Setelah menunaikan solat isya Pak Ahmad dan semua rekan kerja Revan di divisi keuangan pamit undur diri. Pak Ahmad ikut dengan mobil bawahannya yang lain bersama dengan Hendi sedangkan Airin dan Luna masih tetap berada di rumah Revan. Rumah sahabatnya itu sudah rapih dari sebelumnya membuat Airin merasa lega dibuatnya. Airin pun melirik Luna yang sedang berdiri di sampingnya menatap halaman depan rumah Revan.
“Lo mau bawa mobil dulu atau langsung ke rumah,” tanya Airin karena mobil Luna masih berada di kantor.
Luna melirik Airin dan tersenyum. “Lansung pulang ke rumah aja, mobil udah dibawa sama adik gue.”
Airing menganggukkan kepalamya. “Yaudah, kalau gitu gue balik dulu. Lo tunggu Revan dia kalau ganti baju suka lama.”
Luna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Airin itu baik hanya saja ia akan kesal kepadanya jika Revan sudah mulai perhatian kepada wanita itu. Padahal lebih catikan Luna daripada Airin apalagi ia masih gadis sedangkan seniornya itu sudah menjadi janda. Kenapa lelaki itu lebih perhatian kepada Airin? Apa yang kurang dari dirinya?
“Loh? Airin kemana? Dia udah pulang duluan?” tanya Revan karena tidak menemukan keberadaan Airin di depan rumahnya.
Luna tersenyum simpul. “Udah di telepon sama Tante Endang. Makanya dia udah pulang.”
Revan mengepalkan kedua tangannya. Airin benar-benar di monopoli oleh keluarga itu dia tidak bisa membiatkannya terlalu lama.
“Lo pulang sama siapa?” tany Revan sambil melirik Luna yang masih berada di rumahnya.
“Sama kakak lah, aku berangkatnya bareng Kak Revan jadi pulangnya juga harus sama Kak Revan. Kak Revan harus tanggungjawab dong.”
Revan memutar matanya kesal. “Mobil Lo gimana? Gue antar ke kantor aja.”
Luna menggelengkan kepalanya. “Tenang, mobil aku udah dibawa sama adik aku. Jadi Kak Revan harus anterin aku ke rumah.”
“Kalau Kak Revan mau aku menemani Kak Revan aku mau kok. Nggak ada yang cemburu.”
Revan tidak mau Airin salah paham lagi bisa-bisa dia akan memikirkan sesuatu yang buruk tentangnya. Mana mungkin ia bisa berduaan dengan wanita lain di rumah ini? Rumah ini ia beli untuk Airin.
“Cepetan masuk!” ujar Revan yang sudah berada di dalam mobil.
Luna pun tersenyum senang, hatinya merasa berbunga-bunga karena akan berduaan dengan Revan. Mereka tidak akan bisa berduaan jika di dalam kantor karena ada Airin yang selalu mendekati laki-laki kesukaanya.
Suasana di dalam mobil pun di d******i oleh musik yang ada di dalam radio. Lagu Taylor Swift Belong With Me yang berhasil memasuki peringkat pertama sebagai lagu favorit di radio itu diputar. Luna melirik Revan yang sangat fokus memperhatikan jalanan.
“Kak.”
“Apa?”
“Kak Revan kenapa pindah rumah? Bukannya lebih enak tinggal di apartemen?”
“Terserah gue. Mau gue tinggal di kolong jempatan sekalipun nggak ada hubungannya sama Lo.”
Luna mencebikkan mulutnya. “Belok kiri,” ucapnya memberitahu Revan arah rumahnya.
“Kak.”
“Apa sih Lun?”
“Kakak cinta sama Kak Airin?”
Revan terdiam. “Sebaiknya Lo jangan ikut campur sama urusan gue. Gue mau cinta sama Airin pun itu hak gue.”
“Stop!”
Revan seketika memberhentikan mobilnya dan melirik Luna dengan tatapan marah. “Luna! Kalau kita kecelakaan gimana?!”
“Kita udah sampai!” ucapnya sambil menunjuk rumah putih berlantai dua itu.
Revan menyandarkan punggungnya di kursi dan menghela nafas lega. Luna malah terdiam tidak turun dari mobilnya. “Turun Lun! Lo mau apa lagi!” Revan marah karena Luna terus saja diam.
Gadis itu pun melepaskan sabuk pengaman dan dengan secepat kilat mencium sisi bibir Revan, hanya sekilas hanya saja berhasil membuat lelaki itu berdetak kencang karena kaget. Luna dengan secepat kilat keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
Revan masih membisu karena ini pertama kalinya ia bersentuhan secara langsung dengan seorang wanita. Ia bisa disebut lelaki paling setia di muka bumi karena hati dan tubuhnya ia persiapkan untuk Airin seorang tidak ada wanita lain. Hanya saja apa yang dilakukan oleh Luna membuatnya terpaku.
Airin tersenyum senang ketika sepulangnya ia dari rumah Revan, Marvel menyambutnya dengan tatapan ceria dan berhasil melenyapkan rasa lelahnya. “Tadi Miss suruh Marvel untuk mewarnai dan aku dapat nilai A loh Tante. Gimana bagus kan?”
Airin menganggguk setuju. “Marvel itu memang pintar mewarnai. Warna gambar milik Marvel rapih banget Tante juga syok pas lihat hasilnya. Tante waktu kecil nggak bisa mewarnai serapi ini.”
“Nanti aku ajarin Tante.”
Airin mencium pipi Marvel karena tidak tahan melihat tingkah lucunya. “Makasih, Tante tunggu loh ya,”
Marvel mengangguk kemudian Theo yang berada di atas turun mendekati mereka berdua yang sedang duduk di sofa depan televisi.
“Marvel Mami mau bicara sama Marvel, udah lama kan Marvel nggak berbicara berdua sama Mami.” Maminya Marvel yang merupakan mantan istri Theo menelponnya dan mengatakan ingin berbicara dengan anaknya. Sudah lama sekali mereka berdua tidak bertemu apalagi kiti Marvel lebih betah tinggal di Indonesia daripada di Singapura.
Marvel menggelengkan kepalanya dan memeluk Airin dengan erat. “Marvel nggak mau bicara sama Mami. Marvel maunya bermain sama Tante Airin Daddy.”
Airin tersenyum simpul kemudian mengelus rambut Marvel dengan lembut. “Marvel besokkan Marvel bisa main sama Tante. Sekarang Marvel bermain sama Maminya Marvel ya.”
Marvel menggelengkan kepalanya dan semakin mempererat kedua tangannya yang memegang tangan kanan Airn. Dia tidak mau bermain dengan Maminya! Pokoknya ia ingin terus bermain sama Tante kesayangannya.
“Sudahlah Theo kalau Marvel nggak mau jangan dipaksa. Besok juga bisa kan?”
Theo menggelengkan kepalanya. Marvel harus tetap menghargai Ibu kandungnya meskipun dia lebih mencintai Tantenya. “Marvel. Daddy marah kalau kamu nggak mau berbicara sama Mami. Kamu tahu kan nggak boleh melakukan tindakan tidak sopan ke Mami? Mami yang udah melahirkan Marvel jadi Marvel harus menghargai Mami.”
“Kalau Marvel masih nggak mau berbicara sama Mami. Besok kita ke Singapura dan datang ke rumah Mami. Jadi pilih Marvel mau berbicara sekarang lewat telepon atau datang langsung ke sana?”
Marvel seketika turun dan melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Airin. “Nggak. Marvel nggak mau ke Singapura.”
Theo tersenyum simpul dan mengajak Marvel pergi ke atas. “Makanya Marvel harus tetap sopan ke Mami meskipun Mami nggak ada di sini.”
“Kalau nggak mau kenapa dipaksa? Ibu juga nggak pernah maksa Theo untuk pulang ketika lebaran,” ujar Endang yang sedari tadi memperhatikan Theo yang marah kepada anaknya.
Endang duduk di samping Airin sambil membuka kaleng berisi keriping kentang di dalamnya. Nikmat sekali memakan keripik kentang sambil nonton drama kesukaanya.
“Airin kagum banger sama Kak Theo. Meskipun Kak Theo dan istrinya sudah bercerai Kak Theo nggak pernah sekali pun menjelakkan mantan istrinya di hadapan Marvel. Jarang loh Bu laki-laki yang seperti itu.”
Endang mengangguk setuju. Anaknya memang lelaki sejati yang sangat menghormati semua wanita. Termasuk wanita yang sudah menyakitinya.
**