Pagi ini Theo harus meninggalkan anaknya, dia harus menghadiri rapat penting menyangkut proyek pembangunan yang ada di Thailand. Proyek ini membutuhkan waktu sangat lama karena harus menunggu izin dari negara tersebut, lalu mencari investor yang bisa membantunya dalam mewujudkannya maka dari itu ia tidak mungkin bisa merelakan investor pentingnnya ini.
Dia sudah siap jika Marvel hari ini tidak akan mau berbicara dengannya. Dia benar-benar meninggalkannya pergi sebelum anak itu bangun, tentunya ia tidak lupa menyewa jasa titip anak untuk mengurus anaknya.
Theo berjalan dengan tegap mmenuju ruangan rapat bersama dengan Feronika di sampingnya. Ia memakai kemeja putih dengan jas hitam yang membaluti tubuh atletisnya sedangkan asistennya menggunakan kemeja hitam dan rok selutut yang sukses memamerkan kaki jenjangnya.
“Laporan keuangan, surat izin dan perjanjian kerja sama tahun lalu saya bawa Pak. Semuanya aman.” Jelas Feronika berusaha mensejajarkan langkahnya dengan pemimpin perusahan tempatnya bekerja. Ia sedikit berlari ketika lift gedung ini sudah dekat dengannya. Dia menekan lantai tiga yang merupakan lokasi rapat hari ini.
“Di dalam kamu harus mengetik semua yang dikatakan oleh orang-orang di sana. Kadang saya lupa ketika mereka memberikan arahan.”
“Oh iya, Marvel aman? Dia di apartemen nggak sendirian kan?” tambahnya sambil merogoh ponsel pintar di saku celananya dan mengirim pesan kepada Airin.
Airin
Sorry Rin, Aku dan Marvel nggak bisa pulang hari ini, ada sedikit masalah di kantor dan harus di selesaikan hari ini juga. Sepertinya akan memakan banyak waktu dan kayaknya aku dan Marvel akan seminggu di sini. Jika masalahnya bisa di selesaikan di Singapur mungkin minggu depan kita bisa pulang jika tidak aku dan Marvel harus pergi ke Thailand. Maaf ya.
Theo membaca kembali pesan itu sebelum dikirim kepada adik iparnya. Terlalu panjang nggak sih? Di sini Theo seperti curhat tentang masalahnya kepada Airin. tangan kanannya pun dengan lincah menghapus semuanya.
Airin
Rin, tolong kasih tahu Ayah dan Ibu kalau aku dan Marvel nggak bisa pulang hari ini.
Endang dan Bakti dengan tenang mendengarkan Airin yang sedang membaca pesan dari anaknya. Mereka sudah biasa di PHP sama anak sendiri. Dulu sebelum ada perang dunia ke tiga ketika Theo masih lajang dan sedang fokus membangun karirnya di Singapura anak itu selalu seperti itu.
Ketika awal Ramadhan anak itu mengatakan janji akan pulang ketika lebaran tiba. Faktanya anak itu masih saja bergelut dengan kertas-kertas dan hanya meminta maaf ketika Endang menagih janjinya yang akan pulang ketika lebaran tiba. Semenjak itu banyak sekali janji-janji manis yang anaknya lontarkan kepadanya dan itu hanya sebatas ucapan saja. Sekarang mereka tidak aneh mendengar Theo membatalkan kepulangannya hari ini.
“Ibu kasih tahu, Theo itu memang seperti itu. Makanya kalau dia kirim pesan mau pulan jangan terlalu dianggap serius, kalau mau pulang ya pulang aja nggak usah banyak omong.”
Mendengar hal itu wanita itu menekuk wajahnya padahal kemarin ia lembur agar bisa menjemput mereka berdua bahkan dia sudah meminta izin kepada Pak Ahmad. Theo benar-benar membuatnya kesal.
“Kamu nggak izin buat jemput mereka berdua kan?” tanya Endang ia takut kalau menantunya hari ini tidak bekerja hanya untuk menjemput mereka berdua.
Airin menggelengkan kepalanya dan kembali memakan sayur bayam miliknya. Ia sudah izin namun, batal karena Theo dan Marvel tidak jadi pulang ke Indonesia.
Sudah dia duga Pak Ahmad akan memandang aneh kepadanya ia masuk ke dalam lift dan berdiri di samping ketua divisinya itu.
“Katanya mau izin kok sekarang malah di sini?”
“Nggak jadi Pak.”
Pak ahmad hanya terdiam dan kembali memandang ke atas melihat pergerakkan angka lift yang terus menerus naik ke atas.
“Kalau begitu kamu ikut rapat dengan saya, tadinya saya menugaskan Luna karena kamu izin, Kamu mau kan Rin?”
Wanita itu mengangguk singkat dia tidak mungkin menolak perintah atasanya. Ini semua gara-gara Theo yang membatalkan kepulangannya dan mengakibatkan ia harus pergi menemani Pak Ahmad rapat.
Theo melonggarkan dasinya dan duduk dengan tenang di belakang. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah rapat selesai mereka semua memutuskan untuk makan malam bersama dan sedikit berbincang mengenai perusahaan masing-masing.
“Mereka semua itu udah tua tapi masih kuat berbicara lama seperti itu. Saya saja udah pengen pulang, nggak betah kalau diajak berbicara,” keluh Theo mengenai pertemuannya kali ini. Kebanyakan investor perusahaannya seangkatan dengan Ayahnya.
Feronika hanya tersenyum simpul dan mendengarkan dengan setia keluhan dari atasannya. Dia sudah terbiasa berbincang lama dengan para klien dan mengetahui apa yang dirasakan oleh Theo.
“Marvel pasti akan marah. Apalagi saya nggak kasih tahu dia dan hanya meninggalkan pesan di meja. Gimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan?”
“Baik Pak. Sebelum pulang saya sudah menanyakan keadaan Marvel ke pengasuhnya dan dia bilang anak bapak baik-baik saja bahkan dia sedang fokus membaca buku cerita.”
Mendengar penjelasan dari sekertarisnya bahwa anaknya baik-baik saja tidak serta merta membuatnya senang. Marvel sedang dalam mode marah dia akan berubah menjadi anak baik jika sedang marah. Aneh memang akan tetapi begitulah sifat anaknya.
“Besok nggak ada rapat kan?” Theo tidak mau anaknya terus menerus marah kepadanya. Mereka akan pulang besok jika memang ia tidak ada jadwal gawat seperti hari ini.
“Tidak ada Pak. Jika Bapak besok akan pulang bisa. Hanya hari ini saja yang keluar dari jadwal yang sudah ditentukan.”
Ia tersenyum senang dan melirik ke arah jendela mobilnya. Entah kenapa dia sangat merindukan Jakarta meskipun kebanyakan orang Singapura adalah negara ternyaman hanya saja dia ingin sekali kembali ke rumahnya. Di sana benar-benar membuatnya merasa lebih baik daripada di sini.
Airin
Rin, sepertinya aku pulang besok.
Airin menatap datar kea rah pesan singkat yang ada di layar ponselnya. Dia sedang tidur di sofa sambil menunggu masker wajahnya mengering. Ia ingin sekali memberitahu Endang akan tetapi mengingat perkataan mertuanya yang mengatakan jika Theo hobi PHP maka dia mengurunkan niatnya.
“Airin, Ibu udah cuci muka. Ibu mau juga pakai masker.”
Wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk dan membuka kotak masker miliknya, Bakti yang sedang fokus menonton sepak bola mengabaikan keduanya. Sekarang yang lebih penting adalah kemenangan tim favoritnya.
Airin dengan telaten metatakan masker berwarna hijau di muka ibu mertuanya. Mereka sering melakukan ini kadang Bakti akan ikut melakukan ini bersama.
“Bu, kata Kak Theo besok dia akan pulang.”
Endang membuka maka ketika sedang menikmati hawa dingin dari masker itu. “Kamu jangan percaya. Lihat aja besok dia beneran pulang atau nggak.”
“Jadi aku nggak perlu jemput mereka?”
Endang menggelengkan kepalanya. “Buang tenaga Rin, mendingan kamu kerja.”
**