Bab 34

1063 Kata
Seseorang akan menyesali perbuatannya ketika sudah melakukan perbuatan yang salah. Baru kemarin Theo dan Marvel membahas hal ini, karena anak itu tidak sengaja menonton televisi tentang drama pernikahan, suami menyesal berselingkuh dan berakhir dengan menyakiti sang istri lalu sang suami terus mengatakan menyesali semua perbuatannya dan Marvel penasaran apa arti kata menyesal. Theo sampai mencari di KBBI karena dia takut salah dalam menjelaskannya, lalu menurut KBBI adalah merasa tidak senang karena telah melakukan sesuatu yang kurang baik. Dia menyampaikannya dengan sangat jelas hanya saja dia tertegun ketika anak itu mengatakan. “Kenapa sudah tahu salah tapi masih dilakukan Daddy? Marvel juga nggak ngompol, nggak buang air besar sembarangan, selalu mengerjakan tugas dari Miss Susan. Marvel nggak mau Daddy sedih karena harus mencuci seprai yang bau dan ditegur Miss Susah disebabkan oleh Marvel yang nggak mengerjakan tugas.” Theo mengingat perkataan itu yang berhasil membuatnya tersadar jika dia sudah melakukan sesuatu yang tidak baik dan menyebabkan renggangnya hubungan ia dengan Airin. Ia mengacak rambutnya karena telah menyesali perbuatannya yang sudah mengecewakan wanita itu. “Daddy Marvel pulang! Tante Airin!” Theo menganggkat kepalanya setelah mendengar teriakan dari anaknya. Ayah, Ibu dan anaknya sudah pulang. Dia segera keluar dan memasang senyum simpul untuk menyambut mereka bertiga. Melihat Theo Marvel langsung memeluknya dengan erat dan tidak lupa mencium pipi Daddynya. “Tante Airin sudah pulang ya Daddy? Sekarang dia ada di mana?” Theo terseyum simpul dan menurunkan anaknya dari gendongannya. “Ada di kamar, lagi istirahat. Malam ini Marvel tidur sama Daddy ya. Tadi Daddy habis nonton film horror dan sekarang masih kebayang muka seram hantunya. Please,” ujarnya sambil memasang wajah memohon. Marvel mendengus kesal dan menganggukkan kepalanya. “Padahal hantu itu nggak ada Dad, sejak kapan sih Daddy suka noton film?” Endang menatap heran kepada Theo, anaknya itu seperti melarang Marvel untuk tidur bersama dengan Airin. Dia sangat tahu jika anaknya itu tidak pernah takut terhadap hantu bahkan waktu itu pernah dia melihat Theo yang sedang menonton film horror di saat jam dua belas malam. Ada apa dengan mereka berdua? “Ibu! Sarung Ayah kok nggak ada?” teriakan dari Bakti membuatnya melupakan keinginannya untuk menyusul Theo dan menanyakan alasannya kenapa melarang Marvel untuk tidur bersama dengan Airin. “Ada di lemari Yah! Ayah kebiasaan kalau cari barang suka nggak ketemu!” Airin menggulung badannya di dalam selimut, ia masih kaget dengan perlakuan Theo kepadanya. Ada apa dengan kakak iparnya? Kenapa sikapnya berubah seperti itu? Sebenarnya Airin sudah mendengar suara Marvel dan dia akan mencoba bersikap tenang dan melupakan kejadian tadi. Bisa sajakan Theo tidak sengaja melakukannya? Akan tetapi ia kaget ketika tidak mendapatkan anak itu masuk ke kamarnya. Tidak mungkinkan Theo melarang Marvel untuk tidur bersama dengannya? Airin menggelengkan kepalanya. Bisa saja anak itu ingin tidur bersama dengan Daddynya karena sudah lama mereka tidak tidur bersama semenjak tinggal di sini. Airin pun menutup mata dan berharap semuanya kembali seperti semula. Pagi sekali Theo sudah terbang meninggalkan Indonesia. Dia tidak sanggup melihat tatapan takut dari wajah wanita itu. Hari ini dia tidak sendirian, dia membawa Marvel ia tidak mau anak itu ketergantungan oleh sosok Airin. “Daddy, kita cuma liburankan? Besok kita pulang lagi ke rumah nenekkan?” Sepanjang jalan menuju kantor Theo Marvel terus saja mengulang pertanyaan itu. “Iya sayang, kita cuma liburan. Minggu depan kita pulang ke Indonesia. Marvelkan harus sekolah.” Marvel tersenyum simpul dan kembali memainkan ponsel yang ada di kedua tangannya. Sebelum matahari muncul Theo sudah mengajak Marvel untuk terbang ke Singapura. Untung saja Endang bangun pagi dan bisa melihat putranya membawa koper besar dan beserta Marvel, sebelum mereka terbang ke sini ibunya menginterogasinya terlebih dahulu. Mengingat hal itu Theo hanya menghela nafas kesal dan kembali berjalan menuju lift. Feronika sudah ada di dalam dan ia tersenyum simpul melihat kedatangannya dan Marvel. “Rapatnya nggak jadi online Pak?” Theo menggelengkan kepalanya. “Tetap online Fer.” Feronika mengangguk paham. Sepertinya Bossnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Terbukti dengan mengajak Marvel ke sini biasanya anak itu akan ditinggal di apartemen atau penitipan anak. “Kapan mereka berangkatnya Bu? Kok Airin nggak tahu?” Sedari pagi Airin heran dengan suasana hening di rumah ini, biasanya Endang akan mengeluarkan suara tingginya untuk membangunkan Theo. “Ada rapat penting, dan nggak bisa ditunda makanya mereka subuh-subuh sudah ke bandara. Maaf ya nggak sempat kasih tahu kamu Rin,” Endang tentu saja berbohong ia sudah tahu kenapa anaknya berubah seperti itu. “Kenapa ajak Marvel? Bulan kemarin Kak Theo sendirian ke sana.” Endang terdiam, kemudian ia melirik ke arah Bakti yang sedang fokus memakan makanannya. Untungnya suaminya peka dan menatap Airin sambil tersenyum. “Maminya Marvel pengen ketemu sama dia Rin, dan anaknya juga mau makanya dia ajak Marvel ke Singapur.” “Tapi mereka nggak akan selamanya tinggal di sanakan Yah?” Bakti menggelengkan kepalanya meskipun tidak tahu apakah Theo akan kembali ke sini atau tidak. Ia juga tidak tahu masalah apa yang tengah menimpa anak itu. Waktu itu setelah Theo kembali dari Singapur anaknya itu mengatakan tidak ada masalah apa pun dan kenapa sekarang dia seperti terkena banyak masalah? Airin menghela nafas dan kembali memakan nasi goreng miliknya. Kenapa firasatnya mengatakan jika Theo sedang menghindarinya? Apakah karena kejadian kemarin? Theo memandang langit biru yang sangat cantik dia sedang berdiri di hadapan kaca besar yang menampilkan keindahan Singapura. Dia masih memikirkan tindakannya yang kurang ajar kepada wanita itu. Dia sangat menyesal dan ingin sekali meminta maaf hanya saja dia tidak mau membuat wanita itu takut dan kembali menjauhinya. “Daddy, Marvel nggak betah di sini. Aku mau pulang ke Indonesia,” ujar Marvel sambil memadang Theo dengan tatapan memohon. Theo tersenyum simpul dan menggendong anaknya. “Kenapa Marvel ingin sekali pulang ke Indonesia? Marvel rumahnya di sini waktu kecil juga Marvel dilahirinnya di sini.” Marvel menggelengkan kepalanya. “Di sini nggak ada Nenek, Kakek dan Tante Airin.” “Kenapa Marvel sangat suka kepada Tante Airin?” Mendengar nama tante kesayangannya di sebut Marvel memasang wajah bahagia. Dia tersenyum lebar. “Karena Tante Airin mau bacain dongeng buat Marvel, mandiin Marvel, bantu Marvel pakai baju dan kadang sebelum tidur kita doa bersama. Kalau sama Daddykan nggak bisa kayak gitu. Marvel ingin sekali punya Ibu kayak Tante Airin.” Entah mengapa mendengar perkataan Marvel membuatnya kembali bersemangat untuk mendapatkan hati Airin. Sepulang dari sini ia akan meminta maaf dan dengan sabar memperlihatkan cintanya kepada wanita itu. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN