Bab 51

1069 Kata
Airin benar-benar lelah malam ini, setelah memakan roti yang diberikan oleh Theo kedua matanya sulit untuk tetap terbuka. Bahkan dia sudah merapalkan doa agar tetap terjaga supaya jika Marvel terbangun di malam hari dia ada untuk menaminya. Hanya saja semua itu hanya bualan semata kenyataannya Airin tidur dengan posisi terlentang di sofa yang dikuasai oleh dirinya sendiri. Sepertinya Airin benar-benar tertidur dengan nyenyak buktinya dokter yang menangani Marvel sudah masuk untuk memeriksa anak itu. Setiap pagi, sore dan menjelang maghrib akan ada dokter yang memantau perkembangan Marvel dokter akan menjelaskan kepada Theo apakah anak itu semakin sehat atau sebaliknya dan pagi ini Theo sangat bersyukur karena dokter mengatakan bahwa anaknya sudah semakin membaik dan jika besok keadaanya sudah stabil sorenya Marvel boleh pulang. Airin membuka kedua matanya ketika mendengar suara Marvel hanya saja objek pertama yang ia lihat adalah atap yang warnanya tidak sama seperti atap kamarnya. Dia ada di mana? Airin kembali memejamkan kedua matanya kembali. “Astaga!” Airin memekik kaget sambil terduduk di atas sofa. Dia menatap Marvel yang terkejut dengan ulahnya dan Theo yang memandang khawatir kepada dirinya. Marvel tersenyum lebar melihat Airin yang sudah terbangun dari tidurnya. Subuh tadi dia terbangun dan terkejut melihat Tante kesayangannya ada di sini bersamanya. Awalnya dia ingin membangunkan Airin hanya saja Theo melarang Marvel karena Airin baru saja tertidur pulas dan jika Marvel membangunkannya Airin akan sakit dan tidak bisa bermain lagi dengan Marvel. “Hore… Tante Airin sudah bangun,” ujar Marvel sambil memasang wajah bahagia dia senang karena setelah beberapa hari kebelakan Airin bersifat aneh kepadanya dan sekarang Tante kesayangannya itu sudah kembali normal seperti biasanya dan itu membuatnya sangat bahagia. Airin membalas senyuman itu dengan tak kalah lebarnya. Dia beranjak dari sofa dan mendekati ranjang Marvel. “Marvel sudah sehat? Kenapa Marvel sakit? Marvel terlalu banyak makan es krim ya makanya harus dirawat di rumah sakit?” tanya Airin dengan tatapan serius meskipun pernyataan itu sangat lucu ditelinganya. Marvel menggelengkan kepalanya. “Marvel nggak banyak makan es krim Tante.” “Marvel memang nggak banyak makan es krim hanya saja jarang minum makanya badannya panas dan harus dirawat di rumah sakit,” jelas Theo kepada Airin mendengar penjelasan itu membuat Airin harus mengingat jika Marvel mulai jarang minum air putih dia harus segera mengingatkannya. Airin memasang wajah seriusnya. “Kalau Marvel ma uterus bermain sama Tante Marvel jangan lupa kalau haus harus langsung minum ya, jangan ditahan. Tante sedih lihat Marvel tidur di rumah sakit.” Marvel menganggukkan kepalanya. “Marvel janji kalau haus akan langsung minum.” Kemudian anak itu tersenyum tipis saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Theo memperhatikan keduanya dengan perasaan bahagia, dia bersyukur karena Airin masih peduli kepada anaknya dan rela untuk tidur semalaman di rumah sakit di sofa yang keras jauh dari kata nyaman dan juga dengan baju tidur yang seadanya. “Rin, tadi Ayah udah bawa baju ganti kamu. Hari ini kamu kerja kan?” tanya Theo mengingat bahwa hari ini masih hari kerja. Airin menghentikan usapannya di kepala Marvel dan menatap jam dinding yang tergantung di atas. “Kayaknya aku izin aja hari ini. Ingin menemani Marvel supaya kamu cepet sembuh dan kita semua bisa kumpul di rumah lagi,” jawab Airin sambil mengusap tangan mungil anak itu. Suara ketukan pintu membuat Theo mengalihkan perhatiannya dari Airin. Ternyata ibunya datang sembari membawa makanan untuk dia dan Airin. “Tidur kamu nyenyak Rin. Tadi pagi mau Ibu bangunkan tapi nggak tega, kamu tidurnya pulas banget makanya Ibu tinggal. Kamu nggak kerja kan hari ini?” ucap Endang sambil menata makanan yang tadi dibawanya di atas meja. Ada nasi putih, sayur bayam, daging goreng dan potongan semangka dan buah naga untuk pencuci mulut. “Sebaiknya kamu mandi dulu,” saran Endang dengan mendekat kepada Airin dan memberikan tas yang berisi keperluan mandi menantunya. “Makasih Bu,” Airin tersenyum simpul dan segera mengganti bajunya dengan pakaian bersih sebelum itu dia mencium pipi Marvel dengan perasaan gemas. “Marvel udah makan?” Endang duduk di samping Marvel dan mengusap keningnya dengan lembut. Panas tubuhnya sudah kembali normal tidak seperti pertama kali Marvel dibawa ke sini. “Sudah Bu. Marvel sudah makan dan minum obat,” jelas Theo sambil tersenyum melihat anaknya yang sudah kembali sehat. Dia sangat kacau ketika melihat anaknya terbaring lemah tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit jika bisa dia ingin sekali menggantikannya biarkan saja dia yang sakit asalkan anaknya selalu sehat. Mendengar penjelasan Theo membuat Endang tersenyum bahagia. Kemarin Marvel sangat tidak bernafsu makan semua makanan kesukaannya sudah dibelikan oleh Theo hanya saja anak itu tetap menolaknya. Marvel hanya ingin Tante Airinnya ada di sampingnya karena Endang dan Bakti tidak bisa memenuhi ke inginan anak itu dia menjerit disertai tangisan yang membuat siapa pun merasa kasihan melihatnya. Endang tidak bisa mengganggu Airin yang sedang bekerja begitu juga Theo. Airin dan Marvel hanya sebatas Tante dan keponakan apalagi dengan gosip tetangga yang menyarankan agar Theo dan Airin menikah membuat mereka segan untuk menyusul Airin ke kantor dan menyuruhnya agar segera pulang karena Marvel sedang sakit. “Marvel senang ada Tante Airin di sini?” tanya Endang kepada Marvel. Marvel membulatkan kedua matanya dan tersenyum simpul. “Senang banget. Kalau bisa Nek, Marvel pengen banget sembuh biar bisa main lagi sama Tante Airin.” “Makanya Marvel harus dengerin semua perkataan Daddy kalau ingin cepat bermain sama Tante Airin. setuju?” ucap Theo dengan suara riang. “Setuju.” “Theo, Mami Marvel kamu kasih tahu nggak kalau anaknya sedang dirawat di rumah sakit?” Endang hampur saja lupa kalau Marvel cucunya masih memiliki seorang ibu yang harus mengetahui kondisinya. Theo terdiam wajahnya mendadak berubah menjadi dingin, enggan untuk menjawab pertanyaan Endang. “Belum Bu, lagian Marvel udah sembu. Marvel Mami nggak perlu Daddy kasih tahu kan?” tanya Theo kepada Marvel dan dibalas dengan anggukan yang artinya setuju dengan perkataan Daddynya. “Kamu nggak boleh seperti ini Theo. Dia berhak tahu. Kamu harus ingat bahwa Marvel masih mempunyai seorang Ibu. Ibu juga akan sakit hati kalau Ayah kamu nggak memberitahu Ibu tentang musibah yang dialami anaknya sendiri. Sekarang kamu telepon dia dan kasih tahu semuanya.” Theo ingin melawan Endang, dia tidak mau mantan istrinya datang ke sini dan melihat anaknya sakit karena tinggal bersama dengannya. “Yang dikatakan Ibu benar Kak. Marvel masih mempunyai seorang Ibu. Maminya Marvel berhak mengetahui kondisi anaknya sendiri,” ucap Airin berusaha menyakinkan Theo agar memberitahukan kondisi Marvel kepada maminya Marvel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN