Bab 43

1083 Kata
Hari ini Airin bangun pagi sekali. Semalam Theo mengajak Marvel untuk tidur bersama dengannya dan itu membuatnya takut jika lelaki itu membawa Marvel ke Singapura lagi secara diam-diam. Bagaimana mereka akan memutuskan untuk tidak kembali lagi? Airin akan kesepian dan dia tidak mau itu terjadi. Sudah cukup Tendi yang meninggalkannya bukan Marvel. Terlihat di dalam kaca Airin tersenyum simpul ketika mendengar teriakan Endang dari bawah sana. Itu menandakan jika Theo masih ada di sini. Ia pun segera bangkit dari kursinya dan segera ke bawah sana. Dia ingin membantu Endang meskipun hanya membawa pirin-piring ke atas meja makan. Hawa dingin masih terasa di rumah itu, bukan karena pendingin ruangan itu semua karena hujan yang mulai turun di pagi hari. Membuat suasana sejuk yang mengakibatkan semua orang memilih untuk bergelung di kasurnya yang hangat. “Selamat Pagi Bu. Aku bantu ya?” Endang memberikan senyum simpulnya membuat kerutan di kedua pipinya tidak terlihat karena tertarik untuk membentu garis lengkung. “Kamu bisa bangunin Theo? Kemarin dia bilang ada acara di kantornya dan sebagai CEO dia harus menyampaikan beberpa kata ke semua karyawannya hanya saja udah jam enam dia nggak bangun-bangun. Apalagi hari ini Marvel masuk sekolah. Aduh Ibu lama-lama stres mengurus dua bocah itu. Belum lagi ayah kamu yang harus selalu dibangunin,” keluh Endang di pagi hari membuat Airin merasa bersalah karena tidak bisa membantu banya. “Aku bangunin Kak Theo aja kalau begitu Bu.” Endang memasang wajah bahagia dia seperti mendapatkan mukjizat dari Tuhan karena diberikan menantu sebaik Airin. “Ketuk pintunya aja Rin. Nanti dia bangun kalau dengar suara kamu.” Airin mengerutkan keningnya memangnya dia hantu ketika mendengar suaranya Theo akan bangun karena kaget. Setelah berada di depan pintu Airin terdiam, dia harus membuka pintu itu atau tidak? Bagaimana jika Theo mempunyai kebiasaan jika tidur selalu tidak memakai pakaian? S SAirin menggelengkan kepalanya dia mencoba menyadarkan diri agar tidak terus-menerus memikirkan hal yang tidak mungkin akan terjadi. Ia pun memilih untuk mengetuk pintu dan berusaha agar kakak iparnya bangun agar tidak telat bergabung dengan karyawannya yang ada di Singapura. “Kak Theo. Bangun. Katanya ada pertemuan penting, ini sudah jam enam loh. Bukannya mulai acaranya jam tujuh pagi?” Tidak ada jawaban sedikit pun, bahkan Airin tidak mendengar gerutuan yang sering dilayangkan sesorang jika diganggu waktu tidurnya. “Marvel! Bangun. Hari ini hari senin loh, masa Marvel telat berangkat sekolah sih. Marvel kan cita-citanya mau jadi dokter jadi bangun juga harus tepat waktu.” Airin menghela nafas kesal karena kedua penghuni kamar itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Mereka berdua tenggelam dalam dunia mimpi. Ia harus melakukan apa untuk membangunkan keduanya? “Airin, Theo udah bangun? Kalau belum biarin aja biar dia kesiangan. Udah kamu ke sini aja, makan dulu,” teriak Endang yang sangat membahana di seluruh rumah. Airin harus bisa membangunkan Marvel dan Theo. Minimal ia bisa membuat Marvel terbangun dan menyuruh anak itu agar membangunkan Daddynya. Kanan kanannya memegang gagang pintu dan menariknya ke bawah. Airin memejamkan kedua matanya ketika melihat Theo yang bertelanjang d**a. Tangan kanannya memukul kepalanya untuk menyadarkan jika tujuannya ke sini adalah membangunkan mereka berdua bukannya memperhatikan tubuh Theo yang sangat atletis. Wanita itu melangkah kan kaki jenjangnya menuju sisi kanan tempat tidur yang merupakan tempat Marvel berada. Airin mengusap wajah anak itu. “Marvel bangun. Udah siang.” Marvel menggeliat karena merasakan sentuhan dari tangan orang lain. Berbeda dengan Theo yang masih setia tidur dengan kedua tangan ke atas dan memamerkan ketiaknya yang dipenuhi bulu. Airin sedikir merasa jijik melihat itu hanya saja ia haru membangunkan Marvel agar anak itu tidak terlambat datang ke sekolah. “Tante Airin.” Akhirnya Marvel terbangun. Airin tersenyum simpul dan langsung menggendong Marvel untuk ia mandikan. “Marvel mandi ya. Bukannya mau ke sekolah,” ujar Airin sambil membawanya ke kamar miliknya. Ketika Airin masuk ke dalam kamar, Endang berjalan menuju kamar Theo karena sudah kesal laki-laki itu belum saja terbangun. Ini sudah jam setengah tuju pagi tinggal setengah jam lagi acara kantor Theo dimulai. Jika tidak mengingat Theo merupakan anak satu-satunya dia akan membiarkan anak itu kesiangan dan menjadi bahan gosip di kantornya. “Astagfirullah Theo! Mau sampai kapan kamu tidur! Makanya jangan tidur malam-malam kalau nggak bisa bangun pagi!” Karena kesiangan Theo tidak mengantarkan Airin untuk bekerja. Marvel dan Endang pun ikut Bakti untuk mengantarkan cucunya ke sekolah. Tersisa Theo saja yang masih berada di rumah dengan kemeja rapih sambil tersenyum memandang laptop sedangkan kedua kakinya masih terbalut kolor hitam selutut. Setelah memarkirkan mobilnya di perkiran kantor, Airin berjalan masuk dan di depan lift dia bertemu dengan Revan yang sedang membawa dua kopi yang ada di kedua tangannya. “Selamat pagi Rin.” Airin tersenyum tipis. “Selamar pagi Van.” Keduanya pun kembali terdiam sambil memandang ke atas melihat perubahan lantai lift yang terus-menerus turun. Apakah Airin masih kesal kepadanya? “Masakan Tante Endang memang dari dulu selalu enak ya? Sejak gue berteman dengan Tendi masakan Tante Endang memang tidak pernah berubah.” “Iya, makanya Lo mau Ibu yang masak buat acara sukuran rumah Lo kan?” Oh… Karena itu, Revan sudah tahu alasan Airin marah kepadanya. “Gue Cuma bercanda Rin.” Suara bunyi lift berbunyi membuat mereka melangkah maju dan Revan langsung menekan lantai Divisi mereka berdua. “Bercanda Lo itu nggak lucu.” “Gue ngaku salah. Nanti sepulang kerja gue akan langsung minta maaf kepada Tante Endang.” Airin melirik Revan. “Terserah Lo.” Lift kembali berbunyi dan mereka berdua keluar dari sana. Revan terus saja mensejajarkan langkah kakinya dengan Airin. “Kopi buat Lo,” ujar Theo sambil meletakkan kopi yang tadi di bawanya di atas meja kerja milik wanita itu. “Thanks.” Airin tidak ada tenaga untuk meminta izin kepada Pak Ahmad untuk memulangkan karyawan lebih awal dari biasanya dan pergi mengunjungi rumah baru Revan. Kepalanya terasa lemas akibat dipaksa untuk mengerjakan laporan data barang yang tersisa. Matanya lemas ingin sekali memejamkan mata karena merasakan kantuk yang hebat. Airin mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan. Luna Luna gue minta tolong. Revan udah pindah dari apartemennya, Lo mau tahu rumah barunya kan? Makanya sekarang Lo minta izin ke Pak Ahmad untuk pergi bertamu ke rumah baru Revan. Kepala gue udah mau pecah nggak bisa diajak mikir lagi. Luna merasakan ada pesan masuk dan segera membuka ponselnya. Dia tersenyum senang ketika membaca pesan dari Airin. Revan pindah ke rumah? Jika benar dia akan lebih mudah untuk mendekatinya. Airin melihat Luna berdiri dan menemui Pak Ahmad. Semuanya berjalan lancar dan sekarang ia butuh sedikit memejamkan kedua matanya **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN