20 Maret, 2015.
Anak laki-laki dengan paras tampan serta bermata tajam layaknya burung elang itu merebahkan dirinya di atas rerumputan hijau, berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya bermaksud agar udara tersebut bisa masuk ke dalam otaknya dan ia bisa berfikir dengan jernih.
“Kelana!!” seru seorang lelaki yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya, ia kemudian duduk di kursi taman yang berada di samping panti asuhan.
Mereka berdua adalah Mahesa dan Lana.
“Kenapa harus Kelana?” tanya Mahesa sembari duduk agar bisa menghadap ke arah Lana yang kini tengah tersenyum bangga entah kenapa.
Lelaki berkulit sawo matang itu terlihat berpikir sejenak, “Karena di usia lo yang baru 15 tahun ini, lo udah bisa pergi sendiri ke panti. Novel lo juga berhasil dilirik sama penerbit ternama, jadi lo sukses berkelana di usia muda,” jelasnya.
“Kenapa nggak nomaden aja? Kan sama-sama berkelana,” celetuk Mahesa hingga membuat Lana memutar matanya jengah, Mahesa kecil hingga besar memang selalu sukses membuat dirinya merasa kesal.
“Emang lo pikir manusia purba zaman paleolitikum yang hidupnya berpindah-pindah?” omel Lana.
Mahesa tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh lelaki tersebut, bahasannya terlalu susah untuk masuk ke kepala Mahesa, tapi nama Kelana juga terlihat bagus.
“Ya udah, gue pakai nama pena Kelana aja,” ucap Mahesa lalu kembali menidurkan dirinya di atas rumput, tak menghiraukan Lana yang saat ini berteriak kegirangan.
“Pokoknya kalau nama Kelana udah besar, lo jangan ganti-ganti editor ya, cukup gue aja!” seru Lana lalu kembali fokus dengan laptop milik Mahesa, lelaki itu sedang mengoreksi beberapa kata serta kalimat yang salah dari novel pertama Mahesa yang akan segera diterbitkan.
***
17 September, 2021.
Empat orang kini terlihat duduk di kursi cafe dengan posisi saling berhadapan, sama-sama diam karena tidak ingin membuka suara atau kembali menyakiti perasaan satu-satunya gadis yang berada di hadapan mereka sekarang.
Banyu dan Yeremias tentu saja tau apa yang telah Asha alami saat mencari Mahesa di Jogja, tapi mereka tidak mengerti kenapa tiba-tiba diundang untuk makan siang bersama, apakah gadis tersebut sedang merayakan hari perpisahannya dengan Mahesa? Tidak, itu sangat tidak mungkin.
“Ada udang dibalik batu kan? Cepetan deh ngomong, keburu gue antar balik Yere ke tempat magang,” ucap Banyu yang tidak sabar berada dalam lingkaran keheningan semacam ini.
Tak lama kemudian makanan mereka datang, satu porsi combo steamboat dan yakiniku untuk mereka berempat serta satu porsi shihlin crispy chicken barbeque khusus untuk Yeremias hingga sukses membuat lelaki berkacamata tersebut semakin yakin bahwa mereka diundang makan untuk menjual sebuah informasi.
“Adanya udang dibalik bakso nih,” celetuk Brian sembari mengambil beberapa jenis bakso yang berada di dalam mangkuk besar untuk ia pindahkan ke mangkuknya sendiri.
“Anggap aja makanan ini sebagai penghalang abang-abang berdua untuk bilang ‘nggak tau’ nanti,” lanjutnya hingga membuat mereka berdua kembali curiga, apa yang sebenarnya kedua juniornya ini inginkan?
Suasana kembali hening, hanya ada bunyi dari sendok dan garpu yang saling bersentuhan, selebihnya mereka tetap diam sembari menikmati makanan selagi masih hangat.
“Kak Mahesa sebenarnya kenapa?” Nah kan, ucapan yang keluar dari mulut Asha seketika membuat makanan mereka berhenti di tenggorokan.
“Gue nggak–“
“Combo steamboat yakiniku 130.000, Shihlin 65.000 sama es jeruk 6.000 dikali empat,” ujar Brian sengaja memotong ucapan Banyu yang akan berkata ‘tidak tau’ itu, jelas-jelas mereka bertiga berteman sejak tahun pertama, sangat mustahil jika Banyu tidak mengenal seluk beluk kehidupan Mahesa.
Banyu mematung mendengar perkataan Brian yang membeberkan seluruh harga makanan mereka saat ini. Lelaki itu menghela nafasnya pelan, dalam hati ia meminta maaf kepada Mahesa karena telah menjual informasi penting ini hanya demi makanan di depannya.
“Philophobia,” Asha dan Brian mengernyit tak paham akan apa yang diucapkan seniornya tersebut, sedangkan Yeremias melongo tak percaya saat mendengar perkataan Banyu.
“Penyakit takut jatuh cinta. Mahesa mengidap itu, dia takut kalau jatuh cinta sama seseorang, mereka akan meninggalkan Mahesa persis seperti ibunya ninggalin dia,” tutur Banyu, membuat benang kusut yang berada di pikiran Asha kini sedikit demi sedikit mulai terurai.
“Jadi?” tanyanya.
“Jadi Mahesa itu denial, di satu sisi dia suka sama orang tapi di sisi lain dia takut kalau orang itu ninggalin dia. Alhasil, Mahesa sendiri yang akhirnya memilih pergi dari kehidupan orang itu.”
Bodoh, umpat Asha dalam hati. Dibalik kesempurnaan seorang Mahesa, ternyata ia cukup bodoh untuk masalah hati. Namun Asha juga merasa iba kepada Mahesa, bisa dibayangkan bagaimana bingungnya lelaki tersebut menghadapi ini semua sendirian, seharusnya Mahesa tak pantas untuk disalahkan, tetapi sifatnya memang benar-benar layaknya b******n.
“Dari sifat denialnya itu akhirnya Mahesa milih untuk nggak pakai hati buat deketin semua cewek. Dia deketin cewek cuma buat objek ceritanya aja,” lanjutnya membuat Asha semakin dilanda kebingungan, cerita apa yang dimaksud oleh Banyu?
“Mahesa adalah Kelana.”
Seketika pening menjalar di kepala Asha, ia ingin tidak percaya namun Banyu benar-benar menampilkan raut wajah yang serius. Jadi apakah selama ini Asha hanya menjadi bahan untuk cerita novel Kelana? Seorang penulis misterius yang tidak ia sukai ternyata berhasil membawanya masuk ke dalam cerita. Haruskah Asha kembali membenci Mahesa?
“Tapi firasat gue bilang kalau Mahesa beneran suka sama lo” lanjut lelaki itu.
Banyu yakin bahwa Mahesa memang menyimpan rasa kepada gadis dihadapannya ini karena perilaku Mahesa yang memperlakukan Asha tidak seperti korban-korban lelaki itu yang sebelumnya. Mahesa tidak pernah menyanyikan lagu cinta untuk orang lain, Mahesa tidak pernah terlihat sangat panik saat Asha hilang, dan bahkan Mahesa sempat beberapa kali mengumpat ketika Asha bersama Brian.
“Satu bulan lagi novel ketujuh Kelana yang isinya tentang lo dan Mahesa bakal terbit, mungkin dari situ lo bakal tau bagaimana akhir cerita kalian berdua nantinya.”
Setelah perkataan Banyu tadi, Asha memilih untuk pulang dan terus diam selama di perjalanan. Kepalanya ia alihkan menatap jalanan lewat kaca samping hingga air matanya kembali lolos untuk kesekian kalinya. Bukan Brian tidak tau, tapi lelaki itu sengaja membiarkan Asha menangis agar sebagian bebannya hilang.
Asha tidak tau harus apa sekarang, dia mencintai Mahesa namun di satu sisi Asha juga membenci Kelana, kenapa harus Mahesa yang berada di balik nama Kelana? Cinta pertamanya begitu menyakitkan.
Di tempat lain, seorang laki-laki kini sedang duduk dengan tatapan kosong di depan rumah tua khas Belanda yang masih berdiri kokoh serta angkuh, persis dengan pemiliknya. Matanya menerawang jauh mengulang kejadian dimana ia mengeluarkan kata-kata bodoh yang membuat gadisnya menangis.
“Lo yakin endingnya gini aja?” tanya Lana yang duduk di kursi samping Mahesa sembari membuka laptop miliknya.
Mahesa mengangguk pelan, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah berakhir.
Lana mengernyit saat melihat sebuah kata-kata di bawah tulisan epilog, “Semua cerita akan berakhir bahagia. Jika tidak bahagia, maka cerita itu belum berakhir,” ejanya lalu kembali menatap Mahesa.
“Lo mau adain sequel buat buku ini?” Mahesa menggelengkan kepalanya, bahkan bertemu dengan gadis itu saja sepertinya sudah tidak mungkin, bagaimana bisa ia membuat sekuelnya?
Tidak seperti biasanya, lelaki itu selalu masa bodoh dengan gadis-gadis yang berada dalam cerita novelnya, tapi untuk novel ini Mahesa lebih sering terlihat murung. Lana tau, Mahesa terperangkap dalam ceritanya sendiri.
“Mencoba buat membuka hati itu nggak salah kok, Hes. Gue tau lo suka sama Asha tapi masih denial, mau sampai kapan lo mau kayak gini? Rela Asha diambil sama Brian?” ujar Lana sengaja menyenggol nama Brian, nama lelaki yang bisa membuat Mahesa langsung menolehkan kepala ke arahnya.
“Dengan lo pergi kayak gini, secara gak langsung lo buat Asha jadi takut jatuh cinta juga. Dia takut ditinggalin kayak lo ninggalin dia, lo mau liat dia hidup tanpa cinta?” lanjutnya.
Tidak. Mahesa tidak ingin itu terjadi, melihat senyum Asha yang luntur dan menangis didepannya saja rasanya sudah sangat sakit. Mahesa ingin memiliki Asha, ia juga ingin jatuh cinta tanpa memiliki beban apapun.
“Gue mau sembuh dari semua yang gue derita selama ini, entah tentang masalah fisik maupun psikis,” ucap Mahesa hingga membuat pria disampingnya tersedak kopi yang masih panas dan menatap Mahesa dengan tatapan tak percaya.
@Mahesa
[Pa, Mahesa mau.]
***
Di pagi yang cukup terik ini, Asha dibuat bingung karena tiba-tiba menemukan sebuah paket di depan rumahnya, gadis itu yakin bukan kurir yang mengantar karena ini bahkan masih pagi, tidak ada kurir yang memulai jam bekerja pukul setengah 6 pagi. Ia kemudian menelepon bundanya yang sedang ada kunjungan di butik cabang dan berkata bahwa beliau juga tidak merasa membeli barang online.
Tidak ingin semakin dibuat penasaran, Asha akhirnya membuka paket berbungkus kotak hitam itu sembari memakai masker, takut apabila sesuatu yang berada di dalamnya berupa bangkai tikus dari salah satu fans Brian, seram memang.
Setelah beberapa menit akhirnya kotak tersebut berhasilnya terbuka, menampilkan sebuah novel dan kartu ucapan di atasnya, ini belum genap satu bulan dan tidak mungkin pengirim paket ini adalah Mahesa, pikir Asha.
-For the first member of Kelana, hope you enjoy and thank you for the support!!-
Kelana ....
Gadis itu kemudian mengambil sebuah novel dengan cover bunga berwarna ungu serta putih di bagian pucuknya, warna backgroundnya putih sedangkan font untuk judul itu dibuat semanis mungkin hingga membuat para pembaca mengira ini merupakan novel yang sangat menarik dan berakhir bahagia.
“Sweet Pea”, adalah judul dari novel ketujuh Kelana yang sengaja Mahesa ganti pada satu hari sebelum penerbit mereka mengumumkan adanya karya baru kepada para penggemar. Bunga sweet pea sendiri memiliki makna kebahagiaan, kesenangan atau juga cara yang ideal untuk mengatakan selamat tinggal, dan Mahesa memberi nama judul ini untuk mengatakan selamat tinggal pada Asha.
Plastik yang menutupi seluruh permukaan novel itu dibuka perlahan oleh Asha, tangannya gemetar dan ia masih berusaha mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak membasahi novel ini. Lalu, di halaman pertama pada novel tersebut terlihat sebuah kata-kata yang sengaja Kelana kutip dari seseorang,
—Apakah orang sepertiku memiliki hak untuk mencintai seseorang atau hanya terlahir untuk menyesal?
Bisakah orang sepertiku mendapatkan cinta dari seseorang atau mungkin aku tidak cukup baik untuk dicintai oleh siapapun?—
-NNN
Ting!
Sebuah pesan dari seseorang tiba-tiba membuat Asha langsung menegakkan badannya, sebuah pesan spam yang sangat jarang sekali dikirim oleh lelaki itu, bahkan sepertinya tidak pernah.
@Mahesa
[Selamat ya, jadi member pertama Kelana. Sebenarnya novel itu terbit dua minggu lagi, tapi khusus buat lo sengaja gue kasih duluan sebagai salah satu keuntungan menjadi member pertama.]
[Maaf atas semua yang pernah gue lakuin ke lo, tapi semuanya itu tulus dari hati dan bodohnya gue baru sadar kalau gue udah jatuh hati sama lo, Sha.]
[Jangan pernah anggap kita selesai karena faktanya kita tidak pernah memulai, gue pamit dan sampai ketemu 6 tahun ke depan saat gue udah benar-benar sembuh. Sekali lagi, maaf.]
Tulisan online di bawah kontak Mahesa kemudian menghilang, foto profil serta last seen juga turut menghilang disusul dengan balasan pesan Asha yang berubah menjadi merah, Mahesa memblokir nomornya. Tak kuasa, Asha akhirnya membiarkan air matanya kembali jatuh, setelah semua yang dilakukan Mahesa bagaimana mungkin gadis itu membencinya? Tentu saja Asha akan menunggu Mahesa selama apapun itu, Asha berjanji.