Bab 32

1057 Kata
Theo tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang. Sakit, pedih, sesak dan rasanya Tuhan sangat kejam kepadanya seperti dia satu-satunya makhluk yang sangat menderita di dunia ini. Bahkan ketika dia sudah merelakan semuanya demi orang yang paling ia cintai balasan yang ia terima sangat tidak menyenangkan. Tiga tahun lalu Theo merasakan dirinya berada di titik terendah dalam hidupnya. Dia sudah menyakiti perasaan ibunya demi wanita itu meninggalkan semuanya dan pergi ke Singapura agar wanita itu bahagia akan tetapi balasan yang ia berikan untuknya tidak sebanding dengan semua pengorbanannya. Jika tidak ada Marvel mungkin sekarang dia sudah di tempat Tendi berada, anak itu seperti kekuatan barunya yang membuatnya bertahan sampai saat ini. Theo menatap hampa kue ulangtahun yang tadi ia dan Airin beli. Ia memejamkan kedua matanya dan memohon agar Tendi ditempatkan di surga tempat paling indah untuk pulang. Ia tahu bahwa adiknya manusia paling baik di dunia ini bahkan untuk membunuh semut saja dia tidak tega. “Ibu kira Airin sudah bisa melupakan Tendi. Ternyata malah sebaliknya, Ibu harus apa biar dia bisa merelakan kematian Tendi?” ujar Endang yang sekarang sedang duduk sambil memandang nanar ke arah kue ulangtahun untuk Tendi. Dia senang jika Airin masih mengingat Tendi hanya saja tidak seperti ini. Dia tidak mau menantunya terjebak oleh bayangan anaknya sendiri. Theo memijat bahu Endang agar ibunya kembali tenang dan tidak terlalu memikirkan kejadian hari ini. “Airin masih butuh waktu Bu, Theo yakin lama-kelamaan dia bisa merelakan Tendi.” Airin sudah pergi ke kamarnya setelah menangis dengan puas di bawah. Untung saja Marvel sudah tertidur di kamar wanita itu dan tidak menimbulkan pertanyaan di benak anak itu kenapa tantenya menangis hebat seperti tadi. “Ibu takut Airin nggak bisa melupakan Tendi.” Endang masih ketakutan dengan sikap Airin yang masih terbayang-bayang sosok Tendi, jika seperti ini terus apakah Airin bisa menikah dengan orang lain? “Airin pasti bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Ibu sekarang mending tidur dan istirahat di dalam kamar,” ucap Bakti sambil merangkul bahu istrinya agar berdiri dan berjalan menuju kamar mereka. Theo membiarkan keduanya pergi ke kamar dan ia kembali menatap kue ulang tahun itu. Tendi memang sangat beruntung mendapatkan istri seperti Airin. Wanita itu sangat setia bahkan ketika suaminya sudah meninggalpun dia masih terus mengingatnya. Berbeda dengan mantan istrinya dulu yang selingkuh dan memilih hidup bersama dengan orang lain. “Theo! Kamu pagi ini ada rapatkan cepat bangun,” teriak Endang dari bawah dan suara kerasnya sampai ke kuping Theo yang sedang tidur di kamarnya. Theo menggeliat dan menutup kedua telinganya karena suara keras dari ibunya sendiri. Dari ia kecil suara itu yang bisa membangunkan tidurnya daripada suara alarm gadgetnya sendiri. “Theo udah bangun Bu!” jawabnya sambil berjalan ke bawah menuju ibunya. Endang sedang sibuk memasak tangannya sibuk mengaduk sayur yang ada di panci dan satunya lagi sibuk menambahkan bumbu penyedap. “Udah mandi belum. Kamu mau antar Airin dulu kan?” “Mau makan dulu aja,” ucapnya sambil duduk di kursi mengabaikan ejekan ibunya yang mengatainya jorok. Kemarin malam dia tidak sempat makan karena tangisan Airin makanya sekarang perutnya keroncongan minta untuk diisi makanan. “Ayah jorok nggak gosok gigi dulu,” sahut Marvel yang ada di belakangnya. Dia naik ke kursi dan duduk dengan tenang di sampingnya ada Airin yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Kemeja polos berwarna biru, celana panjang berwarna hitam tidak lupa rambut yang diikat menjadi satu yang sukses memamerkan leher putihnya. Sedangkan Theo masih setia dengan baju tidurnya. Ia berdeham kemudian melanjutkan makannya. “Daddy udah gosok gigi cuma belum mandi aja.” “Airin kamu aku yang antar ya? Sekalian mau beli komputer baru,” sambung Theo yang diangguki oleh Airin tanda setuju. Semejak ada Theo Airin jarang menyetir teman-temannya juga mengatakan bahwa dia sangat beruntung mendapatkan kakak ipar super baik seperti Theo yang dnegan senang hati mengantar adik iparnya bekerja. Setelah sampai di depan kantor Airin mengucapkan terima kasih dan membuka pintu mobil. Marvel tidak ikut karena dia harus berangkat ke sekolah barunya bersama Endang. “Airin,” teriak Revan ketika melihat Airin berjalan menuju pintu masuk. Airin berbalik dan menunggu Revan agar menyusulnya. “Nggak bawa mobil lagi?” tanya Revan setelah berada di sampingnya. Airin menggelengkan kepalanya dan jawaban itu sukses membuat lelaki itu merasa terbakar oleh api cemburu. Siapa lagi yang mengantar Airin kalau bukan Theo dan itu membuatnya tidak senang. “Kenapa nggak bareng sama gue? Padahal gue nggak keberatan kalau lo minta bareng.” Airin dan Revan masuk ke dalam lift yang isinya hanya mereka berdua. Laki-laki itu langsung menekan tombol lantai divisi keuangan dan kembali berdiri dengan tegak. “Kapan-kapan ya.” Revan mengangguk senang hanya saja penciumannya sangat terganggu dengan wangi parfum yang dipakai oleh Airin. “Kamu sekarang pakai parfum laki-laki?” Airin mengerutkan keningnya dan mencium lengan bajunya. “Kecium ya? Padahal cuma sedikit.” “Pakai parfum Tendi?” Revan sangat penasaran dan dia tidak mau jika Airin dengan tidak sengaja memakai parfum Theo. Airin menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan memakai parfum Tendi karena suaminya tidak pernah mengoleksi parfum, jika terpaksa suaminya akan memakai parfum miliknya. “Punya Kak Theo, parfum aku habis.” Revan membisu. Seberapa dekat mereka di rumah? Sampai Airin berani meminta parfum milik kakak iparnya sendiri. Kenapa bukan punya Endang atau Bakti? Kenapa harus punya Theo? “Padahal kamu nggak punya bau badan. Kenapa harus pakai punya Kak Theo sih?” Keduanya berjalan keluar ketika pintu lift terbuka. “Terserah aku dong. Kenapa kamu jadi marahin aku?” “Nggak marah Airin, cuma tanya aja kenapa kamu pakai parfum Theo. Ibu Endang dan Pak Bakti juga punya parfum kan? Kenapa nggak pinjam ke mereka?” “Terserah aku dong! Kenapa kamu jadi cerewet kayak gini sih?” Airin meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di kursinya sambil menyalakan komputernya. Revan membisu dan dia hanya diam sambil memandang Airin. Ini sudah keterlaluan bagaimana bisa mereka bertukar parfum seperti ini. Dia tidak boleh kehilangan wanita itu lagi. “Mau aku belikan parfum?” Mendengar pertanyaan Revan membuat Airin memandang cowok itu dengan tatapan kesal. Kenapa Revan kembali membuatnya marah seperti ini. Dia masih mempunyai uang dan tidak perlu sumbangan dari sahabatnya itu. “Nggak. Makasih,” Jawabnya dingin lalu berdiri meninggalkan Revan di sana. Lelaki itu hanya membisu dan menatap Airin dalam diam sepertinya wanita itu membutuhkan kopi hangat yang bisa membuat kepalanya kembali membaik seperti semula. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN