Bab 47

1054 Kata
Kedua tangan Airin sibuk mengetikkan angka-angka yang ada di buku laporannya. Tidak ada satu pun orang yang diajaknya berbicara termasuk Revan, ia merasa kesal dengan perkatan Bi Aisyah yang seenaknya mau menjodohkan dengan Theo. Siapa dia? Ibunya juga tidak pernah mencoba menjodohkanya dengan siapa pun. Bahkan Ibunya sendiri lebih bahagia jika Airin hidup bersama dengan cowok pilihannya bukan pilihan orang lain. Airin memang sangat sayang kepada Marvel hanya saja kasih sayang itu bukan karena ia mencintai Theo dia murni menyayangi Marvel tidak ada tujuan apa pun. Kedua matanya melirik jam kecil yang ada di sudut mejanya. Sebentar lagi waktu pulang kerja akan tiba namun, rasanya dia tidak ingin pulang ke rumahnya. Airin melihat Revan yang sedang fokus menatap komputer. Kali ini dia tidak akan meminta bantuan kepada Revan. Lebih baik hari ini dia pulang ke rumah daripada terjebak dengan sahabatnya itu. “Rin, kenapa? Ada masalah? Aku tahu ya tadi kamu natap aku lama,” ujarnya sambil menatap Airin yang dibalas oleh gelengan kepala. “Nggak. So tahu.” Airin segera membereskan barangnya ketika jam pulang kerja tiba. Dia buru-buru keluar dari ruangan menghiraukan Revan yang meminta untuk pulang bersama karena laki-laki itu tidak membawa mobil. Airin benar-benar ingin sendirian dia tidak mau menjadi bahan gosip lagi jika pulang bersama dengan Revan. Jam tujuh malam biasanya Marvel akan diam di ruang tamu sambil menunggu kepulangan Airin itu sudah menjadi rutinitasnya Theo pun menemaninya bersama dengan Bakti dan Endang sambil menonton drama pernikahan kesukaan Endang. Hanya ada satu televisi di rumah ini karena Endang tidak mau anak-anaknya menjadi anti sosial dan lebih memilih di dalam kamar ketimbang di luar namun, anehnya televisi itu malah dikuasai oleh Endang dan melarang anak-anaknya termasuk Marvel menganggunya ketika drama kesukaannya tayang. “Daddy, kenapa ibu itu menangis? Kenapa laki-laki itu memukul istrinya? Ayah nggak begitu kan?” Marvel terus saja mengoceh mengomentari semua adegan yang ada di dalam televisi. Theo pusing jika sudah seperti ini. “Makanya Bu, kalau ada Marvel jangan menonton drama ini. Nggak baik buat Marvel.” Endang menatap Marvel dan menggendongnya agar duduk di pangkuannya. “Marvel denger nenek, semua di drama itu hanyalah kebohongan. Kamu nggak boleh meniru adegan itu.” Marvel menganggukkan kepalanya. Berarti dia tidak boleh meniru semua adegan yang ada di televisi. Hanya saja dia suka meniru nyayian Spongebob. “Kalau meniru nyanyian boleh Nek? Di kartun Spongebob kan aku suka ikut nyanyi. Itu boleh?” Endang menghela nafas dan melirik Theo yang fokus dengan ponselnya menghiraukan ibunya, lelaki itu tidak mau pusing memikirkan jawaban untuk pertanyaan anaknya. Marvel tipe orang yang akan terus bertanya sebelum dia benar-benar puas. Untung saja sebelum Endang kembali menjawab pertanyaan cucunya, Airin datang dengan wajah datar dan berjalan dengan cepat mengabaikan semua orang yang ada di sana termasuk Marvel. Wanita itu berlari cepat ketika menaiki tangga dan meninggalkan Marvel yang berjalan mengikutinya. Theo terpaku dan melirik Endang. “Airin kenapa?” tanyanya sambil berdiri dan menatap anaknya yang berusaha mengejar Airin Endang menghela nafas dan bersandar di kursi. “Kamu bawa Marvel, dan bujuk dia supaya tidur sama kamu,” ucap Endang berusaha menjelaskan situasi ini kepada Theo. Theo menganggukkan kepalanya dan berlari mengejar Marvel. Kedua matanya menatap Marvel dengan pandanga sayu, dia kasihan dengan anaknya karena terkunci di luar. Airin benar-benar tega melarang Marvel untuk masuk ke dalam kamarnya. “Marvel mau masuk ke kamar Daddy. Mau sama Tante.” Marvel memeluk Theo supaya Daddy bisa membukakan pintu untuknya. “Malam ini Marvel tidur sama Daddy ya. Tante Airin lagi sibuk sama kerjaannya makanya dia butuh sendiri. Kalau Marvel masuk dan mengacaukan semuanya gimana? Marvel mau Tante Airin dimarahi sama bosnya?” Marvel menggelengkan kepalanya. “Marvel janji nggak akan ganggu Tante Airin. Marvel mau masuk Daddy.” Anank itu berusaha turun dari gendongan Theo hanya saja kekuatannya lebih kecil dari Daddynya membuat Marvel tidak bisa turun. “Marvel mau sama Tante Airin!” Marvel menjerit dan menangis ketika dipaksa masuk ke dalam kamar Theo bahkan anak itu memukul pintu kamar yang sengaja dikunci oleh Theo agar anak itu tidak bisa keluar. Airin menangis luar biasa mendengar teriakan Marvel di luar dia sebenarnya ingin membukakan pintu itu akan tetapi mendengar suara Theo membuatnya mengurunkan niatnya. Dia tidak mau mereka berdua berharap yang bukan-bukan kepadanya. Ia tidak mau statusnya menjadi istri Tendi diganti. Malam itu Airin berhasil menghindari Marvel, meskipun anak itu menangis sampai tertidur. Esoknya Airin bahkan berangkat pagi-pagi sekali sebelum Mavel dan semuanya terbangun. Setibanya di kantor kantin kantor pun masih belum buka dan sedang menyiapkan makanan-makanannya. Ia menghela nafas dan menatap langit biru matahari pun belum menampakkan wujudnya. Memang sepagi itu ia berangkat demi menghindar dari omongan tetangga yang menyakiti hatinya. “Terima kasih,” ujar Airin setelah melihat nasi goreng yang tadi dipesannya ada di atas meja. Tentu saja nasi goreng itu tidak seenak nasi goreng buatan mertuanya. Ingat kepada Endang dia lantas menunda makannya dan mengambil handphonenya yang ada di dalam tas. Ia mengetikkan sesuatu di sana. Ibu: Ibu aku pagi ini ada kerjaan yang harus diselesaikan, maaf karena nggak sarapan bersama. Endang pagi tadi membuat heboh karena Airin tidak ada di kamarnya bahkan ia mencari ke seluruh kopleks dan tidak lupa menghebohkan pak rt dan masyarakat semua. Ia mengehela nafas lega dan menatap warga yang masih ada di rumahnya. “Aduh, saya itu memang panikkan orangnya. Maklum Airin kan menantu kesayangan saya satu-satunya. Dia baru kasih kabar udah ada di kantor,” jelas Airin membuat semuanya tertawa dengan tingkah tetangganya itu. “Iya tidak apa-apa Bu. Berkat Bu Endang suami saya langsung bangun karena nggak kuat dengar tangisan Bu Endang. Biasanya susah sekali untuk bangun,” jawab salah satu ibu-ibu yang ikut dalam pencarian Airin. Tidak ada yang mengeluh mereka semua sudah seperti keluarga yang akan saling membantu jika sedang dalam masalah. Endang tidak mungkin tidak memberikan mereka apa-apa untungnya ada buah-buahan stok bulan ini dan langsung diberikan kepaada semuanya. “Tadi The mau kasih tahu ibu bisa aja Airin udah di kantor. Ibunya terlalu panik, malu kan sama tetangga,” ucap Theo sambil berjalan masuk setelah mengantar satu kompleks keluar rumah. “Kalau belum 24 jam ngak bisa dibilang menghilang.” Tambahnya membuat Endang kesal. “Sudahlah, yang penting sekarang Airin ada di kantor. Hanya saja Ayah agak heran kenapa Airin pagi sekali berangkatnya? Meskipun ada laporan mendesak dia tidak pernah pergi secara diam-diam seperti sekarang.” **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN