Revan menepati janjinya kepada Luna dia ditemani Pandu datang ke apartemen lamannya. Mereka berdua sedang berada di kamar mandi melihat orang yang dipanggil oleh Luna untuk memperbaikinya.
“Lo udah punya cewek baru? Yang ini nggak pernah lo cerita ke kita,” tanya Pandu sambil menyesap rokok yang ada di mulutnya. Matanya melirik ke arah Luna yang sedang menonton televisi di kamarnya.
“Bukan siapa-siapa, cuma teman kerja. Nggak penting juga,” jelas Revan membuat Pandu mengangguk paham.
Pandu memperhatikan Luna dari samping, gadis itu memiliki wajah mungil yang membuatnya terlihat imut dia tidak yakin Revan sama sekali tidak terpikat oleh kecantikan Luna. Bahkan menurutnya Luna jauh lebih cantik daripada Airin. Kalau saja dia belum mempunyai tunangan dia pasti akan memohon kepada Revan akan dikenalkan dengan Luna.
“Lo bodoh, benar kata orang cinta itu buta makanya Lo nggak sadar kalau Luna tuh cantik.” Pandu menghembuskan asap rokoknya sambil menatap Revan.
Revan tidak menanggapi ucapan Pandu dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia malahan kesal kepada Luna karena memaksanya untuk ke sini. Gara-gara gadis itu ia harus menelan perasaan cemburu buta karena melihat Airin dijemput oleh Theo. Theo benar-benar berusaha menarik perhatian Airin dan ia tidak akan membiarkan semua itu berjalan dengan mudah.
Revan mengucapkan terima kasih kepada dua orang bapak-bapak yang sudah membenarkan pipa air apartemennya dia mengeluarkan uang dari dompetnya karena itu sudah tanggunggjawabnya sebagai pemilik apartemen. Dia tidak mungkin membiarkan Luna yang membayar tagihan itu.
“Kaka Revan mau ke mana?” tanya Luna ketika melihat Revan ikut keluar bersama kedua bapak-bapak itu.
“Balik ke rumah Luna. Lo lihat ini udah malam gue juga butuh istirahat apalagi besok gue harus kerja. Temen gue juga besok kerja,” ujar Revan sambil melirik Pandu yang masih setia menyesap batang berasap itu, sudah batang ke tiga untuk malam ini dia hanya geleng-geleng kepala menyadari sahabatnya ini termasuk salah satu perokok berat.
“Kenapa kita nggak menginap di sini aja Van? Udah jam sebelas malam loh ini gue juga ngantuk terus tadi lo minum sedikit kan? Gue nggak mau terjadi kecelakaan. Kalau gue mati gimana? Langsung mati sih alhamdulillah kalau cacat? Lo mau rawat gue sampai gue tua? Nggak kan? Apalagi lo bucin banget sama Airin. Gue mau tidur di sini. Luna nggak apa-apa kan kita malam ini numpang tidur di sini?” tanya Pandu kepada Luna yang mematung karena penjelasan panjang yang diucapkan oleh Revan.
Luna tersenyum simpul. “Ada dua kamar jadi Kak Revan sama Kak Pandu bisa tidur di kamar depan. Bersih kok soalnya aku suka bersih-bersih di sana.”
Pandu mengangguk dan masuk ke dalam menyusul Luna yang sudah menunggu mereka berdua. Kedua mata Pandu menatap Revan yang masih berdiri di luar dia membulatkan matanya kepada Pandu karena kesal atas tindakan lelaki itu yang semena-mena kepadanya. Pandu mau menjodohkannya dengan Luna? Dia berdecih karena hal itu tidak mungkin terjadi. Hatinya hanya terbuka untuk Airin dan tidak ada satu pun wanita yang bisa memikat hatinya.
“Sampai kapan lo mau ada di luar Van! Cepat masuk!”
Revan tidak ada pilihan lain, kepalanya juga terasa pening dan kantuk sudah mulai menyerangnya tidak mungkin dia bisa tiba di rumah dengan selamat jika nekat menyetir sendirian. Revan masih sayang kepada dirinya sendiri maka dari itu dia memutuskan untuk bermalam di apartemen miliknya.
Setelah pintu terbuka Airin menerima pelukan erat dari Marvel. Anak itu sangat senang melihat Airin sudah pulang dari kantornya. “Marvel kangen banget sama Tante.”
“Oh ya?”
Marvel menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Marvel mau main lagi sama Tante. Tante mau kan main sama Marvel?”
“Tentu saja mau. Tapi Tante mau mandi dulu. Badan Tante bau karena sudah bekerja, Marvel mau kan nunggu Tante?”
“Mau dong.”
“Marvel nggak kangen sama Daddy?” tany Theo setelah menutup pintu utama. Dia menatap Marvel dengan wajah serius miliknya membuat anak itu langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
“Airin, Ibu udah siapkaan air hangat untuk kamu,” ujar Endang sambil meminum air putih yang ada di meja.
Airin mendekati mertuanya dan menyalaminya. “Makasih ya Bu, Airin jadi merepotkan ibu kan jadinya.”
Endang menggelengkan kepalanya. “Nggak lah. Ibu ikhlas kok melakukannya.”
Airin tersenyum simpul karena bahagia mendapatkan mertua sebaik Endang. “Ayah udah tidur Bu?” Biasanya Bakti masih setia menonton televisi sambil menemai Endang.
“Udah tidur, katanya besok mau berangkat ke Malaysia. Makanya sekarang udah tidur, yaudah kamu cepetan mandi dan tidur ya Rin.”
Airin mengangguk dan naik ke kamarnya. Ketika berada di dalam kamar dia masih teringat perseteruannya degan Revan kenapa laki-laki itu berubah jadi seperti itu sih? Padahal sebelum Tendi meninggal dia dan Revan jarang bertengkar.
“Ndu, tadi Airin di antar dan di jemput sama si b******k Theo. Gue sakit hati Ndu, selama ini gue yang selalu ada buat dia dan Theo baru aja masuk ke dalam hidup Airin tapi lelaki itu yang dapat perhatian banyak dari dia. Wajar kan kalau gue marah dan pengen mereka pisah?” tanya Revan sambil berbaring di ranjang yang gelap mereka sengaja mematikan lampu agar tidur keduanya lelap.
Pandu menghela napas. “Kenapa lo masih berharap ke Airin? Airin udah kasih tahu ke lo bahwa antara lo dan dia tuh nggak akan bisa punya hubungan yang spesial Van. Dia masih terbayang-bayang suaminya yang sudah meninggal lo nggak mungkin kan rela tunggu Airin buat bisa melupakan Tendi?”
“Gue siap tunggu Airin untuk bisa melupakan Tendi. Selama ini gue menunggu dia untuk sadar bahwa gue laki-laki terbaik yang seharusnya dia pilih.”
“b*****t! Lo gila Van!” Pandu mengeluarkan kata kasarnya karena sudah kesal dengan perkataan Revan.
“Cinta itu nggak bisa diukur pake hati tapi pakai akal juga Van. Jadi selama ini lo nggak menikah dan nggak punya pacar karena berharap kondisi ini datang? Lo berharap Airin dan Tendi bercerai atau Tendi meninggal begitu? Biar Airin sadar dan menyesal karena telah memilih Tendi dari pada lo?”
Revan terdiam, dia memijat pangkal hidungnya karena pusing akibat minuman alkohol yang dia minum. Benar kata Pandu selama ini dia berharap dan memohon kepada Tuhan agar Tendi dan Airin bisa di pisahkan. Ketika menerima kabar bahwa Tendi mengalami kecelakaan pesawat bukannya sedih dia merasa Tuhan mengabulkan doanya selama ini.
“Keluar dari kamar ini! Gue muak lihat muka lo!” suruh Pandu sambil menendang Revan sampai terguling ke lantai. Revan tidak melawan dia bangkit dan keluar dari kamar itu. Dia membaringkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan kedua matanya.
***