Bab 31

1078 Kata
Pagi ini Theo sudah menginjakkan kakiknya di Indonesia. Setelah beberapa hari bergelut dengan kertas dan beberapa klien pentingnya ia bersyukur karena bisa dengan selamat menapaki kakinya di tanah yang subur ini. Cuaca Jakarta masih sama panas dan lembap bahkan sekarang keringatnya sudah bermunculan di jidat lebarnya. Sekarang ia sedang berdiri di depan bandara menunggu Ayahnya menjemputnya. Katanya beliau akan datang lima belas menit lagi hanya saja sudah setengah jam dia menunggu di sini Bakti belum terlihat batang hidungnya. Apalagi dia membawa banyak barang, oleh-oleh untuk semua orang di rumah dan mainan Marvel yang tertinggal di rumah Singapura. “Lama ya? Ayah harus rapat dulu. Untung aja nggak telat satu jam,” ujar Bakti sambil membawa koper besar milik anaknya.  “Kamu bawa apa aja sih? Ke Singapur buat kerja kan bukan untuk liburan?” sambung Bakti protes dengan berat koper Theo yang melebihi berat koper Endang. Cewek kan kalau liburan kopernya selalu berat sampai-sampai Bakti selalu mengatai istrinya agar sekalian membawa lemari. Theo tergelak mendengar gerutuan dari ayahnya. Ini semua oleh-oleh untuk ibu dan Airin dan juga mainan yang tidak terbawa oleh anaknya. Dia juga membawa beberapa file penting yang akan aman jika ia simpan di rumah. “Kamu aja yang mengemudi. Ayah udah capek nyetir dari kantor ke bandara,” suruh Bakti sambil memberikan kunci mobil ketika sampai di samping mobil yang terparkir. Theo mengerutkan keningnya ketika melihat mobil Airin yang ayahnya pakai untuk menjemputnya. “Pakai mobil Airin? Mobil Ayah kenapa?” tanya Theo sambil membawa kunci mobil dari tangan Ayahnya dan langsung duduk di kursi kemudi. “Pagi-pagi mobil Ayah mogok terus di bawa ke bengkel. Makanya sekarang pakai mobil Airin.” Theo menyalakan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang, kadang kedua matanya melirik spion belakang untuk melihat apakah ada mobil di belakangnya. “Terus Airin kerja diantar sama Ayah?” “Iya, nanti malam Ayah yang jemput.” “Nggak usah biar Theo aja. Mending Ayah tidur dan istirahat.” Bakti mengangguk setuju. Usianya sudah tidak lagi muda dan ia butuh banyak istirahat. Tubuhnya cepat lelah jika terus bergerak bahkan ketika malam menjelang ia akan meminta Endang memijat kakinya yang terasa sangat pegal.  “Gimana kantor, aman kan?” Bakti melirik anaknya yang sedang fokus menyetir. Ia khawatir jika ada masalah serius yang menyebabkan Theo harus pergi ke Singapura. “Aman. Theo ke Singapur karena beberapa Klien ingin bertemu langsung dengan Theo. Mereka lebih percaya kita face to face daripada daring.” Bakti mengangguk mengerti, walaupun zaman sudah canggih akan tetapi sebagian manusia lebih memilih cara tradisional. Seperti ada sebagian klien yang memilih rapat secara daring dan ada juga yang ingin tatap muka.  “Jangan lupa istirahat Theo. Kalau kamu sakit Marvel akan berubah jadi rewel.” Bakti mengingatkan Theo agar tidak lupa istirahat, kesehatan lebih penting dari apa pun dan anehnya jika Theo sakit anaknya akan sangat rewel dan itu akan menyebabkan satu rumah pusing dibuatnya. “Ibunya Marvel apa kabar? Dia baik-baik saja kan?” Walaupun mantan istir Theo tidak suka kepada ia dan Endang namun, dia tetap ibu kandungnya Marvel dan mereka harus menjaga dia agar cucunya tidak kehilangan sosok ibu Theo tersenyum simpul. “Baik.” jawabnya singkat. Theo sangat senang kepada sikap kedua orangtuanya meskipun mantan istrinya sangat tidak baik dalam memperlakukan mereka berdua akan tetapi ayah dan ibunya selalu menyempatkan untuk menanyakan kabarnya atau mereka akan menasehatinya untuk menolongnya jika ibunya Marvel sedang dalam keadaan tidak baik. Marvel sangat senang melihat kepulangan Theo dan juga mainan yang dibawa oleh Daddynya. Dia juga langsung berceloteh tentang semua yang ia lalui ketika Daddynya tidak ada di sini. Endang pun senang karena diberi oleh-oleh tas mahal pesanannya. Dia sangat berterima kasih kepada anaknya karena telah mengabulkan keinginannya.  “Ayah dikasih apa sama Theo?” tanya Endang penasaran dengan barang yang diberkan oleh anaknya untuk Bakti dia akan protes jika suaminya mendapatkan barang yang lebih mahal darinya. “Masih mahalan punya Ibu,” jawab Ayahnya datar. Dia tahu tujuan istrinya bertanya seperti itu.  Theo yang memperhatikan keduanya hanya tersenyum simpul. Ibu dan Ayahnya seperti anak kecil yang saling membandingkan hadiah. Bahkan Marvel saja tidak pernah peduli dengan barang orang lain. “Yah, Bu. Theo tidur dulu ya. Kalau udah waktunya jemput Airin kasih tahu.” Theo beranjak dari duduknya dan memandang Marvel yang masih sibuk dengan mainannya. “Marvel mau tidur sama Daddy?” tanya Theo dan dijawab oleh gelengan kecil dari anaknya. Theo berjalan menaiki tangga dan dia menatap pintu kamar Airin dengan diam. Entah kenapa dia sangat rindu wanita itu, bahkan ketika ia tidur Airin ada dalam mimpinya. Dia menghela nafas apakah perasaanya ini benar? Kakak ipar boleh saja kan menaruh hati kepada adik iparnya sendiri? Untung saja dia tepat waktu menjemput Airin. Sebelum tidur dia memasang alarm dan membuatnya tidak telat datang ke kantor adik iparnya. Hari ini ia memakai topi dan kacamata bolong, dia menatap kaca belakang ketika melihat banyak karyawan yang keluar. Kedua matanya menatap Airin yang sedang mengobrol dengan laki-laki yang ia tahu bernama Revan. Kenapa wanita itu masih saja berhubungan dengan lelaki gila itu? “Eh! Kak Theo, jam berapa datang ke Indo? Kok langsung jemput aku sih?” Airin terkejut ketika membuka pintu yang menjemputnya adalah Theo. Bukannya dia masih berada di Singapura? “Tadi siang,” jawabnya. Airin tersenyum simpul dan terpaksa duduk di kursi depan, ia kira Bakti yang menjemputnya makanya dia langsung membuka pintu depan.  “Kak Theo bisa tolong aku?” “Tolong apa?” “Tolong anterin aku ke toko kue. Hari ini ulang tahun Mas Tendi dan biasanya aku beliin dia kue atau kalau aku lagi ada waktu luang suka buatin kue buat dia.” Theo tertegun mendengar perkataan Airin. Wanita itu masih belum bisa melupakan Tendi? Hampir enam bulan Tendi meninggalkan mereka semu dan Airin masih belum bisa merelakan adiknya.  Endang memandang sedih kepada Airin. Di meja makan kue itu diletakkan oleh menantunya di tengah dengan lilin yang menyala. “Aku boleh kan Bu merayakan ulang tahunnya Mas Tendi?” tanya Airin karena Endang terus saja berdiri di sampingnya. “Nggak papa dong sayang.” Airin tersenyum senang mendengar ucapan Endang dia kira mertuanya akan marah karena dia merayakan ulang tahun seseorang yang telah meninggal. Lalu kedua matanya ia pejamkan dan dengan segenap hati ia berdoa kepada Tuhan. Dia memohon agar Tendi bahagia di atas sana, di tempatkan di tempat paling indah. Selalu bahagia karena Airin tidak bisa membahagiakan suaminya yang sangat ia cintai. Tanpa Airin sadari ia menangis dengan kencang dan Theo melihat semua itu. **Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN