Suasana di meja makan tiba-tiba menjadi dingin setelah Revan duduk tepat di depan Marvel disamping Theo. Sama seperti sop daging ayam yang ada dipiring Airin, dingin tidak hangat seperti tadi. Endang dan Bakti tidak tahu apa-apa dan mereka berdua senang sekali dengan kedatangan Revan ke sini hanya saja tidak untuk Theo dan Airin. Airin memilih diam dan tidak banyak berkomentar dia membiarkan nasi yang ada di mangkuknya membengkak tidak ada hasrat untuk menghabiskannya.
“Makan yang banyak Nak Revan, pasti capek ya udah beberes sendirian? Maaf ya Ibu dan Ayah nggak bisa bantu soalnya badan lagi pega-pegal.”
“Nggak apa-apa Tante. Saya bisa sendiri. Maaf juga udah ngerepotin karena terus datang ke sini,” ujarnya sambil menatap Airin yang ada dihadapannya.
Airin mendongakkan kepala dan menatap Revan. “Nanti malam gue akan ajak Luna buat beresih rumah Lo Van, atau besok kita izin ke Pak Ahmad biar bisa pulang cepat untuk bantu kamu.”
“Nggak perlu. Udah selesai, kalian datang buat makan-makan aja. Tante yang masak gimana? Masakkan Tante enak banget.”
“Revan!” protes Airin.
Theo melirik Revan dengan tatapan tajam miliknya. “Maksud Lo apa? Nyokap gue bukan pembantu! Kami juga nggak buka layanan katering. Beli aja di restoran, bukannya Lo kaya yang bisa langsung beli rumah di komplek ini?”
Revan memasang senyum simpul. “Bercanda Kak, jangan emosional kayak begitu dong. Tante maaf ya, Revan nggak bermaksud hina Tante kok.”
Endang tersenyum simpul. “Iya Nak Revan. Makasih lo udah dipuji. Di rumah ini selain Airin nggak ada yang puji makanan Tante.”
Airin menghela nafas lega karena tidak ada baku hantam diantara Theo dan Revan. Ia takut Theo akan hilang kendali dihadapan Marvel. Bisa gawat jika anak kecil seusia Marvel melihat pertengakaran ayahnya dan Revan.
Marvel menarik baju Airin. “Tante Marvel mau ke kamar mandi.”
Airin tersenyum dan menganggukkan kepala. “Ayo kita ke kamar mandi.”
Melihat interaksi antara Marvel dan Airin membuat Revan kesal. Dia harus menjauhkan anak kecil itu dari wanita yang ia cintai. “Marvel, Tante Airin kan sedang makan nggak baik loh ganggu dia saat makan. Kalau Tante Airin nggak makan dia nanti sakit dan nggak akan main lagi sama Marvel. Jadi Marvel ke kamar mandinya sama Daddy Marvel aja ya.”
“Apa apan sih Van! Jangan bicara kayak gitu dihadapan anak kecil!” tegur Airin sambil memeluk Marvel yang ada di sampingnya.
“Marvel ayo ke kamar mandi. Nggak baik kalau ditahan terus,” sambung Airin dan mengajak anak itu untuk ke kamar mandi.
“Marvel dan Airin itu nggak bisa dipisahkan, kalau Lo suka sama Airin Lo juga harus suka sama anak gue.” Theo tersenyum miring ketika mengatakan hal itu. Bisa dipastikan sekarang Revan sedang menahan emosinya terbukti dari mukanya yang sudah memerah menahan emosi.
Revan hanya tersenyum lebar. Dia tidak boleh terpancing oleh perkataan Theo. Jika dia membuat masalah Airin akan semakin membencinya. “Tante sepertinya aku pulang dulu. Makasih atas hidangannya. Masakan Tante memang paling enak,” ujarnya sambil berdiri dan pergi keluar rumah.
Bakti yang sedari tadi memperhatikan tingkah Revan menatap Theo dengan tatapan menyelidik. “Dari kapan kamu punya masalah sama Revan?”
Theo mengangkat bahunya. “Semenjak dekat sama Airin. Sebenarnya Revan itu menyukai Airin hanya saja menantu kesayangan Ayah itu masih tergila-gila sama Tendi. Makannya Revan uring-uringan karena tidak bisa merebut hati Airin dengan mudah.” Sama seperti dirinya yang tidak bisa mendapatkan hati Airin dengan mudah. Menghapus nama Tendi dari hati wanita itu tidak semudah menghapus tulisan di atas papan tulis nama Tendi sudah terukir dalam dan tidak mampu dihilangkan.
Rencana dia mengajak Luna untuk membantunya membereskan rumah Revan dibatalkan karena lelaki itu sudah mengatakan bahwa semuanya sudah beres paling besok dia harus meminta izin kepada Pak Ahmad agar pulang cepat dan bisa berkunjung ke rumah baru Revan.
Airin melirik Marvel yang sedang menonton kartun Doraemon kesayangannya. Dia sangat suka kartun itu dan akan menyempatkan waktu untuk menotonnya. Bakti dan Endang akan mengalah karena televisi satu-satunya di rumah di sini dimonopoli oleh cucunya sendiri.
“Tante suka Doraemon nggak?” tanya Marvel sambil merapatkan badanya kepadanya. Anak itu meminta agar kepalanya diusap olehnya.
“Suka.”
“Kenapa?”
Airin tersenyum simpul. “Karena Doraemon punya kantong ajaib yang bisa mengabulkan semua permintaan Nobita.”
Marvel setuju dia juga menyukai Doraemon karena itu. “Kalau Tante punya Doraemon, Tante akan minta apa?”
Airin terdiam. Jika dia mempunyai Doraemon ia akan memohon untuk menghidupkan kembali suaminya, atau meminta agar ia bisa datang ke masa lalu dan memperingatkan kepada Airin di masa lalu agar melarang suaminya untuk berpergian menggunakan pesawat.
“Minta agar Marvel, Kakek, Nenek dan Daddnya Marvel untuk selalu sehat. Karena Tante akan bahagia jika semua yang ada di dalam rumah ini bahagia.”
“Kalau Marvel akan meminta apa ke Doraemon?” tambah Airin sesekali mengecup singkat rambut Marvel yang sangat wangi itu.
“Marvel akan minta Tante jadi ibunya Marvel. Selalu menjaga Marvel dan Ayah dan nggak akan pernah meninggalkan kita berdua seperti ibunya Marvel yang ada di Singapura.”
Airin tertegun mendengar perkataan Marvel. Menjadi Ibu Marvel? Tentu saja dia sangat menginginkannya apalagi anak itu sangat imut dan baik. Hanya saja untuk menjadi istri dari Theo dia tidak bisa.
Theo yang tidak sengaja memperhatikan mereka kaget dengan perkataan anaknya. Dia jadi tidak enak kepada Airin karena mungkin sekarang wanita itu merasa tidak nyaman. “Marvel, malam ini tidurnya di kamar Daddy ya?”
Theo mendekat kepada Marvel dan menggendong anak itu. “Airin nggak apa-apa kan malam ini Marvel tidur sama aku?” tanyanya kenapa dia harus izin? Marvel kan anaknya.
Airin menganggukkan kepala, dia bukan siapa-siapa dan tidak berhak melarang anak itu untuk tidur dengan Daddynya sendiri.
“Good night Tante.”
“Good night Marvel.”
Revan tidak bisa tidur, dia terus-menerus mengingat kejadian tadi. Rambut Theo dan Airin basah! Apakah mereka melakukan sesuatu? Revan menggeram keras dan membantikan gelas yang ada di hadapannya. Melihat kedekatan Marvel dan Airin pun berhasil membuat guci yang baru saja ia beli pecar berkeping-keping.
Apakah dia harus melaporkan semua ini kepada Ibunya Airin? Dia dan Tante Jihan sangat dekat pasti beliau akan percaya kepadanya. Namun, ia harus bertemu langsung dengan Tante Jihan agar ucapannya dipercaya. Tapi kapan?
Jika Airin mengetahui bahwa ia melaporkan semuanya kepada ibunya apakah wanita itu akan marah kepadanya? Ia tidak mau hubungannya dan Airin semakin menjauh. Dia harus memikirkan cara lain agar membuat Airin keluar sendiri dari rumah itu!
**