Kepindahan Revan membuat lelaki itu selalu ke rumah Airin. Banyak alasan yang membuatnya datang, memberikan makanan, meminjam tangga, mengembalikan kunci inggris, meminta dicarikan pembantu bahkan wanita itu sampai bosan karena dalam sehari terus-menerus bertemu dengan lelaki itu.
“Ada apa lagi sih Van? Gue mau tidur. Besok ajak anak-anak kantor kita beresin rumah Lo. Bayarannya tinggal kasih makan gratis aja,” jelas Airin sambil berkacak pinggang menatap Revan yang ada di depan rumahnya entah apalagi yang dibutuhkan olehnya maka dari itu sebelum dia mengatakan sesuatu Airin sudah mengeluarkan keluh kesahnya terlebih dahulu.
Matahari sudah berada di atas kepala manusia dan ini waktunya Airin untuk beristirahat apalagi kemarin dia lembur karena mengerjakan laporan. Jika dibantu oleh Revan dia akan cepat pulang akan tetapi ia kesal dengan perkataan Luna yang mengatakan bahwa Pak Ahmad lebih dulu menawarkan posisi asisten untuk beliau kepada Revan. Kalau saja dia tidak mendengar ucapan Luna pasti ia akan membantu Revan membersihkan rumahnya.
Revan terdiam dia menatap lekat wanita itu dengan pandangan sayu. “Kalau begitu gue balik dulu. Maaf udah ganggu istirahat Lo.”
Airin mengangguk singkat dan kembali masuk ke rumah. Di ruang tamu ada Theo, Endang, Bakti dan Marvel yang sedang menonton televisi. Dia memutuskan untuk duduk di samping Endang sambil menggendong Marvel yang duduk di pangkuannya.
“Rin, kita bantu aja Revan bersihin rumahnya,” ujar Endang sambil memberikan segelas air yang ada di meja untuk Bakti.
Theo yang mendengar hal itu di dalam hatinya merasa setuju dengan ucapan ibunya. Meskipun Revan adalah saingannya hanya saja jika dia membutuhkan pertolangan Theo akan dengan senang hati membantunya. Ini juga berguna untuk mengajarkan kepada anaknya agar selalu saling tolong menolong dengan tetangga.
“Nggak usah Bu. Dia juga udah banyak yang bantuin. Teman-temannya Revan itu banyak dan mereka pasti bantuin dia. Lagi pula Airin juga sedang kesal kepada Revan makanya nggak mau bantuin dia.”
“Kesal kenapa?” tanya Endang melirik kepada Airin yang ada di sampingnya.
“Masa kata temen Airin, Airin jadi asisten Pak Ahmad gara-gara Revan nolak tawaran itu. Airin jadi kesal Bu mendengarnya padahal banyak yang mau jadi asisten Beliau. Parahnya kalau di kantor Revan selau ingin mengerjakan tugas aku, iya sih maksudnya bantuin tapi kan aku jadi kesal Bu. Dia kayak meremehkan kemampuan aku.”
“Jangan berprasangka buruk seperti itu Rin. Bisa saja kan maksud dari Revan biar kamu nggak kesusahan?”Airin hanya terdiam, dia yakin ada maksud dibalik kebaikan Revan yang selalu ditawarkan kepadanya.
Pindahnya Revan kali ini benar-benar membuatnya merasa sakit kepala. Tidak mengganggu secara langsung lelaki itu mengganggunya secara verbal. Dia sering mengirimkan banyak pesan kepadanya. Dari menanyakan bagaimana menggunakan mesin cuci sampai mengganti seprai baru. Jika Luna yang mendapatkan pesan itu pasti gadis itu akan dengan senang hati membalasnya berbeda dengannya ini meresahkan dan dia ingin mandi terlebih dahulu.
Bunyi air terdengar di kamar mandi. Airin benaar-benar ingin mematikan amarahnya karena gangguan dari Revan. Dia berencana akan mengajak Luna untuk membersihkan rumah baru milik sahabatnya itu. Kemana teman-teman laki-laki itu bukannya mereka selalu ada ketika Revan membutuhkan bantuan? Sementara itu ponsel pintar Airin terus menerus berdering. Tidak ada yang menjawab sampai Theo masuk ke dalam kamar itu untuk mengambil pakaian milik Marvel.
Theo tidak mempedulikan ponsel itu karena itu adalah barang privasi yang tidak boleh dibuka oleh sembarangan orang. Dia mendengar suara air dari kamar mandi adik iparnya, maka dari itu ia harus segera keluar agar tidak membuat wanita itu berpikiran yang buruk kepadanya. Theo segera mengambil baju anaknya di dalam lemari terpisah yang terpisah dengan pakaian milik Airin dan pergi keluar.
Pintu itu kembali terbuka ketika mendengar kembali bunyi ponsel Airin. Theo memandang ponsel tu dengan tatapan datar, jika tidak salah nama yang tertera di ponsel itu adalah Revan. Semenjak bertemu dengannya di taman dan sampai sore hari Revan selalu saja mengganggu Airin.
Theo tidak tahu ini salah atau tidak, yang ada dipikirannya sekarang adalah agar Revan tidak terus-menerus mengganggu ketenangan Airin.
Theo menekan tombol hijau dan sambungan telepon pun terhubung. “Airin sedang di dalam kamar mandi. Ada urusan apa?”
Setelah itu sambungan terputus, Revan tidak menjawab membuat Theo kembali meletakkan ponsel Airin.
Revan membantingkan ponselnya membuat barang mewah itu hancur berkeping-keping. Dia mengepalkan kedua tangannya. Berani sekali Theo menganggkat telepon darinya untuk Airin! Amarahnya tidak kunjung reda membuat lelaki itu menghancurkan televisi besar yang terpasang di ruang tengah.
Selesai mandi Airin keluar dari kamar mandi dan duduk di kasurnya. Ia mendengar panggilan Endang yang mnegajakanya untuk makan malam dan langsung keluar dari kamarnya mengabaikan ponselnya yang ada di atas kasur. Airin tidak tahu jika sedari tadi Revan terus berusaha meneleponnya.
Endang memasak telor dadar, sop daging sapi dengan irisan wortel, kentang, seledri sebagai pewangi agar sop semakin terasa enak.
“Wah ini semua makanan kesukaan Marvel,” Airin duduk di samping Marvel sambil mengelus rambut anak itu dengan lembut.
Marvel mengangguk riang dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Anak itu sangat semangat jika disuruh makan membuat mereka semua tidak khawatir dengan kesehatannya.
Airin menerima piring yang sudah berisi nasi dan sop dari Endang. “Terima kasih Bu,” ujarnya kemudian memakannya dengan lahap. Semua masakan Endang tidak ada yang mengecewakan, selalu enak seperti makanan yang ada di restoran.
“Tadi Revan telepon. Aku nggak sengaja angkat pas lagi bawa pakaian untuk Marvel. Nggak apa-apa kan Rin?” tanya Theo ia takut Revan marah kepada Airin sedangkan wanita itu tidak tahu permasalahannya.
“Nggak apa-apa Kak. Nanti malam niatnya aku akan ajak Luna dan anak kantor untuk ke rumah barunya Revan.”
Theo tidak menanggapi, dia tidak akan melarang wanita itu untuk pergi ke rumah Revan. Lelaki itu melanjutkan makannya dan tersenyum simpul ketika melihat Marvel yang sedang semangat menikmati makanannya.
Suara bel rumah terdengar dan membuat semuanya menatap pintu rumah. “Biar Theo saja Bu yang buka,” ujar Theo ketika melihat ibunya berdiri.
Theo melangkahkan kakinya ke depan rumah, dan kedua matanya menatap tamu itu dengan tatapan data. Revan benar-benar sangat mencintai Airin dia ke sini pasti karena kejadian tadi.
“Siapa tamunya? Ajak masuk,” teriak Endang dari dalam rumah membuat Theo memberikan ruang agar Revan bisa masuk.
Revan tersenyum simpul ketika melihat keluarga ini sedang makan bersama. Dia menatap Airin dan hatinya terbakar ketika melihat rambut wanita itu basah. Kedua matanya melirik Theo dan api cemburu terus ada di hatinya saat menyadari bahwa rambut keduanya basah!
**