Sepulang sekolah Marvel memasang wajah lesu dan tidak berdaya membuat Theo yang melihatnya langsung menggendong anak itu dan menatap ibunya dengan pandangan bertanya. Rupanya ia tidak perlu menunggu jawaban dari ibunya dari suhu panas yang berasal dari Marvel dia tahu bahwa anaknya sedang demam.
“Marvel mau ketemu Tante Airin Daddy,” ujarnya sambil mengeratkan pelukannya kepada tubuhnya. Theo mengelus kepala Marvel dengan lembut dan membawanya untuk istirahat di kamar.
“Kalau Tante Airin sudah pulang ya. Sekarang Marvel makan dan minum obat dulu. Kalau kamu sakit kamu nggak bisa main sama Tante Airin,” jawab Theo dibalas dengan anggukan lemah dari anaknya.
Hati Theo terasa tercabik melihat keadaan anaknya yang menderita seperti ini. Kali ini dia harus bisa membuat Airin tidak menjauh dari Marvel karena anaknya akan sangat menderita lebih dari ketika ibu kandungnya meninggalkan Marvel.
Theo membaringkan Marvel di atas kasur miliknya lalu Endang masuk membawa bubur yang baru saja datang, air minum dan obat penurun panas kemudian ia simpan di samping kasur.
“Marvel makan dulu ya. Katanya mau ketemu Tante Airin,” ucap Endang sambil duduk di dekat cucunya.
Marvel membuka kedua matanya dan bersandar di tumpukkan bantal yang disiapkan oleh Theo. Tidak ada tenaga dalam tubuhnya, lemas karena harus berjuang menghadapi sakit yang ada di dalam tubuhnya.
“Bu, kita ke rumah sakit aja?”
Ibu
Rin, Marvel sakit dan sekarang Ibu dan Theo lagi bawa dia ke rumah sakit Husada. Kalau Marvel dirawat nanti ibu kasih tahu lagi.
“Laporan dari gudang belum dikasih ke gue lagi Van. Gue harus ambil sendiri laporannya ke gudang?” keluh Airin karena sudah tanggal tua seperti ini laporan dari admin gudang belum saja dikirim kepadanya.
Revan menegakkan badannya agar bisa melihat Airin yang ada di sebrangnya. “Telepon aja Rin.”
“Males, gue takut jadi emosi kalau laporannya belum selesai.”
“Yaudah gue aja yang telepon tapi gue nggak punya nomor adminnya,” ucap Revan sambil menatap Airin yang sedang mengeluarkan ponselnya.
“Pake ponsel gue aja.”
Revan dengan senang hati menerima ponsel itu dan duduk kembali dengan nyaman hanya saja mimik mukanya berubah menjadi dingin ketika membaca pesan dari Endang yang mengatakan Marvel sakit dan sedang dibawa ke rumah sakit. Memangnya Airin ibu kandung Marvel? Dia hanya bibinya dan tidak lebih dari itu. Tanpa basa-basi Revan menghapus pesan itu dan tersenyum simpul. Kali ini dia berterima kasih kepada Tuhan karena memberinya kesempatan untuk memberikkan jarak antara Marvel dan Airin.
“Besok dikirim ke sini Rin. Lo butuhnya kapan?” tanya Revan setelah menelepon kepada pihak admin gudang.
Airin berdecak kesal. “Sekarang, tapi nggak apa-apa deh kalau besok juga.” Wanita itu beranjak dari kursinya dan menghampiri Pak Ahmad untuk melaporkan kelakuan admin gudang yang seenak jidatnya. Bekerja itu harus sesuai dengan jadwal jika lambat seperti ini akan memperhambat semuanya bahkan Airin akan dibabat habis oleh Pak Ahmad jika laporannya tidak kunjung selesai.
Revan hanya tersenyum simpul sambil mengembalikkan kembali ponsel Airin di meja kerjanya. Hari ini suasana hatinya sangat bagus sekali apalagi dia berhasil menghapus pesan penting dari Endang.
“Rin, ponselnya gue simpan di sini ya?”
Airin membalikkan badan dan mengangguk singkat ia pun kembali berdiskusi dengan Pak Ahmad tanpa peduli dengan ponselnya.
Marvel sudah ditangani untung saja Theo cepat membawa anak itu ke rumah sakit jadi hanya darahnya saja yang mengental, trombositnya tidak turun parah dokter menyarankan agar terus minum dan dikasih influs. Theo mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter karena itu baik untuk anaknya.
Setelah selesai di IGD Marvel dipindahkan ke kamar rawatnya. Kamar rawat Marvel VIP, tidak berbagi dengan orang lain Theo tidak mungkin membiarkan anaknya satu ruangan dengan orang yang sama sakit sepertinya bukannya sembuh malah anak itu akan semakin sakit. Uangnya masih banyak dan mampu membiayai kamar rawat anaknya.
“Ibu beneran udah kasih tahu Airin?” tanya Theo saat Endang keluar dari toilet. Endang mengelap mukanya yang basah oleh handuk dan menghampiri anaknya yang sedang duduk di sofa. Bukan hanya kasur yang khusus untuk Marvel kamar VIP juga menyediakan AC, sofa, kulkas dan bahkan ada ruang tunggu khusus untuk orang yang ingin menginap di sini.
“Udah. Sepertinya Airin sedang banyak kerjaan makanya dari tadi Whats App dari Ibu belum dibalas juga.”
Theo menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia memejamkan kedua matanya mengistirahatkan badanya yang terasa sangat lemas. Sebelah tangannya memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa pening memikirkan sikap Airin yang masih tidak peduli kepada anaknya.
“Ayah udah Ibu suruh buat di rumah dan ke sini setelah Airin pulang kerja. Kamu jangan khawatir pasti Airin akan datang ke sini,” jelas Endang kepada anaknya yang terlihat sangat kacau. Theo paling panik diantara Endang dan Bakti bahkan sangking paniknya dia sempat berteriak marah karena kelalaian para perawat dan dokter yang tidak langsung menangani anaknya.
“Tadi Marvel panggil-panggil nama Airin terus Bu. Theo sedih banget karena gara-gara Theo Airin jadi menjauh dari Marvel.”
Saat ini perasaan Theo sangat gundah, apalagi melihat anaknya yang terbujur lemas di atas kasur rumah sakit tidak bisa bergerak dengan leluasa karena selang infus yang menghalagi. Hatinya sesak dan merassa gagal karena tidak bisa mengurus Marvel dengan baik.
“Jangan terlalu kahwatir Theo. Marvel akan baik-baik saja. Dokter juga bilang anak itu hanya butuh banyak minum,” tutur Endang sambil mengusap punggung Theo dengan lembut. Meskipun anaknya sudah dewasa badannya pun sudah menyaingin Bakti suaminya hanya saja di matanya Theo tetap anak kecil yang harus dia lindungi.
Airin merentangkan kedua tangannya setelah keluar dari dalam mobil. Hari ini dia pulang sangat larut banyak sekali masalah hari ini dan berhasil menyita banyak waktunya. Bahkan untuk dia tidak sempat untuk makan sore tadi.
Bentuk ikatan rambutnya sudah acak-acakan, wajahnya sudah layu tidak ada semangat sedikit pun. Airin merasa bersyukur karena Marvel di jam segini sudah tertidur. Dia sangat kangen kepada anak itu dan rencananya besok dia tidak akan menjaga jarak dari Marvel. Seharusnya Airin menjauh dari Theo bukan Marvel.
“Assalamualaikum,” ucap Airin, tidak ada jawaban. Suasana pun terasa hening tidak ada Theo yang sibuk dengan laptopnya di tengah rumah. Ayah dan Ibu pun yang biasanya sedang menonton televisi tida terlihat batang hidungnya. Apakah semuanya sudah tidur?
Airin terperanjat ketika mendengar suara pintu kamar yang dibuka. Bakti berdiri di belakangnya dengan memakai sarung dan kaos putih.
“Ayah belum tidur?”
Bakti menggelengkan kepalanya. Dia hanya diam sambil mendekati Airin. Dia harus menjelaskan masalah ini dengan tenang tidak boleh membuat Airin kahwatir.
“Marvel sakit dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Theo dan Ibu ada di sana Ayah disuruh menunggu kamu. Kamu mau kan ke rumah sakit jenguk Marvel?”
***