Bab 39

1064 Kata
Langit malam sudah tergantung di atas sana, Airin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal. Jalanan kota pun masih dipadati oleh masyarakat Ibukota. Ia memberhentikan kendaraanya ketika melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Pandangannya teralihkan kepada badut Upin dan Ipin yang ada di pinggir jalan. Melihat itu ia teringat kepada keponakannya. Marvel tidak terlalu suka dengan kartun Upin dan Ipin dia lebih menyukai membaca buku daripada menonton sebuah kartun di televisi. Ia pernah bertemu dengan badut Upin dan anak itu tidak memperlihatkan kesenangannya malahan dia mengabaikan badut itu. Ia merasa heran dan menanyakan alasannya kepada Marvel. “Aku nggak suka badut, aku juga nggak tahu nama badut itu apa. Yang aku suka baca dongeng atau buku yang diberikan Daddy.” Airin membuka jendela mobilnya dang mengeluarkan uang dua ribu untuk diberikan kepada badut itu. Badut itu menghampirinya dan menerima dengan senang hati. Sebelum sampai di rumahnya wanita itu pergi ke supermarket untuk membeli makanan ringan untuknya dan kedua mertuanya. Dia membeli roti tawar, s**u untuk ibu dan ayah dan snack cemilan untuknya ada beberapa titipan juga dari Endang yang harus ia beli. “Kak Airin!” Airin membalikkan badannya ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya. “Luna,” sapanya dan mendekat kea rah gadis itu. “Beli apa?” “Mau masak mie,” jawabnya sambil memperlihatkan mie yang dibawanya. Dia menatap Airin dari atas sampai bawah yang masih mengenakan pakaian kerjanya. “Kak Airin lembur lagi?” Airin mengangguk dan membawa mie yang ada di hadapan mereka berdua. Dia kembali berjalan sambil melihat-lihat barang siapa tahu ada yang ingin dia beli. “Padahal Kak Revan udah nawarin bantuan. Kenapa ditolak? Takut Kak Revan curi posisi Kakak ya?” ucap Luna sambil mengikutinya. Wanita itu terdiam, dia kesal sekali kepada gadis itu karena mebahas masalah ini. “Kalau aku jadi Kak Airin aku pasti udah terima bantuan Kak Revan, dia itu kan pintar dan baik hati. Daripada harus lembur.” “Untungnya saya bukan kamu.” Airin meletakkan belanjaannya dan kasir pun dengan gesit menghitung semua barang belanjaan miliknya. Gadis itu terdiam kemudian memutar bola matanya malas, dia berniat membuat Airin semakin kesal kepada Revan bukannya sebaliknya. Luna tersenyum miring ketika mengingat ada satu hal yang akan membuat wanita itu terdiam. “Kakak tahu nggak? Sebenarnya dulu yang akan jadi asistennya Pak Ahmad itu Kak Revan hanya saja Kak Revan menolaknya dan malah merekomendasikan kakak untuk berada di posisi itu,” ucap Luna sambil tersenyum puas. Dia berhasil membuat wanita satu ini terdiam tidak bisa membalas perkataannya. Seperti ada petir yang masuk ke dalam hatinya, membelahnya menjadi dua dan sukses membuatnya merasakan sakit hati yang begitu dalam. “Biar saya aja yang bayar Pak,” ujar Luna ketika melihat Airin hanya terdiam ketika bapak kasir yang ada di sana menyebutkan nominal uang yang harus dibayar oleh seniornya itu. Hanya saja tangan gadis itu dicekal oleh wanita disampingnya lalu menatap gadis itu dengan tatapan tajam. “Jangan kurang ajar Lun. Kalau kamu bertindak melebihi batas saya tidak segan-segan akan membuat kamu menderita.” Airin tidak bisa membiarkan ia di remehkan seperti ini. Apa maksudnya bahwa yang seharusnya berada di posisinya sekarang adalah Revan? Dia tahu sendiri bahwa dirinya pantas di posisinya yang sekarang. Perasaanya benar-benar hancur apalagi jika mengingat perkataan Luna tadi. Benarkah posisi asisten Pak Ahmad tadinya ditawarkan kepada Revan? Kepalanya terasa pening dan dia ingin sekali tidur di kamarnya. Setelah memarkirkan mobilnya dia langsung keluar dengan membawa barang-barang yang tadi dibelinya. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam pasti semua penghuni rumah sudah tertidur, ia pun membuka pintu menggunakan kunci cadangan dan sialnya tidak bisa masuk ke dalam lubang kunci. Ternyata pintu utama tidak dikunci membuatnya heran karena biasanya Endang dan Bakti sudah tertidur. Dia pun segera berjalan menuju dapur dan tidak lupa meletakkan semua belanjaannya di atas meja makan. “Tante Airin! Dad, Tante Airin sudah pulang!” Airin tersenyum simpul ketika mendengar suara Marvel, hampir saja dia lupa bahwa keponakan kesayangannya sudah pulang. Ia pun langsung menerima pelukan dari Marvel dan menggendongnya, “Marvel belum tidur? Udah malem loh,” ucapnya sambil membawanya ke ruang tamu. Marvel menggelengkan kepalanya dan melingkarkan tangannya di leher Airin. Anak itu sangat suka dengan wangi tubuh Tantenya, menenangkan dan membuatnya ingin terus berada di dekatnya. “Marvel daritadi nungguin Tante.” Airin tersenyum simpul dan mengusap rambut Marvel dengan usapan lembut. “Kita tidur ya. Udah malem. Marvel mau kan tidur sama Tante?” “Mau banget,” anak itu sangat bahagia bisa bertemu dengan tante kesayangannya. Ia bahkan tidak turun dari gendongan Airin sebelum sampai di kamar. Mereka berdua tidak mengetahui bahwa sedari tadi Theo melihat interaksi dari keduanya. Hati lelaki itu sangat berbunga-bunga bisa melihat kebahagian dari keduanya. Bahkan Marvel tidak pernah tersenyum lebar seperti itu ketika bertemu dengan ibu kandungnya sendiri. “Kalau Jihan tahu bisa jadi masalah besar,” ujar Endang sambil berkacak pinggang melihat kedekatan cucunya dan menantu kesayangannya. “Jihan anggap Ibu sebagai penghalang jodohnya Airin, makanya dulu dia paksa Airin untuk keluar dari rumah ini gara-gara dia inget masih ada kamu yang akan datang ke rumah ini.” Endang menatap Theo anaknya itu benar-benar tidak berubah, bentuk wajahnya masih sama seperti dulu. “Pokoknya Ibu nggak mau tahu kalau Jihan akan ke sini kamu dan Marvel harus pulang ke Singapura kalau nggak semuanya akan jadi kacau.” Tambahnya dan berjalan ke dapur untuk melihat belanjaan Airin. “Kalau aku menikah dengan Airin? Tante Jihan nggak akan marah kan Bu?” Ide gila ini muncul tiba-tiba dari dalam kepalanya. Endang membalikkan badannya dan melotot. “Nggak boleh! Meskipun agama memperbolehkan Jihan akan marah mendengar hal itu! Ibu nggak mau hubungan kami kacau gara-gara ide gila kamu itu. Lagi pula memangnya Airin mau sama kamu?” Theo mengangkat kedua bahunya, dia juga tidak tahu apakah gadis itu memiliki perasaan lebih kepadanya atau tidak. Hanya saja perasaanya mengatakan bahwa Airin masih mencintai adiknya. “Ibu tahu sendiri kan Marvel sangat dekat dengan Airin. jika suatu saat Airin menikah dengan laki-laki lain dia nggak akan bisa meluangkan waktunya untuk Marvel.” Endang menggelengkan kepalanya. “Kamu jangan pernah bilang ingin menikahi Airin karena Marvel.” “Sebuah pernikahan itu harus berlandaskan suka sama suka karena itu pondasi awal sebuah pernikahan. Jika pondasinya saja tidak ada nggak akan bisa hubungan itu bertahan lama.” Theo terdiam, ibunya sudah salah paham kepadanya. Ia memang benar-benar mencintai Airin hanya saja tidak tahu cara menceritakan perasaan itu kepada Ibunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN