Bab 36

1061 Kata
Semangat yang tadi hilang kembali lagi setelah selesai berbincang dengan Marvel. Apalagi masalah ia dan Theo sudah terselesaikan. Gadis itu memesan es Americano dengan wajah ceria. Mengabaikan pandangan Revan yang terus saja memperhatikannya. Suasana kantin begitu ramai, kebanyakan memilih untuk berkumpul dengan rekan satu divisi berbagi keluh kesah bahkan ada yang menggosipkan divisi lain. Setelah es Americanonya jadi ia berjalan ke bagian sudut kantin dan duduk di sana. Sambil menikmati waktu istirahatnya ia ingin berkirim pesan dengan keponakannya. Marvel selalu bersemangat ketika menceritakan negara kelahirannya. “Parah lo, dari tadi gue suruh lo duduk sama gue lo malah milih duduk di sini.” Revan mendudukkan pantatnya di kursi yang persis berada di hadapan wanita itu. “Terserah gue, di sana terlalu rame,” jawab Airin sambil kembali mengetikkan pesan untuk Marvel. Kedua mata Revan menatap ke arah ponsel yang ada di tangan wanita itu. Dia merasa cemburu ketika wanita itu lebih memilih memperhatikan benda mati itu daripada dirinya. “Chat sama siapa? Kayaknya seru.” Laki-laki itu menatap wanita itu dengan tatapan murung. Apakah ada musuh lain selain Theo? Airin memalingkan wajahnya dari ponsel dan menatap Revan. “Marvel lagi cerita tentang Singapura dan sekarang lagi membandingkannya sama Indonesia. Ngakak banget tahu baca pesannya.” “Masa? Bukannya Marvel masih empat tahun? Nggak mungkin dia bisa kirim pesan sendiri. Pasti itu Theo yang ajarin.” “Marvel bisa baca kok, dan gaya Bahasa di pesan ini persis seperti gaya bicara Marvel. Nggak mungkin Theo sendiri yang kirim pesan ini.” Revan terdiam kemudian tangan kanannya mengaduk-aduk minuman itu dengan perasaan sebal. Dia tidak tahu wanita itu sudah sedekat itu dengan Marvel, bisa bahaya jika mereka terus-menerus berdekatan. Bisa saja kan anak itu mempengaruhi Airin untuk bersedia menjadi ibu sambungnya? “Mereka kapan pulang dari Singapur? Masih lama?” tanya Revan ia berharap kedua penghalangnya itu tetap tinggal di sana dan semoga tidak pulang ke Indonesia. “Besok juga pulang. Sebelum pulang gue mau minta izin ke Pak Ahmad, kira-kira dia kasih izin nggak ya? Kayaknya hari ini gue akan libur buat kerjain laporan, biar Pak Ahmad nggak ngamuk,” ujar Airin sambil meminum es Americano di hadapannya. “Kenapa harus izin? Bukannya besok ada rapat penting?” Mendengar hal itu wanita itu memasang wajah serius. “Bohong, nggak ada rapat. Buktinya Pak Ahmad nggak bilang ke gue. Lo lupa gue asistennya dia jadi sebelum lo tahu gue akan tahu duluan.” Revan berdecak kesal dan meninggalkan Airin di sana sendirian. Luna yang sedari tadi mengamati keduanya berdiri dan mengikuti lelaki itu ketika melihat Revan keluar dari kantin. “Kak Revan!” teriak Luna dan membuat lelaki itu berbalik ke belakang. “Apa?” tanya Revan dengan tatapan kesalnya. Kenapa Luna selalu hadir ketika ia kesal? Luna tersenyum simpul sambil memegang kedua tangannya. “Aku masak sesuatu loh buat Kak Revan. Please cobain ya? Makannya di taman belakang aja biar kak Airin nggak tahu.” Lelaki itu ingin sekali menolak tawaran itu hanya saja dia tidak tega setelah menatap wajah memohon dari juniornya itu. “Gue nggak janji bakal habisin ya,” ujarnya sambil berjalan di depan gadis itu. Luna tersenyum senang dan berlari mensejajarkan langkahnya dengan langkah Revan. “Dijamin enak.” “Dad, bisa nggak Tante Airin jadi ibunya Marvel? Teman-teman Marvel banyak yang punya ibu dua,” ujar Marvel sambil menarik selimutnya sampai menutupi badanya hingga dadanya. “Kamu kalau di hadapan Tante Airin jangan bertanya seperti ini ya? Cukup ke Daddy aja. Doain aja semoga Daddy berjodoh sama Tante Airin,” jawab Theo dia tidak menyangka Marvel mengatakan keinginan semacam ini, jika anaknya mengatakan hal itu kepada Airin bisa di pastikan hubungan mereka akan kembali canggung seperti sebelumnya. Lelaki itu kaget ketika Marvel menatap ke atas sambil mengangkat kedua tangannya, meminta kepada Tuhan agar mengabulkan keinginnya. “Ya Allah semoga Tante Airin bisa jadi Ibu Marvel. Jadi kalau kita berdua ke Singapur aku bisa ajak Tante Airin ke sini. Amiin.” Di dalam hati Theo dia mengaminkan doa anaknya itu. Semoga saja keinginan dia dan anaknya bisa terkabul. “Sekarang Marvel tidur besok kan kita harus pulang ke Indonesia.” Anak itu mengangguk, menuruti perkataan Daddynya. Dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Tante kesayangannya. Dia ingin melihat tatapan lembut yang selalu diberikan kepadanya, sentuhannya yang lembut dan perhatiannya yang membuat anak itu merasakan kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya. Theo sangat senang melihat anaknya tumbuh sehat seperti ini. Dia bangga kepada dirinya karena telah mampu membesarkan Marvel seorang diri. Hanya saja tidak ada kehadiran seorang ibu membuat anak itu terlihat kesepian. Dia janji tidak akan memisahkan Marvel dan Airin. “Halo Fer, ada apa?” tanya Theo ketika melihat nama Feronika muncul di layar ponsel pintarnya. “Pak, Mr Martin ingin sekali memajukan pertemuan dan dia ingin besok bapak bisa bertemu dengannya. Jika tidak dia mengancam akan membatalkan proyek yang ada di Thailand.” Ia menghela nafas kesal. “Kamu sudah jelaskan jadwal saya bulan ini? Saya sudah bilangkan kalau bulan ini saya tidak bisa mengadakan rapat secara langsung.” “Sudah Pak. Hanya saja beliau ingin menjelaskan masalah penting terkait proyek itu. Bapak masih ingatkan bagaimana Bapak berjuang agar bisa membuat beliau berkerja sama denga perusahaan Bapak. Saya takut kedepannya citra perusahaan akan buruk dan membuat investor tidak ingin berkerja sama dengan perusahaan ini,” jelas Feronika. Dia tidak mau ada penyesalan ke depannya. Ia juga mengatakan semuanya berdasarkan fakta yang banyak dikatakan dikalangan para asisten kepala perusahaan. Mr Martin terkenal dengan ketegasannya jika dia sudah memutuskan untuk tidak akan bekerja sama dengan satu perusahaan maka tidak ada yang bisa mengalahkan pendiriannya itu. Theo juga tahu rumor Mr Martin di kalangan petinggi perusahaan. Dia merupakan investor besar yang selalu menjadi incaran perusahaan di Singapur. Hanya saja dia tidak mungkin mengecewakan anaknya. Dia sudah berjanji bahwa besok mereka akan pulang ke Indonesia. “Kalau begitu kamu persiapkan semuanya. Saya akan membatalkan pemberangkatan besok. Hanya saja kamu bisa cari teman buat Marvel saya tidak mungkin membiarkan anak saya sendirian di kantor.” “Tenang saja Pak. Saya punya keponakan yang seusia dengan Marvel. Dia juga sangat baik tidak pernah berkelahi dengan siapa pun.” “Oke kalau begitu. Makasih ya Fer.” Feronika tersenyum simpul meskipun Theo tidak akan bisa melihatnya. “Sama-sama Pak. Maaf karena saya Bapak nggak jadi pulang.” “Nggak apa-apa mungkin besok saya akan dimarahi oleh Marvel karena telah melanggar janji.” **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN