Bab 35

1081 Kata
Smangatnya terkuras habis ketika mendengar Theo membawa Marvel ke Singapura. Mendadak sekali bahkan perginya pun pagi sekali ketika Airin masih tertidur. Apakah ini ada kaitannya dengan kejadia kemarin? Dia sudah membaik dan tidak pernah memikirkan kejadian itu. Apakah dia harus mengatakan kepada kakak iparnya itu bahwa dia telah melupakan kejadian kemarin? “Rin!” tegur Revan dan membuat wanita itu terperanjat kaget. Airin kembali mengerjakan daftar barang yang tadi dikirimkan oleh Pak Ahmad kepadanya. Dia ditugaskan untuk menyamakan nama-nama barang yang ada di layar laptonya dengan laporan yang baru saja dia terima dari pihak gudang barang. Untung saja Revan menyadarkannya dari lamunannya jika tidak bisa gawat ia akan melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas ini. “Lo lagi mikirin apa sih Rin? Tugas itu nggak susah kan?” tanya Revan sambil menatap Airin yang sedang fokus di hadapannya. Ia menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali membaca daftar barang yang ada di selembar kertas. “Lumayang pusing lah ini,” keluhnya kepada Revan. Sepertinya hari ini ia akan lembur karena setelah ini dia kembali mengerjakan laporan harian. “Mau aku bantu?” “Trims, sayangnya otak gue masih mampu buat ngerjain ini.” Lelaki itu tergelak dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah ini ia akan mengajak wanita itu minum kopi di bawah, ia juga merasa pening terus-menerus menatap laptop seperti ini. “Daddy, kenapa sekarang kita malah melamun di sini?” tanya Marvel kepada Daddynya sekarang mereka sedang berada di kantin kantor yang terletak di lantai bawah. Beberapa karyawan menatap Marvel dengan pandangan gemas karena anak itu terlihat sangat lucu dengan kaos merah bergambar Spiderman. “Kita pulang saja ke Indonesia. Marvel kangen sekali kepada Tante Airin,” sambung anak itu dan membuat Theo menatap lekat kepadanya. Meskipun sekarang hatinya ingin sekali pergi ke tempat Airin berada hanya saja ia masih memikirkan kejadian yang ia lakukan di dapur kemarin. Apakah wanita itu sekarang merasa tenang karena ia tidak ada? Jika benar Theo akan tetap berada di sini tanpa berharap bisa bertemu dengan wanita itu lagi. “Ayah lagi berantem ya sama Tante Airin? Kok sama kayak Marvel dan Mami sih?” Perkataan Marvel hanya dibalas oleh tatapan tidak percaya dari Daddynya. Kenapa anak itu bisa menebak apa yang ia pikirkan? “Marvel nggak kangen Mami? Daddy bisa loh hubungi Mami agar menemui Marvel. Mau?” Teringat kepada mantan istrinya membuat Theo menawarkan kepada anaknya untuk bertemu dengan maminya itu. Hanya saja anaknya dan mantan istrinya tidak terlalu dekat, bahkan anak itu jika tidak Theo yang menyuruhnya bertemu dengannya mungkin sampai sekarang mereka tidak akan berjumpa. “Nggak.” Marvel menggelengkan kepalanya. “Mami udah punya anak baru, jadi Marvel nggak dibutuhin.” “Adiknya Marvelkan masih kecil, makan sendiri aja nggak bisa. Makanya Mami lebih perhatian kepada adiknya Marvel. Namanya siapa sih? Daddy belum tahu nama adiknya Marvel.” Marvel menganggkat bahunya. “Nggak tahu, tanya aja ke Mami.” Theo terdiam dan mengusap rambut anaknya dengan lembut. “Marvel harus tetap sopan jika di hadapan Mami ya, jangan pernah buat Mami sedih karena Mamikan orang yang telah berjuang melahirkan Marvel. Nenek Endang juga pernah cerita bagaimana Mami berjuang dengan penuh semangat melahirkan Marvel.” Marvel mengangguk, mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Daddynya. “Namanya Tiger, artinya harimau.” “Rin, kantin bareng kuy,” ajak Revan ketika istirahat tiba. Airin masih sibuk dengan ponsel pintarnya dan membut laki-laki itu kesal dibuatnya. “Duluan aja. Gue mau Video call sama Marvel.” Lelaki itu memutuskan untuk duduk ketika mendengar nama Marvel tersebut. Ia menjadi penasaran apalagi setelah kemarin ia melihat wajah tidak suka yang di pasang oleh Theo karena ia mengantar Airin pulang. “Marvel ada di rumah lo kan?” Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Lagi di Singapur. Pagi banget mereka berdua terbang ke sana.” Revan tersenyum miring. Rencananya berjalan lancar untuk membuat duda anak satu itu menjaga jarak dari Airin. “Gue duluan ya,” ujarnya kepada wanita itu. Ia sangat senang hari ini karena satu saingannya sudah menyerah. Airin tersenyum lebar melihat Marvel di layar ponselnya, sekarang anak itu sedang duduk yang ia tebak di kantin karena dia bisa melihat ada beberapa orang yang sedang makan di belakang anak itu. “Marvel, kapan pulang?” pertanyaan pertama yang ia sebutkan adalah kapan anak itu pulang, rumah terasa sepi tanpa kehadiran keponakannya. “Besok Tante. Tante mau jemput Marvel?” “Mau dong.” Airin tersenyum lebar ketika mengetahui jika besok Marvel akan pulang. Tentu saja ia akan menjemput anak itu bahkan sepertinya dia akan meminta izin kepada Pak Ahmad. “Marvel di sana sama siapa?” tanya Airin heran karena hanya melihat Marvel seorang diri tanpa adanya Theo di sampingnya. Laki-laki itu memang gegabah membiarkan anak kecil sendirian di kantin, meskkipun itu di dalam kantor jika ada yang berniat jahat bisa saja kan Marvel tiba-tiba diculik. “Ada di depan Marvel. Tante sama Daddy sedang berantem ya?” Airin membisu mendengar perkataan Marvel. Dia tentu saja langsung menggelengkan kepalanya. “Nggak Marvel. Kita berdua nggan berantem. Benarkan Kak Theo?” Theo yang ada di hadapan Marvel lantas mengeluarkan suara dan membenarkan bahwa mereka berdua tidak ada masalah apa pun. Dia juga tersenyum kikuk ketika kamera ponsel yang ada di tangan anaknya itu di arahkan kepadanya. “Kamera belakang,” ucap Marvel dan membuat Theo membisu. “Hai Airin.” Ia bingung tidak ada kata-kata yang ingin ia ucapkan selain permintaan maaf. Hanya saja di sini ada anaknya dan jika ia langsung meminta maaf Marvel akan berpikiran bahwa mereka berdua benar-benar ada masalah. “Dad, Marvel mau ke toilet dulu,” ujar Marvel lantas berlari ke toilet. Anak itu sudah hapal seluruh ruangan yang ada di kantor ini. Theo dan Airin terdiam, mereka malah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Theo harus meminta maaf mereka tidak bisa merasa canggung seperti ini terus, apalagi besok ia akan kembali ke Indonesia. “Airin, kakak minta maaf ya atas kejadian tadi. Kakak janji nggak akan mengulanginya.” Akhirnya Theo merasa lega karena bisa mengucapkan kalimat itu. “Iya Kak, aku juga tahu Kak Theo nggak akan seperti itu lagi,” jawab Airin dan membuat lelaki di hadapannya merasa lega dibuatnya. “Kak Theo ke Singapur bukan karena kejadian itu kan?” Theo membisu, dia lantas menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkinkan mengatakan bahwa ia kabur setelah melakukan hal tidak menyenangkan kepada wanita itu. Jika mengatakan yang sejujurnya dia seperti lelaki yang tidak bertanggungjawab. “Iya.” Theo lantas tergelak. Dia lebih tidak bertanggungjawab ketika berbohong kepada Airin. “Takut kamu marah makanya langsung kabur ke sini.” **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN