Bab 46

1066 Kata
Setelah menunaikan ibadah solat subuh Airin memutuskan untuk menyirami tamanan yang ada di depan rumah. Ada bunga angrek, kamboja dan melati semua itu adalah bunga kesukaan Endang yang dibelikan Tendi sebagai kado ulangtahun untuk ibunya. Setelah selesai menyirami bunga kedua tangan itu dengan cekatan membawa pupuk dari karung dan menyatukannya dengan tanah bunga itu. Sudut bibirnya tertarik melihat keindahan alam yang ada di halaman rumahnya. Dia bahagia melihat tanaman-tanaman yang di beli oleh suaminya masih hidup bahkan ada yang berbunga. Hanya saja ketika melihat daun-daun dan plastik yang berdiam diri di dekat bunganya membuat ia sedikit risih. “Lagi nyapu Rin?” tanya Bu Aisyah adik Ibu mertuanya yang bekerja sebagai PNS di salah satu puskesmas yang ada di Jakarta. “Iya Bi. Bibi mau ke Ibu?” tanya Airin sambil membuka pagar karena satpam yang ada di rumahnya masih berada di belakan rumah. Bi Aisyah berjalan ke dalam sambil membawa piring yang ditutupi oleh plastik. “Bibi tadi masak ikan goreng. Paman kamu semalam habis mancing dan lumayan dapet banyak, terus nggak mungkin kan Bibi makan sendirian. Di rumah lagi nggak ada siapa-siapa, anak-anak lagi pada kuliah di Yogya.” Airin mengikutinya dari arah belakang. “Makasih Bi, Marvel seneng banget kalau makan ikan goreng.” “Makanya Bibi ke sini. Ingat Marvel juga,” jawabnya sambil meletakkan piring itu di atas meja. “Syah, ada apa? Nggak biasanya pagi-pagi ke rumah.” Endang keluar kamar sambil mengikat rambutnya menggunakan ikat rambut. Aisyah duduk di kursi meja makan. “Suami aku mancing dan alhamdulillah dapet banyak ikan. Makanya aku bawa ke sini. Tinggal makan aja, jadi Kakak nggak usah masak.” “Belum pada bangun ya? Di rumah aku kalau jam segini udah pada bangun,” sambung Aisyah sambil melihat keadaan rumah yang masih sepi. Endang mengangguk dan duduk di depan Aisyah yang hanya terhalang oleh meja makan. “Aku juga capek ngurusin laki-laki di rumah ini. Dari Bapak sampai cucu susah bangun pagi, sesudah solat subuh bukannya bangun malah tidur lagi.” “Untung Airin nggak seperti mereka, kalau sama udahlah aku akan stres tinggal di rumah kamu. Suami kamu apa kabar Syah.” “Airin cocok banget loh Kak jadi ibunya Marvel. Di dalam agama juga nggak apa-apa kan nikah dengan adik ipar. Nggak haram juga, kenapa nggak dinikahin aja? Tetangga udah pada ngomong di warung soal kedekatan Theo dan Airin apalagi kan Airin suka di antar dan jemput sama Theo,” ujar Aisyah tujuannya ke sini bukannya untuk mengantarkan ikan saja akan tetapi membahas kedekatan antara Theo dan Airin. Airin yang sedari tadi hanya diam di sebelah Endang kaget mendengar perkataan Aisyah. Dia dan Theo hanya sebatas adik ipar dan kakak ipar tidak lebih. Memangnya salah mereka selalu pergi berdua kemana-mana? Theo sudah ia anggap sebagai kakak sendiri mana mungkin bisa dia menikah dengan kakaknya sendiri? “Mbak Jihan pasti setuju juga kalau Kak Endang kasih tahu dia. Iya kan Airin?” Airin memutar bola matanya dengan perasaan jengkel. Malah sebaliknya jika Mama Airin tahu sudah dipastikan ia akan dipaksa angkat kaki dari rumah ini. “Kurang tahu juga Bi. Aku juga nggak ada niatan untuk menikah sama Theo. Kita itu saudara masa aku nikah sama saudara sendiri sih?” Pagi ini benar-benar menguji kesabaran Airin. Bahkan dia sama sekali tidak membangunkan Marvel seperti biasanya, tidak sarapan bersama dahulu dengan alasan jika ia memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus segera dikerjakan. “Maafkan Tante Marvel. Perasaan Tante lagi hancur banget,” ucapnya sembari meninggalkan rumahnya menggunakan mobil merah miliknya. Airin terdiam ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Dia menatap langit yang begitu cerah. Entah kenapa dia sangat merindukan Tendi. Mobilnya tidak berbelok menuju kantornya ia memutuskan untuk mengunjungi Tendi. Dia ingin meluapkan kerinduannya kepada suaminya. Marvel terus saja menanyakan kenapa Tante kesayangannya tidak membangunkannya. “Biasanya Tante Arin selalu membangunkan Marvel, kenapa sekarang nggak Daddy?” Theo menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Endang yang tidak mau cucunya bersedih pun menatapnya dengan lembut. “Tante Airin lagi banyak kerjaan, makanya berangkatnya pagi. Sekarang Marvel makan yang banyak ya.” Endang memberikan ikan goreng yang diberikan oleh Aisyah ke piring Marvel dan disambut dengan riang oleh cucunya. “Theo nanti setelah makan Ibu mau bicara sama kamu,” ujar Endang sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke halaman belakang. Theo pun langsung mengikuti ibunya karena penasaran. “Ada apa Bu?” “Tadi Tante Aisyah datang terus bilang bahwa kamu dan Airin sudah mulai digosipkan oleh para tetangga di warung. Ibu takut lama kelamaan Tante Jihan tahu dan bawa dia dari sini. Ibu nggak mau pisah sama Airin,” ujar Endang sambil memandang Theo dengan tatapan memohon. “Kamu bisa nggak mulai sekarang jaga jarak dari dia?” Theo menghela nafasnya. “Bu, Theo nggak bisa jaga jarak dari Airin, Theo suka Bu sama dia. Kalau Ibu merestui Theo buat menikah dengan Airin aku akan lamar dia sekara. Kalau misalnya Airin menolak Theo dan Marvel akan angkat kaki di rumah ini.” Endang terdiam, ia juga tidak mau jauh dari anak dan cucunya, dia harus memutar otaknya agar ia tidak kehilangan mereka berdua. “Begini saja, kamu mulai sekarang berusaha untuk mendapatkan hati Airin. Ibu nggak mau kalian berdua menikah karena tidak saling mencitai. Meski pun Airin dan kamu sudah dewasa cinta di dalam sebuah rumah tangga itu penting.” “Ibu akan berusaha tutup telinga dari omongan tetangga dan kamu harus berusaha mendapatkan cinta Airin. Ibu nggak bisa bantu banyak hanya saja Ibu bisa kasih tahu kamu dari sekarang bahwa Airin sangat mencintai adik kamu.” Theo terdiam dibawah pohon mangga yang ada di belakang rumah. Dia memikirkan bagaimana cara merebut hati Airin dari adiknya sendiri? Theo memandang langit dan dalam hati mengucapkan maaf kepada Tendi karena sudah berniat untuk menjadikan adik iparnya sendiri sebagai istrinya. Theo tertarik kepada Airin bukan karena fisiknya yang bagus. Apalagi pinggul kecil Airin yang sangat menarik perhatiannya apalagi ketika berjalan. Lelaki itu menjitak kepalanya sendiri karena telah berpikiran hal kotor. Dirinya baru pertama kali ini merasakan perasaan senang ketika bersama dengan orang selain keluarganya sendiri, tidak merasa risih ketika dia berada di sisinya dalam waktu lama malahan dia merasakan debaran yang aneh dalam dirinya. “Daddy!” “Daddy dipanggil dari tadi nggak kedengaran ya?” Theo tersenyum lebar melihat kedatangan Marvel. Anak itu masih memakai seragam sekolahnya. Dia menjadi kepikiran dengan perasaanya kepada Airin. Apakah anaknya akan suka jika Airin menjadi ibu kandungnya? **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN