Bab 33

1086 Kata
Keadaan rumah ini sangat sepi, hening dan hana Theo yang ada di sini. Semuanya sibuk dengan aktivitas masing-masing termasuk anaknya yang sekarang sudah mulai masuk sekolah anak-anak. Sebenarnya tidak ada yang memaksa Marvel untuk belajar di sekolah itu akan tetapi dia yang memintanya kepada Endang. Semua orang kagum melihat permintaan anak itu yang berbeda dari anak seusianya bahkan anak itu selalu bangun sendiri tidak seperti ayahnya yang selalu dibangunkan oleh Ibunya. “Feronika kamu atur ulang lagi jadwal saya, sepertinya saya bulan depan tidak bisa ke Singapura. Perbanyak rapat lewat Zoom saja tolak jika ada yang ingin bertemu saya. Jika ada masalah keuangan kamu bisa hubungi saya kapan pun jangan pernah sembunyikan apa pun dari saya,” jelas Theo kepada asistennya. Gadis yang ada di layar laptopnya mengangguk patuh. “Pak, kemarin ada Bu Libna dia menanyakan kapan Pak Theo pulang. Saya jawab saja tidak tahu dan katanya dia akan ke sini lagi untuk menanyakan hal itu lagi,” lapor Feronika tentang kejadian mantan istri Theo yang datang ke kantor ini. “Kamu bilang saja saya lagi dinas ke luar negeri dan membutuhkan waktu lama. Jika ada sesuatu dan hal mendesak suruh hubungi kamu saja. Jika dia meminta uang pakai uang kamu dulu Fer, nanti saya ganti.” Feronika mengangguk paham, lima tahun bekerja dengan Theo membuatnya tahu semua kisah atasannya itu. Bahkan permasalahan mantan istrinya dengan ibu bosnya pun dia tahu jika dia sedang berada di Indonesia ia akan menyempatkan untuk datang ke rumah Endang untuk menyapanya. Ia juga mengenal Airin dan Tendi dan dia sedih ketika mendengar jika Tendi meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat. “Senin depan ada tes wawancara untuk karyawan di divisi marketing. Pak Theo mau ikut serta? Jika iya saya akan memberitahukan kepada HRD.” “Bisa, kapan waktunya?” “Jam sembilan menurut waktu Indonesia,” jawabnya sambil menulis jadwal Theo di buku agendanya. “Besok juga saya mau izin Pak. Boleh Pak?” Besok Feronika tidak bisa masuk kerja karena harus mempersiapkan pernikahannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Theo tersenyum simpul. “Udah berapa persen Fer persiapan pernikahan kamu?” “lima puluh persen Pak. Untungnya suami saya juga ikut andil dalam persiapan pernikahan kita.” Theo mengangguk paham, tidak mudah mempersiapkan pernikahan sendirian walaupun sekarang sudah ada jasa persiapan pernikahan tetap saja bantuan dari calon suami sangan dibutuh kan. “Untuk acara akhir tahun kamu suruh semua kepala divisi untuk merancang dana yang diperlukan. Saya beri waktu sebulan lalu kita adakan rapat, seperti biasa rapatnya secara zoom saja.” “Semua karyawan harus ikut, boleh bawa keluarga dan biayanya semuanya ditanggungg oleh perusahaan.” Feronika kembali mencatatnya. Setiap akhir tahun memang selalu ada liburan seperti ini tahun kemarin kita semua pergi ke Korea dan seluruh biaya ditanggung oleh perusahaan. Maka dari itu banyak sekali karyawan yang memilih untuk tetap kerja di sini contohnya Feronika. “Baik Pak.” Theo memandang jam yang ada di laptopnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan itu waktunya ia menjemput Airin. “Fer, besok disambung lagi ya. Saya mau ada urusan dulu.” “Siap Pak.” Kemudian layar laptop berubah menjadi wallpaper Marvel yang sedang bermain salju. Ia mematikannya dan lekas keluar dari kamar. Theo mengambil jaket berwarna hitam miliknya yang diletakkan di sofa ruang tamu dan keluar. Kedua matanya membulat ketika melihat Airin ada di hadapannya bersama dengan Revan. Lelaki itu tersenyum miring kepadanya seperti mengejeknya karena tidak bisa menjemput Airin seperti biasa. “Kenapa pulangnya sore Rin? Maaf ya jadi nggak bisa jemput kamu,” ucap Theo mereka bertiga berdiri di depan rumah seperti patung selamat datang. “Lagi nggak banyak kerjaan Kak,” jawabnya sambil tersenyum simpul kepada Theo. Airin membawa tas belanja miliknya yang ada di tangan Revan dan membuat Theo yang melihat itu terheran-heran. Mereka berdua jalan bareng? “Kamu pulang aja Van. Makasih ya,” sambung Airin dan dibalas senyum manis dari Revan yang membuat Theo ingin muntah melihatnya. “Gue pulang ya Rin. Kapan-kapan kita ke Mall bareng ya.” Perkataan Revan sukses membuat Theo memasang wajah datar. Dia senang sekali bisa menunjukkan kepada kakak dari sahabatnya itu bahwa ia masih mempunyai kesempatan untuk merebut Airin darinya. Revan menjauh dari mereka berdua dan segera masuk ke dalam mobilnya, sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu ia membunyikan klakson tanda izin pulang. “Tadi ke mall berdua sama Revan?” tanya Theo sebenarnya dia tidak ingin menanyakan hal ini kepada wanita itu hanya saja rasa penasaran yang ia miliki jauh lebih kuat. Airin mengangguk. “Setiap hari Revan selalu ngoceh pengen diantar ke Mall kadang dia maksa banget ingin makan berdua. Makanya karena hari ini nggak pulang malam jadi aku terima ajakannya,” ucap wanita itu sambil masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah sangat sepi dan membuat kedua halisnya bertaut. “Marvel, ibu dan ayah kemana kak? Kok nggak ada?” “Lagi ke saudara, sebentar lagi mereka pulang,” jawabnya singkat padat dan jelas dia kesal karena Airin malah membuat Revan berharap bahwa cintanya akan dibalas oleh wanita itu. Airin pun berjalan menuju kamarnya yang ada di atas meninggalkan Theo sendirian di bawah sana. Ada apa dengan kakak iparnya itu? Seperti ada yang aneh dengannya. Apakah karena di tinggal sendirian makanya jadi seperti itu? Theo memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu sambil memejamkan kedua matanya. Rasanya dia tidak rela melihat Airin jalan dengan lelaki lain. Membayangkan mereka berduaan di dalam mobil pun membuat hati Theo terasa sesak. Jika orang itu bukan Revan dia tidak akan merasakan sesak seperti ini dia juga bukan laki-laki posesif atau punya obsesi lebih kepada adik iparnya itu. “Kak Theo sudah makan?” tanya Airin yang sekarang turun menuju dapur. Theo terbangun dari lamunannya dan membalikkan badan kemudian manatap Airin yang sekarang memakai pakaian berwarna pink yang membuatnya terlihat manis. Dia terpukau dengan kecantikannya dan membuatnya betah memandang lebih lama ke arah wanita itu. “Belum kamu udah?” tanya balik Theo sambil berjalan menuju dapur. Dia berdiri di belakang Airin yang sedang menyiapkan makanan untuknya dan dirinya. Hembusan nafas Theo sangat terasa di kulit lehernya, bahkan bulu halus tubuhnya meremang karena menerima terpaan panas itu. Airin terdiam dan memegang piring yang ada di hadapannya dengan erat. “Kamu dan Revan ada hubungan spesial?” tanya Theo dengan suara kecil yang hanya bisa didengar oleh dia dan wanita itu. Airin tertegun bahkan bibirnya terasa kelu merasakan kedekatan mereka yang berbeda dari biasanya. Kenapa Theo melakukan hal ini? Dia merasakan ketakutan yang hebat ketika merasakan sentuhan di pinggangnya. “Kak Theo!” jerit Airin kemudian berbalik dan mendorong Theo menjauh. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN