Bab 56

1049 Kata
Airin terbangun dalam keadaan berkeringat, kedua matanya melotot tajam dan detak jantungnya berdetak dengan kencang. Keringat muncul di dahi dan pelipisnya seperti orang yang sudah melakukan marathon penyejuk ruangan yang ada di kamarnya tidak mampu menangani panas tubuh yang ada dalam dirinya. Airin menegakkan tubuhnya sambil melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Dia bergeser ke samping dan kedua kakinya turun dari ranjang tidurnya. Ketika berada di luar semua lampu padam semua orang di rumah ini sudah terlelap dalam mimpi masing-masing, hanya Airin yang mengalami mimpi buruk dan terpaksa terbangun di tengah malam seperti ini. Airin membuka kulkas dan membawa satu botol air minum. Dia ingn mendinginkan kepalanya agar kembali tenang dan tidak merasa gelisah seperti tadi. Jika ada Tendi, suaminya akan memeluknya dengan erat dan mengatakan kalimat yang membuatnya tertidur dalam keadaan tersenyum. “Rin? Belum tidur?” tanya Theo dengan wajah terkejut karena di tengah malam seperti ini wanita itu masih terjaga. Airin menggelengkan kepalanya kemudian memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Theo mengikuti wanita itu dari belakang dia juga ikut duduk di samping wanita itu. Lelaki itu melirik Airin dia menegang karena menyadari wanita itu sedang dalam keadaan gelisah. “Kalau ada sesuatu yang pengen diceritakan ceritakan saja Airin, kakak pasti akan mendengarkan semua keluh kesah kamu. Kalau kamu butuh sandaran untuk berbagi rasa sedih kakak siap,” ucap Theo sambil menatap kedua mata Airin dengan pandangan bersungguh-sungguh. Beberapa detik mereka saling pandang. Airin memalingkan wajahnya ketika menyadari dia dan Theo tidak boleh seperti ini. Hanya saja dia tidak bisa memendam semua kegelisahannya sendirian jika seperti itu lama kelamaan dia akan menjadi gila karena menahannya seorang diri. “Tadi pagi Mamah telepon dan dia suruh aku untuk pulang ke Yogyakarta, aku jawab bulan ini tuh bukan waktu yang tepat untuk pulang karena aku kan sibuk bekerja dan aku sedang berusaha menunjukkan bahwa aku pantas memegang jabatan sebagai sekertaris manajer keuangan, lalu Mamah bilang kapan aku akan jenguk dia, kalau mamah mati baru kamu mau ke sini,” kata Airin sambil mengeluarkan linangan air matanya yang sedari ditahan olehnya. Theo tidak mengeluarkan kata-kata sedikit pun dia juga tidak melihat Airin yang sedang menangis lelaki itu hanya melihat ke depan sambil memasang kuping dengan baik agar semua perkataan wanita itu bisa ia dengan dengan baik. “Aku tahu Mamah pasti kecewa karena semenjak kecelakaan Mas Tendi aku sama sekali nggak jenguk dia, tapi dia juga jangan bilang kayak gitu kan? Mendengar kalimat kematian entah kenapa membuat aku jadi syok dan langsung merasa sedih. Aku nggak mau ditinggal lagi sama seseorang yang aku sayangi.” Theo bisa mendengar isakkan tangis yang hebat dari Airin, hanya saja dia tidak melakukan apa pun, dia sudah berjanji kepada wanita itu akan menjadi pendengar yang baik. Lelaki itu takut jika dia berbuat hal yang lebih daripada ini akan membuat wanita itu menjauh darinya seperti waktu itu. Suasana kembali menjadi hening setelah keramaian yang dibuat oleh Airin dengan tangisannya. Theo melirik ke sisi kanannya dan di sana Airin sedang tertidur dengan wajah sembab dan kedua mata yang bengkak. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan lembut dia agak sedikit mendekat dan memberanikan mengusap air mata yang tersisa di pipi wanita itu. Saat Airin menangis Theo ingin sekali memeluknya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja akan tetapi banteng antara dia dan Airin terlalu tinggi. “Semuanya akan baik-baik saja Airin. Kamu harus kuat dan berjuang untuk mencapain semua yang kamu inginkan.” Theo tidak mungkin membiarkan Airin tidur di sofa, dia tidak mau besoknya wanita itu pegal-pegal dan jatuh sakit. Lelaki itu menyelipkan kedua tangannya di bawah leher dan lutut wanita itu dan menggendongnya menuju kamar. Wangi vanilla yang ada di tubuh Airin memenuhi indera pencium miliknya Thep merasa tenang dibuatnya dan ada sedikit keinginan untuk tidak membiarkan wanita itu mnejauh darinya. “Theo!” Endang memikik kecil ketika melihat Theo yang sedang menggendong Airin dengan posisi dekat seperti itu. Ada apa dengan mereka berdua? Apakah Airin mulai jatuh cinta kepada Theo? Kedua mata Endang masih tetap memantau mereka berdua Endang takut Theo membawa Airin ke dalam kamarnya dan berbuat yang senonoh. Endang menghela napas lega ketika melihat Airin dibawa ke kamarnya sendiri. Di dalam hatinya dia sudah berniat untuk memaksa Theo menjelaskan semua kejadian ini. Theo menurunkan Airin dengan sangat pelan, dia taku jika wanita itu tebangun dan terkejut melihatnya. Dia sedikit menaikkan selimut untuk membuat wanita itu nyaman dan memutuskan untuk keluar sebelum itu Theo mencium Marvel dan mengatakan selamat tidur kepada anaknya. Malam ini Theo sangat bahagia karena bisa berguna untuk Airin meskipun hanya sekedar mendengar keluh kesahnya. Dia tersenyum bahagia dan melangkah dengan percaya diri ke dalam kamarnya ketika masuk dia membulatkan kedua matanya ketika melihat Endang ada di dalam. “Ibu! Ada apa malam-malam ke kamar aku?” tanya Theo sambil bergerak masuk mendekati ibunya yang sedang duduk di atas kasur miliknya. Endang membulatkan kedua matanya, dia tidak bisa menahan ini sampai besok pagi. Kepalanya sudah dipenuhi oleh banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Theo. “Duduk!” Theo mengikuti perintah Endang dan duduk di kursi yang dia bawa. Lelaki itu masih terdiam karena bingung dengan keberadaan ibunya yang ada di kamarnya. Apakah Ibu dan Ayahnya bertengkar? “Kamu kenapa gendong Airin seperti tadi? Kalau Jihan tahu bagaimana? Untung aja Revan nggak menginap di sini!” Theo lega karena ibu dan ayahnya tidak bertengkar. Jadi ibunya melihat semuanya? Kedua mata lelaki itu menatap Endang. “Airin nggak bisa tidur, kebetulan Theo mau minum dan Airin ada di dapur. Theo nggak mungkin dong membiarkan Airin sendirian di bawah? Ibu kan suka laki-laki yang bertanggungjawab.” Endang memutar bola matanya. “Iya, tapi jangan gendong kayak gitu dong. Kamu cari kesempatan dalam kesempitan. Besok kalau Airin tanya kenapa dia langsung ada di kamarnya bagaimana? Kamu mau menjelaskan apa ke Airin?” Theo tersenyum dia sudah memikirkan kemungkinan itu ketika menggendong Airin. Ibunya tidak tahu jika dia lebih pintar daripada Bakti ketika sedang berbohong. Besoknya Airin mengajak Theo untuk berbicara di belakang dapur. Dia menatap wajah Theo dengan tegang dan khawatir. “Semalam yang aku ingat aku curhat ke Kak Theo di lantai bawah tapi kenapa tadi Airin terbangun di kamar?” Theo tersenyum miring dan mengacak-acak rambut hitam wanita itu. “Kamu nggak ingat? Semalam kamu jalan dalam keadaan tertidur makanya aku ikutin kamu sampai kamar.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN