Bab 50

1062 Kata
Airin tidak menyangka Marvel akan jatuh sakit. Dia menyeka air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya. Bakti menepuk-nepuk punggung menantunya dan tersenyum simpul. “Marvel baik-baik saja Airin. Anak itu hanya kekurangan cairan, tidak ada masalah serius. Jadi kamu jangan menangis seperti ini ya. Marvel akan sedih jika melihat kamu sedih seperti ini." Airin menyeka air matanya dia memejamkan kedua matanya mengumpulkan kekuatan agar tidak menangis ketika tiba di kamar rawat Marvel. Dia sangat takut jika merasakan kehilangan untuk kedua kalinya. Marvel baik-baik saja kan? Anak itu tidak akan pergi meninggalkannya seperti Tendi kan? Langkahnya dengan cepat menelusuri koridor kosong rumah sakit. Kedua tangannya gemetaran ketika menyentuh pegangan pintu. Ketika dibuka terlihat Theo yang sedang sibuk dengan ponselnya. Pandangan Airin tidak terus fokus kepada lelaki itu tatapannya terus melihat anak kecil yang sedang terbaring lemah di ranjang. “Airin?” Theo kaget ketika melihat Airin sudah berada di samping anaknya, wanita itu sangat kacau air matanya sudah tumpah kedua matanya bengkak sepertinya Airin sudah menangis sebelum datang ke sini. Hati Airin begitu sakit melihat keadaan Marvel seperti ini. Wajah anak itu pucat, pergelangan tangan kanannya dipasang selang infus. Pasti rasanya menyakitkan. “Marvel… Maafkan Tante Airin ya. Maaf karena Tante Marvel sakit seperti ini. Tante janji kalau Marvel sembuh Tante akan penuhi semua keinginan Marvel,” ucap Airin sambil mengusap kedua matanya yang mengeluarkan air mata. “Penyakit Marvel tidak terlalu parah Airin. Dia cuma kekurangan minum saja. Jadi kamu jangan terlalu menghawatirkan dia.” Theo berusaha menenangkan Airin dan menjelaskan keadaan Marvel yang sesungguhnya. Entah kenapa melihat wanita itu mengeluarkan air mata membuatnya ingin sekali mneghentikan kesedihannya. Theo memperhatikan pakaian Airin yang masih memakai setelan kerjanya. Apakah wanita itu langsung ke sini ketika Bakti menjelaskan semuanya? Senyum tipis pun terbentuk ketika memikirkan kemungkinan itu. “Kamu bawa baju ganti?” tanya Theo kepada Airin yang masih setia menggenggam tangan Marvel yang bebas dari selang infus. Airin menggelengkan kepalanya dia menatap pakaian kerjanya yang sudah berantakan. Setelah mengetahui Marvel dilarikan ke rumah sakit Airin tidak sempat mengganti bajunya dia langsung memohon kepada Bakti agar segera diantar ke rumah sakit. Dia juga tidak membawa baju ganti. Theo tidak mungkin membiarkan Airin menggunakan pakaian yang sudah kotor seperti itu. Seharian bekerja pasti sudah banyak debu yang menempel meskipun 24 jam Airin bekerja di dalam kantor. Lelaki itu membawa pakaian yang tadi Endang bawa untuknya. Theo menyerahkan kaos panjang miliknya. “Kamu nggak mungkin memakai pakaian seperti itu untuk tidur malam ini. Ibu juga tidak membawa pakaian ganti karena besok pagi ibu akan langsung pulang.” Airin menatap kaos itu dan beralih kepada Endang yang sedang tidur di sofa. Bakti yang mendengarkan percakapan mereka pun menghentikan tangannya yang sedang mengusap rambut Endang. “Benar apa yang dikatakan Theo Rin, malam ini kamu pakai saja kaos Theo besok Ayah akan bawa baju ganti buat kamu.” Tidak ada pilihan lain lagi, Airin juga sudah tidak nyaman memakai pakaian kerjanya untuk tidur. “Makasih Kak Theo,” ujar Airin sambil bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar mandi. “Besok kamu kerja?” Jika Theo bekerja Bakti akan meminta sekertarisnya untuk membatalkan semua rencanya besok. Dia tidak mungkin membiarkan anaknya memilih antara anak dan pekerjaannya biarlah dia yang mengalah untuk menemani Marvel. Theo menggelengkan kepalanya. Dia lantas duduk di kursi samping ranjang Marvel dan menatap anak itu dengan lekat. “Theo udah bilang ke Feronika bahwa Marvel sakit. Feronika juga sudah menyetujuinya karena besok hanya ada rapat sama pihak internal kantor.” Bakti mengangguk singkat. “Padahal kalau kamu memang harus bekerja Ayah akan membatalkan semua jadwal untuk besok. Kalau ada masalah tidak boleh dipikul sendiri Theo, masih ada Ayah dan Ibu kamu boleh mengandalkan kami untuk menyelesaikan masalah kamu.” “Makasih Yah. Hanya saja Theo nggak bisa meninggalkan jagoan kecil Theo di sini sendirian.” Theo tidak bisa meninggalkan Marvel sendirian lelaki itu akan terus bersama dengan anak itu. Mereka berdua tidak bisa dipisahkan apalagi dengan kondisi Marvel yang sedang sakit seperti ini membuatnya selalu tidak merasa tenang. Mendengan suara pintu terbuka membuat Theo dan Bakti menghentikan pembicaraan mereka. Theo memandang Airin yang memakai kaos dan ukurannya cukup besar untuk dipakai oleh badan kecilnya. Satu kata untuk wanita itu hari ini dia sangat lucu memakain kaos miliknya. “Malam ini kamu tidur saja Airin. Biarkan aku aja yang menunggu Marvel. Kamu kan baru saja pulang pasti masih lelah kan? Aku nggak mau kamu sakit dan membuat Marvel bersedih,” penjelasan Theo membuat Airin yang sedang duduk di sofa dekat Endang terpaku. Padahal malam ini ingin terus menemani Marvel. Akan tetapi perkataan Theo memang benar jika dia bergadang dalam keadaan tubuh yang lelah seperti ini maka akan dipastikan tidak lama lagi dirinya akan jatuh sakit. “Aku akan tetap menunggu Marvel, kalau dia mencari keberadaan aku gimana? Aku sehat dan nggak mungkin karena nggak tidur satu malam bisa membuat tubuhku lemah. Benar kan Yah?” Bakti tersenyum simpul. “Terserah kamu Rin, pokoknya kalau sudah mengantuk jangan dipaksa! Harus langsung tidur.” Airin menegakkan badannya ketika tersadar bahwa dia tertidur. Dia melirik ke arah Bakti yang sudah tertidur menyusul Endang. Kemudian dia menatap Theo yang masih setia memperhatikan anaknya yang sedang tertidur, sesekali akan mengecek infusan takut tidak mengalir ke tubuh anaknya. Melihat pemandangan itu membuat Airin sedikit terharu bahkan kagum kepada Theo karena benar-benar sudah menjadi Daddy yang baik untuk Marvel. Suara keroncongan perut Airin di tengah-tengah ruangan yang sunyi membuat Theo memalingkan tatapannya ke arah wanita itu. “Airin, kamu kenapa pura-pura tidur? Kamu nggak bisa tipu aku Rin.” Airin terkekeh kemudian membuka kedua matanya. Dia menggaruk kepalanya menahan malu akibat bunyi lapar dari perutnya. “Padahal kalau lapar tinggla bilang Rin. Tenang aja persediaan makanan di sini cukup banyak,” jelas Theo sambil membawa tas berisi makanan ke atas meja dekat Airin. “Eh! Tapi nggak ada nasi. Mau pesan dulu? “Nggak. Memangnya ada ojol yang mau nganterin makanan ke rumah sakit di jam dua belas seperti ini? Yang ada mereka pada takut karena mengira yang pesan itu hantu kelaparan.” “Tapi cuma ada roti tawar dan mie. Kamu kan lagi diet, nggak bagus makan ini di jam segini Rin.” Theo ingat sekali jika Airin sedang menjalankan diet untuk menjadi manusia sehat. Dia tidak mungkin menghancurkan diet wanita itu. “Kamu perhatian banget sih Kak. Sekali makan roti tawar nggak akan buat aku gemuk. Tenang aja.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN