Chapter 5 : Sekolah baru dan hantu baru

2642 Kata
          “Apa yang bisa ku bantu?” tanya Bima pada Retta           “Help me, Bim..” ucap Retta lirih nyaris menangis.           Matanya menatap melas Bima, sedangkan Bima semakin bingung dengan Retta. Padahal dirinya sudah bertanya apa yang bisa ia bantu, tetapi Retta masih saja mengatakan untuk menolongnya.           “Help me Bim, Help me” ulang Retta           Bima menghela nafas kasar, lama-lama ia kesal juga dengan Retta yang sedari tadi mengatakan hal yang sama tetapi tidak lansung pada tujuannya.           “Iya Retta, aku akan menolongmu. Tapi apa yang bisa ku tolong? Kau ingin meminta bantuan apa padaku?”           Bima sebisa mungkin mencoba untuk bersabar pada Retta. Apalagi perempuan itu kini menatap melas dirinya. Jika bukan murid baru, mungkin saja sejak tadi Bima sudah memukul keras kepala Retta karena membuatnya gemas untuk memukul perempuan ini.           “Subhanallah!! Help me Bim! Help me!” Retta kesal juga dengan Bima yang sejak tadi tak mengerti maksudnya. Dirinya kan bertanya apa maksud dari kata help me. Tolonglah, Retta kan bodoh dengan bahasa asing.           “Iya apa yang bisa ku bantu, Claretta!!!” sentak Bima saking kesalnya.           Beberapa penjaga koperasi sampai terkejut mendengar nada tinggi Bima. Mereka melotot kaget sembari memegang d**a mereka. Bima menghembuskan nafas pelan, mengatur emosinya. Masih pagi, tetapi amarahnya sudah memuncak begini hanya gara-gara perempuan ini.           “Apa artinya help me Bim?” tanya Retta dengan wajah tanpa dosanya.           Seandainya membunuh orang itu bukan suatu kejahatan besar, seandainya membunuh orang itu tidak ada undang-undangnya, mungkin saja setelah keluar dari koperasi ini, Retta sudah tinggal nama di tangan Bima. Penjaga koperasi yang sejak tadi memperhatikan perdebatan antara Bima dan Retta tak bisa menahan tawanya. Ia sampai menutup mulutnya agar tawanya itu tak terdengar keras.           Bima menatap datar Retta. Ia memberikan tumpukan buku paket itu dengan kasar kepada Retta. Retta menerimanya dengan terkejut, dan sialnya buku paketnya itu sangat berat. Jika ia tak seimbang, mungkin saja ia sudah menjatuhkan buku-buku itu. bima melengos pergi meninggalkan Retta.           Retta menyusul Bima dengan kening yang mengernyit bingung. Sebelum ia benar-benar pergi dari koperasi ia berbalik dan membungkuk sebentar kepada para penjaga yang membantunya mengambilkan buku-buku paketnya. Lalu Retta pergi menyusul Bima yang sudah jauh di depannya. Dengan tergopoh-gopoh, Retta mensejejarkan langkahnya dengan Bima.           “Kenapa aku di tinggal? Hey, bisa tidak kau membantuku membawakan tumpukan buku paket ini? s****n sekali ini sangat berat.” Gerutu Retta.           Bima berhenti dan berbalik menatap Retta. Raut wajahnya tak berubah sama sekali. Ia melirik buku-buku yang sepertinya memang berat itu. ia menyeringai kecil,           “Tidak mau.” Ucap Bima.           Retta membulatkan matanya. Ia menatap kesal Bima yang kini kembali meninggalkannya.           “Wah… wah…” tatapan sinisnya ia layangkan pada Bima. “Manusia Dakjal!! Ku sumpahi kau di kencingi anjing!!! Astaga, dog maafkan aku. Aku tidak bermaksud jelek padamu.”           Dengan hati yang kesal dan panas, Retta kembali mengikuti Bima. Jangan sampai ia kehilangan Bima, jika hal itu sampai terjadi, dirinya pasti akan tersesat di sekolah ini dan berakhir tak menemukan kelasnya.           Keduanya kini telah sampai di depan pintu kelas XI IPA 2. Bima menoleh melihat Retta yang berada di belakangnya. Ia menyeringai kecil melihat kondisi Retta saat ini. Keringat bercucuran di wajah Retta, nafasnya tersenggal dan badannya sedikit membungkuk karena harus membawa beban berat di kedua tangannya.           Penampilan Retta saat ini sungguh sangat kacau. Bagaimana tidak, dirinya sdah membawa tumpukan buku paket yang jumlahnya ada 12 buku dan di setiap bukunya memiliki ketebalan yang berbeda. Belum cukup penderitaannya karena Bima tak mau membantu dirinya, ia harus menghadapi jejeran anak tangga menuju ruang kelasnya. Di tambah lagi, Bima sejak tadi mengomeli dirinya karena sangat lelet dalam berjalan. Tidak kah laki-laki itu tahu kalau Retta sedang berjuang setengah mati membawa buku-buku itu ke lantai 2? Bahkan sekarang kedua tangannya terasa kebas dan kakinya bergetar pelan karena tak kuat menahan tubuhnya. Tok tok tok           Bima membuka pintu itu dan membungkuk pada seorang guru yang sedang mengajar di kelas itu. bima masuk ke dalam diikuti oleh Retta.           “Pak Agus, maaf jika saya mengganggu pembelajaran anda. Saya kemari membawa murid baru di kelas ini pak.” Ucap Bima pada gru laki-laki yang bernama Agus itu.           Pak Agus melirik ke arah Retta yang ada di belakang Bima. Ia tersenyum kecil dan mengangguk pada Bima.           “Oh iya, terimakasih ya ketua Osis. Kau bisa pergi dan mengikuti pelajaranmu. Terimaksih sudha membawa murid baru kemari.” Kata Pak Agus.           “Sudah menjadi tugas saya pak. Kalau begitu saya permisi dahulu.”           Bima membungkuk sekilas lalu pergi dari sana tanpa melirik Retta. Pak Agus tersenyum ramah pada Retta, sedangkan Retta hanya meringis membalas senyum Pak Agus. Pak Agus yang mengerti dengan situasi Retta pun membuka suaranya.           “Oh iya, silahkan perkenalkan dirimu dengan cepat dan duduklah di bangku tengah sana dekat jendela.” Ucap Pak Agus.           Retta mengatur nafasnya sebentar sebelum berbalik menatap selurud murid kelas IX IPA 2. Retta mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, tidak ada yang aneh, hanya saja ada yang sedikit aneh. Tetapi ia tak tahu apa itu.           “Haahh Hai… hah Claretta Fredelina.. hah Beryl.” Ucapnya dengan sisa nafasnya yang masih tersenggal. “Kalian bisa memanggilku Retta.”           Semua murid yang ada di kelas itu hanya menatap Retta tenang. Tidak ada eksperi yang berlebih yang Retta dapatkan. Tidak ada tanya jawab dan juga sambutan. Baiklah, setidaknya itu lebih baik daripada dirinya di serang oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak berguna.           Pak Agus yang melihat anak-anak didiknya yang diam, tersenyum kikuk dan mempersilahkan Retta untuk duduk.           “Nah, nak Retta, silahkan duduk di tempat dudukmu.” Kata Pak Agus.           Retta hanya mengangguk. Ia berjalan menuju sisi kanan kelas dan menghampiri bangkunya. Retta melihat teman sebangkunya itu yang sepertinya fokus terhadap bukunya. Karena dari pandangannya, ia hanya melihat kepala teman sebangkunya itu yang menunduk.           Dna ternyata perkiraan Retta salah. Yang sebenarnya, teman sebangkunya itu adalah seorang hantu siswi yang seragamnya di lumuri oleh darah dan juga warna seragamnya yang sudah berubah menjadi cokelat. Retta menelan ludahnya susah. Apa ia harus duduk di bangku ini? Bersama hantu itu? yang benar saja.           “Retta..” panggil Pak Agus,           Retta menoleh dan menatap pak Agus, “Apa yang kau lakukan? Cepat duduk di tempatmu.”           “Ah baik pak.” Jawab Retta           Baiklah, mari jangan pikirkan hantu itu, Brak!!           Retta sedikit melempar tumpukan buku paketnya itu. dia sendiri terkejut dengan suara keras yang di ciptakan oleh lemparannya. Ia meringis pada pak Agus yang juga sama terkejutnya. Bahkan semua murid tengah memerhatikannya. Pak Agus hanya menggeleng pelan dan melanjutkan penjelasannya. Tanpa sengaja, tatapan mata Retta dan hantu itu bertemu. Retta diam sebentar, mereka saling menatap untuk beberapa detik, sampai Retta baru menyadari kesalahannya ketika melihat senyum lebar hantu itu.           “Bangke” umpat Retta lirih.           Ia duduk di kursinya dengan hantu itu di sebelahnya. Retta sengaja menaruh tumpukan buku paketnya di tengah-tengah bangku bermaksud untuk menghalangi mereka berdua. Tetapi sayangnya, kepala hantu itu tiba-tiba saja menyembul dari balik buku paketnya dan menatap Retta berbinar.           Retta meringis dan mengangkat tangannya dan menaruhnya di sebelah wajahnya. Selama pelajaran itu Retta tidak fokus karena hantu itu selalu mencoba menarik perhatiannya. Padahal ini masih hari pertamanya, tetapi sudah begini. Semoga saja ia bisa beradaptasi dengan baik di sekolah barunya ini. ***           Jam istirahat, Retta sekarang berada di kantin dengan sepiring nasi goreng pedas dan segelah es teh, oh jangan lupakan hantu perempuan yang di temuinya di kelas tadi. Iya, hantu itu mengikuti Retta. Jika boleh jujur, Retta sedikit bersyukur ada hantu itu di sampingnya. Karena dirinya saat ini hanya duduk sendiri dengan seragam yang berbeda dengan murid yang lain.           Tadi, tepat setelah bell istirahat berbunyi, teman-teman sekelasnya lansung beranjak pergi meninggalkan kelas. Retta sebenarnya ingin menyapa salah satu dari mereka, tetapi melihat teman-teman sekelasnya yang sibuk dengan temannya sendiri membuat Retta urung untuk menyapa.           Pada akhirnya Retta hanya diam dan mengikuti beberapa murid yang menuju kantin. Terimakasih kepada mereka yang telah menuntun Retta ke kantin ini, walau tidak secara terang-terangan. Setidaknya siang ini dia bisa makan siang.           Retta melirik pada hantu siswa yang duduk di sebelahnya itu. ia menyuapkan sesendok nasi goreng penuh hingga kedua pipinya mengembung lucu.           “Harus banget yak au mengikutiku sampai ke kanti?” tanya Retta pelan tanpa menoleh pada hantu itu. ia harus bertingkah senormal mungkin. Ia tak mau di hari pertamanya, dirinya sudah menjadi topic utama para murid-murid di sekolah ini. Apa jadinya jika mereka tahu bahwa dirinya adalah orang yang dapat melihat hantu. Membayangkannya saja sudah membuat Retta bergidik ngeri.           Hantu itu mengangguk menjawab pertanyaan Retta. Retta kembali melirik hantu itu dan mengangkat kedua alisnya tanda mengerti.           “Kau asli murid sini?” tanya Retta kembali dan hantu itu mengengguk untuk kedua kalinya.           Retta mengernyit bingung, “Kau bisu?” tuduh Retta.           Hantu itu menggeleng keras sembari menggerakkan tangannya.           “Lalu mengapa kau tidak bersuara?” tanya Retta.           Hantu itu membuka mulutnya. Retta melihatnya, di dalam mulut hantu itu terdapat banyak sekali belatung yang menunmpuk. Seketika Retta ingin memuntahkan makanannya. Perutnya serasa di acak dan di paksa untuk mengeluarkan makanan yang tadi sudah ia telan.           Retta menutup mulutnya dan berusaha sekuat mungkin agar tak memuntahkan makanannya. Ia meraih es teh nya dan meneguknya setengah. Beberapa murid yang memperhatikan gerak-gerik Retta berfikir mungkin saja nasi goreng yang Retta makan sangat pedas, hingga Retta menghabiska setengah es teh nya.           “Baiklah ku pikir, ada baiknya kau tidak berbicara. Lalu, bagaimana caranya kau berkomunikasi?”           Hantu itu menunjuk buku paket yang Retta bawa. Retta menatap bingung buku paketnya. Ia membuka buku nya asal dan menaruhnya di sampingnya. Hantu itu mulai menunjuk beberapa kata acak yang ada di buku itu dan Retta merangkainya. Ia mulai paham dengan cara komunikasi hantu ini.           oh jadi begitu-batin Retta sembari menganggukkan kepalanya tanda mengerti.           Untuk sebagian orang akan menilai Retta sebagai murid yang senang belajar. Di penglihatan mereka, Retta saat ini tampak seperti seorang murid teladan yang tengah belajar sembari makan. Mereka tidak tahu saja jika sejak tadi Retta asyik mengobrol dengan hantu di sebelahnya.           “Jadi, kau mati bagaimana? Di bunuh? Bunuh diri? Stress gara-gara ujian? Atau malah hamil di luar nikah?”           Bukan sekali dua kali ia bertemu dengan hantu. Sudah ada banyak jenis hantu yang ia temui. Salah satunya yang paling sering adalah hantu siswa yang ada di sekolah lamanya. Kebanyakan dari mereka yang matinya karena bunuh diri, di bunuh ataupun karena hamil di luar nikah. Tetapi kebanyakan dari mereka adalah stress berat karena tidak bisa menanggung malu karena ketahuan hamil di luar nikah, dna kebanyakan si pelaku yang tak lain adalah pacar mereka tidak mau bertanggung jawab dan play victim terhadap mereka.           Jari-jari itu kembali melayang di atas buku paketnya, menunjuk beberapa huruf untuk menjawab pertanyaan Retta.           “Di bunuh” eja Retta.           Baiklah, ini saatnya untuk say goodbye pada hantu ini. Percayalah, jika kematiannya itu adalah pembunuhan, maka Retta bersumpah untuk tidak akan ikut campur dalam urusan mereka. Terakhir kali ia membantu hantu yang di bunuh, malah dirinya yang hampir terbunuh. Itu adalah pengalaman yang sangat mengerikan bagi Retta. Bayangkan saja, dirinya hampir di tikam oleh teman seangkatannya sendiri karena telah membuka kasus pembunuhannya terhadap pacarnya. Beruntunglah waktu itu kakaknya datang dan menyelamatkannya. Pada akhirnya, siswa itu di bawa ke rehabilitas dan berada di sana selama 5 tahun lamanya. Lalu dirinya berakhir kembali tinggal bersama kakaknya selama satu bulan. Sungguh, Retta tak ingin mengalami kejadian yang sama untuk kedua kalinya.           “Jadi,  apa yang kau mau dariku?” tanya Retta           Setidaknya dia harus berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menolak untuk membantu hantu itu. akan sangat tidak sopan jika ia menolaknya lebih dulu.           Hantu itu hanya menggelengkan kepalanya pada Retta. Retta menatap curiga pada hantu itu. apakah ini trick yang dimainkan oleh hantu itu untuk menarik simpati dirinya? Jika iya, maaf saja, sejak awal Retta memang tidak bersimpati pada hantu ini.           Hantu itu menunjuk satu kata yang ada di buku itu.           ‘Teman’           Retta meringis, dirinya saja tidak memiliki teman manusia, lah ini malah memintanya untuk menjadi teman hantu ini. Apa ia harus mati terlebih dahulu baru setelahnya ia berteman dengan hantu ini? Begitu kah maksudnya?           “Bukannya aku tidak mau, tetapi aku tidak biasa diikuti kemanapun oleh hantu. Itu membuatku sangat risih.” Ucap Retta           Hantu ini memberengut sedih. Retta jadi gelagapan sendiri, ia tidak bermaksud kejam pada hantu itu. tetapi dirinya sendiri juga risih jika harus di buntuti kemana-mana oleh sosok tak kasat mata.           “Begini saja, bagaimana jika kau boleh mengikutiku hanya untuk di area sekolah saja. Selebihnya kau tidak boleh mengikutiku ke asrama dan juga ke rumah. Kau mau?” tawar Retta.           Secepat kilat hantu itu mengangguk dan tersenyum lebar. Retta akui senyum hantu itu sangat mengerikan, tetapi itu lebih baik dari pada wajah murungnya tadi. Retta tertawa kecil dan kembali fokus pada makan siangnya. Ia menutup bukunya dan menyimpannya kembali.           Jam istirahat itu ia habiskan untuk mengobrol bersama hantu perempuan yang ia kenal sebagai Cindy.           Di jam terakhirnya, kelasnya kosong. Ketua kelas mengumumkan jika guru yang mengajar sedang sakit dan hanya memberikan tugas untuk mereka. Retta menghela nafas lega, seharian ini otaknya di paksa untuk berfikir mengenai logaritma, rumus-rumus fisika dan juga berbagai macam cairan kimia yang ia tidak tahu kegunaannya apa. Dan kabar buruknya adalah, tidak ada satupun pelajaran yang di mengerti olehnya.           Beberapa murid perempuan menghampiri dirinya yang tengah menumpukan kepalanya pada kedua sikunya. Retta tahu gerombolan murid itu menghampirinya, tetapi ia berpura-pura tak mengetahuinya.           “Retta..” panggil seorang murid di antara mereka.           Retta mendongak dan tersenyum ramah pada gerombolan siswa itu. retta yakin, mereka adalah semua murid perempuan yang ada di kelasnya. Sedikitnya Retta gugup di hampiri oleh mereka semua. Rasanya seperti dirinya adalah tikus lemah yang tengah di kerumuni oleh beberapa kucing liar.           “Ya?” tanya Retta           “Senang berkenalan denganmu, aku Nadia. Ini teman sebangkuku, Rani.” Ucap Nadia. “Kau akan mengenal kami seiring berjalannya waktu.”           Retta mengangguk pelan pada Nadia dan menatap satu per satu murid perempuan itu.           “Oh, ngomong-ngomong, kau tidak duduk sendiri di sana. Teman sebangkumu tidak masuk hari ini. Katanya sih sakit.” Sahut siswi perempuan yang duduk di hadapannya. “Aku Resta, kau bisa memanggilku Rere.”           “Senang berkenalan denganmu. Ku pikir aku akan duduk sendiri di sini. Setidaknya itu lebih baik.” Kata Retta           “Aku hanya memperingatimu saja, teman sebangkumu itu… dia sedikit aneh. Terakdang di sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Yah, anak-anak di sini tidak terlalu akrab denganya.” Ucap Nadia.           Hal itu menimbulkan kerutan di kening Retta. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini, bisa jadi teman sebangkunya itu sama sepertinya. Well, itu malah lebih baik.           “Ahhh, dia benar aneh ternyata.” Retta mengusap lehernya palan.           “Jika kau tidak bisa bergaul dengannya, kau bisa bergabung dengan kami.” Ajak Nadia dengan senyum cerahnya.           Retta mengulas senyum manisnya, “Terimakasih, akan kupikirkan nanti. Lagipula aku masih belum bertemu dengannya. Tetapi terlepas dari itu, bukankah kita sudah menjadi teman sekelas?” tanya Retta           “Ah benar juga.” Jawab Nadia sekenanya.           Dalam sekali lihat Retta sudah dapat mengerti situasi di kelas ini. Sisiwa ini, Nadia, dia yang memimpin para murid perempuan dan juga sekaligus menjadi ketua geng di kelas ini. Mereka semua berkelompok, kecuali teman sebangkunya ini. Ia dapat menduga bahwa teman sebangkunya ini di asingkan oleh teman-temannya. Dan Retta berada di posisi tersulitnya sekarang.           Dia memang acuh dengan lingkungannya, bahkan di sekolah lamanya dulu ia hanya memiliki satu teman yang benar-benar bertahan dengannya. Ia tidak bisa berlaku seperti itu di sini. Jika ia bergabung dengan para murid ini, bisa di pastikan hari-harinya akan sangat membosankan dengan pembicaran para wanita dan juga rencana-rencana mereka di akhir pekan. Retta lebih suka menghabiskan waktunya sendiri.           Tetapi, jika ia memilih teman sebangkunya ini, sudah sangat jelas kalau ia akan bernasib sama dengan teman sebangkunya ini. Bahkan belum ada satu bulan ia di sini, tetapi ia sudah mengumpulkan setumpuk musuh. Oh itu tidak akan ia biarkan terjadi. Jadi, disinilah ke struggle an nya. baru hari pertama, tetapi rasanya sangat berat untuknya dna dia harus bertahan untuk 6 bulan ke depan. s**l sekali.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN