“Kemana Revan?” tanya Theo sambil turun dari tangga. Kepalanya melihat kanan dan kiri mencari keberadaan Revan yang sejak tadi subuh sudah tidak ada di kamarnya. Jangan-jangan Revan menyelinap ke kamar Airin? Theo menggelengkan kepalanya ketika mengingat di dalam kamar Airin masih ada Marvel yang tidur bersama dengan wanita itu.
Theo berjalan ke arah meja makan di sana ada Airin, Marvel, Endang dan Bakti. Tidak ada sosok Revan yang selalu merusak suasana, sepertinya lelaki itu sudah menyerah mengejar Airin makanya sekarang dia tidak ada di rumah ini.
“Dari subuh juga Revan udah nggak ada, kayaknya dia pulang saat kita semua masih tidur,” jelas Endang sambil membawa nasi untuk suaminya.
“Mau pakai telur?” tanya Endang kepada suaminya. Bakti hanya menggeleng kepala kemudian melipat koran paginya yang baru saja selesai dibaca. Bakti memandang Airin yang sedang fokus menyuapi Marvel.
“Rin, kalau di kantor Revan nggak masuk Airin kasih tahu Ayah. Kalau Revan dalam bahaya bagaimana? Kita bisa ikut terancam karena terakhir Revan berhubungan dengan orang adalah bersama dengan kita,” jelas Bakti yang disetujui oleh Airin dengan anggukan kepala. Di dalam hatinya wanita itu sudah tahu penyebab Revan pagi ini tidak ada di rumah ini itu karena mereka berdua bertengkar. Airin juga sakit hati dengan ucapan Revan bahkan dia sudah ada rencana untuk tidak berbicaara dengan lelaki itu.
“Tante nanti Marvel dan Ayah ikut anterin Tante kerja ya? Boleh kan?” ujar Marvel sambil memasang senyum lebarnya dan itu berhasil mengundang Airin untuk membalas senyuman itu.
“Boleh, asalkan Marvel menghabiskan makanan ini Marvel boleh anterin Tante bekerja.”
Marvel mengangguk dengan riang tidak lupa bersorak dengan keras karena bahagia bisa mengantarkan Tantenya bekerja lagi. “Ayah cepetan makannya kalau Tante Airin telat itu semua gara-gara Ayah.”
Theo tersenyum tipis dan memasang wajah terkejut. “Siap Pak Bos!” lelaki itu langsung memakan makanannya lantas semua yang ada di meja makan itu tertawa terbahak-bahak.
Seperti biasa Airin dan Marvel akan duduk di belakang sedangkan Theo duduk di depan mengemudi mobil sedan berwarna biru milik Bakti. Sepanjang jalan Marvel terus mengoceh entah itu tentang dirinya yang ingin membeli mainan sampai menceritakan keinginannya yang mau sekali memakan ice cream. Semenjak dirawat di rumah sakit Marvel memang mengatakan ingin sekali memakan makanan manis tersebut hanya saja Theo larang karena Daddynya takut Marvel akan sakit kembali.
“Marvel pengen banget jalan-jalan ke mall. Udah lama Marvel nggak ke sana,” ucap Marvel sambil memandang Airin.
“Hari ini Tante pulangnnya nggak terlalu malam mau ke sana?”
“Beneran?”
Airin menganggukkan kepalanya. “Bener dong sayang, udah lama juga kan Marvel nggak beli mainan lagi?”
Marvel menggelengkan kepalanya. “Marvel nggak mau mainan Tante. Marvel mau buku cerita yang baru soalnya Marvel udah bosen baca cerita yang sama terus.”
Airin tersenyum simpul. “Oke. Nanti sere kita ke toko buku.”
“Asik! Marvel sayang banget sama Tante Airin,” Marvel memeluk Airin dengan erat dan membuat Theo yang ada di depan tersenyum simpul. Melihat pemandangan di belakangnya berhasil membuat hatinya mneghangat. Dia ingin melihat pemandangan ini terus-menerus bahkan dia berharap Marvel bisa merasakan kebahagian ini sampai anak itu dewasa.
Setelah keluar dari mobil Airin memberikan lambaian tangan untuk Marvel anak itu membalasnya dengan penuh semangat Marvel sudah tidak sabar untuk segera pergi ke toko buku kesayangannya.
“Lo diantar lagi sama Kak Theo?”
Airin berbalik ke belakang dan melihat Revan yang sedang berdiri di belakangnya. Lelaki itu terlihat menyeramkan dengan menunjukkan tatapan tajamnya kepada Airin. Wanita itu tidak menanggapi perkataan Revan dia sedang tidak selera berbincang dengan sahabatnya itu.
“Lo nggak punya mata?” pertanyaan retoris Airin membuat Revan mengeratkan kedua tangannya apalagi wanita itu berjalan tanpa mempedulikannya sedikit pun.
Revan ingin sekali menarik lengan Airin dan menyuruhnya untuk tidak mengabaikannya lagi, dia sudah muak melihat keharmonisan antara Theo dan Airin bahkan lelaki itu takut jika suatu saat Airin memilih Theo daripada dirinya. Akan tetapi panggilan Luna membuat dia mengurunkan niatnya.
“Kak Revan!” ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Revan karena lelah berlari mendekati lelaki itu.
“Ada apa Lun?”
Luna memasang wajah masam. “Apartemen Kak Revan itu airnya nggak ada. Tadi juga Luna ikut mandi di rumah teman aku. Untung rumahnya dekat kalau jauh Luna akan dimarahi oleh Pak Ahmad karena kesiangan!”
Revan memasang wajah malasnya. “Terus?”
“Luna mau Kak Revan benerin! Luna kan takut kalau suruh orang luar buat benerin. Luna kan cewek kalau orang itu perkosa Luna gimana? Kak Revan mau tanggung jawab?”
Revan mengehela napas karena kesal mendengar perkataan aneh yang berasal dari mulut gadis itu. “Iya. Besok aku ke apartemen.”
Luna menggelengkan kepalanya. “Nggak boleh besok! Harus sekarang Kak. Kalau dibenerin besok aku nggak akan mandi dong? Malu Kak kalau aku ikut mandi ke rumah orang terus! Nanti mereka nyinyirin di belakang aku.”
Revan tidak ada pilihan lain, apalagi kepalanya sudah pusing mendengar keluhan dari Airin. Hanya saja ada yang mengganjal sedikit dari ucapan Airin. Seingatnya pipa di apartemennya jarang ada yang mengalami penyumbatan. Revan menghela napas kesal dia sudah tidak bisa berpikir lagi pikirannya sudah penuh oleh masalahnya dengan Airin.
“Oke nanti sore gue ke sana. Lo janjian sama tukangnya, gue juga nggak bisa benerin pipa yang macet.”
Luna tersenyum senang. “Makasih Kak. Sebagai gantinya aku bawakan tas kerja Kak Revan.” Kedua tangan Airin merebut tas yang di bawa Revan. Lelaki itu sudah malas berdebat dan dia hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh gadis itu.
Airin tidak pernah melepaskan pandangan matanya dari layar komputer, dia sangat fokus membaca dan sesekali mengetikkan angka-angka yang ada di laporan. Semua yang ada di sana bekerja dengan serius tidak ada yang berani mengeluarkan percakapan selain tentang pekerjaan. Apalagi Pak Ahmad pagi tadi sudah berceramah panjang lebar karena dia ditegur oleh direktur akibat laporan keuangan yang lambat dilaporkan.
“Sebelum laporan hari ini selesai tidak ada yang boleh pulang. Saya nggak mau jadi sasaran kemarahan direktur karena ulah kalian semua,” ucap Pak Ahmad yang terus mengulang kalimat itu terus-menerus.
Kedua mata Airin melirik jam kecil yang ada di meja kerjanya. Di dalam hatinya dia menggerutu karena tidka bisa menepati janjinya kepada Marvel.
{Theo 15:00}
Kak Theo bisa kasih tahu ke Marvel maaf hari ini aku nggak bisa pulang cepat. Kayaknya lembur lagi. Boss aku lagi marah-marah karena laporannya telat dilaporkan hehehehe. Bilangin ke Marvel maaf banget. Aku juga sedih karena nggak bisa ke Mall sama Marvel.
***