanan. Ketika Mahesa sudah bersiap membuka suara, sang mama tiba-tiba mengelap mulutnya dengan tisu berniat untuk membersihkan sisa s**u yang berada di atas bibirnya.
“Hari ini ada jadwal apa, sayang?” tanyanya lembut.
Mahesa memang selalu membuat jadwal di setiap hari minggu, entah itu bermain bola bersama tetangga, membuat kue bersama bibi, atau latihan musik dengan Lana di panti asuhan. Dan hari ini, Mahesa memilih untuk membuat taman bunga mawar di dekat saung yang berada di taman rumahnya.
“Mau buatin mama taman mawar, mama kan suka bunga mawar,” jawab Mahesa sembari tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih bersih hingga membuat mamanya ikut tersenyum.
“Jangan capek-capek ya, maaf mama nggak bisa nemenin Mahesa karena mama juga harus bersihin kamar,” tutur sang mama membuat Mahesa mengangguk paham.
Mama Mahesa kemudian berjongkok, berusaha untuk menyamakan tingginya dengan tinggi sang anak lalu mengelus puncak kepala Mahesa pelan.
“Makasih ya Mahesa, kamu berhasil buat mama bahagia sampai sekarang. Jadi anak yang baik buat mama ya? Jangan nakal, jangan bikin susah orang-orang, mama sayang banget sama kamu nak,” ucapan sang mama cukup membuat Mahesa kebingungan, kenapa mamanya tiba-tiba berkata seperti ini? Kenapa mama berkata seolah-olah akan pergi meninggalkannya?
Mahesa kecil yang masih polos tentu saja tidak memiliki pikiran aneh-aneh, ia hanya kembali mengangguk dan tersenyum.
Mahesa kemudian berlari kecil menuju saung, di sana sudah ada pembantu serta satpam rumahnya yang membawa cangkul dan bibit bunga mawar serta beberapa bunga mawar utuh untuk ia tanam nanti. Bunga mawar dark crimson adalah favorit mamanya, bahkan wanita itu sendiri yang meminta Mahesa agar membuat taman bunga di dekat saung.
“Sebagai pengganti mama kalau Mahesa kangen,” katanya.
“Den Mahesa siap?” tanya pak satpam yang langsung membuat Mahesa mengangkat jempolnya dan mulai melakukan pekerjaannya, ia tidak ingin sang mama menunggu lama.
Di tempat lain, wanita berusia sekitar 35 tahun itu terlihat sedang menata tempat tidurnya, mengganti sprei menjadi berwarna putih yang senada dengan dress miliknya, dan berjalan mendekat ke jendela, menatap Mahesa yang kini tengah menanam bunga dengan tawa riang.
Bibirnya perlahan ikut terangkat saat melihat Mahesa. Puas menatap sang anak dari balik jendela, wanita tersebut kemudian menutup gorden lalu kembali berjalan ke arah ranjang, membuka laci yang berada di samping tempat tidur dan mengambil sebuah tali yang sudah ia siapkan.
Air matanya kembali jatuh, ia tau ini akan berat bagi putra kecilnya, tapi wanita itu sendiri tidak ingin Mahesa mengetahui apa yang ia alami saat dewasa nanti. Lebih baik meninggalkan Mahesa sekarang daripada harus meninggalkannya ketika dewasa, pikirnya.
Kurang lebih setelah satu jam berkutat dengan pekerjaannya, Mahesa kemudian berjalan agak menjauh dari taman buatannya berniat untuk melihat seluruh bagian taman dengan jelas. Sangat indah, pikirnya.
Taman berukuran lumayan besar itu dikelilingi oleh pagar kecil berwarna hitam, beberapa batu hias dan bunga mawar di dalamnya, tak lupa Mahesa juga menanam bibit bunga mawar di dalam sebuah pot dan akan memindahkannya ketika mulai tumbuh.
Lelaki kecil tersebut mengusap keringat yang membanjiri dahinya dengan tangan kotor sehingga meninggalkan noda di sekitar wajah. Mahesa tidak menghiraukan itu, yang ia lakukan sekarang adalah berlari memasuki rumah lalu mencari keberadaan sang mama untuk menunjukkan taman bunganya.
“Mama?” kaki kecil Mahesa melangkah menuju area dapur, biasanya di hari minggu sang mama akan membuat brownies.
Tidak ada, dapur masih kosong dan bersih seperti saat Mahesa selesai sarapan tadi. Lelaki itu tiba-tiba memukul dahinya pelan, ia baru ingat bahwa sang mama tadi pamit untuk membersihkan kamar, mungkin kegiatan itu belum selesai sampai sekarang, pikirnya.
Dengan cepat Mahesa kembali berlari menuju kamar kedua orangtuanya, ia benar-benar tidak sabar untuk menggandeng tangan sang mama dan membawanya menuju taman.
Tok.. tok.. tok..
“Mama, ini Mahesa,” ucap Mahesa, ia tidak akan membuka pintu sebelum seseorang di dalam memberi sahutan, tapi ini sudah kali ketiga Mahesa memanggil nama mamanya dan tetap tidak ada jawaban.
Perlahan ia membuka kenop pintu, mendorongnya ke dalam agar bisa terbuka sempurna dan detik berikutnya lelaki berusia 12 tahun tersebut langsung mematung melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Mahesa kecil menutup mulutnya, namun mata elang itu masih setia menatap wajah pucat sang mama dengan bibir menghitam dan tali yang menjerat lehernya.
Tubuhnya mulai bergetar, tangis keras yang keluar dari mulut Mahesa membuat kedua orang dewasa yang tadinya berada di luar akhirnya menyusulnya ke dalam.
“Bu Lina!” jerit pembantunya sembari menutup mata Mahesa yang masih menangis histeris.
Dan sejak saat itulah, ketakutan akan ditinggal oleh seseorang yang Mahesa cintai mulai tumbuh dihatinya, ia merasa tidak pantas dicintai siapapun. Perasaan Mahesa ikut hilang bersama dengan meninggalnya sang mama.
6 Oktober, 2021.
Keringat deras membasahi sekujur tubuh Mahesa, dadanya sesak bahkan sampai sulit bernafas, ia kembali mengalami serangan panik yang luar biasa. Matanya masih terpejam seakan tidak bisa bangun dari mimpi buruknya, sedangkan seorang wanita yang berdiri di samping dengan memakai snelli berwarna putih masih terus berusaha membuat Mahesa membuka mata.
“Mahesa!” bentakan kelima akhirnya berhasil membangunkan pemuda itu.
Mahesa melihat ke sekeliling, ia sekarang berada di ruangan berukuran 4×6 dengan nuansa serba putih bersama seorang dokter perempuan serta laki-laki yang mirip dengannya duduk di depan meja dokter sembari memasang wajah khawatir.
Itu papanya.
Setelah mengirim pesan ingin sembuh, sang papa akhirnya menjadwalkan Mahesa untuk menjalani terapi di dokter kenalannya yang berada di Singapura, dan Mahesa pun menyetujuinya.
Mahesa ingat betul bahwa ia diminta untuk tidur, kembali ke 9 tahun yang lalu dimana mamanya meninggal dan berakhir seperti ini. Nafasnya masih memburu sedangkan kepalanya terasa sangat sakit.
“Rileks Mahesa, ambil nafas panjang,” Mahesa menuruti perkataan dokter itu.
Setelah 15 menit berusaha mati-matian menenangkan dirinya sendiri tanpa harus memecahkan semua barang atau memukuli kepalanya, Mahesa kembali tenang.
“Apa hal yang ingin kamu ceritakan ke papa kamu? Apa hal yang sejak dulu kamu sembunyikan, coba katakan,” jelas dokter bernama Linda itu. Dokter Linda tau pasti bahwa Mahesa memendam semua hal yang ingin dikatakannya selama 9 tahun.
“Papa,” ucap Mahesa sembari mengepalkan tangannya.
“Kemana papa waktu mama pergi? Kenapa papa nggak ada di pemakaman mama? Kenapa papa sama sekali nggak merasa sedih?” rentetan itu itu keluar dari mulut Mahesa, dan masih banyak hal yang perlu ia tanyakan.
“Kenapa papa nggak hibur Mahesa? Kenapa papa malah bawa Mahesa ke panti selama satu bulan? Dan kenapa papa nikah sama wanita itu?!” Bahkan kalau ia tidak dihentikan oleh dokter Linda, Mahesa akan bertanya pula kenapa Gema lahir tepat di peringatan ke 3 tahun meninggalnya sang mama.
Wajah sang papa mengeras mendengar anaknya berbicara, ternyata semua pertanyaan itu Mahesa pendam selama beberapa tahun, papa Mahesa tidak ingin kesalahpahaman ini semakin menjadi luka untuk Mahesa.
“Mahesa, sekarang ganti dengerin papa kamu ngomong ya?” ucap dokter itu membuat Mahesa mengangguk.
“Mahesa mama kamu mengidap kanker otak,” Mahesa mematung, apa hal yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya?
“Papa waktu itu ada meeting mendadak sama kolega baru, perusahaan dulu belum sebesar sekarang dan papa sedang sibuk-sibuknya menggaet para investor,” lanjutnya kembali ke masa-masa berdirinya perusahaan milik Mahesa, dimana semuanya dimulai ....
Papa Mahesa yang masih berusia 26 tahun baru saja pulang dari kantor, entah sudah ke berapa kalinya lelaki itu pulang selarut ini, lelah dan kesal sudah pasti.
Ia masuk ke dalam kamar, dan seperti biasa, disambut dengan kecupan ringan di pipi kanan dan kirinya oleh sang istri yang selalu terlihat cantik.
“Aku udah siapin mas air panas buat mandi ya, sekarang aku hangatin makanan dulu di dapur,” ucap Alina, setelah mendapat anggukan dari Tio, perempuan itu keluar dari kamar.
Kala itu Tio tidak langsung mandi, papa Mahesa memilih untuk mendudukkan dirinya di atas kasur dan mencari charger ponsel miliknya yang menghilang entah kemana sampai pada akhirnya tangan panjang itu meraba sebuah kertas yang berada di bawah ranjang, dahinya mengernyit karena tidak biasanya ada sampah di dalam kamar.
Mata tersebut melotot tak percaya dengan apa yang sedang ia baca, itu adalah surat dari dokter yang menyatakan bahwa Liana, sang istri, mengidap penyakit kanker otak. Tio langsung berlari turun ke dapur dan memeluk istrinya dengan erat.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Alina yang kebingungan.
“Kamu yang kenapa, kamu kenapa sembunyiin ini semua dari aku?” Papa Mahesa menangis di sela-sela pelukannya, membuat sang mama juga ikut larut dalam kesedihan yang berusaha sebaik mungkin ia sembunyikan.
“Maafin aku mas, maaf aku mungkin nggak bisa jaga kamu sama Mahesa nanti, maaf mungkin aku nggak bisa lihat kamu dan Mahesa sukses, maaf ....” Tio menggelengkan kepalanya. Tidak, dengan pengobatan yang tepat, istrinya pasti akan selamat.
Satu tahun kemudian, saat usia menginjak 12 tahun, tubuh Alina semakin lama semakin melemah, rambutnya yang rontok terpaksa ia pakaikan rambut pasangan agar Mahesa tidak melihat itu, Alina tidak ingin melihat Mahesa menangis.
Di ranjang ber sprei putih, kedua orang tua Mahesa masih asik berpelukan seakan memberi kekuatan untuk satu sama lain.
“Mas, kalau aku nggak ada, kamu harus cari pengganti aku ya, Mahesa butuh sosok ibu yang merawatnya sampai besar,” dan kalimat yang keluar dari mulut Alina ternyata menjadi kalimat serta pertemuan terakhirnya dengan sang suami. Alina bunuh diri di saat Tio sedang disibukkan oleh pekerjaannya.
Mahesa masih mematung mendengar penjelasan sang papa mengenai 9 tahun yang lalu, jadi semua sengaja disembunyikan dari Mahesa, tidak ada yang ingin menjelaskan semuanya hingga Mahesa tumbuh menjadi lelaki tanpa perasaan.
“Jadi ....” ucapannya menggantung dan tatapannya lurus menatap mata sang papa.
“Papa menikahi mama Gema karena ingin menuruti permintaan terakhir mama kamu, Hes,” ucap sang papa.
Jadi semuanya telah jelas, ada perasaan lega di hati Mahesa dan sang papa. Tapi tetap saja, Mahesa tidak membutuhkan ibu pengganti, ia tidak akan memanggil perempuan itu dengan sebutan mama sampai kapan pun.
Air matanya lolos begitu saja, entah sudah berapa lama ia tak menangis dan sekarang Mahesa kembali menangis, hal yang ia inginkan dari dulu namun tak bisa. Mahesa terisak, keras, tersedu-sedu, rasa sakit yang ia alami selama bertahun-tahun kini akhirnya bisa ia tumpahkan lewat air matanya.
“Maafin papa Mahes, maafin papa yang nggak jelasin semua ini dari awal,” ucap sang papa sembari memeluk erat anak sulungnya.
Mahesa mengangguk sembari tetap menangis, membalas pelukan sang papa tanpa ada rasa marah sedikitpun, ia benar-benar merindukan papanya, sangat rindu.
***
Mahesa dan papanya kini tengah berjalan keluar ruangan dengan beriringan, tangan kanan Mahesa terlihat membawa sebuah obat yang masih harus ia minum jika mengalami serangan panik tiba-tiba. Karena pengobatan sekali tidak menjamin kesembuhan psikis lelaki tersebut, ia diharuskan untuk melakukan beberapa kali pertemuan lagi bersama dokter Linda agar bisa mengetahui perkembangannya.
Ting!
Ponsel miliknya berbunyi, menampilkan sebuah pesan masuk dari Lana yang langsung dibuka oleh Mahesa. Editor tersebut mengirim sebuah capture foto yang ia dapat dari sebuah kanal berita tentang novel Kelana.
—“Sweet Pea”, Novel Ketujuh Kelana yang Digadang-gadang Berdasarkan Dari Kisah Nyata Berhasil Menembus 200.000 Copy di Peluncuran Pertamanya. Pembaca : Kami Ingin Season Kedua!—
Mahesa tersenyum puas, lalu membalas pesan Lana,
@Mahesa
[Season kedua ya? Kayaknya masih beberapa tahun lagi.”
“Boy,” sejenak ia mengalihkan pandangan dari layar ponsel menuju sang papa, kata ‘boy’ dulu sering digunakan papanya untuk memanggil Mahesa, dan sekarang Mahesa bisa mendengar kata itu lagi.
“Iya, pa?”
“Mau mulai dari awal lagi?” Mahesa versi tua itu bertanya sembari menatap lekat wajah sang anak, tentu saja Mahesa mengangguk dengan semangat lalu kembali memeluk papanya.
Semua akan kembali dimulai dari awal. Mahesa akan pindah kuliah di Jogjakarta dan sekali-kali pulang ke rumah, berkunjung ke makam mamanya, berusaha menerima istri baru sang papa dan tentu saja akan memberikan waktu lebih banyak untuk Gema, adiknya.
Semoga saja ini akan menjadi awal yang baik walaupun lelaki tersebut masih menyembunyikan satu hal yang memang enggan untuk ia beritahu kepada siapa-siapa kecuali Lana. Biarlah ini menjadi rahasia besar untuk selamanya, atau mungkin beberapa tahun ke depan.