Bab 44

1067 Kata
Sesuai dengan rencana Airin kemarin dia berhasil membawa Pak Ahmad dan anak-anak kantor yang lain untuk datang ke rumah barunya Revan. Ini semua berkat pertolongan Luna yang bersedia berbicara kepada Pak Ahmad menggantikan Airin yang sudah merasakan sakit kepala memikirkan laporan miliknya. Mereka memasuki gerbang komplek dan melewati rumah Airin karena rumah milik Revan berada tepat di belakang rumahnya. “Berarti kalau kamu pulang bisa bareng sama Revan,” ujar Pak Ahmad yang duduk di bangku paling depan mobil Airin. “Iya Pak,” jawabnya dengan kedua mata fokus memperhatikan jalan. Di mobilnya bukan hanya Pak Ahmad saja tapi juniornya yang lain yang memutuskan untuk ikut dengan Airin karena jarak rumahnya dekat dengannya seperti rumah Pak Ahmad. “Bukannya enak tinggal di apartemen? Lokasinya di tengah kota kalau butuh apa-apa bisa langsung beli. Dekat rumah sakit dam tempat hiburan juga kenapa Kak Revan malah pindah ya?” ucap Hendi salah satu juniornya yang seumuran dengan Luna. Mobil merah milik Airin pun sudah terparkir dengan manis di depan rumah Revan di susul dengan mobil rekan kerja lainnya yang ada di belakang sedangkan mobil Revan masuk ke dalam garasi rumahnya. Luna keluar dengan senyum bahagia karena bisa berduaan di dalam mobil bersama dengan Revan. Semua penduduk di divisi keuangan mengetahui jika gadis itu menyukai Revan makanya mereka memutuskan untuk membuat mereka berduaan di dalam mobil. Revan keluar dengan perasaan datar bahkan bisa dibilang ia tidak terlalu menyukai keberadaan semua rekan kerjanya kedua matanya langsung menangkap sosok Airin yang berjalan di samping Pak Ahmad. “Ayo Pak masuk, rumahnya masih kosong karena nggak semua barang di pindahkan ke sini.” Pak Ahmad mengangguk singkat. “Apartemen kamu dijual nggak? Atau di sewakan? Sayang kan kalau dibiarka kosong.” “Belum ada rencana Pak. Kalau misalnya ada temen atau saudara Bapak yang mau tinggal di sana bisa hubungi saya.” Luna yang mendengar percakapan keduanya bergabung dengan obrolan mereka berdua. “Kalau aku tinggal di apartemen Kak Revan gimana? Rumah aku kan jauh dan jarak kantor lebih dekat jika aku tinggal di apartemen kakak? Boleh kan? Pasti aku akan bayar tepat waktu.” Setelah pintu terbuka Pak Ahmad dan Luna duduk di sofa ruang tamu. Kedua mata Pak Ahmad memperhatikan rumah ini. Ukurannya cukup besar untuk ditinggali oleh satu orang saja, apakah anak buahnya ini akan segera menikah makanya membeli rumah sebesar ini? “Ide bagus Lun. Kamu kan selalu kesiangan dan lelet pilihan bagus jika tinggal di apartemen Revan. Sayang juga kan Van kalau apartemennya kosong mending di sewakan. Luna rekan kerja kamu dan pasti dia akan merawat apartemen kamu sebaik mungkin. Jakarta sudah tidak ada lahan lagi jika kamu menyewakannya ke Airin kamu sudah membantu Jakarta agar tidak menjadi kota tanpa tanah.” Airin yang lewat di depan keduanya dan tidak sengaja mendengar perkataan Pak Endang hanya terkekeh pelan kemudian memutuskan untuk ke dapur menyiapkan makanan pembuka meskipun Revan sudah memesan makanan untuk mereka semua. Jika tidak ada Pak Ahmad dia akan menendang Luna ke luar, hatinya kesal jika melihat muka gadis itu apalagi tadi dia bersikeras ingin berangkat bersama dengannya. Parahnya rekan kerjanya yang lain membiarkan mereka berdua untuk berduaan di dalam mobil. “Boleh Lun. Nanti saya kabarin lagi kapan apartemennya siap untuk kamu tinggali.” Halaman belakang rumah Revan benar-benar tidak ada tanaman satu pun. Bahkan mereka bisa dengan jelas merasakan panas matahari sore. Berbeda dengan ruang belakang rumah Airin yang sangat sejuk bahkan Marvel akan betah jika ada di sana. Untung saja Airin membuat es jeruk untuk semuanya. “Kak Revan benar-benar harus mencari istri biar rumah segede ini lebih terurus. Tadi juga gue nggak sengaja lihat pecahan piring. Untung nggak keinjak,” ujar Hendi sambil meneguk habis es jeruknya. Revan yang mendengar hal itu terkejut. “Kaki Lo nggak apa-apa kan Hen?” “Nggak. Semalam Lo kenapa sampai mecahin piring? Nggak ada maling yang datang kan?” Revan menggelengkan kepalanya. “Nggak ada. Itu karena kecerobohan gue aja makanya piringnya bisa pecah.” “Makanya Lun Lo harus sering datang ke sini Lun, biar Revan nggak mecahin piring lagi.” Hendi hanya bercanda untuk membuat suasana menjadi seru. “Tenang aja. Gue akan selalu ke sini untuk mengunjungi calon suami gue,” jawab Luna membuat semua yang mendengar hal itu tertawa hanya Revan yang memasang wajah datar. Lelaki itu khawatir jika Airin akan merasa cemburu mendengar perkataan Luna. Suara bel masuk menghentikan tawa mereka semua. Revan bergegas ke depan dan membayar semua makanan yang sudah tiba. Dia memesan ayam goreng KFC, kentang, es krim dan minuman soda. Lelaki itu membawanya dengan bantuan Hendi. Semuanya pun bersorak melihat makanan sudah tiba. Tidak butuh basa-basi kembali mereka semua segera memakan makanan itu. Luna duduk di tengah-tengah Airin dan Revan. Gadis itu tidak akan membiarkan keduanya memiliki kesempatan untuk berduaan. “Makan yang banyak Rin,” ujar Revan sambil menukarkan ayam paha miliknya dengan ayam d**a Airin. Wanita itu sangan menyukain paha ayam dan mereka akan sering bertukar ayam jiga Revan mendapatkan bagian paha. Luna cemburu melihat hal itu. Ia pun menukarkan kembali ayam paha miliknya denga milik Airin yang pemilik awalnya adalah Revan. “Nggak apa-apa kan Kak?” Airin mengangguk dan tersenyum simpul. Wanita itu bisa melihat dari mata gadis itu bahwa Luna benar-benar merasa tidak suka dengan perhatian yang diberikan oleh Revan untuknya. “Luna! Lo nggak sopan banget, ingat Airin itu senior Lo!” “Nggak apa-apa Van. Santai aja, gue tetap makan ayam. Jadi jangan di permasalahkan ya.” Revan terdiam dan kembali fokus memakan makanannya meskipun sudah tidak berselera. Selain harus menjauhkan Marvel dari Airin ia juga harus menyingkirkan Luna dari kehidupannya. Dia tidak mau gadis itu salah paham dan membuat hubungan mereka semakin menjauh. Setelah makan bersama mereka memutuskan untuk membantu Revan untuk membersihkan rumahnya. Besar rumah ini sama dengan ukuran rumah mertuanya Airin. lantai dua dengan halaman belakang yang besar. Airin heran kenapa Revan memilih untuk tinggal di rumah ini sendirian, jika Revan adalah Airin wanita itu memilih tinggal di apartemen. Airin membawa satu kantong keresek yang berisi sampah. Revan dan rekan kerja laki-lakinya yang lain sedang fokus membersihkan kamar Revan. Dia membawa kantong sampah itu ke depan melewati Luna yang sedang menikmati es krim miliknya di ruang tamu. Airin membulatkan kedua matanya ketika melihat televisi besar ada di dalam tong sampah dalam keadaan terbelah menjadi beberapa bagian. Dia kembali mengingat perkataan Hendi yang tidak sengaja melihat pecahan piring. Airin mendadak takut jika sahabatnya benar-benar mengalami pencurian. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN