Bab 40

1100 Kata
“Beneran Daddy kita akan ke taman?” tanya Marvel sambil menatap Daddynya yang sedang memakaikan sepatu untuknya. Theo menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul. Mereka sudah lama tidak mengunjungi taman bermain, ketika di Singapur pun hanya datang ke kantor dan pulang ke apartemen lalu tidur Theo tidak sempat menemani anaknya untuk bermain. Pekerjaan kantor selalu menumpuk dan harus diselesaikan secepat mungkin. “Tante Airin juga ikut?” “Tante Airin ikut, dia lagi siap-siap dulu.” “Ikut dong,” ujar Airin ketika berada di dekat mereka berdua. Ia tersenyum simpul dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh keponakannya. “Marvel kalau di sana jangan jauh-jauh dari Tante. Kita main sama-sama ya,” sambungnya dan Marvel mengangguk riang sambil turun dari kursinya lalu menggenggam tangan Airin erat. “Marvel akan selalu didekat Tante.” Airin mengangguk senang dan mengusap rambut anak itu dengan lembut. Sebelum itu mereka pamitan kepada Endang yang sedang sibuk di dapur sedangkan Bakti masih terbaring di kasurnya. Sepanjang jalan Airin terus memegang tangan Marvel sesekali tersenyum ketika anak itu menceritakan bagaimana keadaan Singapura setelah lama ia tinggalkan. “Tante pasti kesal kan saat aku dan Daddy nggak jadi pulang. Daddy itu suka begitu, suka melanggar janji. Tahun kemarin saja janji mau nonton aku nyanyi tapi malah nggak datang,” keluh Marvel dan membuat Theo yang berada di belakang mereka menggaruk rambutnya . “Untungnya Marvel nggak nangis karena Nenek Endang dan Kakek Bakti telepon kasih semangat,” sambungnya sambil terdiam tidak melanjutkan jalannya. Anak itu menatap rumah besar yang terlihat sepi. Pagar besar yang menghalangi rumah itu membuat siapa pun tahu bahwa sang pemilik rumah adalah orang berada. “Marvel tahu rumah siapa itu?” tanya Airin sambil ikut melihat rumah besar itu. “Rumah teman barunya Marvel namanya Melodi. Ayahnya sama kayak Daddy suka ingkar janji makanya Marvel bilang bahwa Daddynya Marvel juga seperti it, biar dia nggak terus sedih.” Airin bangga mendengar apa yang dilakukan anak itu. Hanya saja dia merasa sedih anak sekecil Marvel harus merasakan bagaimana rasanya kesepian. “Nanti kenalin Tante ke Melodi ya.” “Siap Tante. Melodi pasti suka sama Tante soalnya warna kesukaan dia juga warna pink, sama kayak warna kamar tante.” Warna Pink adalah warna kesukaannya. Warna kamar pribadinya pun di d******i oleh warna merah muda. Tendi tidak pernah protes dia selalu setuju dengan semua keputusannya di saat kebanyakan suami akan marah jika warna kamarnya adalah warna pink. Kompleks rumah ini memang kebanyakan di huni oleh orang-orang kaya. Terlihat dari desain rumahnya yang elegan, dan berkelas. Hanya saja penduduk di kompleks ini jarang keluar bahkan tergolong sepi. Mereka semua memilih beristirahat di rumah daripada mengabiskan waktu untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks. Bahkan ada yang memilih untuk tetap bekerja. Gila memang hanya saja itu cara mereka untuk menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah. Airin, Theo dan Marvel sudah sampai di taman komplek. Meskipun jarang sekali ada orang yang berkunjung taman ini selalu terlihat bersih dan rapih. Fasilitas di sini pun selalu dirawat tidak ada yang rusak. Selalu dikontrol dan tidak akan menyebabka cidera kepada anak. Marvel memilih untuk bermain dengan ayunan dan di sebelahnya ada Airin yang menemaninya. Theo memutuskan untuk berlari mengelilingi lapang basket yang ada di sebelah taman bermain. “Airin!” Airin membalikkan badan dan terpaku melihat Revan ada di sebrang sana. Melihat lelaki itu membuatnya ingat dengan perkataan Luna. Apakah ini momen yang pas untuk menanyakan hal itu kepada Revan? Dia butuh sebuah kebenaran tidak mau terbayang-bayang dengan persepsinya sendiri. Revan berjalan mendekati Airin pria itu menggunakan kaos dan celana pendek sampai lutut berwarna hitam. Ia tersenyum simpul melihat keberadaan Airin jarang sekali wanita itu berolahraga di pagi hari. Hanya saja senyumnya luntur ketika melihat Marvel yang ada di belakang gadis itu. “Hai Marvel, udah pulang?” Revan memasang senyum manisnya tidak mungkin ia menunjukkan wajah tidak sukanya kepada anak itu. Bisa-bisa Airin tidak menyukainya. Marvel menarik baju Airin agar menurunkannya dari ayunan. Kemudian ia bersembunyi di belakang tantenya. Dia takut jika bertemu dengan orang yang tidak dikenal olehnya. “Kemarin pulangnya Van. Lo kenapa ada di sini? Bukannya rumah lo jauh banget dari sini?” tanya Airin yang heran dengan keberadaan lelaki itu. “Gue udah pindah. Blok C nomor 7 beda satu blok sama lo Rin. Kapan-kapan datang ya.” Airin terpaku dia terkejut mendengar ucapan Revan, mendadak sekali sahabatnya pindah ke sini. Bukannya dia sangat suka tinggal di apartemen? “Apartemen lo?” “Di sewakan. Kenapa? Theo lagi cari rumah?” “Kenapa gue cari rumah? Rumah gue ada di sini Bro,” ujar Theo yang mendekat kepada mereka berdua. Ia langsung menggendong anaknya dan menatap Revan dengan lekat. “Rin, kita pulang aja. Marvel udah nggak mau main di sini lagi,” tambahnya dan membuat wanita itu mengangguk. “Kapan-kapan gue ke rumah lo deh. Anak kantor juga undang dong. Mereka pasti seneng kalau lo traktir makan,” lalu Airin pergi mengikuti Theo yang sudah berjalan di depan. Revan mengeratkan kedua tangannya dan dia menatap marah kepada Theo. Dia sudah melakukan hal yang tepat jika ia berada di dekat Airin maka wanita itu tidak akan berpaling kepada Theo. Hanya saja melihat kedekatan mereka berdua membuatnya terbakar api cemburu. “Kamu baru tahu Revan pindah ke sini?” tanya Theo dia masih tidak percaya laki-laki itu mengejar Airin sampai seperti ini. Airin mengangguk dan mengusap rambut Marvel. “Kalau ketemu orang baru dia suka begini?” Theo mengangguk. “Kalau di Singapura nggak. Kayaknya karena masih asing dengan warga di sini makanya dia kayak begitu.” Airin mengangguk paham dan berjalan di samping Theo. Wanita itu masih terus memikirkan kenapa Revan mendadak pindah ke kompleks ini? Lelaki itu tidak pernah tertarik untuk memiliki rumah. Ia harus menanyakan alasan kepindahannya ke sini. “Rin, Revan pernah menyatakan perasaannya kepada kamu?” Theo berani menanyakan hal ini karena anaknya tertidur di gendongannya. Jika tidak Marvel akan bertanya arti dari perkataanya kepada Airin. Airin menggelengkan kepalanya. Rasanya sahabatnya itu tidak pernah menyatakan cinta kepadanya. Waktu SMA ia hanya berpacaran dengan Tendi dan hubungan mereka lanjut ke jenjang pernikahan. Hubungan persahabatan mereka pun baik-baik saja. “Aku kasih tahu ya. Menurut pendapat aku Revan itu suka kamu Rin. Terbuktikan dia pindah mendadak ke komplek sini. Padahal hidup di apartemen jauh lebih enak.” Kepala Airin mendadak menjadi pening. Mana mungkin Revan mencintainya? “Selama kamu kenal Revan, laki-laki itu pernah punya pacar? Nggak mungkinkan dia sembunyiin pacarnya dari kamu. Meskipun disembunyikan ujungnya pasti kamu akan tahu.” Airin membisu. Selama mereka menjadi sahabat Revan tidak pernah memilik pasangan. Dari rumor yang beredar di sekolahnya sahabatnya itu selalu menolak pernyataan cinta dari gadis yang menyukainya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN