Sembari menggendong Marvel, Airin melangkahkan kakinya ke dapur dia melihat Endang yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk piknik kita semua hari ini. Dari semalam Marvel sudah mengajak Endang untuk liburan bersama dia mengeluh karena teman-temannya banyak yang bercerita tentang liburan masing-masing sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar. Tidak tega mendengar cucu kesayangannya hanya menjadi pendengar cerita liburan teman-temannya Endang memutuskan agar hari minggu kali ini mereka semua bisa menghabiskan waktu bersama.
“Bu, Airin bisa bantu apa?” tanya Airin setelah mendudukkan Marvel di kursinya.
“Tolong masukkan semua makanan ini ke bagasi mobil Rin,” ujar Endang, setelah itu kedua matanya melotot ketika menyadari sebuah kebiasaannya di pagi hari yang belum dia lakukan.
“Theo! Sampai kapan kamu tidur! Cepat bangun!” Endang berteriak sampai-sampai Marvel yang ada di hadapannya menutup kedua telinga takut jika kupingnya menjadi tidak berfungsi.
Airin sudah terbiasa dengan teriakan Endang, semenjak Theo tinggal di sini kedua telinganya sudah terlatih untuk mendengarkan suara kencang yang dimiliki oleh ibu mertuanya. Dia melangkahkan kedua kakinya ke garasi mobil dan meletakkan makanan itu ke dalamnya.
Wanita itu membereskan tempat makanan yang ada di bagasi mobil agar rapi dan tidak memakan banyak tempat, hanya saja kegiatannya terhenti ketika merasakan getaran kecil disakunya. Dia termenung ketika membaca nama penelepon.
“Assalamualaikum, ada apa Mah?” tanya Airin kepada Jihan yang menghubunginya di pagi hari, biasanya Jihan hanya akan mengirimkan pesan saja dan itu membuat dia sedikit gelisah karena keanehan kecil seperti ini.
“Nggak ada apa-apa Rin, Mamah ganggu kamu? Padahal hari ini kan hari minggu kamu kan pasti nggak kerja?”
“Nggak ganggu kok Mah, cuma aneh aja soalnya Mamah kan jarang banget telepon biasanya kirim pesan juga udah cukup. Papah sehat?”
“Papah sehat. Kamu sehat juga kan?”
Airin tersenyum simpul mendengar kedua orangtuanya diberkahi dengan jasmani yang sehat. “Sehat Mah. Papah lagi apa Mah?”
“Biasa lagi mancing sama teman-temannya, tadi subuh baru aja berangkat.”
“Kapan kamu pulang Rin? Kamu nggak kangen sama Mamah dan Papah?” pertanyaan dari Jihan membuat Airin membeku. Dia baru menyadari jika ia belum pernah menjenguk kedua orangtuanya setelah kematian Tendi.
“Kamu nggak lupa kan kalau masih mempunyai orang tua? Mamah juga butuh kasih sayang kamu Rin, masa kamu memberikan semua kasih sayang kamu ke mertua kamu terus.” Jihan tentu saja cemburu karena Airin terlihat lebih lengket kepada Endang daripada kepada dirinya.
“Mah! Mamah kan tahu aku kerja di sini. Kalau aku udah mulai libur aku pasti pulang ke Yogyakarta.”
“Kapan? Kalau Mamah meninggal baru kamu akan datang ke sini?”
Airin membisu, tubuhnya gemetar takut setelah mendengar kalimat kematian dari mulut ibunya sendirian. Dia menjadi trauma jika ada yang membahas tentang kematian mungkin disebabkan oleh kematian Tendi yang membuat dia tidak mau kehilangan keluarganya yang berharga kembali.
Sambungan terputus semenjak Airin memutuskan untuk membiarkan Jihan marah karena Airin tidak menjawab perkataanya. Wanita itu merasakan lemas pada tubuhnya entah kenapa dia ingin memejamkan mata untuk meredakan pening di kepalanya. Jihan tidak akan meninggal sebelum dia meninggal perkataan itu yang selalu disebutnya dalam hati terdalamnya.
Airin merasakan seseorang memeluknya dengan erat, dia menyandarkan tubuhnya kepada orang itu dan menangis sambil membalas pelukannya. Wanita itu merasa tenang ketika merasakan tepukan halus yang dilakukan orang itu kepadanya.
“Semuanya akan baik-baik saja Rin.”
Airin menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Theo bahkan lebih erat dari sebelumnya. Dia merasa aman ketika dipeluk oleh kakak iparnya, tubuh lelaki itu seperti memberikan keamanan untuknya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
“Tante, teman-teman Marvel banyak yang menceritakan tentang liburannya. Marvel sedih banget karena nggak bisa cerita apa-apa. Makanya kalau udah masuk sekolah lagi Marvel akan cerita ke semua orang kalau Marvel liburan sama Tante. Pasti mereka pada iri soalnya nggak punya Tante sebaik Tante Airin.”
Airin bersemu merah medengar perkataan Marvel, dia malu karena seluruh penghuni mobil ini tertawa menertawakan perkataan Marvel.
“Kata siapa Tante baik?”
Marvel terdiam dan menatap ke atas tepat ke wajah Airin. “Kata Marvel. Soalnya teman-teman Mavel nggak punya Tante baik.”
Airin tertawa mendengarnya dan mengacak-ngacak rambut Marvel dengan perasaan gemas. Mereka tidak mempunyai Tante baik juga karena anak-anak itu memiliki ibu yang selalu ada di sisinya. Ia menjadi kasihan karena di usia Marvel yang masih butuh kasih sayang dari ibu kandungnya anak itu harus merasakan bagaimana tinggal jauh dari sang ibu.
“Marvel bebas mau menceritakan apa pun ke teman-teman Marvel. Menceritakan kebaikan Tante juga boleh.”
Marvel tersenyum senang mendengarnya dan kembali duduk dengan nyaman dipangkuan Airin. Theo yang sedang menyetir hanya bisa tersenyum simpul karena bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari Marvel dan Airin.
“Nanti di sana Marvel jangan jauh-jauh dari Nenek, Kakek, Daddy dan Tante Airin! Nenek nggak mau ya gara-gara kamu terlalu ceria jadi hilang di sana,” ujar Endang memberikan nasehat kepada cucunya, ia tidak mau ketika berada di Dufan Marvel menghilang.
“Iya Nenek.”
Theo menggenggam tangan Marvel dengan erat ketika melewati pintu masuk. Di depan sana mereka sudah di perlihatkan wahana Turangga Rangga. Ada 40 kuda yang bisa dinaiki oleh Marvel bahkan Endag dan Bakti bisa ikut bermain di wahana ini karena tidak terlalu memacu adrenalin hanya berputar selama beberapa putaran dan dalam kecepatan yang sangat pelan.
Airin memilih kuda yang ada di samping Marvel sedangkan Theo berada di belakang mereka berdua untuk mengabadikan momen langka ini. Endang dan Bakti hanya duduk di kursi yang berada di belakang Airin mereka berdua tersenyum simpul karena cucu dan menantunya kembali ceria seperti dulu apalagi Airin yang selalu menangis semenjak ditinggalkan oleh Tendi.
“Lanjut istana boneka ya Daddy?” tanya Marvel dengan senyuman bahagia yang tidak pernah lepas semenjak tiba di sini.
“Siap bos,” jawab Theo sambil menggendong Marvel dan berlari menuju wahana istana boneka. Mereka bahkan tidak perlu mengantri karena Theo membeli tiket khusus agar mereka tidak perlu menganti panjang.
Airin hanya mengikuti keduanya berganti-ganti wahana yang bisa dimasuki oleh anak seusia Marvel. Bakti dan Endang memutuskan untuk duduk di pelataran musola karena sudah tidak kuat berjalan.
“Kamu mau naik Histeria Rin?” tanya Theo karena sedari tadi Airin menatap wahana itu.
Airin melirik Theo dan menatap Marvel yang digendong oleh kakak iparnya. Dia sangat ingin menaiki wahana itu hanya saja bagaimana dengan Marvel? Dia tidak berani meninggalkan anak itu sendirian di sini menunggunya.
“Kamu naik aja sendiri, biar aku tunggu di sini sama Marvel.”
“Kamu tega biarin Airin sendiria naik wahana itu? Biar Ayah saja yang jaga Marvel kalian berdua sana naik.”
Untungnya Marvel seperti mengizinkan Airin dan Theo berduan, bahkan dia tersenyum ketika melihat senyum bahagia yang dipancarkan oleh Airin ketika menaiki wahana itu.
***