Marvel mogok makan, apalagi ia tahu Tantenya pagi sekali sudah berangkat tanpa sarapan dengannya terlebih dahulu. Tente kenapa apakah ia berbuat salah kepadanya? Membuat Tante kesayangannya marah dan tidak mau berjumpa lagi dengannya?”
Marvel menggelengkan kepalanya ketika satu sendok berisi nasi dan ayam goreng ada di depan mulutnya. “Marvel nggak mau makan sebelum bertemu dengan Tante Airin. Daddy kita ke kantornya Tante Airin dan kasih dia makanan yuk.”
“Nggak boleh. Kantor bukan mall yang bisa dikunjungi sembarangan orang Marve. Kantornya Ayah juga hanya terima kamu dan tidak untuk yang lain.”
“Yaudah Daddy beli saja kantor itu agar aku bisa ke sana dan bertemu Tante Airin.”
Theo menggelengkan kepalanya. “Daddy nggak bisa beli kantor itu. Harganya mahal, lebih mahal kantor Tante Airin daripada kantor Daddy.”
Endang menatap tingkah cucu dan anaknya. “Marvel, kamu kan mau ketemu sama Tante Airin syaratnya harus makan terlebih dahulu. Jadi saat Tante Airin pulang Marvel punya tenaga untuk paksa Tante Airin main kalau kamu nggak makan kayak kemarin Marvel nggak bisa paksa Tante bermain.”
Betul juga perkataan neneknya jadi kemarin Tante Airin menguji kemampuannya dalam berlari? Marvel pun memegang sendoknya sendiri dan melahap makanannya dengan lahap.
Theo, Endang dan Bakti melihat Marvel dengan pandangan miris. Anak itu tidak tahu masalah yang sebenarnya dan mereka tidak akan memberitahukan atau membicarakan hal itu di depannya.
“Kamu harus menjelaskan semuanya kepada Airin Theo. Jelaskan bahwa kamu tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya. Airin akan menjauh dari kamu kalau kamu nekat menyatakan perasaan kamu kepadanya,” jelas Endang sambil berkacak pinggang di halaman belakang. Marvel sedang sekolah ditemani Bakti yang tidak ada pekerjaan hari ini maka dari itu ia akan membahas masalah ini dengan Theo.
“Kamu juga harus bilang kalau kamu akan menjelaskan kepada Bi Aisyah bahwa kamu dan Airin tidak ada hubungan spesial,” tambahnya lagi.
Theo hanya terdiam, jalan keluar dari masalah ini adalah kehadirannya yang mengundang tetangga untuk bergosip karena merasa ia da Airin tidak pantas untuk berduaan. “Theo tinggal di apartemen aja? Kalau kangen sama Marvel tinggal ke sini. Kunci biar Airin kembali seperti dulu adalah aku nggak satu rumah sama dia Bu.”
“Ibu nggak mau tinggal terpisah dari kamu Theo. Yaudah biarkan Ibu yang menjelaskan semuanya kepada Airin.”
Theo menggelengkan kepalanya, “Biar Theo saja yang menjelaskan semuanya kepada Airin, Theo juga akan memohon kepadanya untuk tidak menghindari Marvel.”
Endang mennganggukkan kepalanya. Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Belum lagi jika Jihan mengetahui kehadiran Theo akan semakin memperumit masalah. Bisa saja kan dia memaksa Airin untuk pulang dan hidup bersamanya di Yogyakarta.
Revan menatap aneh ketika melihat Airin sudah duduk dengan manis di kursi kerjanya, tidak biasanya wanita itu datang lebih dulu darinya biasanya akan mepet jam masuk dan mengeluh kemacetan yang ada di Jakarta.
Lelaki itu menghela nafas kesal ketika merasakan sentuhan tangan Luna yang mnggelayut manja di lengannya. Dia tersenyum manis kepada Revan meskipun lelaki itu hanya menatap datar kepadanya.
“Loh? Kak Airirn sudah datang. Kak Airin!” sapanya dan membuat Revan panik melepaskan rangkulan tangan Luna agar Airin tidak melihatnya.
Airin membalikkan badanya dan tersenyum simpul. “Kalian berangkat bareng?”
“Nggak!” Revan langsung menjawab dia tidak mau Airin salah paham dan berpikiran kalau antara dia dan Luna ada hubungan spesial.
Luna hanya mendengus dan memasang wajah cantiknya dengan senyuman tipis. “Ketemu di depan, Kak Airin nggak biasanya berangkat pagi? Ada apa?”
Luna juga heran dengan kedatangan Airin di pagi hari ini. Jam masuk kantor masih lama, dan seniornya itu berangkat satu jam lebih awal kenapa berangkat pagi sih? Luna kan ingin berduaan dengan Kak Revan.
“Ada kerjaan yang harus segera dikerjakan Lun.”
Luna menganggukkan kepala dan berjalan mendekati meja kerjanya. Airin kembali sibuk memindahkan angka-angka yang ada di laporannya tanpa mempedulikan Revan yang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Lo tahu nggak?”
“Apa?”
“Satu komplek cari Lo.”
Airin menatap Revan dengan pandangan kaget. “Kenapa?”
“Karena lo berangkat kerja nggak pamitan sama orang rumah. Gue juga cari kamu dan langsung berangka kerja ketika Bu Endang bilang lo ada di sini.”
“Lagi ada masalah sama orang rumah Rin?” sambung Revan sambil memasang wajah penasaran.
Airin menggelengkan kepalanya. “Nggak. Seperti yang tadi aku bilang gue ada kerjaan makannya langsung ke sini tanpa kasih tahu Ibu dulu.”
“Kalau ada apa-apa lo bisa curhat ke gue Rin. Kita udah sahabatan dari SMA dan gue akan selalu ada waktu buat dengerin semua keluh kesah lo.”
Hari ini Theo ingin berdiskusi lagi tentang agendanya bulan ini. Apakah ia memang harus tinggal di Singapura dan membiarkan Marvel untuk tinggal di rumah ini? Hanya saja dia tidak ingin kesepian.
“Fer bulan ini ada yang minta untuk rapat eksternal secara langsung sama saya?”
Feronika membaca kembali agedannya. “Tidak ada Pak. Semuanya setuju untuk rapat secara online, Bapak mau saya jadwalkan rapat eksternah secara langsung?”
“Nggak usah Fer. Tapi kalau ada yang mau saya akan datang ke Singapura.”
“Pak bulan depan saya akan menikah. Bapak sudah mencari orang untuk menjadi pengganti saya selama satu minggu?” Feronika akan segera menikah dengan tunangannya dan mereka berencana akan berliburan ke Bali.
“Nggak usah, saya lebih percaya kamu daripada orang lain. Saya juga masih bisa mengatasi pekerjaan ini tanpa bantuan kamu kalau hanya seminggu. Kamu nggak berencana untuk keluar kerja kan?”
Feronika menggelengkan kepalanya. “Calon suami saya setuju kalau setelah menikah dan memiliki anak saya tetap bekerja. Bapak tahu sendiri biaya hidup di Singapura dari tahun ketahun bukannya turun tapi naik terus.”
“Bagus kalau begitu. Nggak baik juga bergantung sama suami. Kalau misalnya kalian bertengkar dan bercerai kamu nggak akan pusing cari uuang Fer. Tapi kalau kamu memutuskan untuk berhenti dan suatu saat ingin bekerja kembali kamu bisa datang ke saya Fer.”
“Saya sudah mengakui kemampuan kamu yang hebat itu Fer, dan kantor ini akan selalu membukakan pintunya untuk kamu,” sambung Theo dan membuat Feronika menangis karena terharu. Tidak ada hubungan asmara diantara mereka meskipun banyak diantara teman-teman Feronika yang bekerja sebagai sekertaris dan memiliki hubungan terlarang dengan bosnya.
“Terima kasih Pak.” Feronika juga sangat menghormati Theo bahkan dia menganggap atasanya seperti kakak sendiri. Theo akan selalu melindunginya dari rekan kerjanya yang mata keranjang meskipun membuat hubungan mereka menjadi tidak harmonis seperti dulu. Feronika berharap Theo mendapatkan semua yang dia inginkan termasuk ibu yang baik untuk Marvel.
***