Bab 52

1078 Kata
Sesuai dengan perkataan dokter pagi tadi. Setelah trombositnya kembali normal maka Marvel diizinkan untuk pulang. Marvel sangat bersemangat mendengar hal itu ketika para suster mencabut selang infus anak itu terus bersenandung riang menyanyikan lagu balonku dengan suara lantang dan gembira. “Marvel senang banget karena bisa digendong sama Tante lagi,” ujarnya sambil menatap Airin dari jarak yang begitu dekat. Airin tersenyum senang dia sangat menyukai mata biru yang dimiliki oleh Marvel. Sepertinya mata itu berasal dari ibunya Marvel. “Benarkah? Marvel mengangguk senang. “Selama ini Mami nggak pernah gendong Marvel katanya Marvel berat dan bisa jalan sendiri.” “Yang dibilang sama Mami Marvel betul kok. Marvel sudah bisa berjalan jadi nggak boleh digendong. Tapi karena Tante punya kekuaran ekstra makanya Tante bisa gendong Marvel,” ujar Airin berusaha membuat Marvel tertawa. Marvel tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Airin. Sudah ia duga bahwa Tante kesayangannya adalah super woman yang memiliki kekuatan ekstra untuk melindungi bumi dari serangan jahat makhluk astral. Jika Tantenya juga bisa menjadi manusia super dia juga akan berusaha menjadi superman agar bisa selalu melindungi Tante Airin dari dalam bahaya. Theo dan Endang yang berjalan di belakang Airin menahan tawa mendengar percakapan konyol diantara keduanya. Lorong rumah sakit yang mulai sepi mendadak menjadi ramai karena ocehan mereka berdua. Lelaki itu mengerti dengan keadaan Marvel yang ingin disayang oleh Ibunya. Mami Marvel tidak pernah memanjakan Marvel bahkan dia selalu memasang wajah tegas agar anaknya tetap patuh kepadanya. Tiba di parkiran rumah sakit Airin menyipitkan kedua matanya ketika melihat sosok laki-laki yang sangat dikenal olehnya. “Revan!” teriak Airin berusaha mendapatkan perhatian Revan karena laki-laki itu terlihat bingun sambil menatap gedung rumah sakit yang tinggi. “Siapa yang sakit?” tanya Airin ketika sudah mendekati Revan. Revan menyungginggkan senyum tipisnya. “Gue ke sini mau jenguk Marvel. Dia udah boleh pulang?” setahu Revan pasien dilarang untuk keluar rumah sakit apalagi Marvel jalan-jalan di parkiran yang mengandung banyak polusi udara dan tidak baik untuk paru-parunya. “Udah sehat, makanya sekarang kita pulang. Lo izin?” Revan tidak menjawab perkataan Airin karena Theo dan Endang sudah berada di samping wanita itu. “Halo Tante, Hai Kak Theo. Saya kira Marvel masih sakit makanya ketika Airin bilang izin karena Marvel sakit saya langsung ke sini. Alhamdulillah kalau Marvel udah dibolehkan pulang.” Thep tersenyum tipis. “Cuma kurang mineral aja makanya harus di infus. Kalau gitu kita pamit pulang dulu ya Van,” ujar Theo. “Gimana kalau Lo dan Marvel ikut gue aja Rin, rumah kita satu arah,” usul Revan membuat suasana menjadi dingin karenanya. Airin tidak mau ada keributan apalagi Marvel baru saja sembuh dan butuh banyak istirahat. “Kak Theo bawa mobil Van jadi kayaknya nggak usah. Marvel juga nggak mau jauh dari Ayahnya,” jelas Airin berusaha untuk tidak menyakiti hati Revan meskipun perkataan itu membuat hati Revan remuk seperti kaca yang pecah dan tidak bisa diperbaiki lagi. “Yaudah kalau begitu gue ikutin lo aja dari belakang Kak.” Revan berlalu dan tidak lupa menepuk Pundak Theo yang berdiri di sebelahnya. Theo hanya diam meskipun dia ingin sekali menonjok muka Revan karena kesal. Dia tidak mungkin menjadi pusat perhatian karena berkelahi di rumah sakit. Sampai malam Revan ada di rumah Endang, bahkan dia ikut mandi dan solat karena tidak mau meninggalkan rumah ini. Lelaki itu tidak boleh membiarkan Theo dan Airin terus berduaan karena Marvel. Dia sudah muak melihat kedekatan mereka apalagi setelah Marvel sakit Airin tidak akan tega menjaga jarak dari anak itu. “Lo mau sampai kapan di sini? Udah jam 10 Van, sana pulang.” Airin tidak habis pikir dengan kelakuan Revan yang mendadak aneh seperti ini. Dari sore sampai malam tiba lelaki itu masih berada di rumahnya membuatnya tidak mandi karena merasa tidak enak jika ia tinggalkan. “Gue juga di rumah sendirian Rin. Om, saya nggak apa-apa kan menginap di rumah ini? Rumah saya sepi nggak enak kalau tidur sendirian.” Bakti menganggukkan kepala membuatnya merasakan cubitan kecil yang dilakukan Endang kepadanya. “Kenapa sih Bu?” Endang terkekeh kemudia menatap Revan yang masih setia duduk di sofa miliknya. “Kalau Revan mau menginap di sini kamu bisa tidur bareng Theo. Marvel kan tidur sama Airin dan Theo sendirin, kata kamu kan nggak mau tidur sendiri makanya sama Theo aja.” Revan tersenyum lebar dna menganggukkan kepalanya. “Boleh juga. Daripada aku tidur sendiri di rumah besar itu mending di sini. Makasih ya Tante.” “Kamar tamu kan masih kosong Bu, kenapa harus di rumah aku?” Theo tidak mau satu ranjang bersama laki-laki b******n ini. Dia tahu bahwa Revan hanya berbohong supaya bisa tidur di rumah ini. “Makanya kalau takut tinggal sendirian kenapa berani beli rumah sendiri? Dasar aneh,” gerutu Theo karena masih tidak terima dia harus berbagi kasur yang sama dengan Revan. “Pokoknya kamu bebas mau tidur dimana pun kecuali kamar Airin. Ibu udah mengantuk.” Endang beranjak dari duduknya diikuti Bakti yang berjalan di belakangnya. Airin juga tidak banyak berbicara dan langsung naik menuju kamarnya. Tersisa Theo dan Revan di ruang tamu mereka saling diam hanya bunti televisi yang terdengar. “Gue nggak mau lo tidur di kamar gue. Kamar tamu di depan kosong. Lo tidur di sana atau balik ke rumah!” Theo juga tidak mau terrlalu lama berduaan dengan Revan. Setelah perjuangan yang panjang di rumah sakit lelaki itu ingin sekali tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan siapa pun. Setelah mendengar Airin tidak masuk bekerja karena Marvel sakit itu sudah berhasil membuat hatinya remuk dan emosi yang ada dalam tubuhnya menaik drastis. Kenapa Marvel sakit? Anak itu mencari perhatian agar Airin peduli kepadanya? Ketika melihat Airin menggendong Marvel juga sudah berhasil menaikkan kadar kemarahannya. “Astaga! Revan! Kamu belum tidur?” Airin terkejut melihat Revan yang masih berada di ruang tamu di tengah malam seperti ini. Revan menggelengkan kepalanya dia mendekat kepada Airin yang sedang menuangkan air mineral kepada gelasnya. “Rin, kamu nggak berencana keluar dari rumah ini? Masa iddah kamu sudah habis dan kamu bisa bebas dari keluarga ini.” Airin terdiam kemudian menatap lekat kepada Revan. “Rumah aku ada di sini Van. Aku nggak mungkin bisa keluar dari rumah ini.” “Sampai kapan Rin? Kamu tidak mungkin menjadi janda selamanya kan?” Airin melirik Revan dengan tatapan dingin miliknya. Dia tidak suka diatur apalagi tentang masalah pribadinya. “Kamu harus ingat Van, kamu hanya sahabat aku dan tidak lebih dari itu. Aku mau jadi janda selamanya juga itu urusan aku bukan kamu!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN