@Ashafile
[Kak Yere, ini bener alamatnya di sini kan?]
@yeremias_
[Iya, Lo udah nanya ini 4 kali.]
@Ashafile
[Hehe, makasih banyak, kak. Doain aku ketemu kak Mahesa ya!]
@yeremias_
[Ya, Semoga berhasil!]
Asha mematikan data ponselnya kemudian kembali memperhatikan lalu lalang orang yang lewat bersama lelaki blesteran di sampingnya, Brian. Mereka berdua hari ini berencana akan pergi ke Jogja untuk menemui Mahesa yang katanya magang di sana.
Harusnya Mahesa magang bersama dengan Yeremias di sebuah perusahaan elektronik ternama yang ada di Jakarta. Tapi tiba-tiba setelah pertemuan mereka dengan Anneth dan Asha yang meminta kejelasan hubungan, Mahesa malah menghilang selama sebulan penuh dan tau-tau sudah berada Jogja. Ah, Asha jadi kembali mengingat masa-masa dimana ia sangat galau ketika Mahesa menghilang dari hidupnya selama sebulan lalu.
Mereka berdua saat ini tengah berada di Bandara Soekarno-Hatta, duduk di kursi sambil menunggu pesawat mereka yang 15 menit lagi akan take off. “Udah nggak ada yang ketinggalan?” tanya Brian sesaat setelah mengecek barang bawaannya di tas ransel berukuran sedang.
Asha yang memakai Hoodie kebesaran dengan rambut diikat sederhana itu menggeleng pelan kemudian membuka novel karya Kelana pemberian Mahesa tempo lalu. Asha masih ingat betul saat Mahesa berkata bahwa ia harus banyak-banyak membaca novel dengan genre sad ending agar jika patah hati tidak terlalu merasakan sakit. Padahal, siapa juga yang ingin patah hati.
Sudah 1 bulan sejak pemberian novel itu Asha hanya membacanya sampai bab ketiga, gadis tersebut tidak tega melihat sang tokoh utama yang dari bab pertama saja sudah mendapat banyak luka, ia lebih memilih untuk berhenti membaca novel itu dan membaca novel terjemahan favoritnya.
“Kelana ....” Asha bergumam menyebut nama pena penulis tersebut, ia menimang-nimang apakah penulisnya laki-laki atau perempuan, apakah penulis itu memiliki masa lalu yang menyakitkan hingga harus menulis banyak novel dengan genre seperti ini? Apakah ....
“Sha ayo!” Ajak Brian menyadarkan lamunan Asha setelah ada pemberitahuan bahwa pesawat mereka akan segera take off.
“Penerbangan 1 jam 15 menit, Lo dari kemarin belom tidur. Tidur ya, nanti gue bangunin,” ujar Brian sembari mengelus kepala Asha, yang dielus kepalanya hanya mengangguk setuju kemudian mulai memejamkan matanya.
Sekitar pukul 6 pagi, mereka sudah tiba di Bandara Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Asha berjalan dengan bantuan Brian karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul akibat tidur di pesawat tadi, ia kemudian memaksa Brian untuk segera menyewa mobil dan mencari Mahesa.
Seperti biasa, Brian selalu lemah jika berurusan dengan Asha. Kurang dari 10 menit pria blesteran itu telah berhasil mendapatkan mobil sewaan dan segera menyusuri jalan Jogjakarta untuk mencari sarapan atau penginapan terdekat, mengabaikan permintaan Asha yang ingin segera mencari keberadaan Mahesa.
“Mau cari penginapan apa cari makan dulu Sha?” tanya Brian sambil menyetir setelah merasa nyawa Asha sudah sepenuhnya terkumpul.
“Terserah, tapi nanti ke tempat kak Mahesa ya,” jawab Asha sambil menatap Brian dengan tatapan berharap.
“Oke, cari makan dulu ya,” Brian kembali membuka suaranya. Tentu saja ia khawatir dengan keadaan Asha yang selama sebulan ini seperti orang tidak punya harapan hidup, raganya memang masih ada disini, tapi jiwanya sudah melayang entah kemana.
Mobil mereka akhirnya berhenti di kawasan Food Court pinggir jalan yang cukup ramai hingga membuat Brian agak kesusahan memilih tempat makan, mau tanya Asha ia rasa percuma, gadis itu saat ini kalau diajak mati bersama mungkin juga akan menjawab ‘terserah’.
Brian kemudian menyeret tangan Asha yang dari tadi sibuk mengotak-atik telepon genggamnya, entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu tapi tidak baik untuk bermain ponsel di tengah keramaian seperti saat ini.
Setelah menghabiskan 1 porsi nasi goreng, Asha langsung melihat jam yang melingkar indah di tangan kecilnya, jam berwarna army pemberian dari Mahesa.
“Udah jam 7 bri, ayo ke tempat magang kak Mahesa,” ajak Asha bersemangat.
“Nggak kepagian sha?” tanya Brian, setidaknya mereka perlu istirahat dulu di penginapan selama 1 atau 2 jam untuk mandi atau sekedar rebahan.
Asha hanya menggelengkan kepalanya kemudian menarik Brian menuju parkiran mobil. Brian yang ditarik hanya bisa menghela nafas lelah, bisa-bisanya gadis itu mengejar lelaki yang belum tentu menyukainya padahal disini ada yang jelas-jelas menyukai Asha dari kecil.
Suasana jalan raya menuju tempat magang Mahesa cukup ramai, namun tidak seramai Jakarta. Cuaca juga sedang mendung ditambah dengan radio yang memutarkan lagu galau mendukung kondisi Asha sekarang.
“100 Kilometer belok kiri, tujuan anda tepat di sebelah kanan jalan," interupsi suara seorang wanita dari google maps membuat Asha kembali bersemangat, sebentar lagi dan mereka akan sampai.
Tepat setelah belokan, terdapat tempat yang lumayan besar, bangunannya seperti rumah tapi sedikit luas dengan pintu kaca dan beberapa ornamen gantungan dari kayu.
Terdapat juga sebuah papan kayu di depan pintu dengan tulisan nama tempat itu.
—WeBooks—
Perkataan Yeremias mengenai Mahesa yang magang di sebuah perusahaan penerbit buku memang benar, tapi ternyata ada beberapa fasilitas lagi yang sepertinya bisa dinikmati oleh orang luar. Terdapat sebuah cafe kecil, perpustakaan, dan sebuah store yang menjual berbagai macam alat tulis beserta merch beberapa buku best seller yang membuat gedung ini terlihat semakin berbeda dengan perusahaan penerbit buku lain.
“Langsung masuk?” tanya Brian, lagi.
Asha juga sepertinya mengerti bahwa karyawan disini banyak yang baru datang, entah jam berapa mereka mulai bekerja tapi Asha masih memiliki adab untuk tidak bertamu sepagi ini.
Gadis tersebut menggelengkan kepala pelan kemudian mengambil dua topi di dalam tas ranselnya, satu ia berikan kepada Brian dan satu lagi ia pakai.
“Buat apa? Kita nggak mau ngelakuin hal kriminal kan?” Brian kembali bertanya dengan penuh selidik, pasalnya Asha ini orang yang termasuk nekat.
“Kalau kak Mahesa nggak mau diajak pulang, kita culik!” jawab Asha enteng kemudian masuk ke dalam perpustakaan untuk membaca beberapa buku diikuti dengan Brian yang menatapnya tak percaya.
***
Bukan Asha namanya jika tidak lupa waktu saat membaca buku, semua buku di perpustakaan ini sangat menarik perhatiannya, bahkan sekarang ia telah membaca novel kedua yang halamannya cukup tebal.
Dan tolong jangan tanya Brian kemana, AC yang cukup dingin dan harum buku-buku membuatnya kini tertidur dengan pulas di samping Asha.
“Gue benci orang ketiga!” ujar Asha tiba-tiba sembari menutup novel itu dengan cukup keras, ia tidak menyangka bahwa ending dari novel tersebut sangat di luar ekspektasinya.
Lagi-lagi karya Kelana, ceritanya memang membuat pembaca terhanyut namun akhirnya juga bisa membuat pembaca tidak bisa move on selama berbulan-bulan, seperti perkataan Maya waktu itu. Tangan Asha kemudian terulur untuk membuka ponsel yang sedari tadi ia abaikan, matanya membulat ketika melihat jam yang tertera di dalam ponselnya serta beberapa pesan spam dari Yeremias yang menanyakan keadaan Mahesa.
“Bri! Udah jam 12, ayo bangun!” ucap Asha sembari menggoyang-goyangkan tubuh Brian, tak terasa 4 jam sudah ia habiskan untuk membaca novel-novel di perpustakaan ini. Brian yang merasa mimpi indahnya diganggu langsung bangun dan ikut mengecek jam yang melingkar tangannya.
“Udah mau istirahat makan siang, nanti aja gimana? Kita cari makan dulu,” ucap Brian lalu mendapat ketukan keras di kepalanya.
“Gue nggak mau ulur waktu, ayo masuk!” bentak Asha lalu kembali memakai topinya dan menyeret Brian masuk menuju lobi perusahaan tersebut, kemudian tampak seorang perempuan dengan pakaian jas rapi yang berdiri menyambut kedatangan Asha dan Brian, mereka berdua yakin perempuan ini adalah seorang resepsionis.
“Selamat siang, ada yang bisa saya ban–“
“Mahesa, anak magang bagian editor, ada?” belum selesai bertanya, Asha sudah lebih dulu memotong perkataannya hingga membuat perempuan itu mengernyitkan dahi tanda tak suka namun tetap mengingat-ingat nama yang baru saja Asha sebutkan.
“Baru saja keluar untuk makan siang, biasanya ada di cafe sebelah,” lanjutnya sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah cafe. Tanpa berterimakasih, Asha kembali menyeret Brian agar berjalan agak cepat menuju cafe yang berada di samping.
Lonceng kecil yang digantung di atas pintu cafe berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk maupun keluar, Asha masuk bersama Brian kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe bercat putih tulang dengan beberapa lukisan beraliran dadaisme di dindingnya.
Tak butuh waktu lama, netra Asha menangkap sosok laki-laki yang sedang hanyut dengan kegiatannya minum kopi ditemani beberapa camilan yang bahkan tidak layak disebut dengan makan siang, Asha kemudian berjalan pelan diikuti dengan Brian di belakangnya.
“Kak Mahes,” ujarnya lirih saat gadis tersebut telah berdiri tepat di depan Mahesa.
Pemilik nama yang merasa namanya dipanggil mendongakkan wajah ke atas, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang dan membeku sepersekian detik. Asha tersenyum lebar, akhirnya ia bisa kembali melihat Mahesa. Ia pikir semua masalah telah selesai, mungkin hanya membutuhkan beberapa jam penjelasan dan semuanya akan berakhir.
Tapi itu hanya harapan semata, harusnya Asha tidak perlu terlalu berharap, bahkan mungkin lebih baik ia tidak perlu jauh-jauh menemui Mahesa kalau akhirnya sama saja seperti menabur garam di lukanya. Mahesa telah dihadapannya, tapi entah mengapa wajah lelaki itu menunjukkan raut enggan untuk bertemu dengan Asha.
“Ngapain Lo kesini? Pulang! Gue ada urusan,” ucap Mahesa sinis kemudian pergi meninggalkan Asha yang terkejut mendengar perkataan Mahesa.
Asha masih tetap berdiri di depan meja tadi dan menatap kepergian Mahesa. Tak berniat menghentikan jalan lelaki itu, ia masih perlu mencerna semuanya.
Apakah benar harusnya Asha menyerah dari awal?
Bajingan itu benar-benar ....
“Hai, ada yang bisa dibantu?” tanya seseorang di belakang Brian yang membuat mereka berdua mengalihkan atensinya kepada orang tersebut.
Sepasang laki-laki dan perempuan berkemeja hitam dengan kalung identitas yang terdapat foto dan nama mereka, sepertinya mereka staf webooks. Mereka berdua bukan tim dari termehek-mehek kan? Batin Brian kebingungan.
***
“Makasih,” ucap perempuan yang diketahui bernama Liana itu kepada pramusaji saat mengantarkan minuman mereka. Sambil menyesap Cappucino miliknya, Liana menatap kedua sosok asing yang kini berada dihadapannya.
“Ada masalah apa sama Mahesa?” tanyanya kemudian.
Asha bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah, tapi dia sendiri juga butuh orang yang bisa memberinya solusi selain Brian. Ah, bahkan Brian tidak bisa memberinya solusi.
Ia kemudian mulai bercerita tentang Mahesa, tentang bagaimana seniornya tersebut memperlakukan Asha seperti seorang ratu sampai bagaimana sikap Mahesa yang tadi mengusirnya, Asha benar-benar buntu, ia tidak mengerti pikiran Mahesa.
“Gue nggak bisa bantu banyak soal masalah anak muda gini, tapi gue tau dimana rumah Mahesa,” kali ini lelaki dengan name tag -Lana- membuka suara membuat secercah harapan untuk Asha kembali tumbuh.
“Bisa antar kita kak? Kita naik mobil yang di sewa temenku aja sekarang,” pinta Asha dengan mata berbinar.
“Maaf kalau lo lupa, kita staf disini dan jam makan siang udah selesai. Nanti deh pulang kerja kita anterin kalian berdua ke sana,” tolak Liana kemudian kembali menyesap kopinya dan berpamitan untuk kembali ke kantor bersama Lana.
***
Pukul 5 sore, senja di Jogjakarta ternyata lebih indah daripada Jakarta. Namun senja kali ini jauh lebih buruk dari senja yang pernah Asha nikmati bersama Mahesa. Mereka berempat sekarang berada tepat di depan pagar rumah tua yang terlihat masih berdiri kokoh, Asha sendiri baru tau bahwa Mahesa punya rumah di Jogjakarta.
“Anaknya kalau pulang kerja selalu di rumah,” interupsi Lana di kursi depan samping Brian.
Asha kemudian turun sendirian, kalau bersama Brian ia yakin mereka berdua malah akan bertengkar. gadis tersebut melangkahkan kakinya yakin kemudian berjalan menuju pintu depan rumah yang bercat coklat tua itu.
Tok! Tok! Tok!
Ia mengetuk pintu rumah lirih namun pasti, untuk saat ini, tidak salah kan kalau hatinya kembali berharap?
Tak butuh waktu lama bagi seseorang di dalam sana untuk membukakan pintu, kini terlihat sosok Mahesa dengan balutan celana jeans dan kaos lengan panjang bergaris, lelaki ini sepertinya hendak pergi.
“Apa lagi? “ tanya Mahesa risih saat tau bahwa tamunya adalah Asha.
“Kak, aku butuh penjelasan, aku nggak paham,” jelas Asha lirih terdengar putus asa.
Mahesa tidak bisa menjawab, ia hanya diam sembari memperhatikan pahatan indah didepannya, sangat sakit jika harus membayangkan gadis itu kelak akan meninggalkan dirinya, memang lebih baik jika mereka selesai sekarang.
“Apa yang perlu dijelasin?”
“Hubungan kita, kakak kenapa? Aku nggak percaya omongan kak Anneth, tapi sikap kakak selama sebulan ini justru buat aku makin berpikir kalau omongan kak Anneth itu benar,” jelas Asha hanya dengan satu tarikan nafas.
“Sha, lo dihancurin sama ekspetasi lo sendiri,” kata-kata itu terucap ringan dari mulut Mahesa, kata-kata yang bahkan langsung membuat Asha kembali terdiam.
“Lo terlalu percaya diri sama perasaan lo,”
Lagi,
“Yang berhak disalahkan di sini itu perasan lo sendiri. Bukan gue,”
Lagi,
“Dan hubungan kita, emang kita ada apa?”
Plakk!!
Satu tamparan keras mengenai pipi sebelah kanan Mahesa membuat lelaki itu terkejut, sudah lama ia tak menerima tamparan seperti ini, batinnya. Brian yang tau bahwa keadaan tidak baik-baik saja langsung turun dari mobil untuk sekedar memperhatikan mereka dari jarak jauh.
“Jadi selama ini hubungan kita cuma kakak anggap lelucon?” tanya Asha dengan suara yang bergetar hebat, ia menangis.
Mahesa kembali diam. Tidak, ia tidak menganggap hubungannya dengan Asha hanya lelucon belaka, Mahesa hanya tidak ingin kembali menanggung beban akan takutnya kehilangan orang yang ia sayangi.
Memang benar, harusnya Asha tidak memaksakan dirinya untuk datang kesini, harusnya ia berhenti saat tau Mahesa meninggalkannya sebulan yang lalu, bukan malah menaruh harapan kepada orang yang jelas-jelas tidak mengharapkannya. Ia berlari ke dalam mobil dengan isak tangis yang keras, hatinya benar-benar dihancurkan oleh cinta pertamanya, oleh seseorang yang dulu berjanji untuk selalu bersama apapun yang terjadi.
Brian yang melihat kejadian itu kemudian berjalan mendekati Mahesa, wajahnya biasa saja dan langkahnya yang tenang seakan tidak menimbulkan kecurigaan akan adanya sebuah perkelahian nanti. Hingga jarak mereka semakin dekat, satu pukulan berhasil ia layangkan kepada pipi sebelah kiri Mahesa yang kemudian terhuyung ke belakang.
“Lo kenapa tonjok gue!” rupanya pemuda yang 2 tahun lebih tua darinya ini belum sadar akan apa yang ia lakukan kepada Asha.
“b******n! Lo udah bikin Asha sakit hati dan sekarang masih nanya apa alasan gue nonjok lo?” Brian yang tersulut emosi kemudian menarik kerah baju Mahesa.
Beruntung rumah Mahesa terletak di suatu pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk, jarak rumahnya dari rumah lain pun cukup jauh sehingga tidak membuat gaduh tetangga.
“Maaf,” lirih Mahesa.
“Maaf, gue gak bermaksud buat nyakitin hati Asha,” lanjutnya pelan membuat Brian semakin tak habis pikir dengan apa yang ada di otak Mahesa.
Satu kali pukulan akan Brian layangkan kalau saja Lana tidak berlari turun dari mobil untuk mencegah terjadinya perkelahian babak kedua.
Brian rasa sekarang tak ada yang harus dibicarakan, Mahesa juga tidak memberikan tanda-tanda untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi, dan mungkin ini juga akhirnya. Brian kemudian pergi memasuki mobil tanpa sepatah kata apapun. Sedangkan dua staf itu, Liana dan Lana memilih untuk mampir ke rumah Mahesa sebentar dan akan pulang sendiri menggunakan taksi online.
Di dalam mobil, Brian melihat Asha masih menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya lambat laun makin keras.
“Ssttt, jangan nangis,” ucap Brian menenangkan sambil mengelus puncak kepala Asha lembut.
“Brian, Asha bodoh banget ya?” tanyanya sembari menatap Brian dengan mata yang masih setia mengeluarkan air serta hidung memerah. Brian sungguh tidak tega melihat keadaan Asha sekarang, ia membawa kepala gadis tersebut ke dalam dekapannya, berusaha menyalurkan rasa sakit yang Asha alami.
“Asha nggak bodoh kok, ada Brian disini. Asha kecil, tapi Brian kan besar, nanti biar Brian yang jagain Asha ya,” sahut Brian sembari mencium puncak kepala Asha.
Asha yang mendengar hal itu hanya mengangguk dengan masih memeluk Brian. Biarkan seperti ini dulu, biarkan hatinya sedikit pulih dan biarkan pula Brian mendapatkan apa yang dari dulu ia mimpikan.
Pada akhirnya, apa yang Asha inginkan hanya menjadi harapan semata, semua harapan yang ia bawa dari Jakarta berubah menjadi luka di Jogjakarta. Benar, Asha dihancurkan oleh ekspetasinya sendiri.
Tiga orang yang masih setia berdiri di depan pekarangan rumah itu melihat adegan dramatis di dalam mobil, ada satu hati yang sedikit nyeri saat mereka saling berpelukan.
“Jadi ini endingnya, Kelana?” ujar Lana membuka topik pembicaraan.
“Harusnya bahagia, tapi kayaknya dunia ngerasa pilih kasih kalau ngasih hidup gue bahagia, ya mau gimana lagi,” jawab lelaki itu namun tak mengalihkan pandangannya dari dua orang manusia yang berada di dalam mobil tersebut.
Liana menggelengkan kepalanya, “Kelana memang bajingan."